Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kedatangan Smith


__ADS_3

Dahi Pandu mengkerut saat mendengar jawaban si penelepon.


"Ada apa?" tanya Arka.


"Smith mencarimu tuan" beritahu Pandu.


"Berani juga dia datang ke kandang singa" komen Arka.


"Gimana tuan, diterima apa nggak? Karena selepas makan siang, ada jadwal dengan bagian keuangan" jelas Pandu.


Sementara Arka melihat jam yang melingkar di tangan.


"Masih ada waktu" lanjut Arka.


"Siapkan di ruang mana tuan? Nggak mungkin juga di ruang rapat. Karena sebentar lagi mau dipakai" beritahu Pandu.


"Aku temuin di lobi aja" kata Arka.


"Enggak papa tuan? Di sana banyak lalu lalang dan suasana nya pasti ramai karena bersamaan karyawan makan siang" ulas Pandu.


"Lebih baik di sana. Buat dia tak nyaman duluan" kata Arka menimpali.


"Oke" jawab Pandu.


Pandu pun memberitahukan kalau Arka akan ke turun ke lobi untuk menemui Smith.


Pandu mengikuti langkah sang bos.


Hanya ada suara sol sepatu di antara mereka berdua. Sibuk dengan pemikiran masing-masing.


'Beraninya dia datang ke sini, setelah kubuat porak poranda satu perusahaannya' pikir Arka bermonolog.


Arka dan Pandu menghampiri Smith yang duduk membelakanginya.


"Selamat siang tuan Smith" sapa Arka.


"Awh tuan Arka, makasih sekiranya sudah mau menemuiku" ujar Smith dan hendak menyalami Arka.


Tanpa menyambut uluran tangan dari Smith, Arka langsung saja duduk.


Mau tak mau akhirnya Smith menarik kembali uluran tangan yang tak bersambut.


"Maaf menganggu waktunya tuan Arka, saya ke sini karena ada hal yang ingin saya tawarkan. Saya ingin menawari anda kerjasama di bidang perbankan" jelas Smith.


"Apa yang sedang didemo para nasabahnya itu? Yang saat ini tengah jadi trending topic?" Arka menanggapi.


"Benar tuan" balas Smith menjawab.


"Kamu berani menawarkan?" tanya Arka. Arka berpikir bisa jadi ini hanya alibi mereka untuk menyerang Panapion atau grub Rahardjo.


"Apa yang kamu andalkan? Padahal nyata-nyata perusahaan itu hampir pailit. Tinggal nunggu pejabat berwenang saja yang menyatakan itu" imbuh Arka.


Dia ini pura-pura bodoh, apa memang beneran bodoh sih? Batin Arka. Ternyata Pandu pun juga berpikiran sama seperti sang bos.


Smith terkekeh, "Karena saya tak tahu lagi harus kemana mencari pemodal yang mau kerjasama. Saya bangkrut tuan...bangkrut.." imbuhnya. Dan sedetik kemudian raut mukanya berubah sedih dan berikutnya tertawa.


Wah, stres nih orang. Pikir Arka.


Arka dan Pandu saling tatap.


"Panggil security" suruh Arka ke Pandu.


Hanya dengan menjentikkan jari, dua orang security menghampiri.


"Usir orang ini keluar" perintah Pandu.


"Tuan...tuan...tuan Arka, ayolah kita kerjasama...ha...ha...." Smith yang diseret itu masih saja terbahak.


"Orang sudah gila, tapi masih saja nyari aku" gerutu Arka.


"Jangan-jangan dia hanya pura-pura tuan?" celetuk Pandu menanggapi.


"Ya biarin aja. Mau pura-pura atau gila beneran, emang aku yang musti mikirin? Tak sudi gue" Arka beranjak.


Waktu makan siangnya tersita karena menemui Smith barusan.

__ADS_1


"Kita makan di kantin aja, lapar aku" ajak Arka. Membelokkan arah jalan ke kantin perusahaan yang ada di bagian belakang lantai dasar.


"Beneran tuan?" tukas Pandu tak percaya, tapi tetap saja mengikuti langkah kaki sang bos.


Di kantin, banyak arah mata memandang aneh ke mereka. Dua laki-laki tampan mendatangi kantin, adalah hal yang sangat langka.


"Ngapain mata mereka memandang ke arah kita?" bisik Arka pelan.


"Ya tentu saja mereka merasa aneh tuan mau makan di sini" bilang Pandu.


"Ooooo...gitu ya? Padahal CEO juga manusia, butuh makan juga" kata Arka. Dan meminta Pandu pesan makanan.


Sudah beberapa bulan di Panapion, kenapa baru ini aku ke sini ya? Batin Arka.


"Heemmm, lumayan juga masakannya" terang Arka.


"Ya tentu saja tuan, dibanding masakan nyonya muda" tukas Pandu.


Arka mendongak dan menatap tajam Pandu.


"Awas kalau berani banding-bandingkan istriku. Bonus kamu bulan ini akan kutarik semua, dan besok nggak bakalan aku ijinin cuti" ancam Arka.


"Dasar bucin akut" gerutu Pandu dalam gumaman.


"Apa kamu bilang?" telisik Arka.


"Nggak tuan, nyonya muda is the best" kata Pandu mengangkat kedua ibu jari tangan.


"Dasar penjil4t" olok Arka.


