
"Bahkan akan kubuat kau dengan sukarela menyerahkan dirimu padaku" imbuh Felix dengan semakin terbahak.
Arka yang berada di balik pintu luar kamar pun ikutan emosi.
Arga menepuk bahu Arka.
"Amati dulu, biar Tania tahu motifnya. Seperti yang kita rencanakan tadi" cegah Arga saat Arka keburu masuk ruangan di mana Tania berada.
"Beno, apakah itu kau?" teriak Felix.
"Sepertinya dia mendengar kita" kata Arga dan mengajak Arka untuk menyingkir.
Dan benar perkiraan Arga kalau Felix melongok keluar untuk melihat situasi.
"Beno....Beno...." panggilnya sambil berjalan ke arah dapur.
"Kelamaan kau Arga, akan cepat kuselesaikan saja" tukas Arka.
"Wah, nggak seru dong kalau permainannya cepat selesai. Sudah ikuti caraku aja" timpal Arga.
Arga pun melemparkan sesuatu ke ruang kosong di belakang posisi Felix.
"Beno, apakah itu kau?" tukas Felix.
Karena tak mendapat sahutan, Felix ikutan waspada.
Dia keluarkan senjata dari balik saku nya. Dan berjalan mengendap untuk mencari sesuatu.
Tapi sepertinya dia teringat akan keberadaan Tania. Dengan langkah cepat dia menaiki tangga untuk kembali ke Tania.
Rencananya dia akan menjadikan Tania sandera jika rencana nya ada yang menggangu.
Dia menodongkan senjata ke arah Tania yang ternyata masih di tempat semula.
Netra Tania menatap tajam ke arah Felix, "Apa artinya todongan senjata kamu itu?" telisik Tania.
"Heemmmm...akan kujadikan kau sandera" tanggap Felix.
"Kenapa? Apa kau terancam? Katanya mau mengajakku senang-senang?" sinis Tania.
"Ha...ha...beneran kau mau?" Felix mendekat ke arah Tania.
"Tuan Felix, apa tujuan kamu sebenarnya? Tak mungkin hanya untuk senang-senang" ulas Tania.
"Ha...ha...kau mau tahu motifku? Tak akan kujelaskan" imbuhnya sambil terbahak.
Tania terdiam. Tak mungkin seorang Felix menculiknya tanpa tujuan jelas.
"Tania, semenjak kau datang ke Hadinoto and partners aku tahu kamu adalah orang yang cerdas dan punya masa depan" kata Felix.
"Dan aku juga tahu alasan utama kamu magang di sana. Untuk mencari kebenaran tentang ayah kamu kan? Aku tahu semuanya" lanjut ceritanya.
Tania menautkan alisnya.
"Apa kau tak tahu kalau Hadinoto adalah kakak iparku? Kakak ipar yang tega mengkhianati kakakku karena seorang Gaby"
Tania terdiam menunggu kelanjutan kata-kata Felix.
Ooooo, dia pamannya Maura. Batin Tania. Maka dia begitu betah gabung di sana.
"Karena saking dendamnya pada keluarga kamu, Hadinoto menuruti semua permintaan Gaby untuk balas dendam kepada keluargamu. Dan sekarang akhirnya dia mendekam di bui"
__ADS_1
"Terus kenapa kau menculikku?" kata tajam di setiap ucapan Tania.
"Bukankah aku sudah bilang. Untuk senang-senang. Aku ingin tahu bagaimana seorang Arka bereaksi setelah melihat semua yang terjadi" katanya.
"Aku jatuh cinta sama kamu Tania. Bahkan sejak kali pertama kau datang di kantor itu" beritahunya membuat Tania syok mendengarnya.
Tania garuk kepala, merasa aneh dengan kakek renta yang menyatakan cinta padanya barusan.
"Gimana? Kau terima nggak?" seloroh Felix.
Sementara Arga yang telah berada di balik pintu, tak bisa menahan tawa lagi.
"Tuh, ada yang naksir tunangan kamu. Jangan sampai kalah dengan laki renta di dalam. Apa kata dunia kalau seorang Arka Danendra dikalahkan oleh laki renta seperti dia...ha...ha..." ucap Arga memprovokosi Arka.
Arka mengeluarkan senjata yang sedari tadi sudah tak betah berada di sarungnya.
Sementara di dalam, "Apa aku tidak salah dengar? Kau menyatakan cinta padaku? Ha...ha...terus aku musti jawab apa tuan Felix? Kau tau siapa Tania Fahira kan?" tukas Tania.
"Iya aku paham. Tania adalah kekasih Arka Danendra, CEO Panapion" ujar tuan Felix.
