
"Bagaimana nyonya, aku sangat mengharapkan bantuan anda" harap Arkan di seberang.
"Gila nih orang. Setelah semua yang diperbuat berani-beraninya nyariin istri gue" gerutu Arka.
"Akan aku pikirkan" kata Tania membuat Arka mendelik mendengarnya.
"What???? Apa yang kamu pikirkan sayang?" bisik Arka supaya nggak kedengaran si Arkan. Arka tak percaya dengan jawaban sang istri barusan saat menanggapi permintaan Arkan.
"Terima kasih nyonya. Aku sangat tergantung dengan anda kali ini" sambung Arkan berikutnya.
Panggilan ditutup sepihak oleh Tania.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya ulang Arka karena belum mendapat jawaban dari Tania.
"Aku hanya berpikir, sejahat-jahatnya Arkan pasti ada sisi baiknya. Alangkah mulia jika kita bisa merubah seorang yang jahat menjadi seorang yang baik" kata Tania menanggapi.
"Bullshit sayang" tukas Arka.
Menurut Arka, bagaimanapun harus bertindak berdasarkan rasionalitas.
"Jangan bertindak gegabah. Kamu tahu sendiri bagaimana jahatnya Arkan" nasehat Arka.
"Aku tahu. Makanya jika kamu sempat antar aku menemuinya di kantor penyidik" sahut Tania.
Arka hanya bisa menepuk jidat. Sang pengacara sudah muncul sifat aslinya. Keras kepala...he...he...
Arka membelokkan laju mobil ke sebuah komplek perumahan mewah.
"Kita ini sebenarnya mau ke mana?" tanya Tania penasaran.
"Tutup mata gih" suruh Arka.
"Nggak mau" tolak Tania membuat Arka menepikan mobilnya.
"Tutup mata atau kuiket dengan ini???" bilang Arka menunjuk sebuah sapu tangan yang sengaja dibawanya.
"Maksa banget sih" jawab Tania sewot.
"Ayolah sayang" rayu Arka sedikit memaksa.
"Oke...oke...tapi ada hadiahnya" tuntut Tania.
"Ishhh jangan mulai dech. Atau sekarang kamu beralih profesi jadi jaksa penuntut aja?" kata Arka.
"Kok gitu?" sela Tania.
"Iya lah, lha dikit-dikit nuntut hadiah" canda Arka.
"Ha...ha...boleh...boleh" Tania terbahak mendengar kata Arka barusan.
"Hayo sekarang tutup mata" pinta Arka.
"Isshhh...masih ingat aja sih" tukas Tania tapi tetap memejamkan mata sesuai permintaan sang suami.
"Jangan tinggalin aku loh yank, aku kan nggak bisa lihat gara-gara kau suruh tutup nih mata" canda Tania.
"Ha....ha....enakan kamu dong yank kalau kutinggalin. Nih mobil mahal banget tau" gurau Arka.
"Matre!" seru Tania.
__ADS_1
Obrolan receh versi Arka dan Tania alias pengusaha versus pengacara.
Arka menghentikan mobil yang melaju pelan barusan.
"Boleh ku buka?" tanya Tania.
"Jangan dulu. Tahan bentar" cegah Arka.
Arka gerak cepat turun dan memutari mobil. Dituntunnya Tania saat turun.
"SURPRISE" seru semuanya.
Tania membuka mata. Untuk sesaat pandangannya masih remang-remang.
Di depannya terlihat nenek Gemmy, mama Rosa dan banyak yang lain. Bahkan baby 'A' juga menyambut kedatangan Tania dan Arka.
"Sayang, ini ada acara apa?" tanya Tania menengok ke arah Arka Danendra, sang suami.
"Ayo masuk ke rumah kita" ajak Arka.
Tania menutup mulut dengan kedua tangannya. Speechless dengan kejutan kali ini.
"Kok malah diam, ayo masuk" ulang Arka.
"Beneran sayang?" ujar Tania masih tak percaya.
"Ayo buruan, sudah kesemutan nih kaki nungguin kalian sedari tadi" seru Sebastian dari arah belakang mereka dan datang bersama Mutia dan ketiga putra putrinya.
"Haiissss...paling kau juga barusan datang?" ledek Tania.
"Itu kamu tahu...ha...ha..." Sebastian ikutan terbahak, menunjukkan ketengilannya.
