Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Persiapan sidang (2)


__ADS_3

"Kembali ke tema awal. Persiapan sidang Arkan" ulas Tania. Mereka bertiga pun kembali serius membahas persiapan pledoi kasusnya Arkan.


"Apalagi yang musti dibahas, persiapan kita sudah final. Bukti pendukung untuk penyangkalan beberapa dakwaan penyidik telah kita kantongin. Tinggal nunggu penyidik menyatakan berkas Arkan P21 kan?" tukas Maura.


"Ternyata kamu pintar juga Maura" Tania mengakui kehebatan musuh terselubungnya dulu.


"Ha...ha...belum tahu dia. Maura Hadinoto yang bersuamikan Benzema Abimanyu" katanya terbahak.


"Idih sombong. Dan perlu kamu ingat, aku juga kenal dengan suami kamu" timpal Tania.


"Ha...ha...bahkan kenal lebih lama denganmu daripada aku" ujar Maura. Tak terdengar rasa cemburu sama sekali di kalimat Maura yang terakhir.


"Aslinya rugi tuh Benzema kenal dengan ku?" kata Tania.


"Kok bisa Non?" Angel menimpali.


"Terang aja, nyatanya sama Maura bentar aja sudah dapat cewek imut kecil yang sering diajaknya ke sini" tukas Tania.


"Isss...sialan. Bilang aja aku dapat bonus duluan sebelum menikah" sela Maura pura-pura sewot.


"Kenal Benzema tuh sebenarnya aku juga rugi loh" terang Tania.


"Mana bisa begitu?" tanggap Maura


"Iya lah, gue rugi. Delapan tahun gue jagain jodoh orang. Sial nggak tuh" kata Tania biasa saja. Tidak ada rasa sakit hati yang tersisa saat ini.


Kalau bisa membina hubungan baik dengan orang lain, maka dia melakukan itu.


Perubahan itu dirasakan Tania semenjak bersama sang suami. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan Benzema, perlahan hilang karena masuknya Arka perlahan ke dalam relung hatinya.


"Ha...ha..." Maura terbahak menanggapi Tania.


"Bagaimana bisa hubungan antara laki-laki dan perempuan dihitung untung rugi?" tandas Maura.


"Jelas lah. Asal kamu tahu, Benzema itu laki pelit. Sampai sekarang apa masih begitu?" olok Tania.


"Ha...ha...kalau pacaran bayar sendiri-sendiri ya Non?" tukas Angel yang juga saksi hidup gaya pacaran Tania dan Benzema kala itu.


Hari ini Maura yang jadi korban bullying teman kantor itu. Tidak ada jarak antara Tania dan Maura serta Angel. Tak ada rasa sakit hati lagi, meski saling olok di antaranya.


"Oh ya Tania, gimana rasanya sih akun sosmed loe centang biru?" sela Maura. Beberapa kali ingin menanyakan itu, Tania selalu saja tidak bersedia.


"Malah aku belum sempat cek lagi sampe sekarang" terang Tania.


Maura dan Angel hanya bisa menepuk jidat. Pasti sang bos melewatkan endorsement yang masuk ke inbox nya.


"Kenapa sih kalian?" tanya Tania yang memang jarang perhatian ke sosmed. Sebenarnya Tania hanya ikutan tren aja untuk punya akun. Dan tidak terlalu aktif terlibat di sana.


"Bos, nggak ada yang nawarin buat endorsement produk atau semacamnya kah?" tanya Angel.


Tania menggeleng, karena dia memang tak pernah melihat sosmed semenjak Arka menelpon waktu itu.


"Capek juga punya bos seperti loe. Nglewatin kesempatan emas untuk raih cuan" jelas Maura.


Angel menunjukkan layar ponsel nya ke Tania.


"Tuh, bisa dilihat Non?" tanya Angel sembari menunjukkan layar ponselnya ke arah Tania dan dijawab anggukan Tania.


"Follower Tania Fahira sekarang berjumlah satu juta lebih. Lumayanlah untuk pendatang baru seperti Non" terang Angel.


"Coba non cek melalui inbox, pasti banyak yang nawarin endordement produk mereka" kata Angel.


