
Tania menengok ke arah orang yang dipanggil tuan William.
Arka diam melihat Tania.
"Apa dia yang dimaksud oleh nyonya Marsha?" gumam Tania bermonolog.
Arka masih tak bereaksi.
"Aku ke toilet dulu" Tania beringsut berjalan ke arah toilet.
Arka menahan pergelangan Tania, "Bentar, mau pesan apa?" kata Arka.
"Ngikut kamu aja" sahut cepat Tania.
Dari toilet, Tania sengaja berjalan pelan dan melewati meja tuan William.
Tatap mata mereka saling bertemu tanpa sengaja.
Dilihat dari wajahnya, sama persis sih sama foto yang tadi. Batin Tania.
Tania sengaja menyenggol minuman yang berada di samping tuan William, dan tumpah ke jas mahal miliknya
"Maaf...maaf tuan" ucap Tania.
Terlihat gurat kemarahan di wajah William, tapi sedetik kemudian muka marah itu berubah.
"Untung kau cantik nona" kata William dengan muka nakal. Bahkan tangannya mencoba mengelus punggung tangan Tania, tapi dengan cepat Tania menarik lengan.
"Maaf tuan" ucap Tania sekali lagi dan berjalan ke meja di mana Arka menunggu.
"Kau sengaja kan?" ledek Arka.
"Sengaja apaan?" jawab sengit Tania.
"Sengaja numpahin minum ke dia" Arka tergelak.
"Sok tau" sanggah Tania.
"Bukannya kau sedang cari orang yang bernama tuan William? Atau bisa jadi dia yang kau maksud" seloroh Arka tanpa rasa bersalah.
"Emang kau tau dia?" picing mata Tania.
"Semua orang juga tau Nona, tuan William direktur keuangan PT Panapion Grub" imbuh Arka.
"Sebenarnya kamu itu siapa sih? Tuan muda kaya? Atau hanya sopirnya tuan muda?" sindir Tania.
"Coba tebak" sahut Arka.
"Palingan juga sopir tuan muda. Mana ada tuan muda minta ganti rugi karena mobilnya sedikit bonyok" Tania terbahak karena berhasil mengolok laki-laki di depannya.
Tuan William di sana melihat Tania yang sedang tertawa. Tidak ada jaim-jaimnya sama sekali. Tuan William membisikkan sesuatu ke asistennya.
Asisten itu beranjak dan menuju di mana Tania berada.
"Maaf Nona, ini kartu tuan William. Beliau ingin lebih mengenal anda" ucap asisten itu.
Tania menghentikan tawa, dan melihat ke arah William yang sedang mengedipkan sebelah mata ke arah Tania.
"Idih, genit amat bosmu" kata Tania yang masih kedengeran oleh asisten William.
.
"Wah...wah...ada fans baru nih" ledek Arka.
Tania menimpuk Arka dengan kotak tisu yang ada di atas meja.
"Sadis" tukas Arka menghindar.
"Simpan tuh kartu namanya, suatu saat kau pasti akan butuh" suruh Arka.
"Sok tau loe" tandas Tania. Tapi tetap menyimpan kartu yang diberikan William.
__ADS_1
Arka tersenyum sendiri melihat makan Tania seperti orang kelaparan.
"Enak juga, boleh nambah nggak?" kata Tania.
"Hah?" Arka bengong. Biasanya cewek akan menjaga image, bila sedang bersama cowok. Ini malah aneh, minta nambah tanpa rasa sungkan.
"Kok bengong sih? Boleh nggak? Betewe ini kau traktir kan?" sela Tania di antara suapan makan.
"Idih maunya, bukannya kamu yang janji traktir aku makan siang" tukas Arka.
Tania menghentikan kunyahannya. "What??" pelototnya.
Hiburan tersendiri menggoda cewek ini. Batin Arka.
"Nggak jadi nambah" celetuk Tania menaruh sendok di meja.
"Ha...ha....kali ini aku yang traktir dech" Arka terbahak. Kasihan juga melihat ekspresinya.
"Beneran" wajah Tania langsung sumringah.
"Nggak percaya amat. Nggak yakin kalau sopir ini mampu bayar?" seloroh Arka.
"He...he..." Tania hanya tertawa menimpali ucapan Arka.
