Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kecemasan Tania


__ADS_3

Bersamaan dengan itu, gelas berisi air putih yang dipegang Tania terjatuh dan pyaaarrrrrr. Ambyar tak beraturan.


Deg, jantung Tania berdetak lebih keras.


"Apa yang terjadi?" gumamnya.


Tania melihat jam dinding.


"Sudah malam rupanya, kenapa Arka belum datang ya? Apa memang belum kelar tuh masalah perusahaan" Tania terus saja bergumam sendiri.


Tania kembali ke kamar untuk menelpon sang suami yang belum kunjung pulang.


Sekali, dua kali dan tiga kali hanya jawaban operator yang didapatnya.


"Loh, kok malah tak aktif sih? Kebiasaan pasti low bat dech" kata Tania mencoba menerka.


"Hemmmm, bukannya tadi dia bersama Arga dan Pandu. Aku hubungin mereka ajah" seloroh Tania.


Tut...tut...tut...terdengar nada sambung. "Angkat dong Pandu" celoteh Tania dengan tak sabar.


Baru telpon kedua panggilannya tersambung ke Pandu, "Halo nyonya muda, ada yang bisa dibantu?" sapa Pandu barusan.


"Hanya ingin minta tolong aja, bilangin bos kamu buat nyalain ponsel" suruh Tania.


"Maaf nyonya, aku sedang tidak bersama tuan Arka. Aku berada di kantor penyidik nih. Tadi tuan Arka bersama tuan Arga saat aku keluar kantor" beritahu Pandu.


"Baiklah Pandu. Akan kutelpon Arga saja" jawaban Pandu membuat Tania gusar.


Kenapa pikiranku kalut banget ya? Pikir Tania.


"Ah, smoga aman-aman saja" doanya.


Tania coba hubungin Arga, dan sama halnya dengan Pandu. Malah ini lebih parah. Baru telpon kelima, Arga mengangkat telpon.


"Sibuk banget sih Arga, sampai panggilan ku kau abaikan" seloroh Tania dengan ketus.


"Sori...sori...Ponselku ke silent nih. Ada apaan? Tumben-tumbenan loe nelpon gue. Kemana Arka?" tanggap Arga.


"Loh, bukannya Arka lagi sama kamu?" tanya Tania balik. Terdengar suara musik menghentak di back sound Arga. Tania sudah bisa menebak keberadaan Arga sekarang.


"Enggak kok, malah dia udah balik dari sejam yang lalu" ujar Arga membuat Tania terhentak.


"Hah? Tapi kok aneh? Sampai sekarang belum sampai rumah juga?" timpal Tania.


"Kejebak macet kali" tebak Arga.


"Ponselnya juga nggak bisa kuhubungin Ga" ujar Tania mulai cemas.


Sebuah berita di televisi, tepat menayangkan sebuah kecelakaan di sebuah traffic ligt tak jauh dari Panapion.


Alangkah terkejutnya Tania saat melihat mobil ringsek dengan plat nomor tertera jelas di depan pelupuk matanya.


Tania menutup mulut terkejut dengan kenyataan di depannya.

__ADS_1


Air mata turun menetes tanpa terbendung.


"Tania...Tania...apa yang terjadi? Tania....." panggil Arga saat tak ada jawaban dari panggilan yang tersambung.


"Arka...apa yang terjadi?" lirih Tania.


Semenit kemudian dia bisa menguasai keadaan.


"Arga tolong cek, ada sebuah kecelakaan di perempatan dekat Panapion. Aku lihat mobil persis sama milik Arka, bahkan nopolnya pun sama hancur tak berbentuk" beritahu Tania.


"Aku akan menyusuri di rumah sakit yang terdekat dari TKP" imbuh Tania.


"Darimana kau tau?" telisik Arga.


"Berita di tv" ucap Tania.


"Oke, aku akan langsung ke sana" tandas Arga menutup panggilan.


Seperti yang dia bilang ke Arga, Tania bergegas keluar apartemen.


Dia geber mobil sport milik Arka yang terparkir di basement apartemen.


"Semoga tidak terjadi apa-apa ya Tuhan" batin Tania berharap.


Saat di lihat di map, hanya rumah sakit Suryo Husada yang terdekat dengan lokasi kejadian.


"Aku ke sana saja" kata Tania bermonolog.


Tak sampai setengah jam, Tania sudah berada di lobi IGD rumah sakit itu.


