Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kunjungan Berikut


__ADS_3

"Hati-hati Nak, pikirkan kembali untuk menelusuri kejadian itu" nasehat mama.


"Apa mama mau pasrah saja?" sela Tania.


"Bukan begitu. Apa dengan kembali mengungkit kejadian yang telah lewat akan mengembalikan ayah kamu ke sisi kita. Tidak bukan?" tanya mama.


"Bukannya mama tak ingin menyibak kasus di balik semua itu" mama Rosa menjeda ucapannya.


"Terus?" Tania masih saja menyela.


"Karena pesan ayah kamu yang selalu mengingatkan mama untuk tak menyimpan dendam. Apapun yang terjadi masih ada yang di atas. Dialah Maha Segalanya" lanjut mama.


"Tapi apa kita akan terus membiarkan yang berbuat jahat, tetap melakukannya Mah?" sanggah Tania.


"Tania, kalau semuanya untuk menghilangkan rasa penasaran kamu. Lanjutkan saja. Tapi kalau untuk membalas dendam, mama tetap tidak setuju" pesan mama Rosa lugas dan jelas.


"Mama tak mau kau melakukan hal-hal yang membahayakan dirimu" saran mama Rosa selanjutnya.


"Baik Mah, akan aku coba" tukas Tania.


"Ikhlaskan, biar ayah juga tenang di sana" imbuh mama.


Tania hanya mengangguk.


"Ayo sarapan dulu" ajak mama Rosa.


"Berangkat sendiri apa dijemput Arka?" tanya mama sambil memberesi meja makan. Sementara bekal Tania sudah siap. Mama sengaja menyiapkan dua, satu buat Tania dan satu buat Arka.


"Sendiri Mah, sepertinya Arka akan sibuk pagi ini. Dia sedang mengevaluasi semua proyek Panapion yang sedang berjalan" terang Tania.


"Ini kok dua bekalnya?" tanya Tania.


"Maksudnya sih satu buat Arka" beritahu mama.


"Oke, ntar kuanterin ke sana. Siang nanti kan rencana mau ke lapas" bilang Tania.


"Hati-hati. Jangan ngebut" pesan mama.


"Siap nyonya besar" sahut Tania dengan menyalami punggung tangan mama.


Mama Rosa terkekeh. Anak gadisnya masih saja seperti anak kecil, meski usianya sudah mencapai tiga puluhan.


Sementara saat Tania sedang fokus mengemudikan mobil, sebuah panggilan terdengar dari ponsel yang sengaja dia taruh di dashboard mobil.


"Pagi nenek Gemmy" sapa Tania ceria.


"Pagi Tania, sudah berangkat belum?" tanya nenek.


"Nih lagi otewe Nek" beritahu Tania.


"Bisa nggak pagi ini mampir ke rumah nenek dulu" harap nenek.


"Urgen nggak nek?" sela Tania.


"Nggak kok, cuma nenek tadi nyiapin bekal buat kalian berdua" ucap nenek.


'Sudah seperti anak paud saja, semua ngasih bekal' pikir Tania.


"Kok diam?" tanya nenek yang belum mendengar suara Tania lagi.


"He...he...maaf nek. Untuk bekal aku sudah dibawain mama Rosa tadi. Bahkan Arka juga sudah disiapin" Tania memberi info buat nenek Gemmy.


"Oke Tania, kalau begitu nenek bagiin saja buat ART di rumah" sambung nenek.


"Maaf ya nenek ku sayang" kata Tania.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kalau boleh usul bekal buat kalian kerja dibuat gantian aja. Sehari nenek yang buat, sehari mama kamu" usul nenek.


'Yaelaaahhh, makan aja dibuat ribet' celetuk batin Tania.


"Tergantung Arka nek, kan kita juga nggak saben hari ketemu" kata Tania menimpali.


"Oke lah" jawab nenek dengan suara lemas. Tania jadi merasa bersalah.


"Kan baru kemarin sore kita ke rumah Nek" Tania beralasan.


Sampai di kantor, Maura Hadinoto telah menunggu Tania di ruangannya.


"Kau ini, kalau mau sukses jangan telat dong datangnya" sewot Maura.


"Ye...serah gue dong. Aku dari rumah juga berangkat seperti biasa" tolak Tania atas olokan Angel.


"Percuma ngomong sama kamu" ucap Maura.


Maura lihat jam tangan nya, dan ternyata Tania tidak telat.


"Tuan Arka nggak ke sini?" tanya Maura.


