Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Rapat Direksi (2)


__ADS_3

"Pandu, kau panggil tuan Benzema selepas jam kantor" perintah Arka tanpa beralih dari laporan yang diserahkan oleh William.


"Baik tuan muda" ucap Pandu.


Banyak cacat yang ditemukan Arka dalam laporan William.


"Bagaimana papa bisa menyerahkan keuangan perusahaan kepada orang licik seperti ini" umpat Arka dalam gumaman.


"Aku harus urus ini secepatnya" janji Arka.


Ponsel Arka berdering. Taniaβ™₯️ incoming call.


"Aku tau kau sibuk, tapi setidaknya jangan lupa makan" cerocos Tania.


"Heeiiii...nelpon aku cuma buat ngomel?" tukas Arka.


"Iya" singkat Tania.


"Haisss kau ini. Bilang kangen kek, bilang rindu kek. Ini tunangan kamu loh sayang" sungut Arka.


"Pulang jam berapa? Aku samperin ya? Nonton yukkk...Boring aku kau ajakin mikir serius melulu" rengek Tania di ujung telpon.


"Ini Tania Fahira pengacara, atau Tania si anak TK sih?" celetuk Arka bercanda.


"Isshhhh kau ini . Mau nggak?" selanya.


"Iya, tapi agak maleman ya. Abis jam pulang aku mau nemuin Benzema" beritahu Arka.


"Untuk?" penasaran Tania.


"Mau berterima kasih" tandas Arka.


"Terima kasih????" Tania semakin penasaran.


"Terima kasih karena dengan dia selingkuh, aku mendapatkan gadis yang selama ini aku cari" tawa Arka meledak.


"Isshhhh kau ini" Tania menimpali.


"Oke lah, ntar kalau kau sudah selesai. Kabarin" ucap Tania.


"Siap tuan putriku sayang" tukas Arka terus saja tersungging senyum di sudut bibirnya.


Selepas jam kerja, karena ada janji dengan Tania. Arka sengaja menghampiri ruang kerja Benzema.


"Bisa kita bicara sebentar" kata Arka.


Benzema tentu saja terkejut melihat sang CEO masuk ruangannya.


"I...i...ya Tuan" balasnya sedikit tergugup.


Arka duduk menyilangkan kaki di depan Benzema dengan tangan masuk di antara kedua saku.


"Tuan Benzema, aku sudah membaca laporan yang kamu buat hari ini. Bahkan juga laporan-laporan sebelumnya. Tapi memang belum semua. Kira-kira apa yang harus aku lakukan dengan semua itu" kata Arka dengan lugas.


Benzema yang mengerti maksud perkataan Arka, "Maafkan aku tuan, aku membuatnya atas perintah tuan William" jelas Benzema dengan suara tremor.


"Sudah berapa lama?" telisik Arka.


"Semenjak tuan William menjabat" terang Benzema.


"Oooooooo...lama juga ternyata" imbuh Arka.


"Aku akan membantumu tuan" kata Benzema yang mengerti maksud Arka.

__ADS_1


"Ha...ha....kau mau mengamankan posisi?" seloroh Arka.


"Bukan begitu maksudku tuan" sahut Benzema.


"Terus apa papa ku tahu akan hal itu?" selidik Arka.


"Tuan Rendra tahu tuan, tapi beliau tak bisa berbuat banyak" terang Benzema.


"Karena?" lanjut Arka.


"Karena tuan William adik iparnya" sambung Benzema.


"Oke, cukup tuan Benzema. Terima kasih meluangkan waktu untukku" Arka keluar ruangan Benzema dengan wajah tetap datar dan dingin.


Sementara Benzema berkeringat dingin, dan terkaget saat ponsel yang di saku berbunyi. Sebuah notif pesan, memberitahu kalau Maura telah menunggu di lobi Panapion.


Benzema lekas berberes karena tak mau kena amukan calon istrinya.


Tiba di lobi, dilihatnya Tania tengah duduk sendirian. Dan Benzema menghampiri.


"Nungguin tuan Arka" selorohnya sok akrab.


"Hemmm" jawab Tania singkat.


"Kuambilin minum mau?" tawar Benzema.


"Nggak usah terima kasih" tolak Tania masih dengan bahasa halus.


