
Mama Rosa menepuk bahu Tania dan Arka bersamaan, "Kok malah melamun sih?" tanya mama.
"Hujan sudah reda tuh, katanya mau nganterin mama pulang" seloroh mama ke arah Tania.
"Ya sudah yukkkk" tukas Tania dengan menenteng belanjaan mama.
"Ayo lekas nak Arka" ajak mama ke Arka yang masih belum beranjak dari tempat semula.
"Duh senangnya dijemput anak sama calon menantu" gumam Mama Rosa dengan bersenandung.
Tania hanya bersungut mendengar ucapan mama, 'Kita itu mengkhawatirkan mama' batin Tania.
"Sayang, aku nyusul ya abis ini. Kamu duluan aja sama mama" pinta Arka.
"Iya, kan bawa kendaraan sendiri-sendiri" tutur Tania menanggapi.
"Aku mau ngubungin Pandu. Abis ini aku ke rumah sama dia. Ada yang mau aku omongin" ucap Arka.
"Oke" balas Tania.
Sampai rumah, mama Rosa sudah heboh sendiri menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan calon menantu tampan nya.
"Mah, segini banyak buat siapa aja?" tanya Tania yang ikutan duduk di meja makan, melihat mama Rosa menyiapkan semua.
"Isshhhh, kau berisik ah. Tentu saja buat menantu kesayangan mama dong" tukas mama Rosa.
Tania mengambil tempe goreng, tapi buru-buru tangannya ditepis oleh mama Rosa.
"Tunggu nak Arka dulu" cegah mama.
"Anak kandung mama siapa sih? Kalau seperti ini aku berasa anak tiri" sungut Tania.
"Cuma nungguin bentar aja, nggak usah protes!!!" seloroh mama Rosa.
Arka barusan masuk disusul oleh Pandu.
"Kenalin Mah, ini Pandu asisten CEO Panapion" ujar Arka.
"Oh iya...jadi ramai nih rumah. Andai lekas ada cucu pasti akan lebih ramai lagi dech" celetuk mama Rosa.
"Idih, mama ini apaan sih. Nikah juga belum" sela Tania.
"Makanya abis nikah, jangan tunda untuk selekasnya kasih mama cucu" tandas mama.
"Kamu juga harus ngebut Arka, jangan kasih kendor" canda mama Rosa.
"Kalau untuk itu, kita sepakat Mah" tukas Arka dengan menyalami sang calon mertua.
Bahkan asisten dingin Arka ikutan tertawa mendengar ucapan mama Rosa dan sang bos.
Di sela obrolan, terdengar suara perut yang berdemo.
Semua yang di sana menengok ke arah Tania.
"Ngobrol aja terus, lapar nih" tandas Tania.
Semua terbahak menanggapi.
Suasana hening di meja makan. Hanya suara sendok dan piring yang saling bertanding di sana.
__ADS_1
"Arka, Tania sebenarnya ada apa sih? Kok sampai kalian datang barengan. Seperti ada yang kalian khawatirkan?" tanya mama membuka obrolan di meja makan.
Arka dan Tania saling tatap dan menghentikan kunyahan.
"Hemmmm, iya Mah" jawab Tania. Bagaimanapun mama Rosa pasti akan tahu apa yang sedang terjadi.
Arka mengangguk seakan memberi persetujuan pada Tania untuk menceritakan semua.
"Begini Mah, saat ini ada beberapa orang yang mengancam Tania melalui mama Rosa. Mama ingat kan orang yang datang nawarin lukisan beberapa hari yang lalu? Itu salah satu dari mereka" cerita Tania.
"Hah? Kok seperti drama Korea aja. Ngeri amat" tukas mama Rosa.
"Mah, bagaimana kalau mama sama Tania tinggal di rumah nenek aja untuk sementara waktu?" usul Arka.
"Di sana kalian akan lebih aman" imbuhnya.
"Nak Arka, bukan aku tak mau. Tapi bagi mama itu pamali. Apalagi Tania belum resmi jadi istri kamu" pesan bijak mama.
"Meski rumah ini sangat sederhana, tapi bagi mama rumah ini adalah rumah ternyaman" imbuh mama.
"Kalau begitu perbolehkan Arka untuk menaruh beberapa orang untuk mengawasi kalian berdua dari jauh" pinta Arka.
