
Arga telah berada di kantor Tania saat Arka mengantar sang istri.
"Ngapain pagi-pagi sudah di sini ajah?" seloroh Arka ikutan duduk di dekat Arga.
"Nungguin istri loe" sengaja Arga memanas-manasi Arka. Senang aja jika sahabatnya itu dalam mode on kecemburuan.
"Arga, jangan mulai dech" cegah Tania yang kembali setelah menaruh tas.
"Angel, Arga sudah kau buatin minum belum?" tanya Tania.
"Otewe dibuatin" tukas Angel dengan tetap tak beranjak dari duduk.
"Siapa yang buat?" tanya Tania.
"Ya Mang Mamat dong Non, siapa lagi" Angel menimpali.
"Mau curhatin apa loe?" sela Arka.
"Nunggu kamu pergi dulu ke kantor, baru gue curhat" Arga masih saja bergurau.
"Sudahlah yank, di sini kan juga ada Angel yang jadi saksi" tukas Tania.
"Jangan salah ya, banyak juga saksi yang bisa dibeli loh sekarang" imbuh Arka.
"Yeeeiiii, aku bukan tipe begitu tuan" sanggah Angel.
"Siiipppp Angel, kamu memang terbaik" puji Tania karena Angel berpihak padanya.
"Nih" Tania menyodorkan sebuah kantong plastik untuk Angel.
"Apaan Non?" tanya Angel penasaran.
"Buka aja. Khusus buat kamu itu" tutur Tania menimpali.
"Wowwww...makasih Non. Tau aja kalau aku suka jajan beginian" jawab Angel dengan mata tertuju ke dalam isi kantung plastik penuh antusias.
"Apa sih yang kau tak suka? Perasaan kalau ada hubungan dengan makanan, tak ada yang kau tolak" ledek Arga.
"Yeee...diam-diam tuan Arga merhatiin gue yaaaa??? Tau aja kalau aku suka makanan" balas Angel. Semua menertawakan Arga.
Arka beranjak, "Yank, aku pergi dulu. Ingat! Jaga hati" kata Arka sambil mencium kening sang istri.
"Heemmm anggep aja kita lalat dech" sindir Arga.
"Gue mah ogah tuan dianggep lalat. Cantik begini masa disamain lalat sih????" tutur Angel menyela.
"Nggak cuman lalat, tapi lalat ijo" lanjut Arga mengolok Angel.
"Hiiiiiiii...geli ah" ulas Angel yang merasa jijik dengan hewan yang disebutin Arga barusan.
Tania duduk kembali di depan Arga selepas mengantarkan Arka ke depan sebentar.
Belum juga memulai pembicaraan, Mang Mamat masuk mengantarkan kopi pahit buat Arga.
"Kopinya den Arga" Mang Mamat mempersilahkan.
__ADS_1
"Makasih Mang" tukas Arga.
"Mang sini sebentar, bisa minta tolong jajanan ini taruh di piring gitu kek" pinta Angel.
"Siap Nona Angel" balasnya.
Kalau urusan makanan, Angel dan Mang Mamat memang pasangan kompak. Makanya Tania enjoy aja bekerja bersama mereka berdua.
"Arga, apa yang mau kau curhatin?" tanya Tania mulai serius.
Arga membuka sebuah bungkusan yang dibawanya dan menyerahkan isinya pada Tania.
"Surat wasiat?" kata Tania dengan maksud melontarkan candaan.
"Hemmmm" Arga malah serius menanggapi.
"Loh, beneran surat wasiat kah?" Tania hanya menebak.
"Lihat lah!" suruh Arga.
Tania meneliti sebuah surat yang memang sudah nampak lusuh termakan usia itu.
"Ini sudah lama sekali loh Arga, bisa jadi ini sewaktu kamu masih bayi" seloroh Tania.
"Tapi menurut kamu, surat wasiat ini kuat apa nggak menurut hukum?" tanya Arga.
"Pewasiat sudah meninggal?" tanya Tania.
"Sudah, itu kan mendiang kakek ku. Ayah dari wanita yang pernah mendatangi kamu itu" beritahu Arga tanpa menyebutkan kata mama dalam ucapannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?" tanya Tania.
