
Apapun yang akan dikatakan oleh dokter Jack, Arka telah menyiapkan mental untuk mendengarnya.
Dia genggam erat tangan sang istri. Tania pun demikian.
Tania memahami, kalau Arka sang suami saat ini sangat membutuhkan dirinya.
Rasa traumatic karena sakit itu belum bisa dihilangkan sepenuhnya oleh Arka Danendra.
"Sayang, apapun hasilnya aku akan selalu mendukung kamu" kata Tania saat mereka menyusuri koridor rumah sakit.
"Aku harap begitu sayang" tukas Arka.
"Silahkan masuk bro" sapa dokter Jack untuk menetralkan suasana.
"You are ready to hear it?" tanya dokter Jack.
"Yes" jawab singkat Arka.
"Sit down please" sahut dokter Jack.
Dokter Jack membuka komputer di depannya. Dia cek rekam medis atas nama Arka Danendra.
"Take a look!" suruh dokter Jack dengan memutar layar monitor komputer canggih itu.
" Not available???" tanya Arka dengan mata memicing.
"Yesss, its true" imbuh dokter Jack dengan wajah cerah.
"Apa artinya dokter?" kata Arka tak percaya dengan hasil itu. Meski layar komputer telah menunjukkan bahwa semua hasil pemeriksaan menunjukkan normal.
"Yes its true Arka. All within a normal" pertegas dokter Jack.
Arka memeluk dokter yang sekaligus sahabatnya itu.
"Thanks bro" ucap Arka.
"Terus rasa nyeri itu?" lanjut Arka.
"Its only memory in your brain" tegas dokter Jack.
"Jadi aku harus berusaha menghilangkan sendiri rasa traumatic nyeri itu?" seloroh Arka.
"Yesss, seperti sebelumnya. Kau harus bisa menekan rasa itu. Don't thing to much" saran Jack.
"Be happy in your life!!!" lanjut Jack.
"Siap, sudah ada dia di sampingku" rengkuh Arka ke bahu Tania.
"Ha....ha...." dokter Jack menanggapi.
"Semuanya normal sayang? Sudah beneran sembuh?" pertegas Tania.
"Heemmmm" Arka semakin mempererat pelukannya.
Tania pun membalasnya. Lega rasanya mendengar semua apa yang dikatakan oleh dokter Jack.
"Oke dokter Jack.Thank you so much" Arka bangkit dan menyalami dokter Jack yang juga karibnya itu.
"Your welcome Arka" Jack menyambut tangan Arka dan tersenyum ramah.
"Kalau ke Indo, aku akan menjamumu dokter" ucap Tania.
"Thank you" tukasnya.
__ADS_1
"Dia sukanya ketoprak sayang" sela Arka.
"Yaaaa...yang ada lontong sama bumbu kacangnya. Its karbohidrat, tapi its okey" canda dokter Jack.
"Ha...ha...." semua terbahak dengan keramahan dokter Jack.
.
"Sayang, sekalian mumpung di sini. Bagaimana kalau kita konsultasi ke dokter Robinson?" ajak Arka.
"Obgyn itu?" tanya Tania.
"Hemmmmm" angguk Arka.
Tania terdiam, merenung. Dia takut ada masalah di sistem reproduksinya.
"Gimana?" tanya Arka.
"Hemmmm, aku takut sayang" jelas Tania.
"Apa yang kau risaukan?" Arka mengecup kening sang istri yang menyandar di lengannya.
"Aku takut kalau ada masalah di rahimku" Tania menyampaikan kegalauannya.
"Aku sayang kamu apa adanya. Meski kita ditakdirkan tak ada keturunan pun" imbuh Arka.
"Tapi kita harus berusaha. Kamu tahu kan, operasi kamu kemarin seperti apa. Bukannya dokter Maya sudah ngejelasin?" imbub Arka.
"Iya, saluran telur ku kan tinggal sebelah. Jadi kemungkinan untuk hamil tinggal lima puluh persen" ujar Tania dengan muka tertekuk.
"Heeiii...jangan sedih dong. Lima puluh persen itu banyak loh kemungkinannya. Makanya kita harus semangat pantang mundur untuk membuatnya supaya lekas jadi" imbuh Arka dengan bercanda.
"Isssshhhh apaan sih, nggak lucu" tukas Tania.
"Kita berusaha, Tuhan yang menentukan" kata Arka selanjutnya.
"Ya sudah aku siap konsultasi" tukas Tania setelah menghela nafas panjang.
