Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Berdua


__ADS_3

"Cieeee...yang suaminya datang" ledek nenek Gemmy yang melihat Tania terus saja menggelayut manja ke sang suami.


Senang juga melihat cucunya sudah pulih lebih cepat dari yang diperkirakan.


Nasi telah tandas karena disuapin Arka.


"Lahap banget makannya? Tiap hari begini?" tanya Arka. Dan Tania mengangguk.


"Heemmmm"


"Terus larinya kemana? Makan segini banyak, badan kamu juga segini aja" tukas Arka.


Tania menunjuk perut yang terlihat mulai membuncit meski belum begitu terlihat.


"Oh ya, sampai lupa. Aku belum menyapanya" imbuh Arka.


"Halo sayang, papa datang nih" ucap Arka berbisik di perut sang istri. Dia elus dan menciumnya, "Maafin papa yah, sudah ngrepotin kamu dan mama".


Arga dan Pandu datang. Entah darimana jomblowan berdua itu.


"Hei kalian, kalau mau mesraan noh di kamar. Jangan bikin mata kita tercemar dong" seloroh Arga yang langsung mengambil camilan di meja.


"Yeeiiii, terserah gue dong. Nggak tahu kita lagi kangen-kangenan. Emang situ berdua...jomblo" ketus Arka.


"Salah siapa bro, hari gini masih saling nggak kasih kabar waktu jauhan. Emang jamannya harus pake merpati untuk bertukar kabar. Ih, jadul banget?" ledek Arga.


"Aaaauuu ah bos" Pandu ikut menimpali.


"Kalau nggak gitu, kalian berdua nggak ada kerjaan dong. Rugi gue kasih bonus ke kalian berdua" timpal Arka tak mau kalah.


Angel datang belakangan dengan nafas ngos-ngosan.


"Kalian ini kenapa ninggalin gue????" suara Angel mencelos.


"Abis loe lelet" tanggap Pandu dan Arga bersamaan.


"Kalian bertiga ini darimana?" suara Tania mulai terdengar.


"Beli jagung bakar" jawab ketiganya.


Suasana dingin di sekitar vila memang sangat mendukung untuk menikmati jagung bakar hangat.


"Yank, aku ingin beli jagung bakar" pinta Tania.


"Jagung rebus aja ya?" tawar Arka.


Tania mengangguk, "Pokoknya yang serba jagung" imbuh Tania.


"Pandu" panggil Arka.


"Aku nggak mau dibeliin Pandu, tapi kamu aja" sela Tania menimpali.


"Semangat bossss" ketiganya menimpali.


Suruh siapa, tiga bulan sudah buat repot semuanya. Batin mereka bertiga.


Kali ini Arka berangkat dengan jaket tebal, karena kabut turun dan hawa dingin yang menusuk kulit berasa tembus tulang.


Tania yang merasa kuatir, akhirnya ikut juga.


Mereka jalan berdua keluar vila. Yang ternyata banyak penjual pinggir jalan di sekitaran vila tempat mereka menginap.


Tania yang tidak pernah keluar mansion, kecuali untuk kerja pun merasa senang. Apalagi ada sang suami di sampingnya sekarang.


"Huh, akhirnya keluar kandang juga gue" ungkapnya berasa lega.


"Emang selama ini kamu dikerangkeng oleh nenek?" tukas Arka. Lucu juga kata Tania barusan.


"Gue bukan macan tau" sungut Tania.


"Ha...ha...kamu sendiri yang bilang baru bisa keluar kandang" imbub Arka menimpali.


"He...he...abis aku nggak pernah diijinin nenek sama mama keluar rumah kecuali kerja" ungkap Tania.

__ADS_1


"Kasihan...ternyata istriku kurang piknik ya?" canda Arka.


Mereka habiskan malam ini untuk jalan berdua.


"Yank, tuh sebelah sana" tunjuk Tania girang bagai menemukan sebongkah berlian.


Padahal yang ditunjuk adalah penjual jagung rebus seperti yang diinginkannya.


"Pak, satu ya" pinta Tania.


"Aku juga pak" sahut Arka.


Si penjual menyerahkan masing-masing satu untuk Arka dan Tania.


"Pak, boleh nebeng tempat duduknya ya?" kata Tania.


"Boleh neng, silahkan" balasnya sopan.


"Lama pak jualan di sini?" tanya Arka.


"Sudah tuan, lima belas tahunan" ceritanya.


"Lama juga ya pak. Ramai pak hari ini?" tanya Arka.


"Nggak begitu. Baru tuan sama neng geulis yang mampir" celetuknya.


"Oooooo...sepi dong pak" sahut Tania.


