
Ponsel Arka beberapa kali berbunyi saat durante operasi.
"Dok, apa dibantu jawab?" tanya Anung menawari. Anung adalah asisten dokter Bara spesialis anesthesi.
"Nggak usah, pasti itu dari istriku. Tolong buat silent aja mas. Biar nggak ngeganggu yang lain" kata Arka meminta tolong.
Saat Anung memegang ponsel, kembali ponsel itu berbunyi dan Anung malah salah menekan tombol OK pertanda panggilan tersambung.
"Maaf dok, ini malah sudah nyambung" kata nya menjelaskan.
"Ya sudah kasih aku sini" suruh Arka.
Anung mendekatkan ponsel ke telinga dokter operator itu.
"Sayang, aku sedang operasi nih sama Bara. Ntar kalau sudah selesai kuhubungi balik" potong Arka sebelum Tania mengomelinya seperti jarak Jakarta Surabaya tidak lewat tol.
"Ya udah. Awas aja kalau tak tepati janji" tukas Tania.
Bara tertawa melihat sang operator operasi ortopedi itu bertekuk lutut di depan sang istri.
"Ha...ha...ternyata loe nggak jauh beda sama gue. Diancem nggak dijatah aja sudah nggak bisa jawab" olok Bara.
"Hussssttt jangan keras-keras, jaga image gue dong" celetuk Arka menimpali.
"Ini hari pertama gue gabung di rumah sakit loe" imbuh Arka membuat Bara semakin terbahak.
"Mereka sudah biasa, apalagi mereka nasibnya juga sama seperti kita" jelas Bara.
"Really?" tanya Arka tak percaya.
"Beneran, sueerrrrr" Bara semakin terbahak di balik masker bedah yang dipakainya.
Arka segera menyelesaikan operasi dengan menyimpul jahitan pada tusukan terakhir.
"Finish" celetuknya.
"Lama tak kerja, jari-jari mu masih lentik aja ngerjain patah tulang" kata Bara.
"Insting bro...ha...ha... Sering dibuat senam" kata Arka menimpali dengan canda.
Arka duduk di ruang dokter untuk melengkapi berkas rekam medis pasien yang barusan ditangani olehnya.
"Betewe, makasih ya bro sudah gabung di sini" ucap Bara.
"Sudah berapa kali kamu ucapin tuh kata makasih. Bosen gue dengernya...ha...ha..." seloroh Arka.
Bara pun ikutan tertawa.
Arka baru bisa datang ke rumah sakit Suryo Husada seminggu dua kali, itu pun selesai kesibukan di Panapion.
"Aku balik dulu ya?" pamit Arka.
"Tumben istri loe nggak nelponin lagi?" tanya Bara.
__ADS_1
"Dia belum terbiasa dengan kesibukan baru suaminya, yang harus pakai sarung tangan steril dan nggak bisa buka handpone...ha...ha..." ucap Arka.
"Ha...ha...bener-bener" tukas Bara.
Belum juga beranjak dari duduk untuk ganti baju, ponselnya kembali bergetar.
"Tuh, apa yang gue bilang nggak salah kan?" imbuh Bara.
Arka mengangkat panggilan.
"Iya sayang, ni juga baru selesai" sapa Arka membuka obrolan.
"Hari ini anterin aku ke lapas tempat Arkan dititipkan" kata Tania.
"Hah? Ini sudah sore yank" balas Arka.
"Aku nggak mau tahu. Aku kan sudah bilang sedari pagi. Kalau tau kamu sibuk, aku berangkat sendiri aja. Tapi kan nggak kamu bolehin" kata Tania tanpa titik koma.
Arka sengaja menghindar dan tak mau mengantar sang istri untuk pergi ke tempat Arkan ditahan. Biar Tania mengurungkan niat menjadi pembela Arkan.
"Sayang, mau nggak sih? Kok malah diam?" sela Tania yang menunggu jawaban Arka.
"Gimana kalau besok siang waktu makan siang" nego Arka.
