
'Tak mungkin Arkan bergerak sendiri saat ini. Cuman anehnya kenapa dia tak mengajak asisten setianya, Boy' pikir Tania.
Telepon kantor di meja Tania berdering.
"Halo Angel, ada apa?" tanya Tania di ujung telpon yang menghubungkan antar ruangan kantor.
"Non, ada beberapa penyidik yang datang. Katerkaitan dengan kaburnya tuan Arkan" jelas Angel di ujung sana.
"Oke, suruh masuk aja" jawab Tania.
Dan memang benar yang dikatakan Angel, ada tiga penyidik yang masuk ke ruangan Tania. Diikuti Angel di belakangnya membawakan minuman untuk tamu Tania.
"Silahkan duduk tuan-tuan!" suruh Tania dengan sopan.
"Selamat siang, kami datang keterkaitan dengan kaburnya tuan Arkan klien anda" ucap salah satunya.
"Apa yang bisa aku bantu" terang Tania.
"Apakah tuan Arkan menghubungi anda setelah kabur dari penjara?" tanya yang lain.
"Benar" jawab Tania tegas. Tak ada keraguan di sana. Karena Arkan memang menghubunginya saat dini hari tadi. Tapi kebetulan saja Tania tak mengetahuinya.
Arkan tak menelpon, tapi hanya mengiriminya pesan.
"Boleh kami melihat riwayat telpon dan chat anda nyonya" ijin salah satu penyidik.
Tania memberikan ponsel nya kepada para penyidik.
"Tapi jangan kalian buka chat yang berasal dari 'my love' ya" ujar Tania terkekeh.
Tatap aneh didapat Tania dari para penyidik.
"Kalau tak percaya kalian telpon dulu nomor itu. Jadi jangan buka chat sebelum kalian memastikan siapa orangnya" terang Tania.
"Siap nyonya" tukas penyidik yang memegang ponsel Tania.
"Kok nggak dilakukan?" tanya Tania merasa aneh.
"Aku percaya dengan anda" imbuh yang lain.
"Kalau aku ketahuan bohong bagaimana?" ujar Tania menimpali.
"Kan tinggal mengenai pasal pada anda, menghambat proses penyelidikan" ujar yang lain.
"Sialan kalian" umpat Tania membuat ketiga penyidik itu tertawa karena berhasil mengerjai pengacara yang terkenal dengan keselengekannya.
"Nomor mana yang dipakai tuan Arkan nyonya?" tanya sang penyidik kala sudah menghentikan tawa.
Tania memberi tahu nomor Arkan. "Tapi sedari pagi nomor ini sudah tidak aktif. Jadi aku juga kesulitan mencari keberadaan klienku sekarang" kata Tania memberikan keterangan.
"Baik, akan kita cek semua. Terima kasih atas kerja sama nya. Tolong segera hubungi kami, jika sewaktu-waktu klien anda menghubungi" kata penyidik itu sambil berdiri hendak berpamitan.
"Silahkan diminum dulu apa yang sudah disiapin asisten aku. Mubadzir loh kalau dibiarkan utuh" kata Tania.
"Boleh kami bawa aja nyonya? Kami buru-buru" tukas mereka.
"Silahkan" ujar Tania. Kebetulan Angel memberikan minuman dalam gelas plastik sekali pakai dan sudah di press sedemikian rupa agar tak mudah tumpah.
Sepeninggal para penyidik, Angel dan Maura masuk ke ruangan Tania.
"Apa mereka mencurigai kamu Tania?" tanya Maura.
"Ya pasti lah. Secara tak langsung aku sebagai kuasa hukum Arkan, sedikit banyak ada kecurigaan mereka terhadapku. Meski Arkan tak pernah bilang untuk rencana nya kabur hari ini" jelas Tania.
Tivi di ruangan sengaja dinyalakan Tania. Tania menduga akan ada banyak kejutan dari Arkan hari ini.
Maura dan Angel yang tidak tahu alasan Tania menyalakan tivi hanya bengong aja.
"Stasiun berita biasanya di chanel berapa Ngel?" tanya Tania.
"Tumben loe, pake acara streamingan tivi" sela Maura.
"He...he...kepingin aja" imbuh Tania.
"Bumil mah bebas aja, asal hatinya senang" kata Angel menimpali.
"Angel, berapa?" tanya Tania yang belum mendapat jawaban dari Angel.
"Dua puluh satu Non" beritahu Angel.
Tania pun menekan angka yang disebutkan Angel di remot tivi.
