
Arka keluar dengan wajah segar. Sementara Tania dia biarkan istirahat kembali.
Kali ini dia akan memeriksa laporan tahunan yang dibawakan oleh Pandu tadi.
Sejenak Arka berhenti di laporan kuartal pertama, saat masih dipegang oleh papa Rendra. Memang sih perkembangannya stagnan. Tapi tuan Rendra sepertinya berhasil menutupi kerugian yang diakibatkan oleh William saat itu.
Setelah itu, laporan Pandu menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik.
Tak lupa Arka juga mengoreksi laporan dari divisi keuangan.
Arka menarik nafas lega, karena semua lini berjalan baik.
Terdengar ketukan pintu dari luar. "Masuk!" suruh Arka.
Terlihat kepala Arga yang cuman separo.
"Ngapain tengok sana sini? Masuk ya masuk aja" kata Arka.
"Haisssss...aku tadi sudah masuk sini. Cuman ada suara-suara aneh di ruangan ini. Takut ah" sindir Arga.
Arka yang baru menyadari akhirnya terbahak mendengar ucapan Arga.
"Kau sudah ke sini tadi?" tandas Arka. Dan dijawab anggukan oleh Arga.
Arka semakin terbahak dibuatnya.
"Dasar lakn4t!!! Pasang peredam suara dong bos" umpat Arga.
"Ha...ha...." Arka semakin terpingkal.
"Enak banget lho Ga" pamer Arka ke jomblowan di depannya.
"Apa yang enak tuan? Bagi-bagi dong" sela Pandu yang datang belakangan.
"Wah, sesama jomblo pasti tak akan tahu enaknya" ledek Arka kembali.
"Sialan kamu" gerutu Arga.
"Apaan sih tuan?" Pandu masih saja belum tahu yang dimaksud oleh kedua laki-laki di depannya.
"Lelet" kata Arka dan Arga bersamaan.
"Oh ya Ga, ngapain ke sini? Bukannya ini jam sibuk kamu di bengkel? Rugi dong aku ngasih gaji kamu tinggi" lanjut Arka.
"Sialan" Arga masih saja setia dengan gerutuannya.
"Ada apa?" tukas Arka.
"Sepertinya tuan Arga mau curhat lagi ke nyonya muda tuan" terang Pandu membuat Arga berasa di bully kali ini.
"Gue bener-bener datang di waktu yang salah" kata Arga mengacak rambutnya kasar.
Membuat Arka dan juga Pandu tak berhenti menertawakan kelakuan Arga.
"Tania mana?" tanya Arga pada akhirnya.
"Tidur" Arka pun menimpali sekenanya.
"Tolong dong Ka, plissssss. Aku tadi sudah ke kantornya loh. Dan dibilangin Angel kalau Tania lagi sama kamu" harap Arga.
"Kalau mau, tungguin aja sampe istriku bangun" tukas Arka mengangkat kedua bahu.
"Sial bener gue hari ini" imbuh Arga merutuki nasibnya sendiri.
"Pandu, kopi dong" pinta Arga.
"Idih, maunya. Bentar aku mau laporan dulu ke tuan muda" terang Pandu.
"Apalagi yang mau kamu laporin? Eneg aku rasanya" bilang Arka.
"Nggak ada kaitannya dengan yang tadi tuan. Tapi aku cuman memberitahu kalau Nyonya muda dicariin tuan Anton. Orangnya menunggu di lobi" lapor Pandu.
"Nekad banget tuh orang" gumam Arka.
"Siapa?" sela Arga.
__ADS_1
"Suami dari mama mu" jelas Arka.
"Hah? Anton?" komentar Arga yang barusan melepas headseat yang dia pakai.
"Padahal aku ke sini karena ingin bahas orang itu" sambung Arga.
"Kenapa dia nyariin istri kamu?" telisik Arga.
"Ingin memaksa istriku menjadi pengacara di perusahaan tempat dirinya bekerja. Dan apa kamu tahu siapa bos nya?" lanjut Arka.
"Siapa?"
"Arkan" tandas Arka.
"Hah? Berani nya dia" segala sumpah serapah keluar dari mulut Arga.
"Akan kutemui dia" Arga langsung saja beranjak dari posisi duduk.
"Aku saja yang menemui. Harus segera kuselesaikan sendiri" tegas Arka.
"Pandu, bawa dia ke ruang rapat. Kutunggu kamu di sana" suruh Arka.
"Baik tuan" Pandu segera keluar untuk melaksanakan perintah Arka.
"Kamu ikut nggak?" tanya Arka ke Arga.
"Ikut" jawab Arga dan segera mengikuti langkah Arka.
Sampai di ruang rapat, tuan Anton sudah duduk di sana bersama Pandu.
Arga menatap tajam laki-laki yang ternyata suami dari mama yang tega membuangnya waktu itu.
Tuan Anton yang merasa belum mengenal Arga yang sekarang merasa risih dengan tatapan itu.
"Apa anda mengenal saya tuan?" tanyanya.
"Oh tentu saja" bilang Arga.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" lanjutnya bertanya.
