Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kepuasan


__ADS_3

Keseokan hari, pagi-pagi Tuan David sudah menyambangi kantor Tania.


"Nona, ditunggu tuan David di dalam" beritahu Angel.


"Heemmmmm, oke" Tania bergegas melangkah masuk dengan tas ransel menghiasi punggungya. Nggat tahu kenapa, Tania tak suka memakai tas yang layaknya wanita pakai.


"Pagi tuan David" sapa Tania yang melihat tuan David datang tanpa asistennya.


"Pagi Nona Tania" balasnya dengan muka kusut.


"Maaf menganggu waktu anda" kata David tidak segarang kemarin.


"Aku ke sini benar-benar ingin meminta tolong kepada anda Nona" ucapnya.


"Maaf tuan, tapi aku benar-benar tak bisa" tolak Tania.


"Aku datang sebagai seorang ayah yang ingin membantu putrinya Nona" harap Tuan David.


Wajah kalutnya sangat terlihat jelas di muka tuan David.


"Tapi saya memang tak bisa tuan" Tania masih kekeuh dengan keputusannya.


"Aku tahu, ada campur tangan tuan Arka yang melarang anda untuk mengambil kasus ini. Tapi tolonglah Nona" tuan David sampai duduk bersimpuh di hadapan Tania.


"Maaf tuan, berdirilah" suruh Tania yang telah mundur ke belakang dari posisi semula.


"Saya tak akan berdiri sebelum anda mengabulkan permintaan aku Nona" imbuhnya.


Tania hanya bisa garuk kepala menanggapi ulah tuan David.


"Apa sebenarnya yang anda harapkan tuan?" tanya Tania.


"Putriku bebas" tegasnya.


"Tapi kalau yang terjadi malah sebaliknya. Bagaimana?" kata Tania.


"Kupastikan putriku harus bebas" tandasnya.


"Maka dari itu, aku tidak sanggup menjadi kuasa hukum putrimu tuan" tegas Tania.


"Akan kubayar sesuai permintaan kamu Nona. Tapi tolonglah. Lagian kami sudah menandatangani surat kuasa seperti yang anda minta" ucap tuan David.


"Bukankah harusnya kami lah yang membatalkan kuasa atas dirimu Nona" kilah Tuan David.


"Benar tuan, tapi sekiranya penerima kuasa tak sanggup maka boleh menolaknya. Dan aku tak sanggup jika target anda adalah putri anda harus bebas tanpa melihat kasus secara obyektif" terang Tania.


"Pengacara macam apa kamu Nona. Kasus seperti ini saja kau tak mampu" ujar tuan David kembali ke watak aslinya.


"Maaf Tuan David, belum bisa membantu anda untuk kali ini" ujar Tania mengakhiri pembicaraan.


"Silahkan kalau tak ada yang perlu dibicarakan lagi" Tania mengusir halus tuan David dengan menunjukkan pintu keluar.


Target tuan David seperti orang-orang berduit kebanyakan. Apa mereka menganggap bahwa hukum bisa dibeli dengan uang? Pikir Tania.


Tania hanya menggerutu sendirian.


Mungkin usulan suaminya ada benarnya juga. Tak ada salahnya dia menjadi pengacara untuk orang-orang yang benar membutuhkan pendampingan hukum.


Atau aku akan fokus saja di korporasi. Pikir Tania.

__ADS_1


Lagian setelah ini dia ingin fokus ke program hamil seperti yang dibicarakan dengan sang suami beberapa waktu lalu.


Kalau menjadi pengacara korporasi, dia akan lebih banyak bersinggungan dengan Panapion yang merupakan perusahaan suaminya.


Tania membicarakan ini dengan mengirim pesan ke Arka.


Dan tentu saja Arka sangat senang menanggapinya.


"Terus kantor ini untuk apa sayang?" seloroh Tania. Mubadzir juga jika ruko mewah ini tak dimanfaatkan. Batin Tania.


"Suruh Angel mengurusnya" jawab Arka tanpa beban.


Keputusannya yang mendadak bisa saja mengecewakan Angel yang setia mengikutinya.


Tapi tanggapan Angel sungguh di luar dugaan Tania. Angel sepertinya tahu akan keputusan Tania.


"Maaf ya Ngel, sampai hari ini jadinya kita belum mendapat klien satupun" terang Tania dengan sedikit menyesal.


"Kan sudah ada tuan Arka yang menjadi klien kita Non.


