
Tania masih terdiam dan belum merespon apa yang dikatakan oleh nenek Gemmy dan juga papa Rendra.
"Aku tahu, banyak sekali dosa yang telah aku lakukan. Seharusnya bukan ayah Tania yang berada di sana, tapi aku" kata tuan Rendra.
"Sesal memang selalu datang belakangan Rendra" ucap nenek menengahi.
"Jadi sejak awal nenek sudah tahu kalau aku adalah putri dari Bagus Priyanto?" tatap penuh ragu dari netra Tania.
"Benar sayang, makanya aku begitu yakin kalau kau juga mewarisi kebaikan ayah kamu" tandas nenek.
"Tapi kenapa nenek nggak bilang kepadaku?" sela Tania yang terlihat kecewa.
"Karena mama kamu yang melarangnya Tania. Nyonya Rosa sebenarnya ingin mengubur kenangan pahit itu. Tapi melihat tekad kuat dari diri kamu, mama mu membiarkan kamu untuk kembali menyelidiki kasus ayahmu" jelas nenek Gemmy.
"Apa karena itu mama tak mau menceritakan semuanya?" ujar Tania menimpali.
"Bisa dibilang begitu" tandas nenek Gemmy.
"Jadi sebenarnya kalian saling mengenal jauh sebelum aku ke sini?" tanya Tania lagi.
Nenek Gemmy dan tuan Rendra mengangguk bersama.
Terselip rasa kecewa dalam diri Tania, tapi dia mencoba memendam.
"Papa bilang kalau ayah meninggal sebulan sebelum bebas. Yang aku ingat, ayahku tak pernah mengeluh sakit. Menurut visum saat itu ayah meninggal karena sakit komplikasi. Apa itu benar Pah?" telisik Tania yang sudah terlanjur kecewa karena merasa tak tahu apa-apa tentang ayahnya.
"Sepertinya itu benar Tania" tandas tuan Rendra.
"Kalau kau ragu, bisa kita selidiki bersama" saran Arka.
Tania mengeluarkan tiga lembar berkas yang terlihat kusam dari dalam tas ranselnya.
Rencananya akan dia telusuri mulai besok, tapi rasa penasaran membuncah dalam diri Tania.
"Apa itu sayang?" Arka mendekat ke arah Tania.
"Apa ini ada hubungannya Pah?" tatap tajam Tania ke arah tuan Rendra.
Tuan Rendra ikut membaca, "Sepertinya ini perjanjian kerjasama?" tukasnya.
"Dan lihat ini!!!" tunjuk Tania membalik tepat ke lembar tanda tangan. Di sana jelas muncul tanda tangan antara tuan Hadinoto, Nyonya Gaby dan juga tuan William.
"Kerjasama apa mereka?" tanya tuan Rendra.
"Papa nggak tahu?" sela Tania.
"Enggak untuk yang ini" imbuh papa Rendra.
"Aneh" kata Arka dan Tania bersamaan.
Nenek Gemmy muncul dari ruang makan.
"Kita makan dulu aja" ajak nenek Gemmy.
"Oke lah nek, aku juga sudah lapar" tukas Arka.
"Bentar...bentar...coba buka lagi lembar yang ada tanggal tanda tangannya" sela tuan Rendra.
"Maksud papa yang ini?" kata Tania dan tuan Rendra mengangguk.
__ADS_1
Tuan Rendra nampak berpikir, demikian juga Tania.
"Heemmm...aku tahu" sela Arka.
Tuan Rendra dan Tania menatap ke arah Arka bersamaan menuntut sebuah jawaban.
"Kita makan aja dulu, biar bisa mikir" canda Arka.
"Isshhh kau ini. Orang lagi serius malah diajak becanda mulu" sewot Tania.
"Ha...ha...kan disitu sudah jelas sayang. Tanggal penandatanganan kerjasama dua bulan sebelum ayah kamu keluar" tukas Arka terbahak.
"Terus?" Tania masih belum ngeh.
"Makanya makan dulu, buat ngisi kalori. Biar nggak telmi" Arka masih saja bergurau.
"Telmi?" Tania bergumam.
"Telmi....Telat Mikir" Arka semakin terbahak, bisa menggoda Tania yang sedang serius itu.
"Haisssss....kau ini benar-benar ya" kata Tania dan meraih sebuah kotak tisu untul dilempar ke Arka.
