Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Jeratan Pasal (2)


__ADS_3

Dan ini masih sebatas Arkan, berkas Davina belum kepegang sama sekali.


"Rumit...rumit..." Tania mengeluhkan masalah pasangan itu.


Baru sekelumit info yang dipegang oleh Tania tentang kasus Davina.


Tania mengangguk saat melihat hasil pemeriksaan urine Davina.


"Heemmmm, dia pemakai ternyata" kata Tania bermonolog.


"Heemmmm sepertinya pihak berwajib masih menunggu hasil dari sampling rambut Davina. Tapi itu memerlukan waktu" Tania masih saja berkata-kata sendiri.


"Di sini kok nggak tertuang keterlibatan Davina dalam bisnis Arkan ya? Berarti tuduhan awal tentang keterlibatan Davina dalam bisnis Arkan real tak terbukti" lanjut Tania.


"Heemmmm, untuk kasus Davina ternyata tak susulit yang aku kira" gumam Tania.


Terdengar ketukan pintu dari luar.


"Iya masuk" suruh Tania.


Ternyata mama Rosa yang menggendong Arditya.


"Waktunya minum Mah?" tanya Tania.


"Lihat tuh jam di ponsel kamu, sudah berapa lama kamu di sini?" tukas mama Rosa.


Tania tak membalas ucapan mama, karena pasti akan berujung debat.


"Sini sayangnya mama, haus ya?" tanya Tania meraih Arditya dari gendongan mama.


Tania keluarkan pabrik susu untuk diberikan kepada Arditya. Sambil tetap meneliti berkas di depannya.


"Mama keluar dulu. Mau kuambilkan makan?" mama Rosa menawari.


"Boleh Mah" jawab Tania.


Mama Rosa bergegas keluar meninggalkan Tania yang sedang bercengkerama dengan Arditya dan juga berkas kasus-kasusnya.


Kali ini Tania menghubungi Maura.


"Halo, iya Tania" kata Maura menyapa.


"Besok ikut aku ke lapas di mana Davina berada" ajak Tania.


"Jam berapa?"


"Pagi aja" terang Tania.


"Apa yang perlu kubawa?" tanya Maura di seberang.


"Susu hamil" imbuh Tania.


Maura yang sudah mendengar berita tentang Davina dan mendengar langsung dari cerita Angel mengiyakan saja suruhan Tania barusan.


"Oke, deal. Jam delapan kita ketemu langsung di lokasi saja" terang Tania yang tak ingin Maura bolak balik karena berbeda arah dengannya.


"Siap bosss" tukas Maura.


Tania menatap sang putra yang ternyata juga menatapnya itu.


"Loh, kirain tidur sayang?" kata Tania mengajak bicara sang putra, sementara bayi itu tetap saja menatap Tania dengan mulut menyedot benda favorit baginya.


Dan kebetulan sekali Arka menelpon.


"Issshhh timing yang nggak pas" gumam Tania. Karena saat ini dirinya sedang posisi nyusuin Arka yunior, eh malah Arka senior nelponin. Video call lagi.


Tania menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo sayang" sapa Tania yang hanya memperlihatkan dahinya ke atas.


"Loh, kok nggak ada orangnya. Sapa tadi yang bersuara?" canda Arka.


"Sayang, nongol dong. Kangen nih" tukas Arka kemudian.

__ADS_1


"Bentar, lagi sibuk akunya" ujar Tania.


"Sibuk apa? Ngapain di ruang kerja kalau nggak ngelonin berkas?" tebak Arka.


"Berkas pastinya. Tapi ada yang kamu lewatin" kata Tania malah ngajakin tebak-tebakan sang suami.


"Apaan?" Arka menautkan alis.


"Issshhhh, masih belum ngeh juga? Nggak ngelupain sesuatu kan?" ucap Tania.


"Heemmmm...bentar-bentar. Arditya apa ada disitu?" tanya Arka.


"Yessss dan lihatlah" ujar Tania. Niat hati ingin menunjukkan sang putra yang sedang terbangun, tapi fokus Arka malah tertuju ke yang lain.


"Yank, kamu sengaja menggodaku yaaa?" tanya Arka yang melihat bukit kembar Tania yang sedang turun naik karena dihisap oleh Arditya.


"Apaan sih? Sudah lihat belum?" tanya Tania yang memang mengarahkan kamera ke Arditya dan si bukit.


"Sudah, jelas malah. Habis ini kamu harus tanggung jawab. Sudah ngebangunin singa yang sudah lama tak makan" imbuh Arka.


"Apaan sih yank, nggak jelas banget" tukas Tania.


"Apanya yang nggak jelas? Kamu tuh sengaja menggoda ku?" kata Arka mengulangi.


Kamera dialihkan Tania ke mukanya.


"Paham belum?" tanya Arka di sana.


"Oke, sekarang tengok ke arah dada dan Arditya sedang apa? Aku pingin seperti Arditya yank" jelas Arka.


Tania melakukan apa yang diminta oleh Arka, dia pun menengok ke bawah dan dilihatnya sang putra yang masih asyik dengan pabrik susu itu.


"Ha...ha...kalau begitu lekas pulang dong" ujar Tania malah menggoda Arka yang sudah terlihat merah padam.


