
"Aku balik Pandu" kata Arka beringsut dari duduknya.
"Siap tuan" tukas Pandu.
"Kunci mobil" pinta Arka.
"Setir sendiri?" perjelas Pandu.
"Heemmmmmm" Arka menerima kunci mobil yang memang dibawa Pandu.
Dalam perjalanan, Arka malah banyak melamun.
"Akhir-akhir ini nyeri yang kurasa lebih sering dari biasanya. Apa harus kupercepat kepergianku ke Amerika? Lantas apa aku harus meninggalkan istriku yang bahkan masih terbaring sakit" batin Arka bimbang.
Arka masuk ke ruang perawatan sang istri.
Ternyata di sana telah berkumpul Sebastian dan Mutia. Dan juga pasangan Dewa dan Dena.
"Bos, istri sakit jangan ditinggalin kerja mulu dong" ledek Sebastian.
Arka tersenyum kecut mendengar ucapan Sebastian.
"Biasa lah, pasti kau tau kan apa yang terjadi hari ini" imbuh Arka dengan terkekeh.
"Dewa kapan nih nyusul, kasihan Dena tuh kau gantungin mulu?" celoteh Tania.
"Emang gantungan kunci" sela Dewa.
"Den, kalau nggak dilamar-lamar. Tinggalin aja tuh Dewa" lanjut Tania.
"Awas loe ya. Dasar teman nggak jelas" umpat Dewa.
Biasalah trio somplak kalau lagi ngumpul. Pasti ada saja ulah mereka, tanpa peduli kalau yang satu lagi sakit.
Tania menahan rasa sakit akibat tawa yang tak bisa ditahan karena kekonyolan Dewa.
"Syukurin, baru tau rasa loe" ujar Dewa. Dan cubitan Dena mendarat indah di lengan.
"Aawwww sakit yank" kata Dewa.
"Siapa suruh ngeledekin kak Tania yang lagi sakit" sela Dena.
"Tuh kan, Dena memihak padaku. Makanya cepetan halalin" lanjut kata Tania.
"Enak lho Wa menikah tuh. Enak banget malah" gantian Sebastian yang meledek.
"Iya kan bang Arka?" tanya Tian mengharap dukungan seniornya itu.
"Heemmmm....aku aja nyesel kenapa nggak sedari dulu menikah" tukas Arka.
"Ha....ha...tuh kan bener apa yang aku bilang" celoteh Sebastian.
Dewa semakin manyun mendengar ledekan yang mengarah kepadanya.
"Jangan hanya jargon aja siap nikah, eh malah ditikung tuh sama Tania" ledekan Sebastian terus saja berlanjut.
Dewa semakin bersungut.
"Mutia, Langit sama Mega nggak diajak?" tanya Tania ke Mutia yang sedari tadi ikutan tertawa melihat kekonyolan sang suami.
"Eh, Langit sekolah kak. Dan Mega di rumah Opa Baskoro" terang Mutia.
"Opa Oma nya kangen" timpal Sebastian.
"Kalian berdua bulan madu terus dong?" sela Arka.
"Ya pastilah bang, mumpung ada kesempatan. Tancap terusssss" ujar Sebastian sambil tergelak.
Mutia hanya tersenyum menanggapi ulah sang suami.
"Eh, sepertinya Tania mau istirahat. Kita pamit aja yuk" ajak Sebastian.
__ADS_1
"Mau kemana kalian?" tanya Tania.
"Balik lah, ngobrol terus sedari tadi nyatanya bikin laper juga" tukas Sebastian.
.
Arka mencari keberadaan nenek dan juga mama yang kebagian menunggu sang istri.
Sedari tadi ngobrol sama teman-teman Tania, mereka berdua tak kelihatan.
"Nenek sama mama lagi ke kantin rumah sakit, lapar katanya" jelas Tania mengerti yang dicari sang suami.
"Kok lama?" sela Arka.
"Mungkin nenek dan mama tahu kalau sudah ada yang nemenin aku" tulas Tania.
"Gimana, masih nyeri kah?" tanya Arka mendekat ke Tania.
"Mayan berkurang sih, cuma kalau dipake gerak dikit ya pasti nyeri lagi" jelas Tania.
"Pengurang nyeri sudah diminum?" tanya Arka dan dijawab Tania yang mengangguk.
"Mau jalan-jalan keluar kamar? Biar nggak bosan?" tanya Arka kembali.
"Nggak usah dech yank. Kalau ada kamu pasti kagak bosan" kilah Tania.
"Heemmmm, pasti ada maunya" imbuh Arka meledek.
"He...he...." Tania terkekeh.
"Yank, sudah beres semua?" tanya Tania menatap serius Arka.
"Hemmmm...selama ada Arga sama Pandu dijamin semua beres" canda Arka.
"Emang ada apaan sih?" kepo Tania.
"Biar aku aja yang mikirin. Kamu fokus aja sama penyembuhan kamu" saran Arka.
"Loh, apa diajuin jadwalnya?" tanya balik Tania.
"Iya, kalau kau sudah sembuh sih" tandas Arka.
Tania menatap Arka mencari jawaban di sana.
"Nggak usah serius nanggepinnya, ke sana kan dalam rangka kerja sekalian bulan madu" Arka dapat menangkap arti tatapan Tania.
