Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Pesan Misterius


__ADS_3

"Tania, aku mau bicara" kata Benzema sambil berusaha menahan langkah Tania.


"Cih, nggak sudi aku" tolak Tania dengan menepis lengan Arka.


"Aku mohon Tania" ucap Benzema setengah memaksa.


Tania menghentikan langkah.


"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" ucap Tania.


"Dari Angel" jawab Benzema singkat.


"Tolong Tania, beri waktu aku untuk bicara" mohon Benzema sekali lagi.


"Untuk apa? Mempertahankan posisimu di Panapion atau yang lain?" kata Tania sengit.


"Salah satunya" jawab Benzema.


"Kamu tahu, tanpa melihat hubungan pribadi kita. Aku benar-benar bekerja di sana mulai dari nol Tania. Kamu bahkan ikut menyaksikan itu" jelas Benzema.


"Oh ya?" Tania menautkan alis.


"Kamu nggak percaya?" tatap Benzema.


"Kalau dulu aku akan percaya. Tapi kalau sekarang aku rasa nggak ada yang bisa dipercaya dari setiap ucapan kamu. Dan aku nggak perlu menjelaskan semuanya kan?" Tania pergi menjauhi Benzema.


"Tania, tunggu!!!" Benzema mengejar Tania.


Tapi nasib kayaknya nggak berpihak pada Benzema. Karena tepat pintu keluar lapas, sudah terparkir sebuah mobil mewah yang menunggu kedatangan Tania.


Kaca mobil turun, dan di sana terlihat Arka dengan santainya memanggil Tania.


Dengan bergegas Tania masuk ke dalam mobil.


Benzema memukulkan tangannya ke tembok karena tak berhasil bicara dengan Tania.


Sementara di dalam mobil Arka mulai membuka pembicaraan.


"Ngapain ke lapas?" tanyanya.


"Jenguk nyonya Marsha" tandas Tania.


"Untuk?" telisik Arka.


"He...he...ingin tau aja seberapa jauh nyonya Marsha mengenal kamu" jawab jujur Tania.


"Suatu saat aku pasti cerita" tukas Arka.


"Aku sudah mengira kalau jawabanmu seperti itu" sungut Tania.


"Padahal dua bulan lagi kita mau nikah" seloroh Tania dengan bibir manyun.


"He...he...." Arka hanya tersenyum simpul menanggapi Tania.


"Terus, ngapain laki tadi nyusul kamu ke sana?" tanya Arka.


"Tauuuuu..., emang aku ibunya" kata Tania mengangkat kedua bahu.


"Apa mau ngajak balikan" Arka semakin ingin menggoda tunangannya itu.


"Idih...ogah gue" ucap Tania.


"Dulu aja sampai delapan tahun loh kau pertahankan" goda Arka lagi.

__ADS_1


"Terus...ledek aja terus..." tandas Tania semakin manyun saja tuh bibir.


"Sayang, kita makan di mana nih?" kata Arka mulai serius.


"Heemmmmmm, resto dekat danau aja" usul Tania.


"Kalau ke sana enakan ntar sore aja. Keburu abis waktu istirahat nya"


"Heemmmm...apa ya? Makan dengan mama Rosa aja di rumah" ajak Tania.


"Boleh, lagian kita lewatin rumah kamu" Arka menerima usulan Tania.


Dan sampailah mereka di rumah sederhana Tania.


Mama Rosa menyambut hangat calon menantu satu-satunya. Gimana nggak satu-satunya, putrinya aja cuman ada Tania seorang.


"Kok bisa pulang siang?" tanya mama.


"He...he...ingin makan gratis Mah" seloroh Tania bercanda.


"Heemmmm..., tapi mama nggak masak. Gimana tuh?" balas mama Rosa.


"Beneran Mah? Gagal dong makan gratisnya" kata Tania pura-pura kecewa.


Tania yakin nggak mungkin mama Rosa nggak memasak.


Dengan santai Tania masuk menggandeng Arka ke meja makan, "Waahhhh...pas nih. Sayur sop plus perkedel kentang dan kecap sambal" Tania menelan ludah.


"Emang Arka mau?" tanya mama Rosa.