"Kok sudah seperti pejabat saja sih?" celetuk Tania.
"Iya bener tuh" sela mama Rosa.
"Maaf nyonya, maaf Nona. Tapi ucapan tuan muda sangat benar sekali. Demi keamanan anda berdua" kata Pandu menguatkan argumen Arka.
"Terserah aja dech, yang penting mama aman" sahut Tania.
"Mama berasa hidup di dunia novel dech, pake dikawal" kata mama terkekeh.
"Oh ya, katanya kalian mau bicarakan sesuatu?" tanya Tania ke Arka dan Pandu.
"Selesaikan dulu makan nya, baru lanjutkan bicara nya" suruh mama Rosa.
.
Arka dan Pandu telah duduk di ruang tamu dengan setumpuk berkas yang dibawa oleh Pandu.
"Apaan nih? Apa nggak kurang banyak tuh kertas-kertas yang kau bawa?" tanya Tania yang menyusul gabung.
"He...he...hari ini cukup Nona. Besok langsung kita antar ke Hadinoto dan partner" beritahu Pandu.
"Pusing gue. Nggak di Panapion, nggak di kantor, nggak di rumah berkas melulu" kata Tania.
"He...he...jangan hanya makan gaji buta dong. Panapion bayar tim hukum mahal loh" sela Arka.
"Iya...iya...belum juga terima gaji sudah main suruh aja" ucap Tania sewot.
"Cek tuh M-Banking kamu" suruh Arka.
Tania melakukan apa yang diminta Arka, matanya langsung melotot. "Beneran ini sayang?" tanya nya tak percaya.
"Heemmmm" Arka bergumam menimpali.
"Itu setara dengan dua ribu delapan ratus dolar loh" lanjut Arka.
"Jangan bilang, kalau ini sebagai ganti waktu itu" sela Tania.
__ADS_1
"Tau aja" Arka tertawa.
"Kalau gini sama aja boong dong" ucap Tania.
"Tuan, Nona jadi nggak nih bahas ini?" arah mata Pandu ke arah berkas yang menumpuk.
"Enggak" sahut Tania cepat.
"Lanjut" sela Arka.
Pandu mulai membuka beberapa berkas.
"Tolong kamu teliti, bisa nggak dengan ini aku menjerat William?" tanya Arka.
Wajah Tania langsung saja serius membuka lembar demi lembar yang dibawa oleh Pandu.
"Bagaimana bisa duplikat setiap dokumen dibuat beda?" tanya Tania langsung menemukan inti dari semua nya itu.
"Makanya, apa nggak aneh?" telisik Arka.
"Nggak aneh sih, aku cuman heran aja. Panapion kan perusahaan besar, bagaimana bisa dibodohi dengan dokumen-dokumen yang bagiku sangat sederhana ini" seloroh Tania.
"Maksudnya?" sela Pandu.
"Begini loh, bagaimana dokumen terduplikasi dengan isi yang tidak sama. Contoh ini, proyek sama tapi lihat nilai kontrak sangat beda. Terus ini yang mana yang dibuat acuan? Yang aneh, kenapa papa yang menjabat CEO begitu mudah membubuhi tanda tangan" tunjuk Tania ke arah berkas yang menjadi fokusnya kali ini.
"Kalau itu aku juga tahu sayang. Masalahnya apa dengan ini aku bisa menyeret William?" tatap Arka.
"Bisa, kalau ada bukti dan juga saksi" tandas Tania.
"Kukira tuan Benzema akan melakukan apa saja yang anda minta tuan? Apalagi kalau anda menjamin posisinya aman. Pasti dia akan berbalik memihak anda" usul Pandu.
"Bener juga apa kata kamu" sahut Pandu.
"Tapi..." Arka menjeda ucapannya.
"Tapi apa?" sela Tania.
"Posisi papa pasti juga akan terancam" lanjut Arka.
"Kenapa nggak minta papa bicara berdua dengan mu sayang. Beritahu saja apa yang sudah kamu temukan di Panapion" saran Tania.
Arka mengangkat kedua jempol untuk Tania, "Kamu is the best" puji Arka.
"Biasa ajah" tukas Tania.
Bersamaan itu ponsel Tania berdering, Angel calling.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
💝
__ADS_1
Salam sehat buat semua 🤗