
"Ingat dengan taruhan kita tadi pagi?" celetuk Arka mengingatkan Tania.
"Iya...iya aku ingat" tukas Tania saat akan turun di depan rumahnya.
Padahal dalam hati Arka, deg-deg ser juga rasanya. Takut kena timpuk mamanya Tania.
"Smoga saja tak galak" gumam Arka mengikuti langkah Tania.
"Mama, I'm coming. Any body home???" teriak Tania dan langsung saja membuka pintu yang tak terkunci.
"Duduk" kata Tania mempersilahkan Arka.
"Anggap saja rumah nenek Gemmy, walau luas rumahku nggak ada sejengkalnya...he...he..." imbuh Tania.
"Mau minum apa?" tanya Tania.
"Nggak usah" tolak Arka.
"Aku tau kau gugup mau ketemu mama" ledek Tania.
"Ingat ya, dua ribu dolar lunas!!!" Tania terkekeh dan melangkah masuk ke ruang tengah membiarkan Arka sendirian duduk di ruang tamu.
Arka mengamati sekeliling. Tampak di sana terpampang foto keluarga yang tak begitu besar.
Arka raih foto yang memang tak jauh dari tempatnya duduk.
Melihat foto ayah Tania, Arka menautkan alisnya. "Sepertinya tak asing melihat melihat foto bapak ini? Tapi di mana ya? Apalagi gadis kecil ini" pandangan Arka beralih ke foto anak gadis yang berada di samping bapak tadi.
Membiarkan Arka sendirian, Tania mencari keberadaan mama.
"Mah" Tania menepuk bahu mama yang ternyata sedang menyiapkan menu makan malam.
"Bikin kaget saja" sahut mama Rosa.
"Mana tuh cowok?" selidik mama.
"Idih mama, kok inget saja sih" Tania menimpali.
"Pasti lah, apalagi dia telah berani membawa putriku yang cantik ini semalaman" gemas mama dengan mencubit pipi Tania.
"Eh Tania, tampan mana antara Benzema dengan cowok itu?" bisik mama penasaran.
"Apaan sih Mah, jangan sebut lagi nama itu" Tania senewen.
"He...he...mama lupa kalau kau tak lagi jadi pacar Benzema" mama Rosa malah terkekeh.
"Mama..." Tania menghentakkan kaki tak terima setiap ucapan mama.
"Sori...sori..." ucap mama tulus.
"Mah, bau gosong" Tania mencium bau sesuatu.
"Aduh, mama buat tempe bacem ini malah kau ajak ngobrol. Gimana sih" seloroh mama segera mematikan kompor.
"Aku ke kamar, mau ganti baju dulu" pamit Tania.
"Nggak boleh ke kamar, sebelum kamu bawa cowok yang tidur seatap denganmu kemarin. Titik!!!" tegas mama Rosa.
__ADS_1
"Dia di ruang tamu" jelas Tania.
"Hah, kau tinggal sendirian di sana???" tatap tajam mama Rosa ke Tania.
Tania hanya mengusap wajahnya kasar.
"Iya, dia di ruang tamu. Namanya Arka" imbuh Tania.
"Terus kenapa malah kau tinggal Tania, kalau dia mengambil sesuatu bagaimana?" cemas mama Rosa.
"Paranoid amat sih Mah, nggak mungkin Arka melakukan itu" kata Tania. Tapi ucapan Tania barusan, bagi mama seakan pembelaan buat Arka.
Tania tentu saja yakin Arka nggak macam-macam. Rumah neneknya saja bak istana di tengah kota. Rumah paling mewah di kawasan elit kota ini.
Bahkan sambutan ramah nenek Gemmy tadi pagi sangat berkesan bagi Tania. Tidak seperti keluarga mantan pacarnya, yang tiap kali datang Tania hanya mendapatkan cibiran.
"Idih sudah yakin begitu, kenapa nggak minta dilamar aja" goda mama Rosa.
Tania mencebik, dan berlalu ke kamar untuk ganti baju.
Mama Rosa pun menuju ruang tamu untuk menemui Arka.
Dan dilihatnya anak muda itu sedang memegang foto.
Kalau dilihat dari samping sih sepertinya tampan. Batin mama Rosa.