"Tuh kan ada berita menarik lagi" kata Tania.
"Sejak kapan kamu perhatian sama berita?" tanya Maura heran.
"Sejak tadi. Saat Angel menarikku ke ruangan tunggu tadi. Ada berita pembakaran kebun ganja di beberapa tempat" ujar Tania menimpali.
__ADS_1
"Nona ini aneh, ada berita begituan kok malah tertarik" ucap Angel.
"Bayangkan saja berapa kerugian si pemilik kebun itu. Ada berapa banyak generasi muda terselamatkan karena pengaruh tanaman yang terbakar tadi" Tania menjelaskan.
"Dunia kejahatan pasti tak baik-baik saja saat ini" imbuh Tania sembari terbahak.
"Dan mereka pasti mengumumkan permusuhan besar-besaran pada pelaku pembakaran" sambung Tania.
"Tapi kan sampai saat ini, belum terendus keberadaan pelakunya nona" sela Angel.
"Itu berarti pelakunya sangatlah pintar dan tentu saja licik" terang Tania.
"Kalau begitu penjahat kelas wahid pun musti pakai otak ya Non?" Angel menanggapi.
"Ya sudah jelas kali Angel. Contoh hacker-hacker itu, otak mereka pasti sangat brilian untuk membobol keamanan suatu negara" tandas Maura mencontohkan.
Dan nampak berita lagi, kebakaran kebun ganja di daerah yang berbeda. Tapi tetap di kota Z.
Tania sampai dibuat geleng kepala. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah Arkan. Pikir Tania.
Dan berita yang tak kalah mengejutkan, sebuah tempat yang disinyalir sebuah gudang senjata api berhasil ditemukan petugas.
Barang bukti yang begitu besar menjadi kesuksesan petugas hari ini. Sebuah komandan tertinggi di suatu kesatuan, dengan bangga nya mengumumkan keberhasilan anak buahnya dalam mengungkap kasus ini. Dia secara tak langsung juga mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang dibilang anonim olehnya. Karena bantuan orang itu, semua bisa terbongkar.
"Berita hari ini cukup mengagetkan juga ya Non" ujar Angel.
"Heemmmmm" Tania mengangguk membenarkan yang dikatakan Angel.
"Bentar...bentar....semua ini terjadi saat Arkan kabur dari penjara. Apa semua ini ada kaitan dengan klien kamu itu Tania?" telisik Maura berasumsi.
"Terlalu dini untuk menyimpulkan itu, toh juga tak ada saksi dan bukti yang mengarah ke Arkan" ujar Tania.
"Ini kan hanya asumsi ku aja Tania" terang Maura.
Arkan pasti kabur karena punya tujuan ini. Pikir Tania. Hal yang tak bisa dikerjakan, andai dia berada dalam penjara. Kamu memang sungguh gesit dan licik Arkan.
Semua stasiun tivi menayangkan berita tentang ini.
Tania, Maura dan Angel masih menyimak semua berita hingga tak terasa sudah jam pulang kantor.
"Kalian nggak pulang?" tanya Arka yang tiba-tiba saja masuk di ruangan Tania.
"Loh, emang jam berapa ini?" tukas Tania.
"Heemmm jam lima sore" jawab Arka.
Sungguh pemandangan yang lucu saat ini tersaji.
Angel dan Maura pasti akan kena imbas kemarahan suami masing-masing karena molor lebih dari setengah jam pulang. Pandu dan Benzema pasti telah menunggu di depan parkiran.
Tania mengikuti Angel dan Maura yang terburu. Ternyata di depan meja masing-masing telah berdiri Pandu dan Benzema saling menyilangkan kedua lengan dan menatap tajam istrinya masing-masing. Tania dibuat terpingkal oleh kedua orang itu.
"Maaf sayangku, honey bunny sweety. Aku sungguh lupa kalau jam nya telah lewat" kata Angel mengutarakan alesannya.
"Aku sama seperti Angel sayang" tukas Maura.
Angel pun mendelik ke arah Maura. Bisa-bisa dia ikut disalahkan oleh Benzema kali ini.
Perut Tania sampai sakit karena kebanyakan menertawakan Angel dan Maura.
"Aduh..duh..." ujar Tania meringis menahan sakit.
"Kapok loe" ujar Maura dan Angel bersamaan.
"Noh, yang di sono noh tersangkanya. Sedari tadi ngajakin ngobrol dan lihatin berita sampai kita lupa jam pulang" kata Maura menunjuk ke arah Tania.