"Sudah sono, main sabun dulu" kata Tania blak-blakan.


Panggilan diakhiri begitu saja oleh Arka Danendra. Mungkin saat ini Arka tengah lari mencari kamar mandi terdekat, menghadapi tingkah istri yang sangat absurd itu.


Mama Rosa yang barusan masuk, "Kenapa senyum-senyum?" tanya mama.


"Nggak papa kok Mah, barusan papa nya Arditya nelpon" kata Tania.


"Sudah nanyain tentang baby sitter?" tanya mama.


Tania menepuk jidat dan mama Rosa sudah bisa menebak apa jawabannya.


"Pasti lupa" kata mama Rosa.


"He...he...seratus buat mama" kata Tania menimpali.


"Terus saja begitu" kata mama dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Tania yang masih saja bar-bar meski telah berputra satu.


.


Sore hari Boy menelpon lagi saat Tania sedang bercengkerama dengan Arditya di ruang tengah. Seperti biasa ada nenek Gemmy dan juga mama Rosa.


"Mah, nitip bentar" kata Tania sambil meraih ponsel yang ada di atas meja.


"Lama juga nggak papa" tukas mama sengaja meledek Tania.


"Ih mama, sama cucu sendiri juga" timpal Tania.


"Iya...iya...angkat tuh telpon. Bikin polusi telinga aja" kata mama Rosa.


Tania beranjak menjauh untuk mengangkatnya.


"Halo Boy" kata Tania membuka pembicaraan.


"Nyonya, kabar buruk" kata Boy memberi kabar.


"Kabar buruk apa?" tukas Tania.


"Nona Davina melakukan percobaan bunuh diri. Dan sekarang berada di rumah sakit Suryo Husada" jelas Boy.

__ADS_1


"Isssshhhh...selalu saja bikin repot" gerutu Tania.


Bukan simpati yang diberikan tapi malah gerutuan yang keluar.


"Gimana keadaannya?" tanya Tania.


"Masih dalam perawatan di ruang gawat darurat" bilang Boy.


"Posisi kamu?" tanya Tania.


"Aku meluncur ke rumah sakit ini nyonya" imbuh Boy.


"Kabarin kalau sudah sampai sana. Kalau kondisi mendesak baru ku ke sana" jelas Tania.


"Oke nyonya" tukas Boy mengakhiri panggilan.


Ulah mereka berdua sungguh terlalu. Terlalu membuatku repot. Batin Tania.


Dan benar saja, sampai di rumah sakit Boy kembali menelpon Tania. Memberitahukan bahwa banyak pewarta yang ingin meliput Davina. Dan ingin segera mendapat konfirmasi berita yang sebenarnya. Tania sampai mengacak rambutnya kasar. Sebal dengan keadaan yang sekarang.


"Sudah resiko pekerjaan kamu Tania. Berangkatlah" ucap bijak nenek Gemmy penuh kesabaran.


Nenek Gemmy tau akan kegalauan cucu menantunya itu.


.


Dan disinilah Tania sekarang, berada di sisi Davina yang belum juga siuman.


"Nyonya Davina terlalu banyak kehilangan darah nyonya" beritahu dokter.


"Kondisi bayinya?" tanya Tania.


"Anda siapa nya pasien nyonya?" tanya dokter itu.


"Heemmmm saya pengacaranya" terang Tania menjelaskan.


"Baiklah, akan kujelaskan. Mengenai kondisi bayi nyonya Davina masih dalam kondisi baik. Yang tak baik-baik saja adalah kondisi psikis ibunya" dokter itu memberikan keterangan.


Boy mendekati Tania.


"Anda nyonya Tania?" tanya Boy, karena baru ini kali pertama mereka bertemu, meski sering bicara melalui sambungan telpon.


Tania mengangguk.


"Sebaiknya anda segera mengkonfirmasi keadaan nona Davina ke para pewarta. Meski sudah turun popularitas nona, tapi mereka masih penasaran dengan kelanjutan kasusnya" beritahu Boy.


"Apa yang harus kusampaikan? Tentang penahanannya? Atau kehamilan di luar nikahnya Atau pemakaian narkobanya" kata Tania menimpali.


"Buat suasana menjadi kondusif nyonya" pinta Boy.


"Bos-bos kamu tuh yang buat situasi tak kondusif. Selalu bikin ulah. Enak saja kamu tinggal nyuruh-nyuruh" ujar Tania.


Maura dan Angel yang mendengar berita tentang Davina, juga ikutan menyusul ke rumah sakit. Tak mau Tania repot sendirian.


"Non, gimana?" tanya Angel saat menghampiri Tania.


"Tuh, lihat saja sendiri" arah mata Tania melihat ke tempat di mana Boy dan anak buahnya sedang menyiapkan aula untuk konferensi pers.


"Hebat ya Arkan, meski berada dalam tahanan. Anak buahnya masih setia melaksanakan semua perintahnya" Maura menanggapi kesigapan Boy dan rekan-rekannya.


Sekarang Tania sudah duduk di depan para pewarta dan bersiap menjawab apapun yang akan ditanyakan oleh mereka nantinya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2