
Tania jadi ngantar Arka ke rumah sakit. Karena Arka tak mau menunda jadwal operasi yang sudah direncanakan sebelumnya.
Kali ini Tania lah yang pegang setir. Arka berada duduk menyandar di samping sang istri.
"Kamu kok masih lemas aja sih yank?" telisik Tania.
"Nggak tahu, hari-hari terakhir nih bawaannya malas mulu" terang Arka.
"Yank, kamu sudah datang bulan belum sih? Kok kapan aku minta kok kamu iyain aja" imbuh Arka
"Isssshhhh...kamu yang ingin aku yang disalahin" balas Tania.
"He...he...beneran nih aku nanyanya" sambung Arka.
"Kamu tahu sendiri semenjak aku selesai ngelahirin Arditya, nifas selesai sampai sekarang belum haid" terang Tania.
"Oh iya...ya...jangan-jangan nih perut keisi adiknya Arditya" tukas Arka terkekeh.
"Masa iya sih. Teorinya kalau belum haid belum subur. Gitu kan?" tanya Tania konsul dengan dokter Arka yang duduk di sampingnya.
"Nanyain gitu ke dokter orthopedi, ya nggak nyambung sayang" ulas Arka.
"Iya sih, mana bisa sambung. Yang kamu sambungin kan tulang yang patah-patah" imbuh Tania terbahak.
"Beneran yank, apa kamu berasa gimana gitu?" tandas Arka.
"Enggak, badan aku juga biasa saja" ungkap Tania.
"Ya mungkin aja kamu memang tak hamil. Aku aja yang overthingking" balas Arka.
"Tapi kalau aku beneran hamil, kamu senang nggak sih yank?" tanggap Tania.
"Seneng lah. Kamu lihat Sebastian, lebih muda dari aku. Tapi anaknya sudah di primary school. Sementara kita....Arditya masih bayi" kata Arka.
"Itu sih, karena Sebastian nyicil duluan" tandas Tania.
"Tapi cicilan Sebastian benar-benar sukses kok" imbuh Arka tertawa.
"Ha...ha...benar tuh" Tania pun ikutan tertawa.
"Kita kok malah nggibahin Sebastian sih?" tandas Arka.
"Eh, stop yank" pinta Arka tiba-tiba.
Tania menepikan laju mobil ke sebelah kiri jalan.
"Katanya buru-buru?" tanya Tania heran karena sang suami minta berhenti tiba-tiba.
"Tuh, ada yang jualan rujak cingur" bilang Arka menunjuk sebuah warung rujak.
"Hah? Kamu ingin rujak?" Tania bengong.
Tania heran aja dengan Arka yang tak suka dengan namanya rujak cingur tiba-tiba ingin itu.
"Yank, tolong pesenin dong. Yang pedas" pintanya.
"Heemmm...baiklah tuan muda" tukas Tania.
Arka hanya menanggapinya dengan senyum.
Hampir tiga puluh menit Tania mengantri.
"Nih" Tania menyodorkan seporsi rujak cingur pedas ke sang suami.
"Kamu nggak beli?" tanya Arka.
"Enggak, aku eneg lihatnya yank" tolak Tania. Dia yang biasanya suka, sekarang malah Arka yang menginginkannya.
Beberapa kali ponsel Arka berdering, kala mereka berdua masih di jalan.
"Iya Bar, lima menit" jawab Arka kala Bara menelpon dirinya menanyakan sampai mana.
"Oke, bius aja" suruh Arka kala Bara menanyakan boleh dibius apa nggak.
"Emang gitu boleh yank? Kamu kan masih di sini?" tanya Tania.
"Nih sudah di parkiran. Depan tuh bedah sentral. Nggak sampai dua menit sampai. Bara aja belum selesai cuci tangan, aku sudah ganti baju. Siap dech operasi dimulai" cerita Arka dengan enteng.
"Ih..gitu ya kalau dokter yang ngomong. Padahal pasiennya takut setengah mati kala masuk kamar operasi" ledek Tania.