"Bukan berobat kan?" telisik Tania.
"Siapa yang berobat?" sela nenek Gemmy yang barusan hadir di antara mereka bersama mama Rosa.
"Nggak ada kok nek. Cuma aku ingin memajukan jadwalku ke Amerika" urai Arka.
"Kamu apa nggak kasihan sama istri kamu yang barusan selesai operasi. Luka aja belum kering" debat nenek Gemmy.
"Makanya nek, ntar lihat dua minggu lagi. Kalau sudah sembuh ya langsung berangkat ke sana" ujar Arka.
"Nggak usah buru-buru. Sebulan lagi kalian baru boleh berangkat. Kalau alasan kamu karena kerja, rekan bisnis kamu bisa kan gantian diminta datang ke sini" tegas nenek Gemmy.
Perkataan nenek Gemmy membuat Arka tak berkutik. Karena Arka tak mungkin mengungkapkan alasan utamanya ke sana, yaitu ingin bertemu dengan dokter Jack dan menjalani proses pemeriksaan berkelanjutan untuk menangani nyeri yang malah sering timbul akhir-akhir ini.
"Kalau memang tak bisa ditunda, biar Tania tinggal di rumah. Kamu aja berangkat sendirian" suruh nenek.
"Nenek nggak lucu ah. Aku kesana kan sekalian dalam rangka bulan madu" seloroh Arka.
"Apa nya bulan madu? Tania yang masih sakit apa akan kau terabas juga?" sela Mama Rosa.
"Ya nggak begitu juga Mah. Honey moon kan tidak melulu begituan. Tapi bisa diganti dengan jalan-jalan" tukas Arka beralasan.
"Alesan aja kamu" sela nenek.
"Tapi aku ingin ikut pergi nek" sela Tania.
__ADS_1
"Seumur-umur baru kali ini ke Amerika..he...he..." celetuk polos Tania.
"Hemmmm, kalau begitu seperti saran nenek sebelumnya. Kalian pergi setelah satu bulan dari harì ini. Tania biar fokus ke penyembuhannya dulu" kata nenek Gemmy tanpa mau dibantah.
Arka mengangguk pasrah. Berargumen pun tak akan merubah keputusan nenek Gemmy.
.
Keesokan hari Tania sudah diijinkan pulang oleh dokter Maya.
"Tania, tak ada pantangan ya. Kalau perlu makan ditambahin biar cepat sembuh tuh luka" saran Maya. Maya dan Tania mulai akrab satu sama lain.
"Oke" tanggap Tania.
"Kira-kira kapan diijinkan program hamil lagi nih? Keburu tua aku" seloroh Tania membuat yang ada di sana tertawa menimpali.
"Luka aja belum kering, sudah mau promil aja" ledek Arka.
"Kamu juga keburu tua ntar. Anak masih kecil-kecil kita sudah sering sakit pinggang. Nggak lucu ah" Tania sampai geleng-geleng membayangkan.
Tak berapa lama Bara nyusul keberadaan mereka.
"Arka, jangan lupa. Kutunggu kau gabung di sini" kata Bara.
"Jangan bilang kalau mau kau pikirkan lagi" potong Bara sebelum Arka menjawab.
"Ha...ha...masih mikirin bagi waktunya bagaimana. Aku lagi kejar setoran nih" seloroh Arka.
"Kejar setoran? Kan malah bagus kalau kamu ikutan gabung di sini" kata Bara, tapi sepertinya tak sejalan dengan pemikiran Arka.
"Kejar setoran agar istriku lekas hamidun" kata Arka dengan berbisik ke Bara membuat Bara terbahak mendengarnya.
"Beneran. Ntar kalau aku sudah siap kuhubungin kamu dech" janji Arka.
"Heemmm...baiklah. Smoga selalu sehat Tania" ucap Bara menyalami Arka dan Tania.
"Aku juga pamit duluan. Ada jadwal operasi menunggu" Maya menimpali. Arka juga tak habis pikir. Mayong kakaknya Bara yang super duper dingin, mendapatkan jodoh dokter Maya yang sangat supel dan ramah. Jodoh memang rahasia Tuhan, dan itu tak terbantah. Batin Arka.
Siapa yang mengira kalau jodohnya adalah Tania Fahira, gadis kecil yang digilainya sedari dulu.
"Yank, kok malah melamun sih?" kata Tania.
"He...he..." Arka hanya menjawab dengan kekehan.
"Pandu sudah selesai belum?" tanya Arka.
"Nggak tahu, dia belum ke sini" imbuh Tania.
Tak berapa lama, Pandu masuk ke ruang rawat Tania.
"Semua sudah beres tuan" jelasnya.
"Oke, kita pulang" kata Arka sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Tania.
Arka memutuskan untuk kembali ke mansion agar saat ditinggal kerja Tania ada yang menemani.
"Kalian sudah pulang?" sambut nenek Gemmy dengan wajah sumringah. Senang karena cucu-cucunya akan tinggal bersama walau hanya beberapa waktu.
Arka memapah Tania yang masih berjalan dengan pelan dan menahan nyeri luka.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
π
__ADS_1
Salam sehat buat semua π€