Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Versi Arga


__ADS_3

Sesampai di Panapion dan telah berada di ruangannya, Arka mengirimi pesan kepada Arga. Memberitahukan bahwa siang ini Tania akan ke tempatnya.


"Mau apa lagi?" tukas Arga lewat panggilan telpon yang dilakukan Arka.


"Main potong aja. Aku jelasin dulu makanya" imbuh Arka.


"Lanjut" suruh Arga.


" Begini, tadi pagi aku kepergok Tania saat benar-benar dalam kondisi yang tak bagus. Dia tahu apa yang kualami" beritahu Arka.


"Nyeri kamu kambuh?" kejar Arga dengan tanyanya.


"Biasanya kamu akan sembunyi di tempat rahasia kamu" lanjutnya.


"Mana bisa, aku kan di rumah nenek" bilang Arka.


"Makanya aku bilang ke kamu, kalau nanti Tania nanya ke kamu. Ceritakan aja" suruh Arka.


"Kenapa nggak kamu sendiri aja?" sahut Arga.


"Kamu tahu alasan kenapa aku nggak mau cerita sendiri kan?" tutur Arka menjawab pertanyaan Arga.


"Aura ketampananmu takut hilang? Aneh!" ucap sinis Arga.


"Nah, itu kamu tahu. Jadi tolong ya" ucap Arka.


"Heleh..." tukas Arga.


"Oh ya, kalau ntar Tania bilang mau benahin mobil. Bilang aja mobilnya sudah nggak bisa dibenerin. Kalau mau, akan habis biaya yang sangat banyak" imbuh Arka.


"Emang dia mau kau beliin??" tanya Arga.


"Iya" sambung Arka.


"Idih nggak jelas dech. Kasih alasan yang keren kek. Kado pernikahan atau ulang tahun gitu" kata Arga.


"Dia pasti akan menolak. Kalau nggak dipaksa dengan beginian dulu, Tania pasti tak mau" terang Arka.


"Sudah...sudah...aku mau kerja. Jangan lupa apa yang aku suruh tadi, jika My lovely datang" ujar Arka mengakhiri panggilan telpon.


"Lebay kau" ledek Arga.


"Makanya lekas cari pasangan, biar ikutan lebay...ha...ha...." Arka terbahak sampai telpon diputus oleh Arga.


Arka memanggil Pandu.


"Pandu, bisa kau buatkan draft kerjasama dengan perusahaan tuan Smith?" pinta Arka.


"Yakin tuan?" tukas Pandu.


"Heemmmm" jawab Arka.


Pandu tak berani membantah meski dia sendiri tak yakin.


"Kerjasama untuk layanan tenaga kebersihan kantor kan tuan? Terus rekanan lama gimana?" tanya Pandu untuk memperjelas.


"Tetap pakai saja, alasan ingin menambah tenaga saja" ucap Arka.


"Dari perusahaan lama kan tetap bisa minta tambahan tenaga tuan" sanggah Pandu.


"Pandu, kerjakan saja. Kamu tak tahu apa yang aku rencanakan" tatap tajam ke arah Pandu.


Arka tahu, Pandu mengkuatirkan dirinya. Tapi kalau tidak seperti itu bagaimana bisa dia melanjutkan misi nya.


.


Siang itu Tania datang seperti yang dibilang oleh Arka tadi pagi.


"Sendirian? Mana Arka?" basa basi Arga. Padahal sudah tahu maksud kedatangan Tania.


"Iya. Dia di kantor nya. Aku ke sini mau benahin mobil" jawab Tania sambil meletakkan beberapa kue.

__ADS_1


"Apaan tuh?" sela Arga.


"Kue. Mau nggak?" sodor Tania ke arah Arga.


"Daripada nganggur kamu mbenahin mobil, mendingan bersanding camilan" ucap Tania.


Arga mengambil satu kue, dan mulai mengecek mobil Tania.


Sementara Tania memasang headset di telinga dan seperti biasa mulai mendengarkan lagu favoritnya.


Arga sampai menepuk-nepuk bahu Tania beberapa kali, yang malah ketiduran di sofa ruangan Arga.


"Alamak, padahal di sini panas sekali. Dia kok bisa nyenyak sekali sih" gumam Arga.


"Hhhhhmmmmm" Tania mulai bergerak dari tidurnya.


"Eh...eh...maaf...aku ketiduran...he...he..." kata Tania masih dengan mengucek kedua mata.


"Sudah selesaikah?" tanya Tania.


"Sudah, tapi baru ngecek aja" jawab Arga duduk di depan Tania.


"Gimana? Akhir-akhir ini tuh mobil malah sering ngadat" keluh Tania.


"Emang sudah parah kondisinya. Waktunya ganti tuh" seloroh Arga.


"Ganti apa? Onderdil apa lagi yang musti ganti?" sela Tania.


"Bukan onderdil" lanjut Arga.


"Terus?"


"Ganti mobil yang lain...he...he..." celetuk Arga terkekeh.


"Issh kau ini"


"Daripada mobil malah sering kau inapkan di bengkel, buang-buang uang saja. Mendingan uangnya dilipet terus masukin saku" Arga masih saja terkekeh, teringat pesan Arka tadi pagi.