"Sudah tiga hari loh janji-janji mulu. Kalau besok siang nggak jadi lagi, aku berangkat sendiri. Kasihan Arkan, karena banyak kasus yang dihadapi tak satupun pengacara mau menjadi pembelanya" terang Tania.
"Lah, ya biarin aja dipikirin Arkan sendiri. Kenapa kamu ikutan mikir" timpal Arka.
"Aku hanya ingin menolongnya sayang" jawab Tania.
"Serah dech" tandas Tania yang sepertinya tak ingin berdebat.
Panggilan itu terputus begitu saja.
"Yaaccchhhh main tutup aja" keluh Arka.
Ternyata Bara masih berada di sana, tapi dia tak ingin kepo dengan urusan pribadi Arka dengan Tania.
"Istri gue mau jadi pengacaranya Arkan" beritahu Arka.
"Hah? Nggak salah omong loe?" tukas Bara menanggapi.
"Bener. Dan itu selalu menjadi perdebatan kami beberapa hari terakhir" terang Arka.
"Apa kamu ijinin?" kata Bara.
"Ya nggak lah. Tapi mana bisa istriku dilarang jika tak ada alasan yang bisa diterima olehnya" imbuh Arka.
"Dia menganggap bisa merubah Arkan yang jahat menjadi orang baik. Aneh-aneh saja istriku" Arka sampai sekarang belum memahami jalan pikiran sang istri.
"Coba kamu ikutin dulu aja apa kata istri kamu. Siapa tahu dia benar" ucap Bara memberi masukan.
"Apa kamu punya pikiran yang sama dengan istri aku?" tanya Arka penasaran. Bara mengangguk.
__ADS_1
"Tak menyangka ternyata kalian sefrekuensi...ha...ha..." olok Arka.
.
Keseokan hari, Arka menepati janji mengantar Tania mengunjungi Arkan di lapas tempat dia dititipkan. Penjagaan untuk Arkan sangat ketat sekali, karena banyaknya kasus yang dituduhkan padanya.
"Sayang, aku nggak ikutan masuk. Jangan lama-lama di dalam" bilang Arka.
"Kok nggak ikut?" sela Tania.
"Ini kan urusan kerja, beda kalau urusan pribadi" ucap Arka menanggapi.
"Baiklah" giliran Tania mengiyakan. Sang suami sudah mau mengantar aja Tania sudah bersyukur dan menghindari perdebatan karena dirinya yang mau membela Arkan.
Arka menunggu di dalam mobil di parkiran lapas.
Tak sengaja netra Arka melihat beberapa anak buah Arkan berlalu lalang. Arka sangat mengenali mereka dengan melihat kalung yang mereka pakai.
"Bahaya nggak nih buat istriku?" batin Arka.
Sementara di dalam, Tania telah bertemu dengan Arkan.
"Selamat siang tuan Arkan. Saya ke sini untuk memenuhi janji saya" jelas Tania.
"Makasih. Seperti yang aku bilang sebelummya nyonya, aku minta tolong. Jadilah kuasa hukum untukku dan Davina" pintanya memohon.
"Kok jadi sama Davina juga?" tanggap Tania.
"Tolong nyonya. Saya berharap padamu. Sekarang Davina sedang hamil anakku. Tolong bantu bebasin dia, jangan sampai anakku lahir di bui. Cukup aku sendiri yang menanggung semuanya" terang Arkan.
Arkan yang selalu tampil garang, menangis di hadapan Tania Fahira.
Penjahat kelas kakap itu malah curhat segala kasusnya dengan Tania.
"Bagaimana nyonya, apa anda bersedia?Tolonglah aku nyonya" harap Arkan. Ada ketulusan di setiap ucapannya. Penilaian Tania sih.
"Maaf nyonya, jam kunjung anda telah habis" beritahu petugas yang mendampingi kunjungan Tania.
Tania beranjak, karena pembicaraan juga telah selesai.
"Jangan bilang kalau anda akan memikirkan lagi nyonya Tania? Aku sungguh berharap pada anda" kata Arkan saat Tania hendak melangkah keluar.
"Aku ijin suamiku dulu" jelas Tania.
"Hemmm, smoga Arka mengijinkan" harap Arkan.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π