Tania melakukan apa yang diminta oleh Angel. Dan benar apa yang dikatakan oleh kedua wanita itu. Banyak sekali inbox masuk dan menawari Tania untuk menjadi bintang iklan di produk-produk yang mereka jual.


"Kalau sudah rejeki tak akan kemana" kata Tania sembari terkekeh.


"Gitu kira-kira diterima nggak penawaran iklannya?" tanya Angel penasaran jawaban Tania.


"Ya pasti enggaklah. Aku takut Davina kalah saing, jika aku menjadi artis juga...ha...ha..." Tania tertawa lepas.


"Passionku tetap pengacara. Jadi kalau ada tawaran lain aku akan bicara dulu dengan suami aku" terang Tania.

__ADS_1


"Kira-kira tuan Arka ngijinin nggak?" tanya Angel penasaran.


"Ya pasti enggaklah. Kamu sudah tahu jawabannya, tapi pake nanya? Kamu bertanya-tanya?" ledek Tania menirukan kata-kata yang sedang tren di aplikasi tok-tok itu.


"Karena sudah tak ada yang kita bahas, aku pamit pulang dulu ya. Arditya takut rewel" terang Tania dijawab angukan Maura dan Angel.


.


Seperti yang dijanjikan Tania pada Arka, sore itu Tania sudah stanby di bandara. Ternyata Elis istri Bara sudah berada di sana saat Tania tiba.


"Hai Elis" kata Tania sembari duduk di samping Elis.


"Baru datang kak? Apa kabar?" tanya Elis ramah.


"Baik, kamu sendiri? Kok sudah mayan kurusan ya kamunya?" tanya Tania.


"Ha...ha...mayan kak. Baru turun lima kiloan nih. Padahal waktu hamil naik lima belas kilo gue" ucap Elis menanggapi.


Sesama ibu pasca salin, ternyata mereka saling curhat saat ini.


Tania melihat jam tangan yang melingkar di lengan nya.


"Info yang didapat, jam berapa sih datangnya?" tanya Tania.


"Nggak jelas kak, suamiku bilang kalau nggak sore ya malam" bilang Elis.


"Ternyata mereka kompak juga. Suamiku juga bilang begitu" ucap Tania menanggapi.


"Hhmmmm gimana kalau kita cari makan dulu? Laper nih" kata Tania mengajak Elis.


"Oke kak, garing juga nungguin lama" tandas Elis terkekeh.


Mereka berdua menikmati makan malam bersama di sebuah resto dalam kompleks bandara, sembari mengobrol ringan.


"Elis, loe kan waktu nikah sama Bara. Bara sudah dengan kesibukan bejibun. Di perusahaan sama sebagai dokter anesthesi. Yang aku tahu dokter anesthesi kesibukannya tak kenal waktu. Gimana menyikapinya?" tanya Tania, yang dalam arti sebenarnya dia mau curhat ke istri Bara itu.


"Awalnya lumayan kaget lah kak. Kadang baru sampai rumah, belum sempat ganti baju udah pergi lagi aja" terang Elis.


"Lantas?" Tania masih saja penasaran.


Tania mengangguk paham.


"Nggak bosan di rumah terus?" tanya Tania. Dirinya sendiri nggak ngebayangin di rumah dua puluh empat jam dengan segala kesibukan di rumah. Du...du...bosannya. Pikir Tania.


"Awalnya begitu. Tapi yaaa harus pintar-pintar cari kesibukan sih" kata Elis sembari tertawa.


"Kalau kak Arka kan dokter operator kak, apalagi menurut cerita suamiku operasinya sering dielektifkan. Jarang operasi emergency, pasti kak Arka lebih bisa mengatur waktunya di rumah sakit daripada suamiku" curhatan Elis.


"Iya sih, Arka cuman minta waktu dua kali seminggu aja sama Bara suami kamu" terang Tania.


"Lebih longgar sekali waktunya kalau begitu" tanggap Elis.


"Cuman kadang aku tuh merasa bersalah juga sama suami sama anak. Apalagi anak masih bayi gini" curhat juga Tania.


"Kok bisa gitu?" sela Elis.


"Iya, apalagi jika ada jadwal sidang yang begitu padat" terang Tania.


