
"Nona, sudah baca berita belum?" tanya Angel saat Tania barusan masuk ruangan.
Tania geleng, tapi sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Angel.
"Anthoni keciduk kan?" seloroh Tania biasa aja.
"Eh, kok Non malah tahu duluan?" tukas Angel.
Tania hanya mengedipkan sebelah mata dan tersenyum mendengar perkataan Angel.
"Apa ada kaitan dengan bos besar kita Non?" tanya Angel berbisik. Tania hanya mengedikkan bahu, dia tak mau spekulasi berita yang masih simpang siur.
Angel menyalakan televisi yang ada di ruangan. Kebetulan di sana kepala kepolisian sedang mengadakan konferensi seperti yang diinfokan kepada Tania kemarin.
Dia menegaskan, kalau pemeran utama dalam video yang tersebar itu bukanlah tuan R dari perusahaan "P" tapi orang lain yang saat ini masih dalam proses perburuan.
Dan pihak berwajib juga telah berhasil meringkus dalang yang mengunggah konten itu pertama kali sehingga meluas tak terkendali.
Anthoni terlihat di layar televisi dengan muka menunduk.
Saat ditanya apa yang menjadi alasannya, Anthoni menjawab kalau dia kepepet uang sehingga mau ditawari pekerjaan itu. Mengunggah video, yang bagi Anthoni sangat gampang.
"Bahkan si tersangka ini juga sudah mengaku siapa yang menyuruhnya. Untuk informasi berikutnya, akan kami sampaikan setelah ada perkembangan baru" tutup bapak kepala polisi itu.
.
Angel mengeraskan volume tivi yang sudah menyala.
"Jadi papa mertua anda tidak salah Non?" tanya Angel penasaran.
"Benar" tandas Tania.
"Kenapa ya tuan Rendra kok nggak tahu? Aneh bukan? Orang dengan kuasa yang besar di Panapion kenapa bisa dibodohi oleh orang-orang licik itu?" Angel masih saja tak percaya.
"Kau aja merasa aneh, apalagi aku?" celetuk Tania sambil menaruh pantatnya di kursi.
"Mungkin itu salah satu kekhilafan papa. Dulu begitu melihat video memalukan itu papa langsung saja tutup mata, tak berani meneruskan. Ternyata bagian pentingnya malah kelewat" cerita Tania.
"Jadi status tuan Rendra hanya menjadi saksi Non?" ujar Angel.
"Hemmmm...." angguk Tania.
Tok...tok...tok...
"Siapa Ngel?" tanya Tania.
"Nggak tahu Non" sahut Angel.
"Bukain aja!" suruh Tania.
Angel berjalan ke arah pintu, dan Maura Hadinoto nyelonong saja masuk.
"Ternyata culas juga caramu Tania" ucap sinis Maura.
"Apa maksud kamu?" tatap tajam Tania ke arah Maura.
Kali ini Tania bertekad tak akan diam saja kalau Maura mengejeknya.
"Berani-beraninya kau melaporkan bos kamu, yang nyata-nyata telah memberikan kehidupan untuk kamu" hardik Maura.
"Apa kau sudah mengkonfirmasi ke pihak berwajib, tanya siapa yang melaporkan" tajam kata Tania.
"Meski orang lain yang melaporkan, aku yakin kau juga ada di belakangnya" balas Maura.
"Ha...ha...apa kau ada bukti? Jangan menuduh berdasar asumsi nona Maura" tukas Tania.
Maura terdiam, akalnya tak logis karena berita penangkapan papa nya yang mendadak.
__ADS_1
Hanya karena terseret kasus Anthoni. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pagi ini Maura mendengar kabar langsung dari sang papa kalau dia sudah mengakui semua. Dan yang lebih membuat syok, penyidik juga menunjukkan foto papa nya yang terbukti menggandeng seorang wanita keluar masuk hotel. Meski papa menyangkal, tapi sebagai wanita dewasa Maura sangat paham akan hal itu. Perselingkuhan.
Apa kabar dengan pesta nikahnya dengan Benzema yang tinggal menghitung hari. Penat semua menumpuk di kepala Maura.
Sehingga tanpa pikir panjang dia melabrak Tania.
"Pikirkan dengan bijak" ucap Tania dengan suara mulai mereda.
"Akupun pernah berada di titik saat ini kamu berada" lanjutnya.
"Bahkan saat itu aku belum tahu apapun yang terjadi. Buta akan semuanya. Karena aku hanya anak kecil yang selalu menunggu ayahnya pulang kerja untuk membawakan sesuatu" kata Tania.