Saat arah pandangan Pandu dan Benzema beralih ke Tania.
"Ngapain kalian lihat istriku sebegitunya?" tatapan tajam Arka mengarah ke Pandu dan Benzema bergantian.
Sekarang gantian Angel dan Maura yang tertawa, karena sang suami masing-masing tak berkutik di depan bos besar.
"Ayo kita pulang" kata Angel dan Maura saling pegangan tangan.
"Tania kita duluan yaa" pamit Maura.
Dan kedua laki-laki itu, langsung balik kanan mengikuti langkah istri-istrinya.
Tania balik badan, dan dilihatnya Arka tengah duduk menyilangkan kaki.
Arka tengah fokus dengan berita yang ditayangkan.
"Apa karena ini, kalian sampai lupa waktu?" tanya Arka. Dan anggukan Tania diterimanya.
"Kamu menduga semuanya ulah Arkan?" tanya Arka serius.
"Yaappppp begitulah" ujar Tania menjawab.
__ADS_1
"Belum tentu" imbuh Arka.
"Issshhhhh sekali-kali menyenangkan istri gitu loh" sambung Tania.
"Kamu melewatkan sesuatu nggak?" tanya Arka.
"Apaan?" ulas Tania.
"Ayo kita pulang" kata Arka sembari tertawa. Berhasil mengerjai Tania adalah sebuah kesuksesan baginya. Tania yang masih memandang serius sang suami tapi jawaban candaan dari Arka yang didapatinya.
"Ayolah" kata Tania beranjak dari duduk dan meraih tas yang dibawanya tadi siang.
Di perjalanan, Tania menceritakan jika siang tadi didatangi tiga penyidik ke kantor.
"Apa tujuan mereka?" tanya Arka.
"Yang jelas mencari keberadaan Arkan lah. Barangkali saja aku tahu" terang Tania.
"Mereka juga kamu kasih tahu kalau Arkan menghubungimu?" lanjut tanya Arka.
"Pastinya" kata Tania yakin.
"Apa mereka menunjukkan surat tugas?" tanya Arka.
"Wah, kok aku melewatkan itu ya? Tapi aku kenal mereka yank. Dan mereka benar-benar penyidik" kata Tania membela diri karena teledor.
"Mana lihat ponsel kamu" pinta Arka kala mobil nya berhenti di lampu merah.
"Untuk apa?" sela Tania.
"Bentar aja" kata Arka tanpa mau menjelaskan.
Arka curiga jika ponsel Tania ada yang menyadap.
Dan kebetulan ponsel Arka terlihat ada panggilan masuk dan Tania berhasil meminta ponselnya kembali.
"Kok nggak diangkat?" tanya Tania.
"Nomor tak dikenal" bilang Arka.
"Angkat aja, siapa tahu penting" kata Tania menirukan kata yang biasa Arka ucapkan padanya.
"Ha...ha...oke bos" jawab Arka terbahak.
"Halo, siapa ini?" tanya Arka kala menyapa sang penelpon.
"Ini aku" jawab singkat sang penelpon membuat Arka dan Tania sama-sama mengernyitkan alis.
"Arkan" sebuah kata yang keluar bersamaan di bibir Arka dan Tania.
"Sori aku menghubungi kamu. Tolong bilang ke istri kamu. Aku akan menyerahkan diri jika saatnya tiba" kata Arkan. Dan panggilan itu terputus begitu saja.
"Kenapa dia tak bilang padaku langsung ya?" tanya Tania pada dirinya sendiri.
"Dia pasti tahu kalau ponsel kamu disadap" beritahu Arka.
"Kok bisa?" sela Tania, yang tak berpikir sejauh itu.
"Makanya aku tadi minta ponsel kamu sayang, karena ingin lihat itu" jelas Arka.
"Ooooooo...kirain kamu nyurigain aku...he...he..." Tania terkekeh.
"Kadang pengacara pun ada lengahnya juga ya" olok Arka.
"Lawyer juga manusia" tandas Tania sembari tertawa.
Dia teringat bagaimana dengan bodohnya menyerahkan ponsel kepada para penyidik tadi.
"Mau makan di mansion aja, apa mampir dulu cari makan?" tanya Arka.
"Hhhmmmmm langsung pulang aja dech. Kangen sama Arditya" terang Tania.
"Biasanya juga ditinggalin mulu" olok Arka.
"Kan nggak saben hari yank ninggalin Arditya" kata Tania membela diri.
"Kapan sidang putusan?" tanya Arka.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
๐