Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Tuan Beni dan tuan Doris


__ADS_3

"Siapa yang tak kenal dia tuan. Orang yang sangat baik, hanya nasibnya saja yang tak baik" lanjut kepala sipir.


"Apa anda mengenalnya?" tanya Arka.


"Kebetulan saat tuan Bagus Priyanto menjadi warga sini, aku adalah sipir baru yang bertugas. Dan kebetulan hanya tuan Bagus yang enak diajak ngobrol" beritahunya.


"Maaf tuan, apa mungkin ada sesuatu yang disembunyikan oleh seorang tuan Bagus menurut anda?" tanya Arka lagi dan Tania fokus mendengarkan.


"Ku rasa tidak ada, tuan Bagus adalah orang supel dan ramah. Meski di lapas ini adalah sekumpulan orang terpidana dengan macam-macam kasus yang dihadapi, tapi tuan Bagus satu-satunya orang yang dihormati semua" imbuh kepala sipir.


"Mengenai riwayat kesehatannya?" lanjut Tania yang bertanya.


"Selama aku di sini, tuan Bagus baik-baik saja. Dan aku kaget juga saat beliau dinyatakan meninggal karena sakit komplikasi" ucapnya.


"Jadi waktu ayah meninggal anda sudah tak di sini?" telisik Tania.


"Begitulah. Aku dipindah tugas tiga bulan sebelum tuan Bagus bebas" imbuhnya.


Tania manggut-manggut. Kalau begitu dia pindah tugas dua bulan sebelum ayah meninggal.


"Boleh tahu siapa yang ditugaskan menggantikan anda tuan?" tanya Tania.


"Pak Beni adalah yang menggantikan saya waktu itu. Dia sipir baru, yunior saya" jelasnya.


"Sekarang beliau bertugas di mana?" ganti Arka yang bertanya.


"Wah, pak Beni adalah yunior saya satu-satunya yang karirnya melesat bak meteor" imbuhnya dengan membanggakan sang yunior.


Tapi tidak bagi Tania dan Arka. Bisa saja seorang yunior menyalip senior, benar-benar karena prestasi atau something.


"Pak Beni adalah yunior lima tahun di bawah saya" tandasnya lagi.


Kembali Arka dan Tania manggut-manggut.


"Pak Beni sekarang bertugas di kota A" jelasnya lagi.


"Kota metropolitan itu?" sela Tania.


"Betul Nona Tania" ucapnya menegaskan.


"Baiklah tuan Doris, kami pamit dulu. Terima kasih atas informasi yang diberikan" pamit Arka.


"Senang bisa membantu anda tuan Arka. Aku menyetujui pertemuan ini, karena kebetulan aku kenal baik dengan almarhum tuan Bagus Priyanto" kata kepala sipir ikut beranjak dari duduk untuk menghantar kepergian Arka dan Tania.


"Akan semakin panjang penelusurannya" kata Tania menarik nafas berat dan menghempaskan pantat di jok mobil mewah Arka.


"Abis ini masih sibuk di kantor kamu?" tanya Arka.


"Enggak kok, semenjak kau jadikan aku ketua tim hukum di perusahaan kamu. Tuan Hadinoto jarang memberikan kasus untukku" cerita Tania.


"Oooo...begitu ya? Mungkin tuan Hadinoto tak ingin kau capek kali, jadi bisa fokus di perusahaan aku" Arka terkekeh.


"Mana ada begitu? Bisa saja bos ku sedang mengintimidasi ku secara sembunyi-sembunyi" sungut Tania.


"Dan tak memberiku pekerjaan" tandas Tania.


"He...he..." Arka hanya menanggapinya dengan santai.


Arka memang menembusi tuan Hadinoto secara langsung untuk tidak memberikan kasus kepada sang tunangan, agar fokus dulu menjelang acara pernikahan.


Tapi Tania tak diberitahunya.

__ADS_1


"Sayang, langsung Panapion aja ya. Ponselku banyak sekali panggilan tak terjawab" beritahu Arka.


"Kok nggak dengar nada deringnya?" tukas Tania.


"Ku silent, biar bebas dari gangguan Pandu...he...he..." Arka tertawa lepas.


"Kasihan Pandu tau" seloroh Tania.


"Eh...kok malah belain Pandu sih?" Arka pura-pura sewot.


"Kulakuin agar aku bisa nemenin kamu. Dan kamu fokus sama kepala sipir tadi" sambung Arka Danendra.


"Maaf...maaf...terima kasih sayang" kata Tania ikutan tertawa.


"Kumaafin...asal..." Arka menjeda ucapannya.