Tuan William menghampiri meja Tania, tanpa memperdulikan keberadaan Arka.
"Jangan lupa hubungi nomerku!" kata tuan William membungkuk seperti berbisik ke telinga Tania.
Arka jengah juga melihatnya.
"Heh, apa yang kau lakukan!" sergahnya.
Tuan William beralih menatap ke arah Arka.
"Siapa kau?" tandasnya dengab nada mengejak.
"Calon imamnya" jawab Arka.
Arka mengepalkan genggaman tangannya dan berdiri dengan menatap tajam ke arah William. Lihat saja kau. Ancamnya dalam benak.
Tuan William melenggang menjauhi keberadaan Tania dan Arka.
Pesanan menu kedua untuk Tania telah datang.
"Harus habis!" kata Arka.
"Siap bos" Tania makan lagi dengan lahap, seolah sudah lupa kejadian barusan.
"Kau nggak penasaran dengan orang tadi?" sela Arka.
Tania mendongak, "Iya" jawabnya singkat.
"Gogling aja" suruh Arka.
Sambil makan Tania mengerjakan apa yang disuruh Arka barusan.
Tania melotot tajam ke layar ponsel.
"Dia beneran direktur keuangan Panapion ya?" tanya Tania ke Arka.
"Hah, ternyata dia playboy cap kadal. Makanya tadi ganjen banget" seloroh Tania.
"Coba aja kau telpon nomernya, pasti kau langsung diajak ons" seloroh Arka.
"Apa itu ons? Satuan berat?" tukas Tania.
"Ha...ha...kau ini polos sekali" Arka terbahak.
"Apaan sih" sungut Tania.
"Beneran nggak tau?" Tania menggeleng.
__ADS_1
"One Night Stand" imbuh Arka.
"Apaan lagi itu?" kata Tania.
"Gogling aja, males aku ngejelasin" imbuh Arka. Membuat Tania melototi Arka.
Tania membelakkan mata saat membaca arti ons yang dimaksud Arka.
"Sudah tahu artinya?" tanya Arka sambil menikmati makanan yang masih ada.
"Heemmmm...tapi serem amat ya" celetuk polos Tania.
"Kau ini pengacara, tapi ons saja nggak ngerti" tukas Arka menyentil kening Tania.
"Jangan bilang kau belum pernah pergi ke club?" telisik Arka.
"Club apaan? Club bola, club voli atau yang lain" Tania menimpali.
Arka menepuk jidatnya, "Hari gini, belum tahu club?" Arka mengedikkan bahu.
"Halah, pasti yang kau maksud club malam kan" ulas Tania.
"Nah itu paham" singkat Arka.
"Emang kamu pernah pergi ke tempat berisik seperti itu? Sudah bau minuman, bau rokok..." celetuk Tania.
"Pernah sih, tapi nggak sering" jawab Arka.
"Berarti pernah ons dong?" kejar Tania.
Hanya dengan gelengan kepala Arka menjawabnya.
"Gombal banget omongan kamu" sela Tania.
"Idih, nggak percaya"
"Balik yuk, kenyang nih" kata Tania.
"Heemmmm" gumam Arka dan beringsut ke meja kasir. Tania mengikuti di samping Arka.
"Eh tuan Arka, tumben sama cewek. Biasanya kemana-mana sama Arga?" tanya kasir resto.
Arka mengeluarkan black card yang ada di dompet.
"Makasih tuan" kata kasir itu membungkuk sopan.
"Eh, kamu kok punya kartu sakti? Jangan-jangan kau curi dari bos mu ya?" tanya Tania yang mengekori jalan Arka.
Jika Arka Danendra adalah the real orang kaya, tak mungkin dia minta ganti rugi padaku. Batin Tania.
"Siapa sih dia?" gumam Tania sendirian.
Tania berjalan keluar resto bersama Arka. Dan di seberang jalan ternyata ada Maura dan Benzema yang melihatnya. Tentu saja Tania tak tahu, karena mereka berada dalam mobil
Reaksi berbeda ditunjukkan Maura dan Benzema. Yang wanita tersenyum sinis, sementara yang laki-laki mengepalkan tangannya erat.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote yah supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis 😊😊😊
Iklan di bawah, di klik boleh loh
Jangan lupa follow IG aku juga dong
@moenaelsa_
💝
__ADS_1