
Tania mencari keberadaan sang suami yang terlebih dahulu masuk ke kamar utama.
"Kok sepi? Kemana dia? Sayang...sayang...." panggil Tania.
Dan tiba-tiba saja mata Tania ditutup oleh seseorang dari belakang.
"Bau..bau tangannya sih, ini pasti tuan Arka Danendra" kata Tania masih dengan mata tertutup.
"Ha...ha...ternyata penciuman istriku tajam juga" tukas Arka sembari terbahak.
"Jelas lah" kata Tania menimpali.
Pelukan hangat Arka didapati Tania.
"Aku kangen yank" bisik Arka di belakang telinga Tania membuat bulu kuduk Tania meremang.
Dan apa yang terjadi pagi itu di kamar utama, silahkan readers tebak sendiri ya. Author nggak ikut-ikut.
Arka keluar dari kamar dengan wajah segar. Baju rapi sudah melengkapi penampilannya pagi ini.
"Sayang, ke sini bentar" panggil Arka yang sudah berada di meja makan.
Tania yang berada bersama Arditya di halaman, "Sus, tolong tungguin adik bentar ya" kata Tania meminta tolong ke baby sitter dan keburu masuk menyusul Arka.
Tadi Tania sengaja meninggalkan Arka yang tengah mandi, setelah menyiapkan segala keperluan sang suami untuk menjemur Arditya di halaman samping mansion.
"Iya sayang" jawab Tania.
"Tolong" kata Arka sembari menyerahkan sebuah dasi untuk dipasangkan sang istri.
"Tampannya suamiku" puji Tania saat memasang dasi.
"Baru nyadar? Kalau punya suami tampan bin ganteng" canda Arka.
"He...he..." Tania hanya terkekeh menanggapinya.
"Arditya mana?" tanya Arka yang melihat sekeliling.
"Biasa lah, kalau pagi kuajakin berjemur di halaman" terang Tania.
"Ntar gosong dong kulitnya" Arka masih saja mengajak bergurau.
Tania menemani sang suami sarapan sebelum berangkat kerja.
"Makasih ya" kata Arka.
"Makasih untuk apa nih" kata Tania menimpali.
"Untuk yang tadi" kata Arka absurd. Semburat merah terlihat sekali di pipi sang istri.
"Ntar malam lagi ya????" imbuh Arka melanjutkan kata-kata yang absurd tadi.
"Ya yank?" Arka masih saja meminta karena Tania belum mengiyakan.
"Iya...tapi nggak janji loh" ucap Tania pada akhirnya.
"Yesssss..." kata Arka puas bagaikan mendapat jackpot.
Arka sudah menyelesaikan sarapan. Dia bolak balik melihat jam tangannya.
"Pandu kok belum jemput ya?" gumam Arka.
Arka menghampiri Tania yang sudah bersama Arditya di halaman setelah sarapan tadi.
"Loh, kirain sudah berangkat?" tanya Tania.
"Pandu kok belum jemput ya?" tanya Arka. Heran dengan kebiasaan asisten yang tak pernah ngaret sebelumnya.
"Emang semalam sudah kasih tahu Pandu untuk jemput? Pandu sudah tahu kalau kamu sudah datang yank?" tukas Tania.
Arka menepuk jidat. Dia lupa akan hal itu.
"Belum" kata Arka.
"Isshhhhh..." Tania mencibir Arka.
"He...he...aku kok bisa lupa sih" kata Arka semavri tertawa.
Padahal semalam saat masuk ruang kerja, niatnya selain mengkoreksi laporan yang dikirim Pandu sekalian akan menghubungi sang asisten untuk menjemputnya pagi ini. Tapi setelah melihat semua berkas Tania yang ada di meja, semua terlewat begitu saja.
__ADS_1
"Oke, aku hubungin Pandu dulu. Kamu mandi dulu sana gih, Arditya biar aku temenin sambil nungguin Pandu datang" kata Arka.