"Tidak pernah" tukas Arga tegas.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan nyonya Tania tuan-tuan. Apa bisa?" kata tuan Anton menyapa ketiga laki-laki yang sejatinya belum dikenal olehnya langsung.
"Tidak" dijawab kompak ketiganya.
Kali ini Arka yang maju untuk bicara.
"Tuan Anton, perkenalkan saya Arka Danendra. Suami dari Tania Fahira. Maksud kedatangan anda ke sini saya sudah tahu. Bukankah istri saya sudah menolak untuk kerjasama dengan perusahaan anda?" Arka sengaja menghentikan perkataannya.
Tatapan tajam Arka tak beralih dari laki-laki setengah baya itu.
"Tolonglah tuan Arka. Kalau saya tak mendapatkan kerjasama ini, saya akan dipecat dari perusahaan" katanya merengek bagai anak kecil kehilangan mainan.
"Bukan urusan istri saya. Mau dipecat, ataupun perusahaan gulung tikar. Itu terserah padamu tuan Anton" bilang Arka tegas.
Kali ini Arka tak mau bermain api, di kala sang istri sedang hamil.
Tuan Anton keluar dari sana setelah mendapat penolakan dari Arka tanpa bertemu dengan Tania.
"Arka, jadi kau sudah tahu ceritanya?" sela Arga.
"Hemmmmm" gumam Arka.
"Apa karena ini, Tania menyuruhku untuk menelusuri keberadaan mama?" ucap Arga.
"Seperti itulah" tukas Arka.
"Kenapa kalian tak cerita padaku sebelumnya?" nada suara mulai naik.
"Santai bro, awalnya aku juga tak yakin dengan kata-kata istriku waktu itu. Cuman Tania punya alasan kuat untuk menyuruhmu" terang Arka.
"Alasan?" dahi Arga mengkerut.
"Tania melihat mama mu dengan luka lebam di lengannya, kala mama mu mendatanginya waktu itu" lanjut Arka.
__ADS_1
"Kenapa Tania tak langsung memberitahuku" sela Arga.
"Apa kau akan percaya? Tentu tidak kan? Makanya sama istriku, kamu disuruh menyelidikinya. Tania ingin kamu tahu sendiri kejadiannya" tandas Arka.
Arga terdiam.
Ponsel Arka berdering, dan saat dilihat Tania lah yang menelpon.
"Bye Arga, aku dicari sama istriku" kata Arka tergelak.
"Halo sayang, iya ni di ruang rapat sama Arga. Tapi sudah selesai kok. Ini otewe naik" ucap Arka yang sepertinya sedang menjelaskan posisinya saat ini.
Arga berjalan berbeda arah dari jalan Arka barusan. Kalau Arka naik menuju ruang CEO, kali ini Arga bertekad untuk mencari jawaban tentang mama nya. Mama yang sangat dibencinya selama ini.
Arka masuk saat Tania menunggu di ruangannya.
"Kok nggak istirahat aja sayang?" tanya Arka yang barusan menutup pintu.
"Pegel nih pinggang, suruh istirahat mulu" tukas Tania.
"Yank, lapar" bilang Tania melanjutkan.
"Mau makan apa?" tanya Arka.
"Kita keluar aja yuk. Masih ada waktu kan?" ajak Tania sambil melihat jam di dinding.
"Heemmmm, ayolah" tukas Arka untuk mengiyakan permintaan sang istri.
"Yank, ntar balik kerja mampir ke rumah nenek yuk. Kangen" kata Tania saat mereka sudah berada di lobi.
"Kangen nenek apa kangen masakannya?" gurau Arka.
"He...he...dua-duanya" tukas Tania terkekeh.
"Mau makan apa nih?" tanya Tania saat sudah di dalam mobil.
"Makan kamu" Arka masih dengan gurauannya.
"Nggak lucu ah"
"Padahal beneran loh ingin makan kamu aja" ucap Arka terbahak.
"Yank, perempatan depan belok kiri ya. Di sana ada yang jualan rujak cingur enak buanget" kata Tania memberitahu.
"Makanan apa lagi itu?" tukas Arka.
"Ntar juga tahu sendiri" Tania menimpali.
"Melihat antriannya sih, sepertinya enak" kata Arka.
"Jangan salah yank, legendaris tuh" jawab Tania.
"Nggak ikut turun?" tanya Arka yang melihat sang istri masih terdiam di dalam mobil.
"Bungkusin aja. Pedes ya" kata Tania tanpa rasa bersalah.
Tahu gini, ngapain nggak nyuruh Pandu aja sih. Kata Arka dalam benak.
Arka akhirnya ikutan dalam barisan pengantri makanan.
Jas yang dipakainya saat ini menambah rasa panas.
Pandangan aneh semua orang tak diperdulikan oleh Arka yang dengan setia membiarkan kacamata hitam nangkring di pangkal hidungnya yang mancung.
Bungkus satu aja lamanya gini. Gerutu Arka dalam hati.
Sabar...sabar...pak mil, semua demi anak ya g dikandung istri kamu sekarang. Arka menguatkan dirinya sendiri.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
๐