Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Drama Bumil 2


__ADS_3

Pagi-pagi Arka sudah diribetkan dengan urusan ngidam bumil.


Bagaimana tidak, barusan juga Subuh usai Tania sudah minta bubur ayam hangat.


"Yank, jam segini apa sudah buka abang jualnya?" kata Arka sambil mengacak rambut nya.


"Ya musti cari dong. Aku kepingin. Apalagi yang dekat stasiun. Pasti sudah buka sekarang" ujar Tania.


"Pasti? Sudah buka?" tukas Arka.


"Makanya, ayo kita ke sana" ajak Tania.


"Satu jam loh yank jarak tempuhnya. Bolak balik jadi dua jam" beritahu Arka.


"Pagi gini jalanan sepi. Aku yakin nggak sampai dua jam" rengek Tania.


"Ayolah sayang, kamu nggak ingin anak kamu ileran kan?" Tania masih saja merengek.


"Nggak ada tuh teori di ilmu kedokteran yang menyebutkan anak jadi ileran karena keinginannya nggak kesampaian" Arka beralasan.


"Yank..." jawaban Arka membuat Tania manyun.


"Kalau gitu aku nelpon Pandu ajah, aku suruh nganterin ke sana" lanjut Tania dan hendak meraih ponsel di atas nakas.


"Eitssss tunggu...tunggu... Aku anterin dech, daripada ngrepotin Pandu" Arka akhirnya mengalah daripada dimusuhin seharian.


"Makasih sayang" langsung saja Tania memeluk Arka.


"Jadi nggak nih? Apa dipelukin aja di sini" bilang Arka. Dan dijawab gelengan oleh Tania.


Arka mengambilkan baju tebal untuk sang istri, karena hari masih pagi dan memakaikannya.


Saat sudah di jalan, "Emang kamu pernah ke sana? Beli bubur ayam" tanya Arka.


"Dulu sebelum hamil" beritahu Tania.


"Kok tahu kalau bukanya pagi?" tanya Arka penasaran.


"Lihat di aplikasi dong. Nih!" sodor Tania yang sedang membuka aplikasi pesan antar makanan online.


"Tahu gitu kenapa nggak pesan lewat online aja sih?" sela Arka. Mendingan narik selimut lagi tau gitu. Pikir Arka.


"Idih, nggak ikhlas banget sih" sungut Tania.


"Ikhlas yank. Buktinya nih berangkat nganterin" imbuh Arka.


Tania diam tak menjawab.


Sampai di penjual bubur masih proses menata barang dagangan.


"Pagi banget tuan dan nyonya" sapa nya.


"Nggak papa pak, kita akan sabar menunggu kok" tutur Tania lengkap dengan senyum manisnya.


"Ngapain senyum-senyum?" tatap Arka.


"Senyum itu sedekah lho sayang" tukas Tania terkekeh.


"Jangan kasih senyum ke sembarang orang" larang Arka dengan wajah bersungut.


Semenjak pulang kenapa mode cemburu nya semakin sering aja yach. Batin Tania.


Apa karena disuruh puasa sama Om Abraham itu. Pikir Tania.


"He...he...senyum dong sayang" Tania mencubit gemas pipi Arka dan langsung menciumnya.


"Pak, kalau sudah siap semua. Buatin dua porsi ya" bilang Tania.


"Siap nyonya" balasnya.


Ternyata bapak itu mendahulukan pesanan Tania, baru melanjutkan menyiapkan dagangan.

__ADS_1


"Silahkan nyonya" kata bapak penjual dengan menyerahkan dua mangkok bubur yang masih mengebul asapnya.


Melihat bubur di depan, seperti orang yang kelaparan Arka langsung meraihnya.


Siapa yang ingin, siapa yang lahap makan. Batin Tania.


"Pak, semangkok lagi" pesan Arka.


"Ha...ha...suka apa memang laper sih?" ledek Tania.


"Enak ternyata" puji Arka.


Tania semakin terbahak.


"Besok kita ke sini lagi aja yank" ajak Arka.


"Ogah" timpal Tania dan langsung membuat Arka bersungut.


"Saben hari, apa kamu akan kasih aku makan bubur terus?" ucap Tania.


"He...he...kalau kamu mau. Kenapa nggak?" seloroh Arka mengimbangi ledekan Tania.


Tania mencebikkan bibir.


"Arga jadi ke kantor?" tanya Arka di antara kesibukan makan bubur.


Tania mengecek ponsel, barangkali ada notif pesan. Sedetik kemudian dia mengedikkan bahu tanda tak tahu.


"Belum ada kabar" jawab Tania.


"Ada apa Arga ya? Apa dia sudah mulai membuka hati untuk memaafkan mama nya" tebak Arka.


"Semoga saja ada perubahan yang lebih baik. Melihat kata bijak mama nya waktu mendatangiku dulu, aku rasa mama Arga tulus untuk meminta maaf ke Arga" terang Tania.


"Semoga saja. Dan bukan akal bulus karena melihat anaknya sekarang sukses. Kamu tidak tahu kisah wanita yang melahirkan Arga itu yank, makanya bisa menilai begitu" beritahu Arka.