"Kenapa nggak berangkat sendiri aja? Kasihan Pandu bolak balik yank. Ntar sekalian aku nebeng sampai kantor" ulas Tania.
"Bilang aja kamu minta dianterin yank. Secara rute, kantor kita kan berbeda arah" tukas Arka tersenyum.
"Nah, itu kamu tahu" jawab Tania tertawa lepas.
Arka mengantar Tania setelah Tania bersiap semua. Bahkan Tania telah prepare untuk persiapan minum Arditya saat dirinya tak ada di rumah.
"Mah, aku pergi dulu" pamit Arka dan Tania bersamaan.
"Tania, jangan lama-lama ya. Kasihan tuh Arditya" pesan mama.
"Siap mama. Susu Arditya sudah kusiapin. Kutaruh di lemari pendingin" bilang Tania.
"Oke, nanti biar disiapin mba Mirna" sebut mama untuk baby sitter Arditya.
.
Di perjalanan, "Beneran Arkan sudah tobat yank?" tanya Arka.
"Oh iya sampai lupa, Arkan titip salam buat kamu. Terima kasih katanya" cerita Tania.
"Kok makasih?" tanya Arka heran.
"Berkat kamu sabotase semua usaha milik Arkan, gudang senjatanya akhirnya kosong dan tak ada yang memasok. Kebetulan saat itu dia ditangkap. Jadi untuk jual beli senjata, penyidik hanya punya sedikit bukti" terang Tania.
"Wah, bisa mengurangi vonisnya dong?" Arka menanggapi.
"Makanya Arkan mengucapkan makasih padamu" timpal Tania.
"Sialan. Usahaku malah memperingan hukuman dia" umpat Arka.
"Ha...ha...tapi aman kok sayang. Tuntutan untuk dakwaan yang lain malah lebih berat dari yang tadi" jelas Tania.
Arka sudah melihat semua di berkas Tania tadi malam. Jadinya sekarang dia nggak banyak nanya.
"Dia sudah tobat. Nyatanya pemasok senjata kelas kakap sudah dia habisi kemarin. Dan beberapa pejabat tinggi sudah lari terbirit-birit ke luar negeri mencari aman" jelas Tania.
"Gila memang si Arkan" tukas Arka.
"Lebih gila dari orang gila" sambung Tania.
"Obsesi balas dendam" ucap Tania menanggapi.
"Ya, seperti itulah kehidupan. Ada baik ada jahat. Ada gelap ada terang. Ada dosa ada pertobatan. Dan semoga Arkan serius dengan pertobatannya" imbuh Arka.
Tania mengangguk membenarkan.
Sampai di kantor, mobil Pandu masih terparkir di sana.
"Loh, bukannya itu mobil Pandu. Kok dia masih di sini aja, di kantor kamu?" ucap Arka.
"Mana aku tahu" balas Tania.
Arka pun ikut turun, untuk menghampiri Pandu yang jam segini masih berada di luar kantor.
"Pagi semua" sapa Tania saat masuk untuk memecah suasana hening di kantor.
"Loh, tuan Arka. Kok sudah datang?" sapa Angel.
"Mana suami kamu?" tanya Arka menelisik seluruh ruangan.
"Di Panapion" kata Angel menjawab.
"Mobilnya kok di depan?" tanya Arka.
"Aku yang bawa tuan, Pandu tadi kuanterin" jelas Angel.
Arka hanya berdehem, dia terlalu overthinking terhadap asistennya.
"Oke lah kalau begitu" imbuh Arka, dan menyusul sang istri di ruangannya untuk pamit berangkat kerja.
Tania mengajak Maura dan Angel untuk rapat kedua kalinya, sebelum jadwal sidang keluar.
Tania harus yakin akan pembelaan pada waktu sidang. Meski Tania meyakini, Arkan memang bersalah. Dan Arkan sudah mengakui itu. Tapi sebagai pengacara, asas praduga tak bersalah harus dia pakai.
