Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Langkah Berikutnya


__ADS_3

Sore itu Tania melajukan mobil yang baru keluar dari bengkel menuju lokasi yang disebutkan seseorang yang mengirimi pesan kepadanya tadi siang. Resto XXX tepatnya.


Tania menyalakan map pada ponsel, dan tak lupa dia share ke Arka.


Seperti biasa tak lupa dia nyalakan lagu kesukaan nya, beautiful in white mengalun merdu.


Lagu terjeda karena ada panggilan masuk. My love calling.


Tania meloudspeaker panggilan sambil fokus menyetir.


"Sayang, Arga ada di belakang kamu" beritahu Arka.


"Heemmmmm" jawab Tania dengan deheman.


"Oh ya, bilang juga ke orang itu kalau aku setuju kerjasama. Tapi dengan satu syarat yang maju negosiasi adalah William dan juga Benzema" jelas Arka.


"Kenapa musti mereka?" sela Tania.


"Karena aku yakin kalau Tuan William lah dibalik ajakan kerjasama ini" kata Arka.


"Kamu kok yakin sekali?" sahut Tania.


"Heemmmm, nanti saja aku cerita. Tapi yang pasti pancing orang itu agar mau bertemu langsung dengan William dan Benzema" tandas Arka.


"Oke. Akan kulakukan" ucap Tania menimpali.


"Hati-hati" balas Arka.


"Siap bos" canda Tania.


.


Sampai di resto XXX, Tania masuk setelah memarkirkan mobil.


Tania meraih ponsel, sambil mencari keberadaan orang yang ditemuinya kemarin malam.


Laki-laki itu melambaikan tangan sebelum panggilan Tania tersambung.


Bukan area privat yang dipilihnya, tapi di sebuah meja yang tempatnya agak mojok.


Tania sadar ada orang yang berusaha memotretnya diam-diam.


'Memang tak beres nih orang' batin Tania.


"Selamat sore Tuan?" sapa Tania sengaja menggantung kalimat karena belum tahu siapa nama orang itu.


"Sore Nona...Oh ya panggil aja aku tuan Smith" ucapnya.


"Baik tuan Smith" Tania duduk di depan tuan Smith.


"Tuan Smith, saya tidak bisa berbicara panjang lebar. Intinya tuan Arka setuju dengan kerjasama yang kau ajukan, tapi dengan syarat tuan William dan tuan Benzema yang akan menemui anda selanjutnya sebagai perwakilan dari Panapion" ulas Tania.


"Wah, padahal aku ingin anda lah yang menjadi negosiator. Karena tuan Arka pasti akan lebih mudah percaya jika anda yang bicara" ucap tuan Smith.


"Ha...ha...anda tahu bukan kalau aku bukanlah orang Panapion?" lanjut Tania.

__ADS_1


"Heemmm...tapi anda sekarang telah menjadi bagian Panapion Nona. Dengan menjadi ketua tim hukum di sana" jelas tuan Smith.


"Apa nona tidak penasaran dengan kelanjutan cerita saya?" sambung tuan Smith.


"Apa jaminan mu Tuan untuk membuat saya percaya dengan anda?" Tania menimpali.


"Ha...ha..." tuan Smith malah terbahak.


"Nona Tania, bukankah anda adalah putri tunggal dari tuan Bagus Priyanto? Aku sangat tahu akan hal itu" ucapnya.


"Tuan Bagus Priyanto yang menjadi korban tuduhan salah alamat. Benar begitu?" sarkasnya.


Tania masih terdiam.


Cerita orang ini seperti tersambung dengan cerita Arka kemarin. Pikir Tania.


"Kasihan ayah kamu, kalau kamu tak berhasil menuntaskan cerita ini. Pasti arwahnya di sana tak akan tenang" tuan Smith terkekeh mengucapkan kata-kata itu.


"Seperti yang anda bilang kemarin, apa benar tuan Rendra ada kaitannya dengan semua ini?" cerca Tania.


"Ha...ha...iya. Rendra itu manusia bodoh yang mau saja dimanfaatkan oleh Gaby. Untung Arka tidak ikutan bodoh seperti papa nya" kata Tuan Smith dan sejenak kemudian dia tertawa lagi.