Tak dinyana Maura menghambur memeluk Tania. Menangis kencang.
Tania hanya terpaku tak membalas pelukan Maura. Biarlah dia tenang.
Sungguh Arka, pembalasanmu ternyata tak tanggung-tanggung. Terima kasih. Batin Tania bermonolog.
"Sudah tenang?" tanya Tania saat tangis Maura mereda.
"Heemmm...maaf" ucap lirih Maura.
Maura meninggalkan ruangan Tania dengan langkah gontai.
"Maura" panggil Tania dan Maura pun menengok.
"Jika ingin curhat, datanglah ke sini" ucap tulus Tania.
"Baiklah. Maaf untuk yang tadi" ulang Maura. Kali ini dengan tulus juga.
"Sama-sama" balas Tania.
Sepeninggal Maura, Angel masih bengong.
"Heiii...kok melongo aja sih. Nggak takut kemasukan lalat?" canda Tania.
"Maksud kamu?"
"Nona Tania dan Nona Maura gencatan senjata. Really?" ucap Angel membego.
Tania menyentil kening Angel.
"Nggak baik menyimpan dendam...he...he..." Tania terkekeh.
"Sejak kapan Non? Kalau mendendam itu tak baik?" tukas Angel.
"Barusan. Saat Maura ke sini" Tania terbahak melihat ekspresi Angel yang sewot.
.
Dan benar apa yang dikatakan Arka sebelumnya, dengan ditangkapnya Anthoni. Semua yang terlibat diciduk oleh pihak berwajib.
Bahkan nyonya Gaby, juga dijemput paksa di kediaman mewah yang dibeli oleh tuan Rendra.
William yang hendak pergi keluar negeri, tertangkap di bandara.
Berita di stasiun televisi nasional bahkan sosmed ramai memberitakan tentang mereka. Bahkan banyak meme tentang mereka di sosial media. Maklumlah yang tertangkap adalah seorang pengacara handal dan petinggi perusahaan multi nasional.
Tania tetap mengikuti semua berita tivi di ruangannya.
"Non, kok melamun sih? Tuh ponselnya bunyi" tutur Angel menunjuk ke arah ponsel Tania.
"He...he...manusia posesif yang nelpon" beritahu Tania ke arah ponsel.
"Manusia posesif?" gumam Angel.
"Halo sayang?" sapa Tania kelihatan sumringah. Beban berat yang selama ini berasa di pundak, seakan telah terlepas.
__ADS_1
"Semoga kau bahagia selalu nona" gumam Angel di sela obrolan Tania dan Arka.
"Aku jemput. Tunggu aku tiga puluh menit. Abis ini kita ke butik!" ucap Arka.
"Heemmmm...skalian nonton yaaahhhh?" rayu Tania.
"Oke...tapi yang romance. Kalau action...NO!!!" tandas Arka.
"Apa serunya? Kan bagusan yang action genre nya" sanggah Tania.
"Kalau nggak mau, ya nggak nonton" kata Arka yang terdengar paksaan di telinga Tania.
"Ke butik aja" seloroh Tania.
"Nggak bisa dibatalin" Arka terkekeh di ujung telpon.
"Pasti ujungnya memaksa" Tania masih saja sewot.
"I love you. Tania Fahira...ha...ha..." kata Arka menutup panggilan.
"Non, romantis juga tuan muda" sela Angel saat Tania menutup panggilan.
"Pemaksa gitu dibilang romantis?" sahut Tania.
"Hati-hati Non, nanti dibuat bucin loh oleh tuan muda" kata Angel dan sedetik kemudian dia tertawa.
Sudah saling bucin, tapi masih gengsian. Batin Angel.
Tak menunggu lama, Arka sudah berada di sana.
"Angel, kami pergi dulu ya" pamit Tania.
"Oke Non, selamat bersenang-senang" tukas Angel.
"Angel" panggil Arka.
"Iya tuan muda" balas Angel.
"Kau nggak sedih?" telisik Arka membuat Angel menautkan alis.
"Sedih?" Angel masih belum ngeh.
"Sedih, Anthoni ketangkap" balas Arka.
"Untung, aku ditolak. Bisa panjang nih urusan kalau aku jadian sama dia" kata Angel mengelus dada.
"Ditolak kok malah pe-de?" imbuh Arka.
"Sudah ah, yuk pergi. Angel biarin aja merenungi nasibnya...ha...ha..." timpal Tania.
Angel ngedumel setelah kepergian Tania dan Arka.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis πππ
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
π
Salam sehat buat semua π€
__ADS_1