"Kan sudah kita kasih konseling, informasi jelas dan edukasi. Paling enggak rasa takut pasien sudah diminimalir" imbuh Arka.
__ADS_1
"Ini mau ngobrol terus apa mau operasi?" Tania mengingatkan.
"He...he....tungguin diriku ya sayangku" kata Arka sembari tertawa.
"Au ah lebay. Aku mau ngopi aja di kantin" ucap Tania kala Arka keluar dari mobil.
Sampai di depan ruang instalasi bedah sentral, mereka masih aja beriringan. Tapi saat Arka masuk ke ruang operasi, Tania berjalan menuju kantin.
Semenjak penangkapan Anderson di kantin itu. Tania sering menghabiskan waktu menunggu Arka di sana. Sambil menikmati minuman dan cemilan.
Tania buka tab yang dia bawa.
Karena tak ada kesibukan, Tania menscrol akun sosmed miliknya.
Berita-berita hukum tentu saja banyak yang melintas di beranda dan tentu saja memanggil-manggil Tania untuk segera membacanya.
Tania cukup kaget juga, ada berita yang nangkring begitu saja di tab yang dipegang olehnya.
Seoarang pejabat tinggi negara dan beberapa staf diciduk oleh pihak berwenang karena kepemilikan obat terlarang.
Tak tanggung-tanggung, barang bukti yang dibawa mencapai kwintalan. (Ngehalu banget sah-sah saja kan? He...he...).
Itu adalah kesuksesan terbesar tahun ini dalam menumpas gembong narkoba kelas kakap, eh salah kelas paus. Batin Tania bermonolog.
Saat para terdakwa itu dibawa di depan awak media.
"Loh, bukankah ini yang menyabotase barang bukti Arkan waktu itu? Apa dia juga yang diceritakan Arkan waktu itu?" Pikir Tania.
"Bagaimana pihak berwenang bisa menangkapnya? Padahal dia licin bagai belut.
Tepat saat itu ponsel Tania berdering.
"Halo, apaan? Tadi pagi kan aku baru dari situ hoi" ucap Tania untuk menyapa.
"Lihat berita belum?" tanya Arkan.
"Pejabat itu?" tukas Tania memberi pertanyaan.
"Yeesssss...gimana kesan loe?" tanya Arkan.
"Hemmmm...biasa" jawab Tania.
"Issshhhhh. Sialan loe. Padahal gue susah-susah bayarin petugas buat nelponin loe" kata Arkan.
"Aku sudah tahu, ini pasti ulah kamu. Seperti yang kamu bilang sebelum-belumnya kan?" lanjut Tania.
"Apa ini nggak berdampak sangat besar? Omset berapa triliun yang kamu porak porandakan Arkan? Lantas keamanan kamu sendiri bagaimana?" kata Tania. Tentu saja Tania khawatir terhadap keamanan Arkan.
Pejabat itu pasti punya orang-orang yang pasti berpengaruh, baik di pemerintahan maupun politik. Yang bisa saja dengan kekuasaannya bisa menekan lawan-lawan dengan menggunakan jari kelingkingnya saja.
"Jangan ikut mikirkan itu. Aku sudah hubungin lawan politiknya. Yang tentu tak akan tinggal diam jika saja pejabat itu bebas begitu saja. Dia pasti akan kawal proses penahanan, sidang sampai putusan pejabat itu" terang Arkan.
"Heemmmmm. Semua sudah bagai bola liar, yang tentu saja akan susah dihentikan" tukas Tania.
"Yaaa begitulah" tandas Arkan.
"Aku janji, setelah loe sidang putusan aku akan jadi pengacara di korporasi saja. Sesuai janjiku dulu" terang Tania.
"Lalu, kenapa janjimu loe langgar?" sela Arkan.
"Semua karena kamu yang maksa kan, maksa aku untuk jadi kuasa hukum kamu" imbuh Tania.
"He...he..." terdengar tawa Arkan di ujung telpon.
