
Sekali...dua kali...tiga kali...belum juga tersambung dengan Tania.
Seseorang masuk dengan baju dokter, Sorry Mister Arka, I'm doctor Nicko" beritahunya. Dan Arka mengangguk.
"I happen to be Anesthesiologist" bilang dokter Nicko.
Arka menjabat erat tangan dokter Nicko.
"Semoga semua lancar besok" tanggap Arka.
"Oke, doctor Jack already told everything about you" sambung dokter Nicko.
"And than tomorrow, I will help doctor Jack to your operation" katanya.
Dan Arka kembali mengangguk.
Selanjutnya dokter Nicko memeriksa semua keadaan Arka.
"Oke, I think you are ready for surgery tomorrow" ucap dokter Nicko setelah memeriksa keadaan Arka.
"Thanks" balas Arka.
Sepeninggal dokter Nicko, Arka kembali meraih ponsel.
Dia banting ponsel di atas ranjang. Tania yang setiap lima menit biasanya mengirimi pesan ke Arka, kali ini zonk tidak ada pesan apapun dari Tania.
Arka menggerutu sendiri di atas ranjang. Begitulah Arka rasanya dikacangin...he...he...
.
Sementara Tania sedang ngobrol ringan dengan nenek Gemmy dan juga mama Rosa setelah drama air putih tadi.
"Sayang, Arka sudah kau hubungin kan?" tanya nenek Gemmy.
"Sudah nek, kukirimin gambar hasil periksa tadi" jawab Tania dengan mulut masih mengunyah camilan.
"Terus?" lanjut nenek.
"Terus apa nya nek? Pasti lah dia tak akan membalasnya" ucap Tania yakin.
Makanya Tania tak membawa ponselnya kali ini. Lagi males aja, terus-terusan ngirimin pesan tapi cuman di read doang. Gemes nggak sih...????
"Nek, sore-sore gini kayaknya wedang ronde enak dech" celetuk Tania tiba-tiba kepikiran minuman jahe hangat yang banyak ada di Yogya itu.
"Nenek buatin aja dech" tukas nenek.
"Nggak usah nek, beli aja" tolak Tania nggak mau ngrepotin sang nenek.
"Nggak hygienis Tania" balas nenek.
"Bersih kok nek tempat yang jual. Beneran dech" imbuh Tania.
"Di mana belinya?" tanya nenek yang mana tahu warung yang jual begituan.
"Dekat stasiun kereta...he...he..." Tania tersenyum simpul. Karena warung itu ada di pinggiran kota. Perlu satu jam bolak balik untuk menempuhnya.
"Sampai rumah keburu dingin dong" sela mama Rosa.
"Mama buatin aja dech" kata mama Rosa.
"Nggak mau Mah. Aku mau yang dekat stasiun" rengek Tania.
__ADS_1
"Jangan mulai dech" tukas mama Rosa.
"Yang mau calon cucunya mama loh, bukan keinginan aku sendiri. Ntar kalau cucu mama ileran aku nggak tanggung jawab" balas Tania dengan bibir manyun.
"Idih...ngeles aja kamu" ternyata repot juga menghadapi orang ngidam. Batin mama Rosa.
"He...he...ya Mah. Kan tinggal minta tolong ke pak sopir di depan. Ya kan nek?" Tania masih meluncurkan rayuan mautnya.
"Iya...iya...aku suruh" tukas nenek berlalu ke depan.
"Arka, kapan kau sembuh. Istrimu ini sungguh merepotkan" gumam Mama Rosa.
"Bukan aku Mah yang merepotkan. Tapi calon cucu mama. Note!!!" elak Tania sambil terbahak.
Nenek kembali dengan membawa beberapa buku tebal.
"Nih, bacalah!!!" suruh nenek.
Tania membelalakkan mata, "Apaan nih nek?" tanyanya.
"Buku-buku kehamilan" tukas nenek.
Tania menepuk jidat, "Ini baru empat minggu nek umur kehamilannya".
"Nggak apa-apa, lebih baik sedini mungkin prepare nya" jelas nenek.
"Buku-buku tebal waktu kuliah aja kau lalap abis. Tuh buku kan tebalnya nggak ada separonya" kata mama menguatkan perintah nenek Gemmy.
"Issshhhh kalian kenapa kompak sekali sih ngerjain aku?" gerutu Tania.
"Aku baca di kamar aja" seloroh Tania dengan beranjak dari duduk.