"Oppssss...bener juga apa kata loe" Sebastian menutup mulut nya.
Di dalam, sudah berkumpul ibu-ibu pengajian dan juga ustadz yang rencananya akan memberikan tausiyah.
"Syukuran kecil-kecilan sayang atas rumah baru kita, dan juga aqiqahan putra kita" jelas Arka saat Tania memandangnya.
Acara dimulai dengan khidmat. Bahkan semua kolega Arka sengaja diundang. Pandu dan Angel lah yang super sibuk dengan sesi acara semua.
Dewa dan Dena, Sebastian dan Mutia lengkap dengan putra putrinya, Bara dan Elis, nenek Gemmy, mama Rosa, papa kandung Arka pun juga hadir. Para penggedhe Panapion pun tak luput dari undangan Pandu. Benzema dan Maura juga hadir di sana.
Rona bahagia nampak sekali di wajah Tania. Bahagia yang tak bisa dibayar dengan uang berapapun, karena kebahagiaan itu tak bisa terukur dengan apapun.
Rangkaian acara aqiqahan juga berjalan khidmat dan lancar. Setelah mengadakan tausiyah, ustadz mendoakan putra tunggal Arka dan Tania, yang telah diberi nama 'Arditya Putra Danendra Rahardjo' dan akan menjadi salah satu penerus Rahardjo Grub.
"Cepat besar ya sayang, biar papa cepet pensiun dari Panapion" Arka mencium gemas pipi bayi yang embul.
"Kamu ini bilang apa sich?" nenek Gemmy mencubit lengan Arka saat menggoda bayi yang masih merah itu.
"Mulai saat ini kalian menjadi tetanggaku" sela Sebastian menghampiri Tania dan Arka.
"Hah? Tetangga?" tukas Tania.
"Tuh, rumah sebelah kan rumahku" terang Sebastian.
Tania menepuk jidat. "Kok bisa sih yank, beli rumahnya sebelahan sama dia?" tanya Tania ke Arka.
"Biar seru aja" kata Arka yang tak memberikan jawaban seperti yang diminta oleh Tania.
__ADS_1
"Kan kita masih sesirkel...ha...ha..." Sebastian lagi-lagi terbahak.
"Au ah gelap" kata Tania menjauh dari Arka dan Sebastian kemudian menghampiri Mutia yang sedang bersama dengan Langit dan adik-adiknya.
"Hello Langit, apa kabar?" tanya Tania ke putra pertama Sebastian yang sudah SD itu.
"Baik tante" jawabnya, tapi tetap sibuk bantuin bunda jagain adiknya.
"Selamat kak, atas semuanya" senyum Mutia terukhir manis di bibirnya.
"Makasih ya, semua atas support kalian juga" tandas Tania.
Elis istri Bara pun ikutan menghampiri sang tuan rumah.
"Hallo kak, selamat ya atas kelahiran putra pertamanya. Maaf baru bisa nengokin" kata Elis.
"Nggak apa-apa. Malah aku yang juga belum sempat nengokin bayi kamu" Tania tertawa renyah.
"Wah, nanti aku bisa belajar banyak dong ke kalian yang lebih pengalaman merawat bayi" lanjut Tania.
"Siap kak" tulas Elis.
"Wah, kayaknya seru juga tuh punya baby seusia. Nanti saat main barengan, sekolah pun barengan" sela Mutia.
"Mama, bundanya bisa nggibah barengan juga...ha...ha..." tukas Tania tertawa lepas.
.
Acara selesai. Semua tamu sudah pada pamitan. Mansion pun telah rapi kembali seperti Arka mendesign awal.
"Ini beneran rumah kita sayang?" tanya Tania dan Arka mengangguk.
"Interiornya bagus banget" puji Tania.
"Aku hanya mengapresiasikan apa yang menjadi keinginan kamu sayang" jelas Arka.
"Semuanya?" telisik Tania.
"Heemmmm" gumam Arka.
"Makasih ya. We love you papa" bilang Tania menirukan suara anak kecil mewakili Arditya.
"Love you too" tandas Arka.
Tania yang saat itu menggendong Arditya diajak oleh Arka melihat kamar utama yang tembus dengan kamar bayi.
Bahkan di kamar utama, Arka telah menyiapkan semua baju ganti Tania dan untuk dirinya sendiri.
Tania hanya tinggal bawa badan saja untuk pindahan.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
๐