
Saat sedang serius-seriusnya, iklan malah menjeda semuanya. Membuat semua yang sedang fokus, menggerutu berjamaah.
"Berita apaan ya kira-kira?" sela Angel untuk mengajak semuanya menebak.
Tania beranjak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Arka dengan sigap.
"Mau ke toilet" jawab Tania.
"Aku anterin" ujar Arka membuat yang lain heran dan fokus menatap bos-bos mereka itu.
"Biasa aja, tiap hari sudah begini. Apalagi dua minggu ini, aku bagai ratu dalam sangkar emas" kata Tania bergurau.
"Issshhhh...jadi nggak nih?" kata Arka sewot.
"Jadi lah paduka" ujar Tania menimpali.
"Ha...ha..." semua yang ada menertawakan kelakuan absurd Tania.
Dan benar saja, Arka mendorong kursi roda yang telah dinaiki Tania.
Dan mengantar ke toilet yang berada di ruangan Tania.
"Yank...yank..." panggil Tania.
"Ada apa?" Arka membuka pintu toilet dan menerobos masuk.
"Kok cairan ketubannya keluar lagi ya?" tanya Tania heran.
"Banyakkah?" tukas Arka komplit dengan rasa cemasnya.
"Lumayan sih yank, tapi nggak banyak amat" terang Tania.
"Abis ini kita pulang. Bed rest lagi. Ntar sore balik Om Abraham" jelas Arka.
"Periksa lagi????" tandas Tania.
"Harusnya tuh air ketuban nggak boleh pecah sebelum waktunya yank. Ini kehamilan kamu masih di akhir tiga puluhan minggu. Masih riskan banget" kata Arka panjang lebar.
"Iya pak dokter" sambung Tania menimpali.
"Habis ini langsung balik dan nggak ada alasan menolak" tegas Arka.
"Iya...iya...nggak percaya amat sih sama istri sendiri" kata Tania sewot.
Dan saat yang lain masih asyik dengan berita tivi, Tania diajak pulang langsung oleh Arka.
Maura dan Angel pun tak menyadari, karena asyik dengan layar warna warni itu.
Ponsel Arka kembali berdering. Nomor yang sama saat menelponnya tadi.
"Nih, bukannya nomor yang dipakai Arkan tadi ya?" tanya Arka saat melihat kelap kelip nomor anonim itu.
"Melihat kode negara nya sih iya" tukas Tania.
"Kamu yang angkat aja sayang" suruh Arka yang sekarang sedang sibuk melipat kursi roda yang dipakai oleh Tania.
"Halo" sapa Tania.
"Gue Arkan" suara Arkan lirih.
"Eh...loe lagi...loe lagi..." tandas Tania.
"Tebak, gue di negara mana?" tanya Arkan dengan sengaja menggoda Tania.
"Bukannya loe di negara yang jika penjahat kabur ke sana, akan sulit bagi penegak hukum untuk mengeksekusi ya?" ujar Tania menimpali.
"Ha...ha...kamu memang sangatlah cerdas wahai pengacaraku" kata Arkan terbahak.
"Lantas siapa yang kamu tembak tadi?" tanya Tania karena saat Arkan menelpon sebelumnya terdengar letusan senjata api.
"Nggak ada" tukas Arkan.
"Jangan bohong kamu" tandas Tania.
"Aku mah selalu jujur bos...ha...ha...." jawab Arkan.
"Kulaporin kapok kamu" olok Tania.
"Laporin aja, dengan bekal rekaman ponsel Arka ini" jawab Arkan tanpa rasa takut.
"Tania, jika saat nya tiba aku akan menyerahkan diri tanpa kamu suruh. Setelah semua urusan aku selesai, pasti aku akan melakukannya" janji Arkan.
"Sekarang belum saatnya?" Arkan dikejar tanya oleh Tania.
"Belum, masih satu orang yang hanya bisa kuatasi dari negara sini. Aku harus minta bantuan para pejabat di sini" terang Arkan.
"Untuk apa?" tanya Tania penasaran.
"Embargo beberapa komoditi negara kita" jelas Arkan.
Tania nampak berpikir.
__ADS_1
"Wah, kamu mau merusak ekonomi negara kita? Sialan kamu" umpat Tania.
"Target aku, pemimpin itu akan turun karena demonstrasi besar-besaran mahasiswa. Kenaikan harga barang yang tak terkendali sebagai penyebabnya" kata Arkan menjelaskan niat nya.
"Wah gila kamu. Bagaimana nasib pelaku usaha wooiiiii" teriak Tania.
"Pengusaha yang berada di luar komoditi yang aku maksud pasti akan aman. Termasuk suami kamu kan?" imbuh Arkan.