Semua keputusan pasti ada resiko nya Non. Bagaimana kalau ruko ini kita buat kafe aja. Lantai atas buat kantor" usul Angel.


"Aku lihat, di sini rame dan strategis" ulas Angel.


"Bisa dipikirkan" tukas Tania tertawa.


"Oh ya Non. Gimana kalau kafenya juga ditambahi embel-embel menerima konsultasi hukum gratis?" sambung Angel.


"Ntar yang datang ke kafe malah orang-orang bermasalah dong" tawa Tania terdengar menanggapi kata-kata Angel.


"Bukan aku menolak Ngel, tapi semua harus kubicarakan dengan suamiku dulu" terang Tania.


.


Dan akhirnya kasus Davina dipegang oleh Maura Hadinoto.


Seperti pagi itu, Maura menghubungi Tania yang masih selonjoran di atas ranjang bersama Arka.


"Ponsel kamu tuh" kata Arka yang masih enggan untuk bangun.


"Maura?" gumam Tania.


"Ada apa dia nelpon pagi-pagi?"


"Angkat aja, mana tahu dia penting" tukas Arka.


"Pagi Maura" sapa Tania setelah menggeser touchscreen ponselnya.


"Tania, waktu itu kan kamu yang ngelepasin kasus Angel?" tanyanya.


"Yap" imbuh Tania.


"Pusing gue, dia minta gue ngajukan penangguhan penahanan dan targetnya dibebasin. Masalahnya semua bukti benar-benar memberatkan dia" curhat Maura.


"Ya kamu obyektif saja lah. Daripada kamu repot sendiri" tukas Tania.


"Dan sepertinya kasus ini tak berhenti di Davina. Banyak orang penting juga yang terlibat. Kemungkinan besar kasus ini bisa saja ditutup karena intervensi dari atas" beritahu Maura.


Tania menautkan alis dan memandang Arka yang memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu sukses dong jadi kuasa hukumnya tanpa harus bersusah payah" kata Tania.


"Sepertinya begitu. Lumayanlah untuk mengangkat nama firma hukum papa. Yang kamu tahu sendiri kondisi terakhirnya seperti apa. Makasih ya" sambung Maura.


"Padahal kalau sesuai prosedur, jelas Davina masuk bui lama...he...he...." Maura menambahi.


Tania menarik nafas dalam setelah menutup panggilan Maura.


"Kalau menangin kasusnya seperti itu, mana ada kepuasan" gumam Tania.


"Yank, kapan hari kamu bilang kalau kasus Davina tak berhenti di Davina saja. Bagaimana kau tahu sih yank?" telisik Tania.


"Jelas tahu lah. Kasus prostitusi itu bagai lingkaran setan. Langganan seorang Davina, bisa saja sekelas pejabat tinggi, pengusaha-pengusaha berduit. Apa mereka mau nama nya kebawa di kasus Davina. Enggak kan?" ulas Arka.


Tania menggaruk kepala.


"Dunia kadang tak sebaik yang kita kira sayang" nasehat Arka.


"Maka kita harus hati-hati" lanjut Arka.


"Betewe, aku seneng loh kamu memutuskan untuk menjadi penasehat hukum korporasi. Kapan hari Sebastian juga nawarin ke kamu kan? Itupun kalau kamu bersedia sih" terang Arka.


"Aku belum mutusin untuk Sebastian" jawab Tania.


"Kalau menurutku asal kau bisa profesional, mending diterima saja" saran Arka.


"Ntar promil kita bagaimana?" sela Tania.


"Asal kamu bisa membagi waktu, aku rasa tak masalah" tukas Arka.


"Oh ya, akhir Minggu ini Panapion akan mengakuisisi perusahaan kecil di kota A. Ingat kan?" kata Arka.


"Heemmmmm, aku rasa kita sekalian week end di sana" Arka terkekeh.


"Oh ya yank, ada usul dari Angel untuk buka kafe di lantai bawah ruko. Kira-kira bagaimana?" tanya Tania mumpung teringat akan usulan Angel.


"Boleh, tapi biar Angel yang ngurusin dibantu Mang Mamat. Kalau perlu kasih harga yang merakyat saja" saran Arka.


"Siap bos. Suamiku memang terbaik" puji Tania.


"Kasih hadiah dong" bisik Arka di telinga sang istri.


"Hemmmm" Tania hanya bisa mengangguk pasrah. Adegan malam tadi bisa terulang pagi ini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—


Libur tlah usai, semangat awali rutinitas πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2