Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Cerita Gemmy


__ADS_3

Nenek Gemmy pun mulai menceritakan masa lalu Arka.


Arka Danendra, laki-laki yang sekarang berusia awal tiga puluhan itu siapa yang mengira kalau mengalami masa lalu yang begitu berat.


Arka awalnya seperti anak-anak pada umumnya. Anak yang ceria. Cucu pertama bagi keluarga Rahardjo. Karena mama Arka adalah putri satu-satunya dari keluarga terpandang itu.


Hingga suatu saat, Arka kecil melihat mama nya tak sadarkan diri dan muntah darah yang begitu banyak. Arka teriak histeris minta tolong. Disitu ada Hana sang asisten rumah tangga yang membantu Arka menelpon papa nya.


Mulai saat itu mama Arka sering bolak-balik rawat inap di rumah sakit. Arka kecil sering mendampingi sang mama. Dan tak mau ditinggalkan di rumah.


Mungkin firasat sudah dirasakan oleh mama Arka yang saat itu sudah menjadi seorang CEO di perusahaan Rahardjo Grub. Papa Arka hanya mewakili jika sang mama berhalangan.


Bahkan mendiang mama Arka menghadirkan tim legal dan semuanya, jika sewaktu-waktu dirinya pergi menghadap yang kuasa. Perusahaan akan dilimpahkan sementara ke papa nya Arka sampai Arka siap dan dewasa untuk meneruskan tampuk tertinggi di perusahaan, dan di bawah pengawasan tuan besar Rahardjo.


Tak berselang lama, mama nya Arka memang telah ditakdirkan untuk tak berumur panjang.


Arka sangat syok saat itu. Dan menjadi bocah yang sering murung dan termenung sendirian.


Kakek Rahardjo dan nenek Gemmy sangat memperhatikan Arka. Tapi anak yang ceria itu telah berubah menjadi tertutup.


Hingga ada lagi berita mengejutkan, kalau kemungkinan penyakit yang diderita mama nya kemungkinan bisa menurun.


Arka yang belum usai sedihnya, harus menyelesaikan pemeriksaan demi pemeriksaan yang tentu saja sangat menyakitkan bagi seorang anak kecil.


Arka yang telah menjalani serangkaian tes harus dihadapkan dengan hasil yang tak kalah mengejutkan. Dia divonis menderita kanker tulang stadium awal atau biasa disebut osteosarkoma stadium 1a.


Kesedihan demi kesedihan dialami oleh bocah kecil itu.


Papa Rendra pun fokus ke penyembuhan sang putra. Hingga tuan Rahardjo pun mengingatkan bahwa papa Rendra masih punya tanggung jawab puluhan ribu karyawan yang berada di pundak.


Mau tak mau papa Rendra harus membagi fokus. Arka sering bersama kakek dan nenek untuk menjalani pengobatan.


Mereka bertiga sering bolak balik Amerika Indo untuk menjalani pengobatan.


Arka kecil tak mau sekolahnya dipindahkan. Dia ingin tetap melanjutkan pendidikan di sekolah sebelumnya.


Seingat nenek, Arka saat itu sangat mengidolakan adik kelasnya yang cantik tapi sangat pemberani.


Karena dia anak yang pendiam dan tak mau melawan, dia sering menjadi korban bully teman sebaya. Hal itu berlanjut sampai dia di sekolah lanjutan pertama.


Sampai saat ini Tania masih fokus mendengarkan kata demi kata yang diutarakan oleh nenek Gemmy.


Kenapa cerita nenek seperti aku terlibat di dalamnya ya? Batin Tania.

__ADS_1


Nenek Gemmy melanjutkan cerita.


"Bukan tak mau melawan, tapi Arka tak ingin tulang kaki nya bertambah parah" ucap nenek.


Bahkan kakek dan nenek juga mendatangkan seorang psikiater untuk menghilangkan trauma Arka.


Arka seperti menolak masa lalunya. Mungkin sampai saat ini kalau ditanya tentang masa lalu, dia pasti akan bilang lupa atau tak ingat. Kata nenek menjeda ucapannya.


Hanya kejadian kebakaran di rumah nya lah yang sangat diingat oleh Arka, karena saat itu gadis kecil idolanya itu datang menolong. Sampai saat ini Arka masih berusaha untuk mencari, karena dia tak mengingat lagi wajah gadis kecil itu. Bahkan Arka sendiri tak yakin apa gadis kecil itu selamat saat menolongnya.