"Biarin, daripada bonus minus" ungkap Pandu menimpali.


Arka kembali melanjutkan makan. Setelah selesai, "Bayarin" suruh Arka.


"Ish, bos macam apaan? Makan ginian aja aku yang bayarin" omel Pandu.


"Nggak ada tunai aku" ujar Arka.


"Alesan aja bos ini sedari tadi" meski ngedumel, tetap saja Pandu beranjak dan menuju kasir.


"Halo sayang" sapanya. Bahkan Arka tak perduli karyawan pada melihat ke arahnya.


"Oooohh..sudah dapat? Lapis legitnya?" tanya Arka.


"Oh ya sayang, sepulang kerja aku mampir dulu tengokin Arga barengan Pandu. Besok si Pandu cuti, jadi mendingan hari ini aku ke Arga. Malam ini kita nginap aja di mansion nenek" bilang Arka.


"Kok serba kebetulan, besok Angel juga cuti. Bilangnya sih suruh pulang orang tuanya" kata Tania di seberang.


"Apa? Besok Angel juga cuti???" Arka sengaja mengeraskan suaranya saat Pandu datang.


Pandu terbengong. Bisa-bisa ketahuan sebelum waktunya nih. Pikir Pandu.


"Oke sayang. Aku rapat dulu" pamit Arka menutup panggilan Tania.


"Pandu, kok bisa kebetulan cuti kamu barengan Angel?" Arka bertanya sambil jalan balik ke ruangannya.


"Ya nggak tahu tuan. Emang nggak boleh?" kata Pandu.


"Kalian nggak sedang ngacangin kita berdua kan?" telisik Arka sambil menatap Pandu, adakah kebenaran yang dia ucapkan.


"Terserah tuan aja dech" jawab Pandu tidak mengiyakan juga tidak menolak.


Sesuai jadwal yang disampaikan Pandu, kali ini mereka berdua di ruang rapat.


Bersama dengan divisi keuangan, merencanakan program tahun depan. Yang laporannya bahkan sudah berada di meja Arka beberapa hari yang lalu.


Divisi yang lain akan diadakan menyusul.


.


Keesokan hari, karena Pandu sedang cuti. Saat makan siang Arka sengaja mendatangi kantor sang istri untuk mengajaknya makan siang bersama.


"Selamat siang tuan Arka" sapa Maura dari tempat duduknya.


"Tania ada kan?" tanya Arka basa basi.

__ADS_1


"Ada tuan. Ada di dalam" terangnya.


"Baiklah, makasih" kata Arka menanggapi.


Dan selanjutnya masuk ruangan Tania.


"Mau makan di mana?" tanya Tania.


"Resto langganan aja. Kangen juga dengan menu-menu di sana" jawab Arka.


"Baiklah" Tania menyetujui.


"Maura, kita pergi dulu ya. Nggak apa-apa kan sama Mang Mamat aja" pamit Tania saat keluar dari ruangannya.


"Iya. Tapi nanti Benzema ke sini nggak apa-apa kan?" tukasnya.


"Silahkan aja" jawab Tania tanpa beban. Rasa sakit yang pernah dirasakan olehnya, seakan telah hilang tak berbekas.


Bagi Tania sekarang, masa lalu biarlah berlalu. Tak perlu buang-buang energi untuk menyesalinya. Tania bisa bilang begitu karena ada Arka yang setia mendampinginya.


.


Saat masuk ke resto, tatapan Tania tak sengaja melihat seseorang yang hanya dengan melihat punggungnya saja Tania sudah tahu siapa itu.


"Kita ke sana bentar" ajak Tania dengan tangan tetap menggandeng Arka.


"Kemana?" Arka tetap mengikuti langkah Tania.


Pandu di sana juga ternyata. Batin Tania.


"Hayooooo...." Tania menepuk pundak Angel dari belakang.


"Ketahuan" imbuh Arka terbahak.


Pandu hanya bisa menepuk jidatnya. Gagal kencan gue. Gerutunya membatin.


Arka dan Tania gabung dengan mereka. Membiarkan saja Pandu dan Angel menggerutu.


"Salah siapa pake bohong segala. Emang takut kita nggak ngijinin?" tanya Tania.


"Bukan takut nggak ngijinin. Tapi takut kebully" tandas Pandu.


"Ha...ha..." Arka terbahak menanggapi.


"Tuh kan, tuan Arka sudah meledekku" ucap Pandu sewot.


Tapi tetap saja, saat mereka selesai makan.


"Selamat ya, kalian sudah jadian. Tinggal selangkah lagi menuju pelaminan" kata Tania.


"Tapi tetap saja mereka butuh restu kita yank" sela Arka.


Hawa-hawa nggak enak di ujung nih. Batin Pandu.


"Kok restu kita? Nikah kan cukup restu dari orang tua" kata Tania.


"Iya lah. Kalau mereka nggak minta restu ke kita, tunggu aja pasti tak akan kuberikan cuti" tanggap Arka.


"Dasar bos nggak ada akhlak" gerutu Pandu.


"Eh, kita duluan ya. Sori dech kita gangguin acara kencannya" bilang Tania seraya beranjak dari duduk.


"Makasih Pandu. Sering-seringlah bos kamu ini kamu traktirin" Arka masih saja kembali tertawa.


Acara kencan yang tak sesuai ekspektasi bagi Pandu dan Angel.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2