Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Jeratan Pasal


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, terdengar dengkuran halus nafas Tania. Tanda dia sudah menyusul terbang mencari keberadaan Arka, meski hanya lewat mimpi.


.


Dini hari Tania dikagetkan dengan tangis Arditya yang membahana. Ternyata sudah ada mama Rosa yang siap siaga membantu.


Selama Arka tidak ada di rumah, mama Rosa selalu menemani putri dan cucu pertamanya itu tidur di kamar Arditya.


Bahkan kali ini ada nenek Gemmy juga, yang sedari kemarin urung pulang karena gemes dengan Arditya cicitnya.


"Mah, kok nangis? Kenapa Arditya?" tanya Tania yang barusan bangun.


"Diapers nya penuh. Tak nyaman kali dia" beritahu mama Rosa.


Tania menepuk jidatnya sendiri, Arditya menangis karena dia lupa. Saat tengah malem waktunya ganti popok, Tania malah asyik ngobrol dengan Arka.


"Kenapa?" tanya nenek heran atas ulah Tania.


"He...he...nggak kok nek" timpal Tania.


"Mah, tapi nggak merah-merah kan lipatan kulitnya?" sela Tania.


"Enggak kok, emang kenapa?" tukas mama heran.


"Heemmmm, semalam aku lupa belum tak ganti popoknya Arditya" ujar Tania sambil mengusap tengkuk.


"Kebiasaan dech kamu ini" mama Rosa menyentil kening Tania.


"Kebiasaan jelek kamu tuh dikurangin, ada anak juga" ledek mama Rosa.


Sementara Tania memanyunkan bibirnya, "Kan lupa Mah, kalau inget pasti sudah kuganti".


"Alesan aja kamu ini" tukas mama Rosa dengan kejengkelannya.


"Dengerin tuh kalau orang tua kasih nasehat" imbuh nenek.


"Wah berasa dikeroyok nih" gumam Tania. Timpukan bungkus tisu basah pun mengenai Tania. Siapa lagi kalau bukan ulah mama Rosa.


"Kalau dinasehatin ngejawab terus" gusar juga mama Rosa ngadepin Tania.


"Ha...ha...sabar dikit napa sih Mah?" timpal Tania.


"Hari ini kamu pergi lagi?" tanya nenek mengalihkam topik, biar putri dan mama nya itu tak meneruskan saling angkat senjata.


"Nggak nek. Hari ini full di rumah. Cumaaannnn...." terang Tania dengan ngegantung kalimat yang diucapkannya.


"Cuman apa?" sela mama Rosa.


"Mau melajarin kasusnya Arkan" imbuh Tania.


"Sama aja boong" tukas mama Rosa.Yang tahu kebiasaan putrinya jika sudah ngadepin kasus serius. Makan pun akan terlewatkan begitu saja.


"Jangan lupain Arditya ya Mah" kata nenek Gemmy mewakili Arditya.


Tania tertawa, "Ya enggak lah. Arditya segalanya buat mama" Tania menguyel-uyel pipi yang terlihat lebih embul itu.


"Jangan gangguin terus, ntar Arditya bangun dan rewel lagi" larang mama.


Mereka bertiga bahkan tertidur lagi saat menemani Arditya.


Dering alarm dari ponsel Tania yang mengagetkan mereka semua.


"Jam berapa nih?" tanya mama sembari mengucek mata.


"Lima mah" suara serak khas bangun tidur kedengeran dari Tania.


Nenek bangkit dari rebahan. Ketiga wanita berbeda usia itu sungguh kompak untuk satu tujuan. Merawat Arditya.


.

__ADS_1


Setelah Arditya tidur nyenyak dalam box, Tania pamit ke ruang kerja.


"Mah, aku ke ruang kerja bentar ya" kata Tania.


"Heemmm, sebentar apa sebentar?" tanya ulang mama.


"He...he... ntar kalau Arditya rewel boleh dech susulin" kata Tania.


Dengan mama Rosa dan nenek Gemmy di sana, Tania sangat terbantu sekali.


"Tania, kalau boleh nenek kasih saran. Minta Arka untuk nyari baby sitter yang bisa dipercaya. Bisa diandelin kalau kamu repot dengan sidang-sidang kamu" ulas nenek.


"Nanti biar nenek dan mama Rosa bantuin ngawasin dech" lanjut nenek.


"Gitu ya nek? Aku sih awalnya yang nolak. Kalau Arka sedari mau lahiran sudah ngusulin itu. Nyari baby sitter" ujar Tania.


"Akan kupikirkan dech" kata Tania berikutnya.


"Jangan hanya pikirkan, tapi laksanakan. Apalagi kasus yang kamu hadepin kali ini kasus besar dan menyita perhatian publik. Pasti waktumu akan banyak tersita ke sana" imbuh nenek Gemmy.


Tania mengangguk tanda mengerti.


"Ntar kalau papa nya Arditya nelpon, aku bilang ke dia dech" ucap Tania.


.


Di ruang kerja, Tania mengulang berkas yang semalam dibaca dan dipelajarinya.


Pasal-pasal yang menjerat Arkan sungguh berat. Pasal tentang penadah dan pengedar senjata api ilegal dengan ancaman hukuman dua puluh tahun penjara.


Bahkan penyidik juga telah punya bukti yang akurat untuk itu.


Tania mengetuk-ngetuk kening dengan bolpoin yang dipegangnya.


"Tak ada celah sama sekali untuk pembelaan kasus yang ini" gumam Tania.