"Oke, aku membuat janji temu dengan dokter Robinson" kata Arka meraih ponsel dan mencari nomor dokter yang diberikan oleh dokter Jack kemarin.
Tania memeluk Arka, "Kita ini ke sini tujuannya apa sih yank?" tanya Tania.
"Bulan madu" jawab Arka.
"Bulan madu kok hobinya melakukan kunjungan dari satu dokter ke dokter lain. Seperti visitasi rumah sakit saja" terang Tania.
"Ha...ha...ini namanya bulan madu plus-plus sayang" Arka terbahak mendengar celetukan Tania.
"Tidurlah, aku mau nelpon Pandu sebentar" suruh Arka mengurai pelukan dan menyelimuti badan sang istri.
"Di sini masih saja teringat sama istri keduamu itu, si Pandu" sungut Tania.
"Ha...ha....demi kesejahteraan bersama aku tak boleh melupakannya sayang" Arka terbahak dan menirukan kata-kata dari pak Somad di serial kartun Dudung.
Tania menarik selimut sampai atas, menyembunyikan muka di bawahnya.
"Maski kau ngambek, aku tetap akan menelponnya sayang" Arka masih saja terbahak. Aneh saja, sang istri mencemburui sang asisten. Selama di Amerika, Arka selalu menyempatkan nelpon Pandu. Bahkan bisa lebih sejam jika yang dibahas tentang perusahaan.
Saat Arka menelpon Pandu, kebetulan ponsel Tania berdering.
"Oh, nenek Gemmy" gumam Tania saat ponsel sudah di tangan.
"Halo nenek" sapa Tania.
__ADS_1
"Halo sayang. Apa kabar? Kemarin kok nggak jadi nelpon nenek. Padahal nenek nungguin loh" kata nenek.
"Kok nenek nggak nelpon?" tanya Tania.
"Mau nelpon, takutnya kalian sedang fokus buatin cicit buat nenek" terang nenek. Jelas saja nenek berpikiran seperti itu, lha pamitnya Arka dan Tania mau honeymoon ke nenek.
Tania hanya bisa menyengir kuda mendengar ulasan nenek Gemmy yang kalau bicara suka apa adanya.
"He...he...." Tania hanya bisa terkekeh.
"Kok kami sendirian, Arka ke mana?" tanya nenek yang memang belum melihat keberadaan Arka.
"Biasa nek, sedang telponan sama istri keduanya" jawab Arka.
"Hah? Istri kedua?" tukas nenek dengan penuh heran.
Tania memutar kamera ponsel agar mengarah ke Arka yang sedang menelpon Pandu, sementara dia diam biar nenek tahu apa yang dilakukan Arka.
"Oh ya Pandu, jangan lupa kau awasi orang-orang dari perusahaan Smith yang ditempatkan di perusahaan kita" perintah Arka.
"Perusahaan yang baru kita akuisisi, siapkan orang untuk kita tempatkan di sana. Paling nggak manajemen harus kita perbaiki dulu. Target pertengahan tahun harus beres Pandu" lanjut Arka.
Tania memutar kembali kamera ke arahnya.
"Mesra sekali cucuku bicara dengan second wife nya...ha...ha..." Nenek Gemmy tertawa karena tahu siapa yang ditelpon Arka. Tingkah cucu menantunya saat ini sangat-sangatlah membuatnya terpingkal.
"Kau ini ada-ada saja sayang" imbuh nenek.
"Lha gimana nek, tiap malam aku sering dikacangin seperti itu" edisi Tania curhat ke nenek Gemmy.
"Sabar sayang, Arka melakukan itu demi kemakmuran bersama...ha...ha... Ingat banyak karyawan yang menggantungkan nasibnya ke perusahaan yang suami kamu pimpin" nasehat nenek.
"Iya nek" jawab Tania.
Arka yang masih menelpon Pandu menengok ke arah Tania.
"Siapa?" tanyanya saat melihat Tania yang juga sedang menerima telpon.
Tania mengarahkan layar ponsel ke arah sang suami.
"Halo Nek, jangan sering-sering nelpon. Ntar cicitnya nggak jadi-jadi" kata Arka menyapa nenek Gemmy.
"Dasar cucu nggak sopan" gerutu nenek Gemmy.
Arka kembali fokus ke obrolannya dengan Pandu.
"Tuh nek, sudah lihatkan?" imbuh Tania.
"Ya sudah, nenek hanya memastikan kalau kalian baik-baik saja. Bye sayang" kata nenek Gemmy.
"Bye nenek" ucap Tania menutup panggilan dari nenek Gemmy.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
💝
__ADS_1