"Tapi kasihan para pelaku usaha yang lain bro" kata Tania.
"Yang tenang lah. Aku akan bermain cantik kali ini" sambung Arkan.
"Kamu benar-benar penjahat kelas paus Arkan" olok Tania.
"Untuk apa kamu gulingkan semuanya?" tanya Tania penasaran.
"Karena itu sumber dari segala sumber biang keroknya" Arkan menambahi alasannya.
"Sudah belum, lama amat nelponnya? Bisa disangka kamu kerjasama dengan Arkan loh" sela Arka.
"He...he...keasyikan" ucap Tania tanpa rasa bersalah.
Arkan pun menutup panggilan tak lama berselang.
"Kita pulang apa langsung ke kliniknya om Abraham ya? Nanggung banget jam nya kalau kita pulang" ujar Arka galau.
"Benar juga ya" kata Tania sambil menengok ke arah jam yang melingkar.
"Kalau pulang, belum kena rewelnya Arditya loh yank" seru Arka.
"Benar juga sih. Kita itu apa terlalu banyak dosa pada putra kita ya yank?" tanya Tania merasa bersalah.
"Sudah jangan terlalu dipikirin, kita langsung ke Om Abraham aja. Aku tuh kuatir banget dengan ketuban kamu yang terus keluar itu" terang Arka.
"Ya udah, aku ikut apa kata kamu aja yank" tukas Tania.
Arka pun putar balik arah mobilnya. Yang harusnya ke mansion dulu, ini langsung meluncur ke tempat praktek dokter Abraham.
Sampai klinik, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa petugas jaga.
"Ada yang bisa dibantu tuan?" tanya salah satu petugas penerima.
Arka pun menceritakan keadaan sang istri.
"Begini saja tuan, selama menunggu prof. Abraham datang silahkan istirahat aja dulu di kamar sebelah sana" kata petugas itu dengan ramah.
Arka yang tak tahu, akhirnya di antar oleh petugas itu.
Klinik yang tak begitu besar, tapi sangat lengkap fasilitas nya. Dan itu milik pribadi prof. Abraham.
"Lihat kondisi janin dan yang lainnya dong yank. Dan aku nggak bisa memastikan. Bergantung pada hasil pemeriksaan nanti" kata Arka menjelaskan.
"Yank, kalau bicara kemungkinan terburuknya?" mulai ada rasa khawatir di hati Tania.
"Dilahirkan. Dan anak kita akan lahir prematur. Kecil pastinya, dan akan butuh perawatan lebih ekstra daripada Arditya dulu" Arka menjelaskan dengan sabar.
Melihat Tania yang cemas, "Positif thinking aja" saran Arka.
Karena datang lebih awal, Tania mendapat urutan pertama untuk masuk ke ruang periksa.
Entah kenapa, meski sudah sepuh tapi prof. Abraham adalah dokter spesialis obgyn konsulen feto maternal paling ngehits di kota itu.
Nyatanya, belum sampai satu jam pendaftaran dibuka. Sudah ada lima puluhan pasien mengantri.
"Sore Om" sapa Tania dan Arka bersamaan.
"Sore...sore...silahkan duduk. Dan kamu Tania langsung baring aja" seru dokter Abraham.
Tania melakukan apa yang diminta dokter senior itu.
"Keluhannya ketuban merembes kah?" tanya dokter Abraham memastikan.
"Iya Om, dua minggu yang lalu sudah pernah rawat dengan keluhan yang sama. Siang ini tadi kok keluar lagi" jelas Arka.
"Oke kita periksa" ujar sang dokter.
"Apa nggak bahaya Om?" tanya Tania dengan rasa cemas membuncah.
"Bentar. Kita evaluasi sebentar ya" tukas dokter Abraham dengan sabar.
Melihat ekspresi om Abraham, tentu saja Tania hanya bisa menerka-nerka atas apa yang terjadi. Dalam hati Tania berdoa, agar semua baik-baik saja.
"Arka, Tania" panggil om Abaraham dengan mimik muka serius dan dengan kekhasannya, kacamata yang melorot ke pangkal hidung bawah.
"Iya Om" jawab mereka kompak.
"Air ketuban Tania sepertinya telah berkurang banyak" kata om Abraham mengawali pembicaraan.
Arka dan Tania saling pandang.
"Kering om?" sela Arka.
"Begitulah" ujarnya meneruskan.
__ADS_1
"Terus kondisi janinnya?" tanya Tania penasaran.
"Heemmmm yang pasti harus segera dilahirkan. Aku takut ketubannya akan semakin habis dan akan semakin berimbas buruk pada bayi kalian" imbuh dokter Abraham.