Arka mengangguk, tak mungkin dia mengecewakan sang camer. Bisa gagal nikah kalau sampai mama Rosa kecewa. Meski belum biasa dengan menu-menu seperti itu.


Arka mencoba sesuap, dia rasakan...enak...coba sesuap lagi...super enak. Dan tak terasa dia makan dengan lahap sekali. Mama Rosa dan Tania sampai memandang heran Arka.


"He...he...enak Mah" kata Arka setelah sadar kalau Tania dan mama Rosa memperhatikannya.


.


Tania kembali ke kantor dengan diantar oleh Arka.


Tak sengaja mereka berpapasan dengan tuan Hadinoto dan juga Maura yang hendak keluar.


"Siang tuan Arka" sapanya.


Sok ramah, batin Tania jengah melihat kelakuan sang bos dan juga Maura.


Arka sengaja meraih tangan Tania untuk dia genggam, dan memamerkannya ke Maura dan juga tuan Hadinoto. Biar mereka tahu, jangan main-main dengan dirinya.


"Siang juga tuan Hadinoto" tukas Arka.


Tania dan Arka meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke ruangannya.


"Kenapa kau nggak bikin firma hukum sendiri aja sih?" tanya Arka saat sudah duduk di kursi ruangan Tania.


"Nggak semudah itu sayang" sahut Tania.


"Menjadi seorang pengacara juga perlu nama besar" imbuhnya.


"Kamu kan sudah punya?" lanjut Arka.


"Tania Fahira, huruf 'T' dan 'F' sudah huruf besar semua" lagi-lagi Arka bercanda ke Tania.


"Au ah gelap" jawaban Tania membuat Arka tertawa.

__ADS_1


Ponsel Arka berdering, dan ada nama Pandu di sana.


"Dia ini, gangguin orang aja. Tau lagi pacaran" gerutu Arka.


"Ha...ha...idih lagak pacaran. Ingat umur tuan" tukas Tania terbahak.


"Lagian ya, kamu tuh sekarang jadi CEO. Nggak boleh santai-santai. Semuanya nyangkut hajat hidup orang banyak" Tania memberi nasehat.


"Siap nyonya Arka Danendra. Hamba siap bekerja serius" jawab Arka.


Arka beringsut berdiri. Saat Tania lengah diciumnya pipi sang tunangan. Dan langsung aja Arka berlari menjauh dari Tania yang bersiap mengomel.


Ganti ponsel Tania yang berdering sepeninggal Arka. Saat tahu siapa yang memanggil, membuat Tania malas mengangkat.


"Hadech, lagi-lagi dia yang menelpon" keluh Tania.


Dibaliknya layar ponsel tanpa berusaha mengangkat.


"Ponselnya bunyi tuh Non" kata Angel yang barusan datang dari acara makan siang.


"Biarin aja" jawab Tania sewot.


"Siapa Non? Jangan-jangan klien?" sambung Angel.


"Bukan Angel, ini calon menantunya bos besar kita" beritahu Tania.


"Tuan Benzema?" kata Angel tak percaya.


Tania mengangguk.


"Tak bosan-bosannya dia mengusikku" ujar Tania.


"Blokir aja Non" Angel ikut geregetan.


Ponsel terus saja bunyi, "Angel tolong angkat. Bilang aja kalau ponsel ku sekarang ada padamu" suruh Tania.


Angel meraih ponsel Tania dan dilihatnya.


"Non, bukan tuan Benzema" Angel menunjukkan layar ponsel.


"Nomor tak dikenal?" Tania menautkan alis. Selama ini Tania terbiasa tak mengangkat nomor yang tak dikenal.


Kalau ada klien baru pasti akan menghubungi kantor nya bekerja terlebih dahulu.


"Nggak diangkat Non?" seloroh Angel dan hanya gelengan kepala Tania yang didapatnya.


Setelah beberapa kali panggilan dan tidak terangkat, sebuah notif pesan masuk ke ponsel Tania lagi.


"Jika ingin mengetahui tuduhan yang sebenarnya kepada ayahmu, datanglah ke resto XXX di sebelah barat kota. Datanglah 'SENDIRI' !!!!!" bunyi pesan itu.


Tania menajamkan netranya, untuk melihat tulisan di pesan itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2