"Sebenarnya kau ini berada di pihak mana tuan?" telisik Tania.


"Ha...ha...kau ini pintar sekali Nona. Tentu saja aku akan berpihak ke mana yang menguntungkanku" sambungnya.


"Dasar licik" umpat Tania.


"Ha...ha...licik juga sifat manusia Nona" ucap tuan Smith tetap terbahak.


"Kau terlalu percaya diri tuan" sanggah Tania.


"Kau belum tahu siapa musuh kamu sebenarnya Nona. Sebaiknya kau menurut saja denganku" kata tuan Smith.


"Kau hanya manusia serakah yang memanfaatkan keadaan tuan" tolak Tania.


"Ha...ha...kalau kau menolak, maka aku akan berbalik memihak ke orang yang menjadi musuh kamu dan juga tunangan kamu itu" sarkasnya.


"Silahkan saja" tukas Tania menimpali.


"Toh aku juga tidak rugi" tandas Tania.


"Kau akan menyesal Nona Tania Fahira" sahut tuan Smith.


"Kau mengancamku???" tatap tajam Tania.


"Kalau diperlukan. Aku akan melakukan apa saja agar kau membantuku mendapatkan kerjasama itu" tandas tuan Smith.


"Cih, tak sudi aku membantumu" tutur tajam Tania.


Terlihat orang itu mengambil ponsel, "Lihat ini!!!" tunjuknya.


Tania mengikuti melihat layar ponsel milik tuan Smith.


Terlihat di sana mama Rosa sedang berbincang dengan orang asing.

__ADS_1


"Bukankah dia mama yang sangat kau sayangi?" kata tuan Smith.


"Dasar licik kau" umpat Tania.


"Ha...ha...tak ada pilihan lain. Hanya dengan cara ini kau akan menurut padaku" ucap tuan Smith terkekeh.


"Apa yang harus kulakukan?" sergah Tania.


"Sabar, tunggu komando dari ku. Untuk pertemuan hari ini, terima kasih" kata tuan Smith mengakhiri pertemuan.


.


Tania langsung pulang untuk memastikan kalau mama Rosa dalam batas aman.


"Mah, Mamah di mana?" teriak Tania saat masuk rumah.


"Apaan sih kau ini? Baru pulang teriak-teriak aja" sewot mama Rosa.


"Tadi mama ada tamu?" telisik Tania.


"Kok kamu tahu?" sahut mama.


"Sudah jawab aja yang aku tanya" sela Tania.


"Bukan tamu sih, tapi hanya sales yang nawarin lukisan. Aneh aja lukisan kok sampe ditawarkan dari pintu ke pintu" seloroh mama Rosa.


Mereka sepertinya sudah menyiapkan segala kemungkinan. Bahkan mereka telah berani mengusik ketentraman mama Rosa. Tania menggenggam erat tangan, sambil memikirkan bagaimana agar mama Rosa aman.


"Tania, kok diam?" sela mama.


"Nggak kok Mah. Lain kali kalau ada orang tak kenal nggak usah dibukain pintu" larang Tania.


"Kok kamu aneh sih hari ini?" tatap mama Rosa ke putri semata wayangnya itu.


"Aneh apaan?" sahut Tania.


"Seperti ada masalah berat yang sedang kau hadapi" imbuh mama Rosa, seakan paham apa yang sedang dialami oleh Tania.


"Nggak kok Mah. Cuma pencegahan aja. Ingat kejahatan tak akan datang, kalau kita tak memberi kesempatan" kata Tania dan pamit masuk kamar untuk membersihkan diri.


"Tania...Tania...kau ini seperti mengutip ucapan bang napi aja" gumam mama Rosa dan berlalu ke dapur untuk menghangatkan makan malam buat Tania.


Di dalam kamar, Tania memberi kabar kepada Arka tentang hasil pertemuan hari ini. Orang yang dia temui menolak jika William dan Benzema yang akan menemuinya.


Prediksi Tania jika ada rahasia besar dibalik putusan yang dijatuhkan kepada ayahnya, sedikit demi sedikit menambah keyakinan Tania. Apalagi beberapa hari terakhir, fakta sedikit demi sedikit terkuak. Meski masih buram.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2