"Maaf kak, apa ada pasien atas nama tuan Arka Danendra?" tanya Tania.


"Baik, tunggu sebentar. Akan kami cek dulu. Kalau boleh tahu hubungan anda dengannya?" kata petugas informasi itu.


"Saya istrinya" beritahuTania mulai tak sabar dengan jawaban petugas.


"Oh, tuan Arka Danendra. Korban kecelakaan lalu lintas?" ujar nya.


Deg, jawaban petugas rumah sakit itu membuat hati Tania berdesir perih.


"Apa yang terjadi sayang" bisiknya dengan sangat lirih sehingga hanya Tania sendiri yang dengar.


"Maaf nyonya, saat ini tuan Arka berada di ruang stabilisasi Instalasi Gawat Darurat. Sepertinya belum bisa dijenguk" jelasnya.


"Hei, aku istrinya. Kenapa pula aku tak boleh melihat keadaan suami aku?" tukas Tania mulai menaik nada suaranya.


Tania syok mendengar lakinya yang kecelakaan, membuat emosinya meledak.


"Apa yang terjadi?" Arga menghampiri keberadaan Tania.


"Arka ada di sana Ga" tunjuk Tania ke ruangan gawat darurat dengan air mata yang kembali luruh.


"Apa nggak sebaiknya kau hubungi tuan Rendra dan juga nenek Gemmy?" saran Arga.

__ADS_1


"Aku takut Ga...Apa Arka tidak apa-apa?" tanya Tania dengan raut cemas.


"Kita tunggu dokter yang merawatnya saja" bilang Arga.


Karena dilihatnya Tania yang kalut, Arga memutuskan untuk menghubungi nenek Gemmy dan juga tuan Rendra papanya Arka.


Mereka berdua sama terkejutnya dengan berita yang disampaikan Arga.


Tak sampai tiga puluh menit, Nenek Gemmy dan juga papa Rendra telah gabung dengan Tania dan Arga di sana.


Tania menghambur memeluk nenek Gemmy, butuh kekuatan untuk menghadapinya.


"Doa sayang, pasrahkan semua ke Yang di Atas" bisik nenek Gemmy sambil mengelus pundak Tania.


"Apa yang dikatakan oleh dokter Ga?" tanya papa Rendra ke Arga.


"Belum ada keterangan apapun" jawab Arga.


Tak sampai lima menit, seorang dokter tampan yang mungkin seusia Arka datang menghampiri keberadaan mereka.


"Nyonya Tania" panggilnya ke arah Tania.


Tania menunjuk dirinya sendiri, "Aku?" Karena merasa belum kenal dengannya tapi merasa familiar dengan wajah dokter yang tertutup masker itu.


"Iya, anda istrinya tuan Arka kan?" katanya.


"Betul" tukas Tania.


"Saya dokter Bara, temannya dokter Arka juga" beritahunya memperkenalkan diri.


Tania menepuk jidat kenapa bisa lupa keadaan saat pikiran kalut begini.


"Baik dok, gimana keadaan suami saya?" tanya Tania saat mulai bisa menguasai keadaan.


"Maaf, trauma kakinya butuh operasi segera" beritahu Bara bagai petir yang menyambar Tania.


"Apa kaki kanannya dok?" sela Tania.


"Betul. Tuan Arka mengalami patah kaki" lanjut dokter Bara memberi keterangan.


"Dok, apa akan baik-baik saja? Mengingat riwayat suami saya dulu" timpal Tania.


"Tuan Arka sudah memberitahuku di dalam. Semua tanpa ada yang ditutupi. Tapi untuk tindakan operasi, tuan Arka meminta kami untuk dirujuk ke rumah sakit yang menangani dia pertama kali" jelas dokter Bara.


"Iya dok, kami paham akan hal itu" sela nenek Gemmy, yang memang sedari awal tahu perawatan Arka.


"Boleh aku menemuinya?" harap Tania. Berita kalau suaminya masih bernyawa membuat Tania sedikit lega. Apapun keadaannya sekarang.


"Silahkan, tapi saling gantian ya" beritahu dokter Bara.


"Makasih dok" ucap Tania tulus.


"Sama-sama. Arka juga temanku, pasti akan kuusahakan yang terbaik untuknya" kata dokter Bara dan pamitan untuk kembali ke ruang bedah sentral karena jadwal operasi yang terpending karena Bara fokus dengan Arka.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


to be continued


__ADS_2