Aneh kan? Karena trauma Arka lah yang menyebabkan dia banyak melupakan masa lalu. Hanya sedikit yang dia ingat terutama gadis kecil penolongnya itu.


"Kenapa cerita nenek seperti kejadian saat aku menolong cowok sombong itu ya? Bahkan saat itu aku juga tak kenal siapa namanya. Batin Tania.


Hingga selepas sekolah lanjutan pertama, Arka divonis harus operasi. Kakek dan nenek akhirnya memutuskan untuk membawa Arka ke Amerika saat itu, ditambah dengan keputusan papa Rendra yang menikah lagi tanpa persetujuan Arka membuat anak itu semakin kecewa.


Karena sering bolak-balik Amerika ke sini, akhirnya kakek Rahardjo tumbang juga dan meninggal saat akan berangkat ke Amerika. Kepergian kakek, membuat Arka semakin betah tinggal di sana. Hanya nenek saja yang sering pulang pergi.


"Nenek, boleh Tania bertanya?" sela Tania.


"Apa sayang?" tukas nenek.


"Apa Arka dulunya sekolah di sekolah dasar dekat stasiun?" tanya Tania penasaran.


"He..he...aku dulu juga sekolah di situ nek" imbuh Tania.


Tapi Tania tak terlalu percaya diri menceritakan bagaimana dirinya menolong Arka saat kejadian kebakaran itu.


"Apa mungkin kau orang yang kucari?" tanya Arka yang tiba-tiba muncul di anak tangga paling bawah.


Tania hanya mengelus dada kaget akan kehadiran Arka.


"Bagaimana kau yakin, kau saja tak ingat masa lalu kamu" sela Tania.


Nenek pun membenarkan ucapan Tania.


"Bekas luka bakar yang kau tunjukkan sewaktu di mobil. Dan juga cerita versi dirimu yang juga telah kudengar tadi" tegas Arka.


Sekarang gantian nenek Gemmy yang menatap Tania, "Apa benar yang dibilang oleh Arka?" tanya nenek. Dan Tania pun mengangguk.


"Aku tak berani cerita dulu an Nek, takut dianggap memanfaatkan situasi" Tania mengungkapkan alasannya.


Nenek Gemmy memeluk Tania erat, "Makasih sayang, telah menyelamatkan cucu nenek saat itu" ucap nenek Gemmy tulus.

__ADS_1


Tania memberanikan diri memeluk sang nenek sama eratnya dengan pelukan nenek Gemmy.


Nenek Gemmy ikut terharu. Beberapa hari ini banyak kejutan yang diberikan oleh Arka.


"Kalau begitu nenek semakin yakin untuk menjadikan kamu cucu menantu nenek" kata nenek sumringah.


"Tania, untuk cerita selanjutnya biar Arka sendiri yang lanjutin. Laper nenek" canda nenek Gemmy.


Rona bahagia nampak sekali di wajah nenek Gemmy.


Apalagi Arka, jangan ditanya lagi. Senyum lega nampak tersungging di wajahnya.


Sementara Tania, tak mengira jika cowok yang dicap sombong olehnya ternyata begitu banyak menyimpan cerita pilu.


"Arka, aku minta maaf ya" ucap Tania.


"Untuk?" Arka menghentikan langkah.


"Sudah mengira kau sombong" celetuk Tania, membuat Arka terkekeh. Lagi-lagi dia mengacak rambut Tania, gemas dengan perubahannya yang seolah-olah menjadi gadis jinak.


"Akan kumaafkan kalau kau tak memanggil aku Arka lagi" bisik Arka.


"Lah kok gitu?" Tania mulai mencelos, kembali ke gaya asal.


"Kan tadi kita sudah jadian, panggilnya kok masih Arka...Arka terus" protes Arka.


"Maunya?"


"Apa ya?" Arka seperti memikirkan sesuatu.


"Arka Danendra" seloroh Tania membuat Arka menyentil keningnya lagi. Membuat Tania bersungut.


"Kalian jadi makan nggak? Kok malah debat di situ" panggil nenek yang ternyata telah duduk damai di meja makan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir.


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2