"Bye Arkan" kata Tania.
"Bentar...bentar dong" cegah Arkan.
"Apalagi?"
"Makasih atas semua bantuan kamu. Itu saja. Bye Tania" Arkan malah yang mengakhiri panggilannya terlebih dahulu.
Setelah duduk lumayan lama, Tania baru teringat jika belum pesan apapun.
"Kak" panggil Tania ke arah pelayan di kantin.
Mereka membiarkan saja Tania tidak pesan menu makanan, karena sudah hafal dengan kebiasaan istri dokter Arka itu.
Bahkan sang pemilik kantin juga tahu kalau Tania lah yang ikut membantu penjahat di kantinnya saat itu.
Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel Tania.
__ADS_1
"Siapa lagi ini?" tanya Tania dalam hati.
Tapi siapapun itu, panggilan itu pasti Tania angkat. Bisa jadi itu calon klien baru yang perlu pendampingan hukum darinya.
"Tania, ini aku Bara. Cepetan kamu datang ke ruang bedah sentral" kata Bara kala panggilan itu tersambung.
"Ada apa kak?" tanya Tania lumayan kaget. Kenapa Bara bisa tahu nomor ponsel miliknya.
"Jangan banyak nanya, cepetan kamu ke sini" suruh Bara dengan nada tergesa.
Tania segera saja beranjak seperti yang dibilang oleh Bara.
"Kak, minumanku nggak jadi. Bayarannya besok sekalian dirapel ya" kata Tania terburu melangkah menjauh dari kantin.
Sampai di depan ruang bedah sentral, tentu saja Tania kesulitan masuk karena harus ada akses khusus masuk ke ruang itu.
Tania kembali menelpon Bara.
"Kak, aku sudah di depan nih" beritahu Tania.
"Bentar, akan ada perawat yang jemput kamu di depan" terang Bara.
"Ada apaan sih? Jangan buat kalut dong kak" sergah Tania.
"Nyonya Tania" panggil perawat dari arah pintu masuk.
Tania mengikuti saja apa kata perawat itu.
"Silahkan ganti baju dulu. Di dalam situ ada baju dokter Arka yang bisa anda pakai" kata perawat itu memberitahu. Tak mungkin memakai baju yang pernah dipakai oleh dokter lain.
"Ada apa dengan suamiku. Apa dia pingsan lagi" batin Tania saat dirinya sedang ganti baju.
"Kemana saya harus masuk sus?" tanya Tania saat sudah keluar ruang ganti.
"Mari ikut saya" ajaknya.
Di dalam didapatinya sang suami tengah terpejam, tiduran di tempat tidur yang disediakan di ruang istirahat dokter itu.
Tania menghampiri.
"Yank, bukannya operasi kok malah baring di sini?" tanya Tania dengan memegang bahu sang suami.
"Pusing banget yank" keluh Arka.
"Loh?" Tania hanya bisa membego di tempat.
"Untung operasiku sudah selesai tadi, pasien juga sudah dipindahin ke ruang recovery" ujar Arka menambahi.
"Sekarang masih pusing? Apa nggak rawat aja yank" usul Tania.
Arka hanya menggeleng.
"Kok nggak mau sih?"
"Pakai istitahat saja bentar, ntar juga ilang sendiri" tolak Arka atas usulan Tania.
Bara menghampiri.
"Gimana, mendingan belum?" tanya Bara dan dijawab anggukan Arka.
"Kak, rawat inap aja gimana? Sudah dua kali loh dia hari ini begini" terang Tania.
"Iya kah?" tukas Bara.
Tania memaksa sang suami untuk rawat inap saja. Kalau di rumah, pasti dia akan bingung sendiri. Daripada suaminya kenapa-napa.
Tania menghubungi nenek dan mama jika tak akan pulang karena Arka musti rawat inap sekarang.
Arka pun akhirnya menurut apa kata Tania.
Dia sendiri juga bingung dengan keadaan dirinya meski dia juga seorang dokter.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π