"Memang wanita seperti apa? Mamanya Arga?" tanya Tania.


"Kok kamu yakin?"


"Nyatanya semalam dia bilang mau curhat kan?" imbuh Arka.


"Ayo lekas habisin. Ngobrolnya lanjutin ntar aja" ajak Arka.


Tania menghabiskan bubur yang tinggal sedikit.


Dalam perjalanan pulang ke apartemen, Tania mendadak minta berhenti.


"Stop yank. Bisa menepi?" kata Tania.


"Ada apa sih?" tanya Arka tapi tetap menepikan mobil seperti yang diminta sang istri.


"Tuh, mau beli jajan di sana" tukas Tania dan langsung saja membuka pintu mobil. Arka hanya bisa menepuk jidat.


Semakin diturutin, permintaan bumil semakin aneh-aneh saja.


"Ntar sampai apartemen aku harus bisa buat istriku minum vitamin dan susu hamil" janji Arka dalam benak.


Tania masuk kembali dengan membawa sekantung jajanan yang dibelinya.


"Beli apa aja?" tanya Arka. Heran dengan nafsu makan sang istri.


"Kamu nggak mual atau apa gitu?" lanjut Arka.


"Kamu ini aneh banget sih. Mual muntah sudah lewat tau. Kamunya ada yang nggak ada waktu itu" celetuk Tania menimpali.


Arka hanya menanggapi dengan kekehan senyumnya.


Ponsel Tania kembali berdering. Nomor tak dikenal.


"Kok nggak diangkat? Arga bukan?" tanya Arka yang sedang fokus menyetir.

__ADS_1


"Nomor tak dikenal yank" beritahu Tania.


"Kira-kira siapa?" ulas Arka.


"Ya nggak tahu. Nomornya aja belum kesimpan di memori ponsel" ucap Tania.


"Ya kalau gitu angkat saja, biar tahu siapa yang menelpon. Susah amat" imbuh Arka.


"Yeeeiiiii...tanpa kau suruh ini juga mau kuangkat" sungut Tania.


"Halo, selamat pagi" jawab Tania.


"Pagi, dengan ibu Tania Fahira?" jawab orang yang menelpon lengkap dengan menyebut nama biro hukum yang didirikan oleh Tania.


"Benar, dengan saya sendiri. Ijin kalau boleh tahu ini dengan siapa? Ada yang bisa dibantu?" tanya Tania.


"Calon klien...he...he..." bisik Tania ke Arka. Sementara Arka hanya ber'o' ria dengan tetap fokus ke jalan di depan.


"Saya Anton. Maaf, bisakah hari ini saya datang ke kantor anda. Kami ingin konsultasi tentang masalah hukum di perusahaan kami" beritahunya.


"Bisa disebutkan nama perusahaannya tuan? Biar saya hubungi asisten saya untuk menjadwalkan pertemuan dengan anda" kata Tania.


"P.T. Semesta Prima" jawabnya.


"Baik, nanti biar dihubungi ulang oleh asisten saya untuk menginfo jam pertemuan" tukas Tania.


"Terima kasih" ucap orang itu sambil menutup panggilan telpon.


"Siapa dan dari perusahaan apa?" telisik Arka.


"Jangan bilang kamu cemburu juga ke orang ini?" bilang Tania.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya ingin tahu saja. Barangkali aku kenal dan tahu perusahaannya" tandas Arka.


"Bilangnya sih namanya tuan Anton dari PT Semesta Prima" terang Tania.


"Semesta Prima? Seperti tak asing di telinga" seloroh Arka.


Tania hanya mengedikkan bahu.


Setelah mengirim pesan ke Angel untuk mengatur jam pertemuan dengan orang yang barusan nelpon, ponsel ditaruh oleh Tania. Dia kembali teringat dengan jajanan yang tadi dibelinya.


"Mau yank?" Tania menawari Arka sebuah.


"Apaan itu? Kok aneh bentuknya?" tanya Arka.


"Enak lho ini. Jajanan tradisional. Coba dech" beritahu Tania dan menyuapkan ke mulut sang suami.


Arka mencoba merasakan dan, "Heemmmmm, enak, lembut, ada gurihnya tapi kok manis buanget" komen Arka terhadap kue yang ada di mulut.


"Ini namanya kue serabi" jelas Tania.


"Kenal pizza dan spagetti boleh, tapi jajanan traditional juga tak kalah enak" lanjut Tania, dan langsung menyuapkan sisa kue serabi tadi ke dalam mulutnya sendiri...he...he...


"Belum kenyang?" tanya Arka. Heran bener dengan nafsu makan sang istri yang luar biasa.


"He...he....sudah. Yang ini persiapan nanti buat ngantor. Angel pasti suka kubawain ini" ucap Tania sambil mengangkat kantung berisi penuh jajanan.


Arka hanya bisa geleng kepala dibuatnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


COVER BARU, SEMANGAT BARU 😊


__ADS_2