Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Hari-hari Tania


__ADS_3

Kedatangan Tania pagi ternyata telah disambut oleh Maura dan tuan Hadinoto di ruangan Tania.


Angel kelihatan tak berkutik di antara kedua orang itu.


"Selamat pagi tuan dan nona" sapa Tania basa basi.


Kedua orang itu pasti ada maksud tak jelas jika pagi-pagi sudah menyempatkan untuk mendatangi ruangan Tania.


"Selamat Tania, kau sudah diangkat menjadi ketua tim legal di Panapion menggantikan aku" kata tuan Hadinoto sinis.


"Terima kasih tuan" balas Tania acuh.


"Entah kau pakai rayuan macam apa, hingga membuat CEO baru itu takluk padamu" sindir Maura.


"Ha...ha....pikiranmu terlalu picik nona Maura. Satu hal yang perlu kau tahu, aku tak pernah mengobral diri untuk mendapatkan semua itu" sarkas Tania dengan tatapan tajam ke Maura.


Meski di sana ada tuan Hadinoto yang notabene ayah dari Maura.


Maura menghentakkan kaki, kesal dengan ucapan Tania.


"Jaga ucapanmu nona Tania" sergah tuan Hadinoto.


"Maaf tuan, saya hanya bicara sesuai kenyataan. Saya mengenal seorang tuan Arka Danendra, jauh sebelum dia seterkenal sekarang dan menjadi seorang CEO" anggap aja Tania sudah kenal sedari sekolah dasar. Padahal nama aja tak tahu waktu itu.


"Jadi jangan menuduh saya melakukan hal yang macam-macam untuk mendekat ke CEO Panapion, seperti yang dituduhkan oleh nona Maura" kata Tania bagai cabe kalau diulek jadi sambal level tertinggi.


Angel tertawa dalam hati, melihat bos nya sudah ******* sang bos besar dan putrinya itu.


Hingga lepaslah tawa Angel saat tuan Hadinoto dan juga Maura keluar dari ruangan Tania.


"Hebat kau Nona, bisa membuat seorang Maura terdiam tak membalas" kata Angel sambil terus tertawa.


"Sudahlah Angel, biasa saja" kali ini Tania tak banyak bicara. Moodnya sudah terlanjur jelek, dengan sambutan dari tuan Hadinoto dan Maura pagi ini.


Ponsel Tania berdering, terlihat 'My Love' calling. Tania memicingkan mata nya. My love? Tania merasa tak pernah menyimpan nama kontak seperti itu. Bahkan nama Benzema pun tak pernah dia tuliskan di ponsel dengan nama itu. Bagi Tania terlalu lebay untuk melakukan hal-hal seperti itu.


"Non, kok nggak diangkat?" tanya Angel yang melihat Tania mengabaikan panggilan di ponselnya.


"Biarin aja, paling juga orang iseng" tanggap Tania.


Angel mendekat, bukan nomer tak dikenal? Batin Angel.


"Kok 'my love' Non? Jangan-jangan tuan Arka" tebak Angel.


"Mana mungkin? Nomernya aja bahkan belum aku save" tukas Tania.


"Wah, parah kali kau nona. Calon suami sendiri nggak disimpan nomernya" celetuk Angel heran.

__ADS_1


"He.. He....aku sudah hafal nomer belakangnya, kalau 009 ya pasti dia" ujar Tania tertawa.


"Aneh" ucap Angel.


Ponsel kembali berdering untuk kedua kali, dengan panggilan yang sama.


"Non, angkat aja" suruh Angel ke sang bos.


Tania mengangkat jempolnya, isyarat untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Angel.


"Halo" sapa Tania.


"Lama amat, mulai berani mengabaikan panggilanku? Hei Tania Fahira" cerocos orang yang menelpon Tania.


"Arka????" Tania membego.


"Coba kau ulang lagi panggilan untuk aku" tukasnya.