Air mata Tania lolos begitu saja. Rasa bersalah membuncah dalam dada.
"Berat janinnya bagaimana Om?" Arka masih berusaha tenang agar pikirannya jernih.
"Ya tentu saja akan sangat kurang Arka. Tapi melihat tafsiran ini sesuai kok dengan umur kehamilan Tania" terang dokter Abraham sejelas-jelasnya.
"Dicoba spontan dulu atau bagaimana?" tanya Arka berikutnya.
"Kamu lebih tahu apa yang harus dilakukan Arka. Jangan main spekulasi" lanjut om Abraham.
"Lebih baik ke rumah sakit dengan fasilitas ruang bayi yang mumpuni, dan dokter anak yang selalu stanby jika ada operasi" saran dokter Abraham.
"Di rumah sakit Suryo Husada bagaimana Om?" tanya Arka meminta saran dokter Abraham.
Dokter Abraham pun mengangguk tanda setuju.
"Langsung kamu bawa saja ke sana. Jangan tunda lagi" saran dokter Abraham.
"Iya Om" kata Arka menegaskan.
Tania lebih banyak diam, tidak banyak komentar.
"Memang sudah saatnya kamu memikirkan hidup kamu sendiri yank, dan tak memikirkan hidup orang lain terus" kata Arka saat sudah berada dalam mobil. Tania yang selalu sibuk dengan sidang dan sidang, belum lagi rapat sana sini dengan bermacam perusahaan. Tidak hanya lelah fisik, tapi lelah pikir. Manusia pun pasti ada ambang maksimal kemampuan tubuhnya. Dan itu tak boleh dipaksakan.
"Apa ini peringatan buatku ya yank, agar tak selalu sibuk kerja, kerja dan kerja?" ujar Tania.
"Jangan nyalahin diri sendiri. Mungkin ini juga peringatan buat aku juga, untuk selalu rajin mengingatkanmu yank" imbuh Arka.
"Bayi ini apa akan baik-baik saja ya yank" tanya Tania cemas.
"Berdoa saja, pasrahkan sama yang diatas. Pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik buat umatnya" kata Arka menguatkan.
Sampai di lobi IGD, Arka kembali bertemu dengan petugas yang sama kala Tania rawat inap sebelumnya.
"Sore dokter" sapanya.
"Iya Mas, tolong kereta pasien itu" pinta Arka.
"Buat nyonya lagi?" tanyanya.
"Iya mas" petugas itu pun dengan sigap membawa kereta dorong pasien mendekat ke arah mobil mewah Arka yang terparkir di area drop zone.
Arka pun mengangkat tubuh Tania untuk dipindah ke kereta dorong yang telah disiapkan.
Arka mendorong brankar dengan Tania di atasnya dibantu oleh petugas tadi.
"IGD Kebidanan Mas" kata Arka, dan masih berusaha tenang.
Bayi dengan berat seribu lima ratusan, masih terngiang dengan jelas kata-kata dokter Abraham di klinik tadi.
Arka menghembuskan nafasnya kasar, seakan ingin membuang beban yang tengah disandangnya, kala Tania sudah dibawa masuk untuk diperiksa.
Arka tak ingin memeperlihatkan rasa cemasnya di depan sang istri.
"Dokter Arka" panggil bidan jaga yang sepertinya telah selesai memeriksa Tania.
"Dok, ini yang jaga dokter Anita. Saya konsulkan terlebih dahulu ya? Nanti kalau sudah dapat advis saya sampaikan ke dokter" katanya.
"Iya mba, tolong lekas saja" tukas Arka.
"Mba, boleh saya masuk?" tanya Arka kepada bidan jaga.
"Silahkan dok" tukas bidan itu mempersilahkan.
Arka masuk. Dan didapatinya Tania yang tengah bengong.
"Kok melamun?" tanya Arka menghampiri.
"Yank, mungkin nggak sih ketuban keluar tapi belum ada pembukaan?" tanya Tania.
"Bisa aja. Kamu tuh sebagai contoh kasusnya" ucap Arka menjawab.
"Dok, sudah saya konsulkan dokter Anita. Melihat pemeriksaan yang anda bawa dari prof. Abraham, dokter Anita menyarankan untuk operasi caesar aja" jelas bidan itu.
"Oke mba. Bentar ya, aku mau konsul sama beliau langsung boleh?" tandas Arka.
"Tentu dokter" ujar bidan itu.
Sebagai sesama sejawat dokter, dan menginduk di rumah sakit yang sama maka Arka langsung mendial nomor dokter spesialis kebidanan itu.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π