"Selamat sore" sapa mama Rosa dengan suara berubah berwibawa.
"Se..selamat sore tante" Arka menoleh ke arah mama Rosa.
'Gila...ganteng banget....' puji mama Rosa dalam hati.
"Sore Tante" ulang Arka karena melihat mama Rosa bengong memandangnya.
"Saya Arka. Lengkapnya Arka Danendra" ucap Arka dan menyalami mama Rosa terlebih dahulu.
"Silahkan duduk nak Arka" suruh mama Rosa. Niat hati ingin mengomel ke cowok yang telah membawa putrinya semalaman hingga membuatnya tak tidur, tapi setelah melihat sosoknya langsung kok malah tak tega ya.
"Maaf tante, atas kelakuan saya kemarin" Arka kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Tania dan berakhir menginap di apartemen miliknya.
"Maaf sudah merepotkan nak Arka. Makasih sekali atas bantuannya" tandas mama Rosa.
"Keluarga kami sangat menjunjung tinggi adat ketimuran. Alangkah tak etis seorang cewek menginap di tempat seorang cowok" lanjut mama Rosa.
"Apa ada yang tahu selain mama?" telisik mama Rosa.
"Ada tante" jawab Arka lugas.
"Hah? Bisa panjang nih urusan. Apa pak RT tempat kamu tinggal yang tau?" tanya mama Rosa mulai cemas karena Arka hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan mama.
"Apa kalian digrebek warga?" lanjut mama.
"Aduh malunya mama" mama Rosa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu jika anaknya diarak keliling kampung, dan dituduh kumpul kebo.
"Mama ini kebanyakan nonton sinetron dech" ucap Tania yang barusan gabung dan duduk di samping mama.
"Terus siapa yang tahu lagi selain mama?" selidik mama Rosa.
__ADS_1
"Nenek Gemmy" kata mereka berdua.
"Siapa nenek Gemmy?" lanjut mama.
"Neneknya Arka" kali ini dijawab oleh Tania.
"Kamu sudah mengenal nenek Nak Arka?" dan Tania mengangguk.
"Kapan kau kenal?" mama Rosa kembali bertanya.
"Tadi pagi" jawab singkat Tania.
"Maaf tante, saya mengajak Tania ke rumah karena nenek ingin sekali bertemu dengannya" cerita Arka. Padahal alasan nenek Gemmy sama saja dengan mama Rosa.
"Eh tau nggak mah, kalau tadi nenek Gemmy ingin melamar Tania" beritahu Tania.
"Boleh tau alasan nenek Gemmy ingin melamar?" mama Rosa menoleh ke arah Arka.
"Karena nenek mengetahui kita kemarin tinggal seatap" beritahu Arka.
"Kalau begitu mama sependapat dengan nenek Gemmy" tegas mama Rosa.
"Yaaaccchhhh, nggak bisa begitu dong Mah" kata Tania lemas. Hawa-hawa kalah taruhan mulai terasa oleh Tania.
Sementara Arka mengangkat sedikit ujung bibirnya.
"Kapan rencana nenek datang ke sini nak Arka?" tanya mama Rosa.
"Nenek bilang dua minggu lagi" jawab Arka penuh keyakinan.
"Oke mama setuju" jawab mama Rosa jelas.
Lah, piye to kihhhh? Batin Tania. Tania hanya bisa mengusap wajahnya kasar dan pasrah. Tak jadi dapat dua ribu dolar dan berakhir dilamar oleh Arka Danendra.
"Apa kau keberatan Tania?" mama Rosa menoleh ke arah putrinya.
"Mah, Mamah tuh belum tahu keluarga Arka" bisik Tania.
Dahi mama berkerut.
"Keluarga Rahardjo" Tania kembali membisikkan sesuatu di telinga mama.
"Mau keluarga Rahardjo atau keluarga yang lain, bagi mama cowok yang sudah berani mengajak seorang cewek menginap dia harus tanggung jawab" celoteh mama Rosa lagi dan lagi.
"Saya akan tanggung jawab tante" tegas Arka.
Tania mendelik ke arah Arka yang berkata dengan entengnya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis πππ
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
π