"Oh aku tahu sekarang" sela tuan Rendra.
"Apaan Pah?" Tania menengok kembali ke tuan Rendra.
"Kita makan saja dulu. Nggak enak sama nenek. Kasihan makanan keburu dingin" tambah tuan Rendra membuat Tania semakin sewot.
Di meja makan Tania masih saja serius berpikir. Dia hanya mengaduk-aduk makanan dengan sendok.
"Tania, nggak enak ya masakan nenek" tegur nenek Gemmy yang melihat Tania kebanyakan bengong.
"Eh, enggak kok nek" sanggah Tania.
"Sayang, berpikirpun perlu tenaga. Maka isi dulu, nanti baru kita bahas lagi" saran Arka yang duduk di samping Tania.
"Hem, baiklah" tukas Tania, tapi tetap saja makanan di depannya disuapkan ke mulut dengan kurang berselera.
"Sayang, kalau kau yakin ayah baik-baik saja dan tak ada riwayat sakit. Bukannya aneh dalam waktu secepat itu, tiba-tiba ayah didiagnosis penyakit komplikasi?" kata Arka memancing.
"Apa ini ada hubungan dengan kerjasama yang tadi?" Tania menimpali.
"Heemmmmm...bisa jadi" ucap Arka menjeda makannya.
"Tapi kan kita tidak bisa menuduh tanpa bukti yang kuat" sela papa Rendra.
Tania mengangguk, baru ngeh apa yang dimaksud oleh Arka.
"Sudah paham?" tatap Arka ke Tania.
"Sudah...he...he..." Tania terkekeh.
"Sekarang makanlah" ujar nenek Gemmy.
"Oke Nek" Tania makan dengan lahap.
"Kenapa makanannya jadi berasa enak sekarang?" kata Tania dengan mulut penuh makanan.
"Kenapa? Baru nyadar kalau enak?" seloroh Arka dengan mengelus puncak kepala Tania.
__ADS_1
"Besok kita ke lapas" imbuh Arka dengan berbisik.
Ada rasa lega yang dirasakan oleh tuan Rendra melihat interaksi Arka yang terlihat tulus mencintai Tania. Kecemasan yang selama ini ditakutkannya ternyata tidak terjadi.
Rasa trauma Arka ternyata telah hilang bersamaan kehadiran Tania di sampingnya.
"Arka, maafkan papa" ucap Tuan Rendra tulus.
"Aku maafin papa, dengan satu syarat tinggalin wanita itu" sarkasnya.
"Baiklah" sahut tuan Rendra tanpa keraguan.
.
Saat akan berangkat ke kantor, sebuah notif pesan kembali masuk ke ponsel Tania.
"Nona Tania, sepertinya anda tidak ada respon dengan penawaran saya sebelumnya. Apa perlu aku bertindak lebih jauh" bunyi pesan yang ternyata berasal dari tuan Smith.
"Lagi-lagi dia" gerutu Tania dan langsung menutup aplikasi pesan di ponsel.
"Siapa?" tanya mama Rosa yang sedang menenteng lauk yang masih mengepul asap panas nya.
"Bukan siapa-siapa sih Mah. Hanya orang iseng aja" celetuk Tania.
"Tania Fahira" panggil mama menatap Tania ingin penjelasan.
"Iya...iya...ini orang yang sama tempo hari. Yang ingin kerjasama dengan Arka tapi memanfaatkanku" jelas Tania.
"Tolak aja" tandas mama.
"Dia mengancamku loh Mah" seru Tania.
"Apa ancamannya?" telisik mama Rosa.
"Mama yang menjadi targetnya" keluh Tania.
"Tania, mama akan hati-hati. Yakinlah" ucap mama serius dengan memegang punggung tangan Tania untuk menguatkan.
"Tapi Mah"
"Tania, hidup mati seseorang itu ada di tangan sang Pencipta. Pasrahkan semua padanya" lanjut mama menasehati.
"Tumben mama bener omongannya" sela Tania.
"Issshhh kau ini ya" kata mama Rosa geregetan. Sudah bicara serius malah ditanggapi selengekan.
"Iya...iya...aku percaya mama. Tolong mama jaga diri saat Tania tidak ada di samping mama" imbuh Tania.
"Iya...Pasti" jawab mama lugas.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