"Kalau sudah tahu, kenapa kau nekad tuan?" perjelas Tania.
"Tentu saja aku bangga, karena berhasil merebut kekasihnya seorang CEO kaya" ucapnya terbahak.
"Wah, gila ni orang" gumam Tania.
"Iya, aku memang gila. Menggilaimu...ha...ha..." Tuan Felix tertawa.
Tania sampai geleng kepala. Kok ya ada orang yang terobsesi padanya? Tania yang apa adanya. Heran sendiri Tania.
Arga melemparkan sesuatu ke ruangan kamar Tania berada.
Dan dengan sigap tuan Felix kembali menodongkan senjata ke arah Tania.
"Siapa kalian? Beraninya mau main-main denganku" teriak tuan Felix tetap dengan posisi senjata seperti semula.
Tania hanya bersiaga, kalau mau dia bisa saja membekuk tuan Felix dengan men-sleding kaki nya. Tapi tak dia lakukan karena menunggu pergerakan Arka.
Saat posisi tuan Felix membelakangi pintu, sebuah ujung selongsong senjata tepat mengenai tengkuknya.
Sadar akan posisi itu, tuan Felix mengangkat kedua tangannya. Dan dengan sendirinya senjata dia lempar ke lantai.
"Balikkan badanmu!" perintah Arka.
"Tuan Arka? Anda?" tuan Felix kaget.
"Kenapa? Kau merasa aneh? Aku ada di sini?" tatap tajam Arka ke arah tuan Felix.
"Ampun tuan" ujarnya seraya bersujud di hadapan Arka. Tapi Arga yang melihat pergerakan tuan Felix, segera meletuskan senjata dan tepat mengenai kaki tuan Felix.
"Jangan coba-coba kau" hardik Arga tepat di belakang tuan Felix yang mengaduh kesakitan.
"Tu4 bangk4 masih saja mencari daun muda. Cucu ada di mana-mana nggak sadar juga" ledek Arga.
Terdengar suara beberapa pasang sepatu masuk ke vila itu.
Tuan Felix dan juga beberapa anak buahnya telah dibawa oleh aparat. Mereka terbukti melakukan tindakan penculikan terhadap Tania, dan juga melakukan tindakan membahayakan orang lain dengan membuat sebuah kecelakaan dan membuat seseorang mengalami trauma fisik.
"Aneh-aneh aja kelakuan orang jaman sekarang" gumam Arga.
"Tania, gimana rasanya ditembak oleh orang berumur seperti tadi" gurau Arga.
__ADS_1
"Apaan sih kau" sungut Tania.
"Ha...ha...ternyata pengagum rahasia kamu banyak juga to?" lagi-lagi Arga melanjutkan canda nya.
"Daripada jomblo khronis seperti loe" balas Tania.
"Jomblo khronis???" gantian Arga bengong.
"Jomblo puluhan tahun apa namanya kalau nggak khronis" Tania terbahak.
"Sialan" umpat Arga.
"Berani kau?" hardik Arka sebagai pembela.
"Ampun tuan besar, aku tetap padamu" ucap Arga seperti orang meminta ampun.
Semua telah beres dan aman.
"Sayang, di mana ponsel kamu?" tanya Arka.
"Mana aku tahu, sadar dari pingsan sudah tak ada" tukas Tania.
"Eh, kok kamu sudah di sini aja. Gimana kerjaan di sana?" ulas Tania.
"Karena kamu, aku pulang pergi Indo-Amerika" seloroh Arka.
"Tapi kok bisa tahu kalau aku diculik?" Tania masih penasaran.
"Panjang ceritanya, kalau kau mau tahu, baca episode-episode sebelumnya. Itu juga aku disuruh author" jelas Arka sambil terbahak.
"Pandu kita barengan aja. Daripada jadi obat nyamuk di antara mereka" ajak Arga.
"Tapi tuan, tuan muda pasti capek" tolak Pandu.
"Bukannya kamu juga capek? Tuh lihat mukamu" suruh Arga.
"Nggak usah banyak pikir, ayo!" Arga menarik lengan Pandu untuk mengikuti dirinya.
"Bukannya kita ke sini naik heli ya?" kata Pandu mengingatkan.
"Oh iya...ya...bagaimana aku bisa lupa" ujar Arga sambil garuk kepala.
"Makanya cari pacar bang, biar ada yang ngingetin kalau lupa...ha...ha..." celetuk Tania di antara keduanya. Tak lupa tangannya tak lepas dari pegangan Arka.
"Nempel aja terus" ledek Arga tapi tetap saja mengikuti langkah keduanya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
💝
Salam sehat buat semua 🤗
__ADS_1