Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Undangan Pernikahan


__ADS_3

"Non, ini ada undangan" beritahu Angel kala Tania barusan datang di kantor.


"Undangan apaan?" tanya Tania.


"Pernikahan sepertinya" imbuh Angel.


"Pasti dari Arkan dan Davina. Iya kan?" Tania menanggapi.


"Kok tahu aja sih?" ujar Angel lantas tertawa.


"Apa sih yang aku nggak tahu" ulas Tania.


"Mulai dech sombongnya" tukas Angel sebal. Angel yang sekarang juga tengah hamil muda menjadi senewen karena kata Tania barusan.


"Biasa aja keles...ha...ha...." Tania terbahak.


Di depan Angel, Tania membuka undangan yang masih terbungkus plastik dengan rapi itu.


"Eh, ini rangkap tiga loh" beritahu Tania.


"Satu untukku dan yang dua untuk kamu dan Maura" imbuh sekaligus menyerahkan langsung kepada yang berhak.


"Kapan nih acaranya?" gumam Tania.


"Hari Minggu di akhir bulan ini" tukas Angel yang sedang membaca isi undangan.


"Beneran ini acaranya di lapas?" kata Angel menegaskan.


"Mau di mana lagi? Hotel?" sela Tania.


"Kali aja terdakwa nikah di hotel" ujar Angel sambil terbahak.


"Ngomong-ngomong, Maura kok belum kelihatan?" tanya Tania yang melihat meja Maura masih kosong.


Bahkan lawyer-lawyer muda banyak juga yang sibuk wira wiri. Tania hanya memberikan arahan sesekali saja untuk mereka.


"Owh, Maura ijin. Bilangnya sih anaknya panas" jelas Angel.


"Oke. Jangan lupa ingatkan Maura akan undangan dari Arkan" kata Tania sembari melangkah ke ruangannya.


"Non, tuan Arka mana?" tanya Angel karena kelewatan nanya tadi. Aneh aja sang bos pria tak ada di belakang sang bos wanita.


"Belajar jauh-jauhan. Smoga aja dia tak pusing dan mual kali ini. Sudah mau enam bulan tapi kok masih ngidam aja dia" tukas Tania memberi penjelasan.


"Kalau kamu gimana?" tanya Tania ke Angel yang juga tengah hamil muda.


"Biasa aja nih Non, nggak neko-neko. Bawaan calon mama ini mungkin Non. Mama yang kalem" ujar Angel menyunggingkan senyum.


"Kudoain besok minta yang macem-macem bin aneh-aneh" kata Tania menambahi.


"Issshhhh...jangan gitu dong Non. Doain yang baik-baik saja" kata Angel sewot.


Sementara Tania terbahak kala membuka pintu ruangan dan masuk ke sana meninggalkan Angel yang masih saja sewot.


Belum lama Tania masuk, Arka muncul dan melangkah terburu.


"Tuan? Kok buru-buru?" tanya Angel.


"Bos kamu ada di mana?" tengok Arka ke Angel.


"Di ruangannya" jawab Angel.


Arka menyusul Tania ke dalam, menyisakan tanya dalam benak Angel.


Katanya mau mencoba jauh-jauhan. Kok tuan Arka cepat sekali sampai sini? Batin Angel.


"Huh, biarkan saja mereka. Mendingan aku buat susu hamil" gumam Angel dan beranjak dari duduknya.


Dan sedetik kemudian muncul Pandu di ambang pintu.


"Loh?" Angel terpaku di tempat.


"Tuan Arka di mana?" tanya Pandu.


"Tuh" arah mata Angel menunjuk ruangan Tania.


"Kamu mau ke mana?" tanya balik Pandu.

__ADS_1


"Nih" sambil menunjukkan gelas yang telah diisi bubuk susu siap seduh.


"Ku buatin" kata Pandu.


"Katanya nyariin tuan Arka?" tukas Angel.


"Bentar aja. Kubuatin susu dulu. Kasihan kamu naik turun tangga" ucapan Pandu membuat binar bahagia di mata Angel.


Sementara Arka dan Tania di dalam.


"Yank, aku pusing banget nih" keluh Arka.


Wah, mulai dia. Padahal kerjaan belum kepegang nih. Batin Tania.


Tania memijat pelipis Arka pelan.


"Katanya mau belajar jauh-jauhan biar nggak buat repot semua" ujar Tania, kali ini penuh kesabaran.


Arka mendongak menatap dagu sang istri yang tengah bicara, karena posisi saat ini Arka tengah berada di pangkuan Tania.


"Tapi aku nggak kuat sayang. Pusingnya pake banget" terang Arka. Dan Tania tetap memijit pelan kening Arka.


"Sudah berkurang belum?" tanya Tania.


"Lumayan" imbuh Arka untuk menjawab.


"Yank, dapat undangan dari Arkan" beritahu Tania.


"Kapan?" sela Arka.


"Hari Minggu akhir bulan" jelas Tania.