"He...he....sayangku, Arka Danendra" Tania terkekeh, membayangkan seorang Arka yang manyun ketika dipanggil dengan nama.


Semenjak di danau dan mengucap janji suci berdua, mereka sepakat untuk saling memanggil sayang meski kadang Tania banyak lupa nya.


Angel menganga mulutnya, mendengar kata sayang dari mulut Tania.


"Jam istirahat siang, aku ke kantormu. Kita makan siang bersama. Dan tak ada penolakan" kata Arka.


"Haissss....main putus panggilan seenak jidatnya sendiri" gerutu Tania.


"Ha....ha....nona bos ku ternyata terkena sindrom bucin akut" ledek Angel.


"Selamat ya Nona, semoga engkau dikaruniai kebahagiaan setelah yang kau alami sebelumnya" imbuh Angel.


"Ingat non, pasti ada pelangi setelah hujan badai" ucap Angel bagai seorang pujangga.


"Tumben omonganmu benar" seloroh Tania.


"Angel, apa agendaku hari ini?" tanya Tania, karena semenjak datang hari ini banyak omongan tak bermutu keluar dari mulutnya.


"Seperti yang kau bilang dua hari yang lalu Nona, anda ingin jenguk nyonya Marsha ke lapas" beritahu Angel.


"Heemmmmmm ..iya..iya...kenapa aku bisa lupa ya?" kata Tania mengetuk-ngetuk kepalanya.


"Padahal sudah kutulis semua di buku ini" Tania terkekeh sendiri, sambil menunjukkan buku seperti sebuah diary.


"Heemmm, kalau dibuat novel itu pas banget judulnya 'Tulisan Tinta Tania' nona" ujar Angel dengan menatap buku yang dipegang Tania.


"Ha...ha...hari ini kau aneh Angel" Tania menertawakan Angel.

__ADS_1


"Yang penting cantik kan?" sahut Angel ikutan ketawa.


"Cantik...cantik banget malah. Sampai Anthoni aja ogah melihatmu" ledek Tania.


"Ah Non mah begitu. Nggak ada Anthoni, masih banyak laki lain yang mengantri" tukas Angel penuh percaya diri.


Tania meninggalkan Angel di kantor untuk pergi ke lapas menjenguk nyonya Marsha.


Sudah menjadi kebiasaan Tania untuk melihat setiap kliennya meski sidang telah ditutup dengan putusan.


"Selamat nona Tania, aku dengar anda menjadi tim legal perusahaan Panapion" sambut nyonya Marsha saat barusan duduk di hadapan Tania.


"Ha...ha...biasa saja nyonya, nggak ada yang istimewa untuk hal itu" seloroh Tania.


"Bagiamana anda tahu akan hal itu?" telisik Tania.


"Ha...ha...berita tentang mu sudah muncul di semua stasiun televisi nona" imbuh Nyonya Marsha.


"Bahkan sang CEO sendiri yang mengumumkan hal itu" lanjut nyonya Marsha.


"Bagaimana aku bisa ketinggalan berita" gumam Tania.


"Oh ya nyonya, apa anda mengenal Arka?" selidik Tania, karena dirinya merasa janggal saat mengingat akan interaksi antara Arka dan nyonya Marsha sewaktu di persidangab terakhir.


"Anda tanya tuan muda saja nona" jawab nyonya Marsha.


"Dia pasti tak akan mengaku nyonya" tukas Tania cepat.


"He...he...itulah tuan muda. Selalu penuh teka-teki. Tapi satu hal yang perlu kau ingat nona, tuan muda adalah orang yang sangat baik" jelas nyonya Marsha. Hingga ucapan nyonya Marsha membuat Tania semakin penasaran.


Jam kunjung telah selesai, Tania meninggalkan nyonya Marsha setelah berpamitan.


Benzema Abimanyu nampak menunggu Tania yang barusan keluar dari lapas.


"Tania, aku mau bicara" kata Benzema sambil berusaha menahan langkah Tania.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir.


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2