"He...he...begitulah neng. Namanya orang dagang, kadang rame kadang juga sepi. Sudah ada takaran masing-masing" jawab bapak itu tanpa mengeluh.


"Pak, boleh minta tolong nggak?" tanya Arka.


"Iya tuan" jawabnya.


"Tolong anterin jagung rebus nih, semuanya. Ke vila itu tuh" suruh Arka dan menyebutkan nama vila tempat dia dan Tania menginap.


"Vila mewah itu tuan?" tanyanya.


Arka mengangguk.


Bapak penjual itu menyebutkan nominal yang bagi Arka sangat murah.


"Nih pak" Arka menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Tuan, ini kebanyakan" tukas bapak itu.


"Nggak papa pak, anggap aja itu rejeki anak bapak" ucap Arka.


"Terima kasih tuan" tukasnya dengan sopan.


Saat bapak penjual jagung rebus itu mengantar semua dagangan ke vila, Tania dan Arka kembali berjalan menyusuri jalan yang masih ramai.


Suasana week end menambah suasana semakin ramai saja.


.


Tania dan Arka kembali ke apartemen sepulang liburan dan menginap di vila.


"Yeeeiiii saatnya kembali ke dunia nyata" celetuk Tania pagi itu.


Arka yang baru saja membuka mata, menautkan alisnya.


"Emang sebelumnya di dunia halu ya yank? Seperti author?" tanya Arka.


"He...he...begitulah" tukas Tania tertawa.


"Maksudnya kamu mulai dengan kesibukan kamu lagi, demikian juga aku" jelas Tania.


Arka kembali merebahkan tubuhnya.


"Sini bentar yank" panggilnya.


Tania mendekat.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Arka merengkuh dan memeluk kembali Tania.


"Aku mau ke toilet loh yank" kata Tania.


"Bentar aja" rayu Arka, dan Tania menuruti.


"Aku minta maaf ya yank, sudah buat kamu repot selama ini" kata Arka.


"Sudahlah, jangan mulai dech" elak Tania. Masalah kemarin sebaiknya nggak usah dipikirin lagi. Menurut Tania.


"Ntar sore aku jemput, aku anterin periksa. Biasanya ke mana periksa?" tanya Arka masih dengan mata terpejam sambil memeluk sang istri.


"Prof. Abraham" jawab Tania.


"Besannya Dirgantara Grub, alias om Suryolaksono dan ayahnya dokter Bara" celetuk Arka.


"Au ah gelap. Aku ke toilet dulu" Tania bergegas turun dari ranjang.


Saat sarapan, ponsel Tania berdering.


"Pagi Mutia" sapa Tania.


"Kak, sori baru ngubungin. Ntar abis makan siang longgar nggak?" tanya Mutia.


"Heemmmm, siang ini longgar sih. Soalnya pagi aku ke Blue Sky, perusahaan suami kamu" beritahu Tania.


"Kebetulan pagi aku ke Blue Sky kak, ntar berangkatnya barengan aja" usul Mutia dan langsung diiyain Tania.


"Oke baiklah" tukas Tania menyetujui.


"Ke Sebastian?" tanya Arka dan dijawab anggukan Tania.


"Aku anterin" tukas Arka.


"Bukannya kamu sibuk yank, ini hari pertama kamu balik kerja loh" imbuh Tania.


"Nggak papa, untuk mengganti waktu ku yang kemarin" balas Arka dan mulai mengunyah makanan yang baru disuapkannya.


Tania menyetujui saja. Lagian dia juga belum puas menikmati waktu berdua dengan sang suami...he...he...


.


Nggak seru bila bertemu Sebastian tidak saling bully.


"Tania, berasa pengantin baru nih?" celotehnya menyambut kedatangan Tania dan Arka.


"Hemmmm, sirik aja loe" balas Tania.


"Ngapain sirik. Malah aku lebih sukses dari loe" tukas Sebastian.


"Lihat tuh perut istri gue...sudah mau ada yang ketiga...ha...ha..." lanjut Tian terbahak.


"Itu karena loe yang maruk aja" ledek Tania.


"Maruk nggak papa, yang penting kan hasilnya. Kualitas unggul" balas Tian.


"Jadi rapat nggak nih?" sela Dewa diantaranya. Jengah juga mendengar debat kedua sahabatnya, karena Dewa belum merasakan tentang apà yang dibahas oleh mereka.


"Jadi dong" kali ini Tania dan Tian kompak menjawab.


"Aku kerja dulu yank. Tian, Dewa aku pamit" kata Arka berlalu setelah mengecup kening sang istri.


Dan dijawab anggukan berjamaah oleh Tian dan Dewa.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


💝


__ADS_2