"Nggak boleh. Baca di sini aja" kompak keduanya melarang Tania.
"Mah, aku ambil kacamata dulu" pamit Tania beralibi.
"Dimana naruhnya? Aku ambilin" jawab mama.
"Issshhhhh...susah amat sih nyari alesan" lagi-lagi Tania menggerutu.
Tania membaca buku pertama yang isinya seputar kehamilan muda. Tak berlangsung lama, Tania sudah menguap aja.
Nenek Gemmy dan mama Rosa sedang duet di dapur sekarang. Hendak masak makan malam.
Kalau urusan dapur, sungguh nenek dan mama adalah pasangan terkompak versi Tania.
Mama Rosa yang diminta nenek Gemmy untuk tinggal di mansion selama Arka tidak ada, menjadikan mereka berdua pasangan solid.
Kesempatan yang ada dimanfaatkan dengan baik oleh Tania. Sambil menunggu wedang ronde datang, dia selonjorkan kakinya di kursi panjang dan kepalanya disandarkan di pinggir.
"Heemmmm, nyamannya. Akhirnya aku bisa meluruskan pinggang" gumam Tania dan mulai memejamkan mata.
Tak perlu menunggu lama, dengkuran halus sudah terdengar melalui nafasnya dengan buku tertelungkup di dada.
Arka yang masih kesal karena belum mandapat pesan setelah bolak balik mengecek ponsel, akhirnya tertidur. Seperti halnya Tania yang ada di mansion.
Tania terbangun, saat ada yang menggoyangkan bahunya.
"He...he....mama" ucapnya tersenyum setelah membuka mata ada mama di depannya.
"Katanya baca buku, kok malah tidur sih?" celetuk mama, sambil menyodorkan ronde yang ada di tangan.
__ADS_1
"Abis buku ini berasa obat tidur sih. Begitu pegang kantuk pun menyerang" tutur Tania membalas ucapan mama.
"Alesan aja kamu nih" balas mama.
Tania menaruh mangkuk di meja dan mulai menyeruputnya..."Heemmm enaknyoooo" gumam Tania.
"Minumannya khas Yogya, tapi komennya ala Padang...gimana sich?" ucap mama untuk mengolok Tania.
"Ha...ha...terserah aku dong Mah" Tania tertawa lepas mendengar mama Rosa.
Minuman hangat itu tak perlu menunggu lama untuk dihabiskan Tania.
"Mama sama nenek buat menu apa?" tanya Tania.
"Ada dech. Yang pasti menyehatkan buat ibu hamil dan nggak bikin mual" tukas mama percaya diri.
"Aku ke kamar dulu Mah. Mau ambil ponsel" pamit Tania setelah menandaskan wedang ronde semangkok.
"Heemmmmm" mama Rosa menyetujuinya.
Tania kembali rebahan, diraihnya ponsel yang dia taruh di atas nakas.
"Aduh...kok pake acara low bat sih" gerutu Tania.
Tania menyalakan ponsel dengan colokan tertancap, "Banyak pesan masuk ternyata" gumam Tania.
Tania menghela nafas panjang, "Tak ada satupun darinya. Hiks"
Saat akan menaruh kembali, dilihatnya ada beberapa panggilan tak terjawab.
"Hah? Arka nelpon? Beberapa jam yang lalu?" Tania mengacak rambutnya kasar. Karena melewatkan kesempatan itu. Bahkan Arka nelpon sesaat setelah dirinya mengirimi Arka pesan yang berisi hasil pemeriksaan.
Tania mencoba menghubungi balik, tapi hanya rasa kecewa yang didapat. Ponsel Arka tak aktif.
"Bodoh banget kau Tania, kenapa ponsel kamu tadi tak kau kantongin aja sih" Tania merutuki dirinya sendiri.
"Tania, ayo makan!" panggil nenek dari luar kamar.
Tania malah menangis, bahkan suara tangisnya kedengaran dari luar.
"Sayang, apa kau menangis?" ucap nenek.
"Boleh aku masuk?" lanjut nenek.
Karena tak mendengar jawaban, nenek pun menerobos masuk karena kuatir dengan Tania.
Dipeluknya Tania yang tergugu. "Kenapa sayang?" tanya nenek.
"Arka tak bisa ditelpon nek. Tadi waktu kutinggal di luar, dia nelpon. Giliran ditelpon balik malah nggak bisa" tangis Tania masih kedengar.
Nenek Gemmy menghela nafas panjang. Drama bumil dimulai lagi.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