"Oke lah, ntar aku minta Pandu untuk kosongin jadwal" bilang Arka.


"Itu week end lho yank?" lanjut Tania.


"Ya siapa tahu aja Pandu ngadain rapat di luar kota"


"Angel juga dapat kok" sambung Tania memberitahu.


.


Arditya yang sudah bangun sedari subuh, sekarang tengah dimandikan oleh Tania.


Nenek Gemmy muncul begitu saja di mansion, karena kangen dengan cicitnya.


"Arditya mana?" suara nenek Gemmy kedengaran sampai kamar mandi.


"Di sini Nek" jawab Tania.


"Owh, cicit Oma sedang mandi ya?" nenek Gemmy menghampiri.


"Wah, kebetulan nenek ke sini nih" seru Tania.


"Emang kamu mau ke mana?" tanya nenek.


"Ke lapas" bilang Tania.


"Hari Minggu begini?" tanya nenek Gemmy heran.


"Klien yang aku bela menikah nek hari ini" jelas Tania.


"Oooooo" jawab nenek.


"Arkan yang menikah, Nek" sela Arka yang barusan masuk nyusulin Tania.


"Arkan, anak tiri papa kamu?" canda nenek.


"Ha...ha...saudara tiri aku juga ya" Arka malah terbahak menanggapi ucapan nenek Gemmy.


"Kalian bersiaplah, biar Arditya sama nenek" sambung nenek Gemmy mengambil alih Arditya dari gendongan sang mama.


"Sebaiknya biar Arka saja yang mandiin Arditya lain kali. Aku nggak tega lihat perut kamu yang sudah gedhe itu gendongin cicit nenek yang gemoy ini" saran nenek yang tak henti-hentinya nyiumi pipi Arditya. Arditya yang geli dibuat terkekeh karena ciuman nenek.


"Kok masih di sini? Bersiaplah" suruh nenek.


Tania dan Arka keluar kamaΕ• Arditya bersamaan.

__ADS_1


Sampai di kamar utama, bukannya langsung mandi tapi Arka malah memeluk Tania dari belakang.


"Hawa-hawa ngajakin senam pagi ini" gurau Tania.


"Memang. Senam pagi bagus untuk jantung loh" sahut Arka. Mereka pun tertawa bersamaan.


Aktivitas senam pagi versi Arka dan Tania akhirnya terjadi juga. Memanfaatkan kesempatan luang yang ada.


Tania berendam di bath up merilekskan otot-otot. Arka menyalakan aroma terapi.


Arka mandi duluan, membiarkan Tania untuk beristirahat dengan berendam air hangat.


"Yank, aku keluar dulu. Ikutan nenek di luar nyuapin Arditya" kata Arka.


"Sekalian siap-siap aja yank. Ini sudah jam berapa" jawab Tania dengan mata masih terpejam.


"Oke" Arka keluar kamar mandi dengan berbalut handuk sepinggang.


Ternyata di ranjang, sudah disediakan baju ganti untuknya.


"Istriku sangat perhatian" gumam Arka.


.


Dan saat ini Arka dan Tania telah berada dalam mobil, perjalanan menuju lapas tempat diadakan acara pernikahan Arkan.


Meski acara berlangsung sederhana dan cuman akad nikah aja.


Hanya ada beberapa yang diundang oleh Arkan. Bahkan mama nya yang saat ini berada di lapas pun tak dia undang.


Halaman lapas di sulap sedemikian rupa oleh Boy, tentu saja atas ijin kepala lapas sebelumnya.


Tania dan Arka sudah berada di sana. Sementara calon mempelai wanita, menurut info yang didapat masih dalam perjalanan menuju tempat acara.


Anggun bersama Pandu, Maura juga datang bersama Benzema telah duduk di samping Tania yang datang terlebih dahulu.


Calon mempelai pria pun belum nampak batang hidungnya.


"Boy" Tania memanggil asisten Arkan itu.


Boy menghampiri Tania yang sedang duduk.


"Bukankah acara harusnya berlangsung setengah jam lalu?" tanya Tania.


"Harusnya begitu nyonya" jawab Boy.


"Ada yang nggak beres kah?" tanya Tania mulai menganalisa. Tania punya insting jika akan ada sesuatu yang bakal terjadi.


"Nggak ada nyonya" jawab Boy dengan yakin.


"Arkan di mana?" tanya Tania.


"Masih di dalam dan bersiap" jawab Boy.


"Boleh aku menemuinya?" pinta Tania.


"Mau ke mana? Sudah duduk di sini saja. Pasti bentar lagi Arkan akan keluar" sela Arka melarang sang istri pergi ke mana-mana.


"Bentar aja yank" semakin dilarang maka Tania semakin bergerak maju.


"Aku temenin" ucap Arka.


Kalau memang ada bahaya, Arka tak akan membiarkan sang istri sendirian.


Boy mengantarkan Tania dan Arka untuk menemui Arkan.


Aka ada tanya yang musti ditanyakan Tania kepada Arkan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2