"Asal apa?" sahut Tania menengok ke Arka yang sedang menyetir.


Arka menjentikkan jari ke pipi nya, menunjukkan ingin dicium oleh Tania.


"Isshh...apaan sih?" Semburat merah di kedua pipi Tania.


"Heeiiii...kita sudah dewasa tau. Masak gitu aja kau malu" Arka menimpali.


Tania menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Ya malu lah" sahut Tania.


"Hanya cium pipi sayang, belum cium bibir" sesungging senyum di bibir Arka. Polosnya calon istriku. Batin Arka. Bisa jadi selama dengan Benzema, dia tak pernah dicium olehnya. Makanya laki-laki bajing4n itu selingkuh. Keuntungan buat Arka Danendra dong.


Saat Arka sedang fokus dengan pikirannya, tiba-tiba 'cup' sebuah benda kenyal mendarat di pipi kirinya dengan cepat.


"Apaan ya tadi? Kok nggak berasa sama sekali?" canda Arka.


"Sayang, nanti sore kita ke butik ya?" ajak Arka.


"Buat?"


"Pesan gaun mu lah" jelas Arka.


"Kalau dibuat sederhana aja gimana? Acara nanti" usul Tania.


"Tunangan sudah sederhana. Bahkan sampe sekarang kita belum go publik" terang Arka.


"Jadi jangan harap pesta kita juga akan berlangsung sederhana" ucap Arka diplomatis.


"Hemat, buang-buang uang" sela Tania.


"Lupa siapa calon suami kamu" tengok Arka ke arah Tania saat laju mobil berhenti di persimpangan.


"Sombong" ujar Tania menimpali.


"Sombong kalau ada yang disombongkan nggak apa-apa sayang" sahut Arka.


"Sombong jangan dipelihara. Ingat di atas langit, masih ada langit" imbuh Tania.


"Siap my queen" sambung Arka dengan terkekeh.


.


Di basement, kedatangan Arka dan Tania disambut langsung oleh Pandu.

__ADS_1


"Tumben, apa ada acara penyambutan?" seloroh Arka bercanda.


"Makanya tuan, kalau dikirimi pesan dibaca dong. Minimal angkat telpon lah" kata Pandu sedikit sengau. Jengkel dengan ketidakpedulian sang bos.


"Aku tuh mau angkat, tapi kupikir nggak usah aja. Lagian juga sudah mo sampe perusahaan" Arka beralasan.


"Maka dari itu, ku kirim pesan supaya tuan tidak keburu ke sini" tandas Pandu.


"Kok aneh kau ini?" tutur Arka mengernyitkan alis.


"Nyonya Gaby menunggumu di lobi tuan. Aku memberitahu karyawan front office untuk melarang dia ke ruang CEO" beritahu Pandu.


"Dia datang? Mencariku?" kata sinis Arka.


"Sebaiknya anda jangan lewat lobi aja dech" cegah Pandu.


"Aku akan ke sana" kata Arka.


"Kenapa kau malah ke sana?" ucap Tania.


"Mendengar apa yang akan dia katakan" sahut Arka santai.


Arka melenggang ke lobi, dan dengan santainya dia genggam erat tangan Tania.


Tania pun mau tak mau mengikuti langkah Arka.


Sampai di lobi, "Hallo anakku, kok nggak pernah mampir lagi ke rumah?" kata nyonya Gaby sok akrab.


'Cih, dasar ulat bulu' umpat Arka dalam hati.


Senyum sinis terlihat di bibir Arka.


"Mama ini juga mama kamu loh sayang" imbuhnya.


"Oh ya?" timpal Arka.


Nyonya Gaby mendekat, "Aku akan cerita semua tentang papa mu. Bagaimana dia menyakitiku" bisiknya ke Arka.


"Maaf nyonya, aku tak ingin tahu" jawab lugas Arka.


"Apa kau takut akan melukai hati mu" balasnya.


"Ha...ha....tidak ada yang aku takutkan. Malah sebaliknya aku ingin bertanya, kenapa kau tiba-tiba mengakui ku sebagai anak. Apa karena aku CEO di sini, atau karena tulus? Kurasa aku sudah tahu jawabannya" tandas Arka.


"Untuk selanjutnya jangan pernah kau temui aku lagi" sambung Arka penuh ketegasan.


"Silahkan, di sebelah sana pintu keluarnya!" tuding Arka ke arah tulisan exit.


"Awas saja kau, aku akan menyebarkan video-video papamu" ancam nyonya Gaby.


Arka tak sudi menanggapi, karena dia telah menjauh dari keberadaan wanita sialan itu bersama dengan Tania.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—


__ADS_2