"Kalau begitu, kan bisa disiasati dengan menerima kasus yang sedikit aja kak" tukas Elis.


"Bener, ini juga pegang hanya satu kasus aja. Nggak lebih. Tapi satu kasus yang buat pusing seluruh negara" ulas Tania.


"Loh?" tanggap Elis heran.


"Lihat berita nggak, yang sedang viral sekarang?" tanya Tania.


"Yang tuan 'A' itu?" sela Elis.


"Bukan, itu kan berita hari ini. Yang sebelumnya" kata Tania memberi klu agar Elis bisa menebak.


Elis nampak berpikir, "Hhhmmmm Arkan yang dikabarkan tunangan dengan selebgram terkenal itu kah? Bukannya dia juga dikabarkan dalang di balik penculikan kakak beberapa waktu yang lalu?" imbuh Elis.

__ADS_1


"Yaapppp...aku yang pegang kasusnya dia" terang Tania.


"Lah, kok bisa sih?" tanya Elis tak percaya.


"Bisa, nyatanya aku sekarang jadi kuasa hukum dia" tandas Tania.


"Wah, kakak nekad juga tuh" ujar Elis menimpali.


"Seru kali Elis, nangani kasus ini" imbuh Tania.


"Bahaya kok malah dibilang seru. Aneh kakak tuh" komen Elis.


"Makanya itu, waktuku banyak tersita untuk memikirkan kasus ini. Untung Arditya masih bayi, kalau sudah pintar bicara dia pasti komplain pekerjaan mama nya yang juga tak kenal waktu ini" Tania melanjutkan sesi curhat.


"Resiko pekerjaan kak. Mau tak mau musti diadepin" timpal Elis.


"Hhhmmm benar juga apa kata kamu. Untung suamiku sangat paham akan hal itu" puji Tania barusan.


"Kamu kok malah senyum-senyum sih Elis. Ada yang lucu ya dari aku?" kata Tania sambil menelisik badannya berkali-kali.


"Selamat datang sayang" Elis malah beranjak dan berjalan melewati Tania yang masih dalam mode bengong.


Saat Tania membalikkan badan, sudah berdiri Arka tepat di hadapannya.


"Surprise" kata Arka dengan memeluk Tania.


"Makasih ya atas pujian kamu. Love you my beloved wife" kata Arka sembari mengecup kening sang istri.


Sementara Bara dan Elis hanya tersenyum melihat keromantisan dokter versus pengacara itu.


"Berasa pengantin baru aja kalian?" ledek Bara.


"Harus begitu dong" tanggap Arka.


Arka menggandeng Tania yang masih termangu, Oke Bara kita duluan ya" Arka pamit ke sahabatnya itu.


"Elis aku juga duluan" Tania ikutan pamit ke istri Bara.


"Oke, hati-hati kalian" Bara menimpali. Padahal mereka berdua pada akhirnga juga berjalan di belakang Arka, sama saling bergandengan tangan.


.


Di mobil ponsel Tania berdering, panggilan dari mama Rosa.


Tania tadi memang hanya pamit keluar sebentar. Dan tak bilang kalau mau menjemput sang suami.


"Halo mama" sapa Tania dengan tatapan tertuju ke Arka yang duduk di sampingnya.


"Kamu kemana aja? Arditya rewel nih" beritahu mama.


"Iya Mah, di jalan ini. Tapi macet parah" jawab Tania.


"Oke...oke...ini kucoba tenangin dulu. Lekas ya" kata mama di ujung telpon.


"Aduh, gimana ini sayang?" kata Tania dengan posisi duduk tak tenang.


"Kamu sih, bilangnya sore jam segini baru datang" karena gelisah, mulai deh Tania nyalah-nyalahin Arka.


"Sudah, kamu yang tenang dong. Semakin dipikirin Arditya akan semakin rewel. Pikiran kamu yang gelisah itu bisa nembus ke Arditya di rumah loh. Jadi yang tenang" hibur Arka.


"Kok bisa?" tanggap Tania.


"Ikatan ibu dan anak itu sangat kuat sayang. Jadi nggak usah aku jelasin lagi dech. Kamu tenang aja" imbuh Arka.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


πŸ’


__ADS_2