"Enggak" jawab singkat Tania.


"Ooooo, biasanya pasangan baru itu akan saling bertukar kabar loh" sindir Maura.


"Pengalaman pribadi nih ceritanya" sahut Tania.


"Sudah bisa kita mulai?" tanya Tania ke Maura.


"Baiklah" tandas Maura.


.


"Tania, setelah melihat semua berkas-berkas memang ada yang tak beres" ucap Maura.


"Apa posisi Benzema aman?" sahut Maura.


"Arka nggak bisa jamin. Tergantung Benzema kooperatif apa tidak" tukas Tania.


"Apa proyek ini juga ada kaitannya dengan dia?" kejar tanya Maura.


"Mayoritas Benzema terlibat, dan ada tuan William yang bersama dengan dia" kata lugas Tania.


"Apa kau mencemaskan dia?" telisik Tania.


"Kalau dia dipecat, mau dikasih apa aku ini sama dia?" kata Maura.


'Sekali picik tetap aja picik' gerutu Tania dalam batin.


"Padahal pernikahan kita tinggal menghitung hari" kata Maura agak sewot.


"Satu hal yang bisa buat dia nggak bakalan dipecat" bisik Tania ke telinga Maura.


"Apa itu?" Meski kecil kemungkinan, tapi Maura ingin tahu.


"Tentu saja Benzema harus berpihak kepada Arka" lanjut Tania.


"Apa Benzema mau?" telisik Tania ke Maura.


"Dia pasti mau, akan aku pastikan itu" imbuh Maura.


"Aku tunggu janji kamu Maura" ucap Tania.


"Untuk hari ini kita cukupkan dulu, dan untuk Benzema buktikan ucapanmu yang tadi" ulas Tania sambil berberes, karena hari ini Angel ijin tidak masuk karena mama nya sakit" tandas Tania mengakhiri agenda rapat tim hukum.

__ADS_1


Tepat makan siang, Arka telah sampai di kantor Tania yaitu Hadinoto and partner.


"Angel nggak masuk?" tanya Arka yang melihat Tania berberes sendiri.


"Oh...Angel ijin.Mamanya sakit" beritahu Tania.


"Yuk ah, kita berangkat ke lapas" sahut Tania.


"Eh, nanti kita makan dulu aja" kata Arka


Tania menyodorkan dua kotak bekal. "Nggak usah beli, kita makan ini aja. Masakan ter dhe best di seluruh dunia" puji Tania.


"Masakan mama Rosa?" tanya Arka.


"Heemmmm...dan aku juga nggak perlu repot-repot untuk mendatangimu ke kantor. Ternyata kau ke sini duluan" beritahu Tania.


"Untuk apa kau susul ke sana, kemarin kan aku bilang mau ke sini" sahut Arka.


"Makanya, dengan kamu datang ke sini aku telah menyelesaikan amanat dari mama"


"Amanat?" sela Arka.


"Iya! Amanat untuk tak membiarkan menantunya kelaparan. Nih makan" Tania menyodorkkan kotak bekal berwarna biru kepada Arka.


"Siap tuan putri. Mama Rosa memang is the best dech" puji Arka.


Sekarang Arka dan Tania dalam perjalanan menuju lapas di mana tuan Bagus Priyanto ditahan saat itu.


Tania langsung saja turun sesaat sesudah sampai di lapas.


"Maaf nona, sekarang bukan jam jenguk tahanan" beritahu sipir.


Tania mengeluarkan kartu identitas kepada sipir, "Oke Nona" jawabnya.


"Anda ingin jenguk siapa?" tanya sipir itu.


"Aku ingin bertemu dengan kepala lapas" beritahu Tania.


"Sudah janji temu?" tanyanya.


"Sudah" tegas Tania.


"Baiklah Nona, aku antar ke ruangan kepala" kata sipir itu.


Arka menyusul Tania dengan berlari kecil untuk mengejarnya.


"Ada yang bisa kami bantu tuan Arka?" tanya kepala sipir.


"Iya Tuan, aku hanya ingin tahu tentang tuan Bagus Priyanto yang pernah menjadi warga binaan di sini" beritahu Arka.


"Ooohhhh, tuan Bagus?" sela kepala sipir.


"Siapa yang tak kenal dia tuan. Orang yang sangat baik, hanya nasibnya saja yang tak baik" lanjut kepala sipir.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya


πŸ’

__ADS_1


Salam sehat buat semua πŸ€—


__ADS_2