"Gimana? Mau kucarikan? Tukar tambah aja" saran Arga.


"Haisss kau ini, aku masih mikirin uang darimana malah sudah main tukar tambah aja" jawab Tania sewot.


Arga beranjak dan hendak meneruskan pekerjaan yang terbengkelai.


"Hei, kamu mau kemana?" cegah Tania sebelum Arga keluar pintu.


Arga menoleh.


"Duduk bentar. Ada yang mau kutanya" kata Tania menunjuk tempat duduk yang sebelumnya dipakai Arga.


"Haiiiiss kau ini, ganggu orang kerja aja" seloroh Arga menggerutu.


"Apa gunanya banyak karyawan kalau semua kau kerjakan sendiri. Jangan kau biarin mereka makan gaji buta dong" ledek Tania.


"Lekaslah" Arga akhirnya menuruti perkataan Tania. Meski semua sudah diberitahukan oleh Arka sebelumnya.


"Arga, apa kau tahu tentang sakit Arka? Kenapa dia sepertinya masih tergantung obat-obatan?" tanya Tania kelihatan cemas.


Arga mengamati Tania.


"Setahuku sakitnya sudah dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawatnya di Amerika. Tapi memori rasa sakit yang dialaminya dulu masih terekam di otak. Sehingga rasa nyeri itu kadang akan muncul tanpa kenal waktu" beritahu Arga.


"Apa ada yang seperti itu?" telisik Tania.


"Dia sudah berusaha sangat keras untuk menghilangkan trauma itu. Tapi kadang masih sesekali muncul di luar kontrol dirinya" lanjut Arga.


"Oh ya Tania, jangan sesekali kamu tanyakan ini langsung ke Arka. Nenek dan juga tuan Rendra saja bahkan tidak mengetahui hal ini" Arga melanjutkan kata-katanya.


"Hah?" Tania mengerutkan alis.


"Jangan heran. Itulah Arka. Dia tak akan mengeluh selama dia masih bisa menanganinya sendiri"

__ADS_1


"Ingat pesanku, jangan buat dia bertambah kacau saat dia sedang mengalami serangan nyeri karena dia tak mau dilihat oleh orang lain"


"Tau nggak alasannya kenapa? Karena saat mengalami serangan dia merasa orang yang paling jelek di dunia dan tak tampan sama sekali. Aneh kan?" Arga tertawa tapi ada nada getir di suaranya.


Tania mengangguk menanggapi semua ucapan Arga.


"Bantu Arka untuk mengatasi rasa traumanya. Dengan tidak menanyakan hal ini lagi kepada dia. Tolong ya" harap Arga dan dijawab anggukan Tania kembali.


"Ada yang mau dibicarakan lagi?" tanya Arga bijak.


"Heemmmmm" Tania nampak masih memikirkan sesuatu.


"Oh ya, Arka bilang nggak kalau Minggu depan dia mau ke Amerika?" tanya Tania.


"Emang aku bapaknya apa? Ke sana ya pasti urusan kerja" tukas Arga.


"Iya juga ya...he...he..." Tania terkekeh, tapi tetap saja menyisakan tanya di hati.


Ponsel Tania berdering, "My love" calling.


"Arka kan? Kutinggal kerja dulu ya" dijawab anggukan Tania.


"Masih di tempat Arga, kujemput ya?" kata Arka membalas sapaan Tania.


"Iya aku masih di bengkel. Bilangnya Arga mobilnya sudah nggak bisa dibenerin. Montir macam apa dia, mbetulin mobilku malah nggak bisa" gerutu Tania.


"Mobilmu itu memang sudah waktunya beranak cucu, waktunya istirahat" imbuh Arka membuat Tania semakin cemberut.


"Sudah jangan dipikirin. Tunggu bentar. Aku sudah mau sampai" ungkap Arka Danendra.


.


"Sayang, kok melamun?" Arka ikutan duduk di samping Tania.


"Lagi mikirin sesuatu?" telisik Arka.


Tania menatap ke Arka dan seperti menemukan ide baru.


"Sayang, mau nggak beli mobilku?" Tania mulai meluncurkan rayuan mautnya dengan tiba-tiba.


"Ayolah sayang, daripada nggak aku pakai" celetuknya.


"Aku? Membeli mobilmu? Untuk apa?" tukas Arka.


"Ya terserah mau kau pakai apa" Tania terkekeh.


"Terus kamu mau beli mobil baru?" heran Arka.


"Enggak. Kan sudah ada kamu yang antar jemput. Uangnya buat mama Rosa dan nambah uang jajanku lah" Tania tertawa.


"Wah...itu licik namanya sayang" ucap Arka.


Padahal niat awal menyuruh Arga adalah biar dirinya bisa memaksa membelikan mobil baru buat Tania. Ini malah sebaliknya yang terjadi. Dia harus membeli mobil Tania yang hobi rawat inap itu.


Arga yang mendengar obrolan itu hanya bisa terbahak menanggapinya. Kena kau Arka Danendra. Batin Arga.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2