"Maura, apa kau ada tambahan?" tanya Tania setelah memaparkan semua bahan pembelaan.
__ADS_1
"Bukti kepemilikan obat terlarang, coba kau evaluasi di situ" terang Maura.
"Keterangan penyidik sudah sesuai barang bukti yang ada" tukas Tania.
"No, coba kamu teliti kembali" sanggah Maura.
Tania mengernyitkan alis, berpikir apa yang dikatakan Maura barusan.
"Terlalu dilebih-lebihkan ini. Coba kamu koreksi" lanjut Maura.
Tania membuka berkas tentang kasus yang kepemilikan dan peredaran narkotik Arkan.
"Ini berkas terbaru yang kita terima pagi ini. Coba cocokkan" tandas Maura.
Tania menyandarkan kepala di bantalan kursi sembari melihat berkas terbaru yang dia pegang.
"Bisa jadi karena sabotase musuh Arkan nih" celetuk Tania berasumsi.
"Kok bisa?" sela Maura.
"Bisa saja. Kamu ingat tuan Anderson yang kemarin ditangkap?" kata Tania. Maura mengangguk.
"Dunia mereka adalah dunia tipu-tipu. Kita tak tahu apa yang mereka lakukan. Aku rasa ini ada kaitannya dengan penambahan jumlah barang bukti baru yang didakwakan kepada klien kita" terang Tania.
"Tapi kita tak boleh berasumsi saja kalau tak ada bukti dan saksi" tukas Maura.
"Betul. Akan kuhubungi Arga saja, biar dia bantu untuk menyusur semua" tandas Tania.
"Angel, jadwal sidang sudah diinfo belum?" tanya Tania.
"Minggu depan Non, jadwal pastinya belum keluar di tanggal berapa" terang Angel.
"Oke, tolong aku diingatkan jika sudah keluar jadwal" tukas Tania.
"Baiklah" tutur Angel menimpali.
Tania mencoba menekan kontak Arga yang tersimpan di ponsel nya.
Dua tiga kali belum tersambung.
"Halo apa kabar? Ngubungin aku pasti lagi butuh aja kan?" tebak Arga.
"Ha....ha... Kenapa sih tebakanmu selalu benar" tukas Tania terbahak.
"Ada apa? Cepetan ngomong! Aku sibuk nih" jawab Arga.
"Heleh, pasti lagi di kolong mobil kan?" imbuh Tania.
"Makanya, lekas bilang. Kalau lama kumatiin nih" kata Arga.
"Sabar napa sih. Ada proyek nih" bilang Tania.
"Yang penting hitungannya jelas lah" tukas Arga terbahak.
"Sialan loe" umpat Tania.
"Proyek apaan?" tanya Arga.
"Kukirim di pesan aja. Ntar loe pelajarin. Aku butuh cepat info dari loe" tandas Tania.
"Proyek urgen nih? Kalau gitu bonusnya dua kali lipat" Arga tertawa lepas di sana. Sukses ngerjain Tania, istri sang bos yang sekaligus sahabatnya sendiri.
"Oke, aku kirim pesan ke kamu" bilang Tania sembari menutup telpon.
Tania mengetik apa yang dimaksud. Jelas saja Tania menyuruh Arga untuk menyelidiki tentang penambahan barang bukti secara tiba-tiba. Tania ingin tahu adakah keterlibatan lawan-lawan Arkan kali ini.
Arkan yang sendiri, dengan lingkup musuh yang beragam. Tentu saja akan kesulitan mengungkap semua kejahatan karena dihalangi oleh musuh-musuhnya. Mereka pastinya juga tak mau berujung di bui seperti Arkan.
Jawaban 'Oke' diberikan oleh Arga.
Tania menghela nafas panjang. Kasus Arkan bertambah rumit karena keterlibatan banyak pihak. Sangat komplit malahan. Mulai penjahatnya penjahat sampai pejabat. Mulai pejabat kelas bawah sampai pejabat tinggi.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
๐