"Arkan...Arkan...sungguh berat kasus kamu" keluh Tania bermonolog.


Bahkan di berkas itu juga ada tuduhan kepemilikan gudang senjata. Tapi sepertinya penyidik ada yang terlewatkan. Di foto meski dibilang gudang senjata, tapi tak berisi senjata sama sekali. Sepertinya anak buah Arkan bergerak cepat saat pengerebekan itu.


"Besok akan kutanyakan Arkan saja, bagaimana bisa kosong tuh gudang" kata Tania bermonolog.


Aliran dana ke sana pastilah sangat besar. Pikir Tania.


"Dasar psikopat gila tuh Arkan" umpat Tania kepada kliennya.


Yang dilihat Tania baru pasal tentang kepemilikan dan pengedar senjata api.


Tania hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat semuanya.


"Kejahatan kamu sungguh di luar nalar Arkan" gumamnya.


Tania mulai membuka bandelan berkas kedua yang tak kalah tebalnya.


Tania ambil kacamata yang lupa dia pakai sebelumnya.


"Pengedar narkoba...ha...ha..." Tania malah terbahak membacanya.


Penjahatnya gila, pengacara nya pun ikutan gila.


"Dengan barang bukti sebesar ini, bahkan kamu bisa membeli sebuah pulau Arkan" bergumam atau menggerutu bagi Tania sekarang sama saja.


"Ini hanya sebagian yang kebongkar. Yang lain kemana? PR lagi buatku untuk nanyakan besok ke Arkan.


"Bahkan tak tanggung-tanggung, pasal yang disangkakan. Hukuman mati buat kamu" Tania masih saja bicara dengan dirinya sendiri.


Tania masih berpikir. Seandainya Arkan kooperatif dan berkelakuan baik selama di sana akankah bisa merubah keputusan hakim nantinya.


"Yo wis lah. Pikirkan nanti saja" Tania memijat-mijat pelipisnya sendiri.

__ADS_1


Ponsel Tania berdering. Tania lihat ternyata berasal dari Boy asisten Arkan.


"Selamat siang nyonya" sapa Boy.


"Siang. Ada info terbaru apa?" tanya Tania langsung pada inti pembicaraan.


"Begini nyonya, berdasar laporan penyidik. Tuan Arkan didapati melakukan pencucian uang juga" beritahu Boy.


"Bos kamu memang gila Boy. Dia pasti punya alasan kuat untuk semua itu" tukas Tania sembari menarik nafas dalam.


"Itu lah nyonya. Barusan aku menemui tuan Arkan dan menyuruhku untuk menyampaikan kepada anda sebagai kuasa hukum tuan Arkan" lanjut Boy.


"Bilang saja kalau bos kamu sebenarnya ingin menyiksaku" tukas Tania.


"Bukan nyonya. Tuan Arkan sangat percaya pada anda bisa membantu menyelesaikan semua kasusnya" terang Boy.


"Kamu juga, sama gilanya dengan bos kamu itu" tutur Tania mengolok Boy.


"Anda belum tahu saja siapa tuan Arkan nyonya. Tuan Arkan itu sebenarnya orang baik" terang Boy.


"Apa anda tahu, aliran dana tuan Arkan untuk apa saja?" terang Boy.


Tania menautkan alis.


"Untuk apa coba, selain memperkaya diri sendiri?" tukas Tania.


"Itu salah satunya. Tapi yang banyak, uang tuan Arkan diberikan ke puluhan panti asuhan yang selama ini dihidupi olehnya. Bahkan tuan Arkan mempunyai anak asuh ribuan" terang Boy.


"Dari uang haram?" tanya Tania tak percaya.


"Perlu kutambahkan nyonya, praktek pencucian uang yang dilakukan oleh tuan Arkan berasal dari mana?" Boy menggantung kalimatnya.


"Darimana?" imbuh Tania.


"Pejabat korup. Sengaja tuan Arkan merampok dari mereka semua" beritahu Boy.


Menarik juga hidup loe Arkan. Penuh tantangan. Batin Tania.


"Arkan pesan apalagi?" tanya Tania.


"Tuan Arkan berpesan, apapun pasal yang dikenakan padanya dia akan terima. Dengan segala konsekuensi hukuman apapun. Tuan Arkan mengaku bersalah. Hanya satu keinginannya saat ini, mendampingi nona Davina melahirkan" terang Boy.


"Oh ya nyonya, tuan Arkan juga berjanji akan membantu pihak kepolisian menumpas semua. Apalagi yang berkaitan dengan bisnis haramnya" lanjut Boy.


"Bilang saja kalau ingin balas dendam ke musuh, tapi pinjam tangan yang berwajib. Itu mah modusnya Arkan. Aku ggak ikut-ikut untuk urusan yang itu" imbuh Tania.


"Trims nyonya atas waktunya. Oh ya minggu depan mungkin jadwal sidang nona Davina sudah keluar" kata Boy.


"Boy, bilang ke bos kamu. Suruh nikahin tuh selebgram...biar jelas status anaknya" kata Tania.


"Siap nyonya. Akan saya sampaikan" tukas Boy sembari memutus panggilan.


Tania menyandarkan kepala di kursi kerjanya.


"Masih banyak fakta yang tak kuketahui tentang Arkan" batin Tania.


Dan ini masih sebatas Arkan, berkas Davina belum kepegang sama sekali.


"Rumit...rumit..." Tania mengeluhkan masalah pasangan itu.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


๐Ÿ’


__ADS_2