Maura mendekat dengan muka merah padam, "Hei kau Tania, dasar wanita ganj3n" teriaknya.


Tania mengangkat kedua bahu untuk merespon kata-kata Maura.


"Iket aja tunangan kamu, kalau takut dia ilang" seloroh Tania santai.


"Nggak kok, barusan" sambut Tania.


"Yuukkk, keburu filmnya selesai" ajak Arka tanpa memperdulikan keberadaan Maura dan Benzema.


Tania mengangguk.


Pasangan serasi itu pun menjauh dari mereka berdua.


Maura hanya bisa menghentakkan kaki, kecewa dengan keadaan. Harusnya aku juga bisa mendapatkan tuan Arka. Gerutu batinnya.


"Sayang, aku juga mau nonton" rengek Maura. Tania yang mendengar hanya bisa mengangkat sudut bibir dengan sinis.


.


Keesokan pagi, Tania datang dulu ke kantor sebelum dia berangkat ke perusahaan Panapion.


Maura masuk menyusul sesaat setelah Tania duduk di kursi.


"Ke Panapion jam berapa?" tanya Maura.


"Habis ini" jawab singkat Tania.


"Pakai mobilku aja. Aku nggak mau naik mobil bututmu" ulas Maura.


"Heiiii nona besar, siapa juga yang mau kau tebengin. Berangkat sendiri-sendiri saja" tandas Tania.


"Masak tim hukum nggak kompak sih? Ntar kalau dilihat tuan Arka gimana?" imbuh Maura.


"Ya biarin aja, aku rasa CEO Panapion tak akan menengok kamu hadir dengan siapa" ulas Tania.

__ADS_1


"Ya udah, aku ikut di mobil kamu aja" Maura akhirnya nego dengan Tania.


Dengan berat hati Tania akhirnya mengiyakan apa yang dimau Maura. Anggap saja bersedekah dengan wanita hamil.


Maura terus saja berkeluh kesah saat dalam perjalanan ke Panapion.


"Mobil kamu ini buatan tahun berapa sih? Kenapa panas sekali" gerutunya.


"Bisa diam nggak sih? Kalau keberatan turun aja" Tania menepikan mobil dan meminta Maura turun. Jengah juga mendengar kata-kata Maura.


"Ish, kau ini kejam sekali. Tega sekali sama ibu hamil" gerutunya.


"Kalau wanita hamilnya macam kau, aku pasti tega" celetuk Tania.


"Ya udah, aku nggak akan mengeluh lagi. Ayo berangkat, daripada telat" Maura mengalah, tapi hatinya tetap menggondok.


Tania kembali melajukan mobil. Selama perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka berdua.


Maura turun terlebih dahulu dan langsung ke toilet untuk merapikan dandanannya.


"Dasar kau Tania, pagi-pagi sudah bikin aku keringetan" umpat Maura sambil masuk ke toilet.


Tania sampai di lobi dan menanyakan ke customer service tempat rapat direksi.


Tak sengaja Arka melihat sekelebat bayangan Tania, ditariknya lengan Tania.


"Bareng aja" ucap Arka di telinga Tania.


Karyawan di bagian front office hanya melongo melihat ulang sang bos.


"Eh, kau ini. Kirain siapa, bikin kaget aja" timpal Tania berbisik.


Pandu menganggukkan kepala saat Tania menatapnya.


Arka menggandeng Tania tanpa memperdulikan orang-orang yang berpapasan dengan mereka.


"Tunggu...tunggu...aku tadi datang sama Maura loh" sela Tania.


"Biarin aja, kalau dia bingung kan ada Benzema yang siap sedia" ujar Arka tersenyum.


"Bener juga ya, ngapain mikirin mereka...he...he..." ucap Tania menepuk jidat.


Arka memasuki ruang rapat dan diikuti oleh Pandu.


Sementara Tania berbaik hati menunggu kedatangan Maura. Dan ternyata benar, Maura datang tergopoh dengan Benzema berada di sampingnya.


"Lelet" gumam Tania.


Tania beranjak masuk diikuti Maura dan juga Benzema.


"Sebagai tim hukum yang ditunjuk perusahaan, sebaiknya kalian tak pernah datang telat lagi" sela Tuan William yang sudah berada di sana.


Tania terdiam tak menanggapi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2