"Hanya ingin mengamankan aset aja. Daripada habis oleh ulah wanita itu" ucap Arga menjelaskan.
"Itu mama kamu loh Ga" timpal Tania.
"Mama macam apaan? Yang tega ninggalin anaknya di jalanan. Untung aku ketemu sama anak baik macam suami kamu. Kalau nggak, entah jadi preman mana aku sekarang" ada nada sedih di ucapan Arga.
"Mungkin mama kamu ada alasan yang tak bisa diungkap ke kamu?" ulas Tania.
"Induk ayam aja akan melindungi anak-anak dengan sekuat tenaga, apalagi ini manusia yang notabene punya akal sehat" kata Tania melanjutkan.
"Tapi sayangnya, wanita itu tak punya akal sehat Tania" ucap sinis Arga.
"Lantas apa hubungannya dengan surat wasiat ini?" kata Tania melanjutkan.
"Seperti yang kusampaikan tadi, aku tak ingin peninggalan kakek habis dijual oleh wanita itu" ulas Arga.
"Tapi menurut urutan silsilah, mama mu lah yang berhak mewarisinya. Kalau ingin kuat di mata hukum, balik nama dengan pengesahan notaris. Itu sih saranku" ucap Tania.
"Kalau langsung berganti nama denganku pun harus melewati wanita itu dulu ya?" tanya Arga.
"Ya jelas dong Arga. Kemana otak pintar kamu selama ini?" ledek Tania.
"Oke...oke...kalau begitu aku kan minta tolong Arka aja dech. Pinjam nama buat beli tanah secuil itu" kata Arga dan dilanjut menyeruput kopi yang dibuat oleh bang Mamat.
__ADS_1
"Eh, kok bawa-bawa Arka juga?" imbuh Tania.
"Biar seolah-olah bukan aku yang beli Non. Hanya pinjem nama doang, uangnya pakai uang aku" jelas Arga.
"Biar wanita itu tak tahu kalau aku yang punya uang" tandas Arga.
"Sebaiknya kau selidiki dech mama kamu itu. Takutnya dia melakukan semua karena diancam. Segala kemungkinan harus dipikirkan dong" saran Tania.
Arga terdiam. Selama ini tak ada di pikirannya sama sekali tentang alasan mamanya melakukan hal yang kejam pada dirinya. Arga terlanjur mengunci hati dan tutup mata tentang apapun yang dilakukan olehnya.
"Arga. Kok malah melamun sih?" tanya Tania.
"Hello...hello...maaf menyela. Info siang. Ada diskonan makanan nih" sela Angel di antara keseriusan wajah Arka dan juga Tania.
"Makanan apaan?" Tania berucap.
Angel menunjukkan gambar makanan di sebuah aplikasi online.
"Mau Ga?" Tania menawari.
"Mau lah. Apalagi gratisan...he...he..." tukas Arga.
"Bang Mamat pesenin sekalian" suruh Tania.
"Oh ya Angel, habis makan siang sudah kamu jadwalin belum pertemuan dengan Tuan Anton, perwakilan dari PT apa tadi?" Tania berusaha mengingatnya.
"PT Semesta Prima" jawab Angel setelah membuka pesan yang dikirimkan Tania tadi pagi.
"Balik ke Arga nih. Gimana usulan aku tadi?" tanya Tania.
"Heemmmm...benar juga sih apa kata kamu. Selama ini aku tak pernah mau tahu kenapa wanita itu membuangku begitu saja saat itu. Aku yang masih terlalu kecil untuk mengingatnya" Arga mengiyakan dan menyetujui saran Tania.
"Begitu lebih baik" tutur Tania menimpali.
Tania tak cerita, kalau saat mama Arga mengunjunginya. Sekilas Tania melihat beberapa luka lebam di lengan yang sengaja ditutupi oleh mama Arga.
"Kalau kau setuju, lebih cepat bergerak akan lebih baik" Tania menambahi sarannya.
Arga mengangguk, "Siap bos. Makasih pencerahan dan konsultasi gratisnya" Arga terkekeh.
Ponsel Tanka berdering.
"Pasti si Arka tuh. Cepetan angkat" goda Arga.
Tania tertawa, memang benar apa yang dibilang oleh Arga.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