
"Sayang, kalau kamu bosan. Istirahat aja di kamar" suruh Sebastian.
"Yeeiiii... Pamali tau, pagi-pagi bumil sudah suruh rebahan aja" sela Tania.
"Nggak apa-apa, lagian semalam dia kurang istirahat" jelas Sebastian tak terfilter.
"Pasti kamu ajakin lembur?" tukas Tania.
"Nah, itu kamu tahu. Emang kamu tak lembur?" tanya Tian.
"Enggak. Arka kan masih masa pemulihan" elak Tania.
"Kalau gitu kamu yang harus aktif dong. Gitu aja masak harus aku yang ngajarin" ledek Tian.
"Kalian berdua ngomongin apa sih?" sela Dewa yang sedari tadi tak digubris.
"He...he...ini mah rahasia dapur orang yang sudah nikah. Anak bujang nggak boleh ikut-ikut" Tania membalas Dewa.
Dewa menanggapi dengan kesewotannya.
Dan Mutia pun pamit, "Sayang aku rebahan aja ya, mau ngedrakor. Lagian kalau ngedengerin kalian debat tak berujung seperti itu, bikin ngantuk".
"He...he..." Tania menanggapi dengan kekehan khas nya.
"Sori kak, kutinggal ya. Yang sabar menghadapi kedua orang itu" tatap mata Mutia beralih dari Sebastian dan Dewa bergantian.
"Aku sudah tahu kok cara menjinakkan mereka berdua" canda Tania.
"Belagu" kata Sebastian dan Dewa bersamaan.
"Jadi rapat nggak nih? Kalau nggak mendingan aku nyusulin suami" ucap Tania.
"Mentang-mentang suami datang, coba saja tiga hari kemarin. Apa kata yang kamu ucapkan akan sama?" sindir Dewa.
Rapat dimulai, meski kadang-kadang disela canda oleh mereka bertiga.
"Tian, kamu yang lebih tahu prosesnya. Saya rasa aku hanya tinggal melengkapi yang ini" kata Tania menunjukkan ke arah berkas yang dimaksud.
"Oke, aku setuju" ucap Tian.
"Dewa, siapkan semua. Revisian hari ini jadi. Nanti selepas makan siang kutunggu di mejaku" perintah Tian ke Dewa.
"Siap bos" sahut Dewa serius.
Dewa berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Makan siang sini saja, Arka biar nggak repot bolak balik" kata Tian.
"Heemmmm" Tania mulai memainkan ponsel miliknya.
Mutia keluar dari kamar, masih dengan wajah nan anggun.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah kok" ucap Tania.
"Kak, makan siang yuk!" ajaknya.
"Aku kok nggak diajak?" sela Tian.
__ADS_1
"He...he... Boleh ya aku sama kak Tania aja. Sekalian ke tempat rekanan Mutia Bakery" rayu Mutia halus. Beda sangat dengan Tania yang selalu bar-bar jika menginginkan sesuatu ke Arka. Untung saja Arka selalu sabar menghadapi perilakunya.
"Heemmmm..." balas Sebastian sewot.
"Ayolah yank, jangan ngambek ah" kembali Mutia dengan jurus merayu andalan.
"Baiklah" akhirnya Tian membolehkan.
Istrinya kadang-kadang perlu me time.
"Aku hubungi Dena dulu kak, biar nyusul langsung" bilang Mutia.
"Oke"
Setelah pamitan Sebastian, kedua wanita cantik yang satu nan anggun dan satunya tomboi itu berjalan beriringan. Tania dengan kuncir kuda khas dirinya.
"Pak, ke resto biasa yaaahhhh" kata Mutia pada sopir yang disediakan Sebastian khusus untuk dirinya.
"Baik nyonya" jawab sopir itu dengan sopan.
Mereka tiba dan di sana Dena sudah menunggu di depan resto.
"Kok cepet?" tanya Mutia.
"Kan lebih deket kak" imbuh Dena.
"Bentar, aku hubungin Angel juga dech biar ikutan merapat" sahut Tania dan memanggil Angel by phone.
Mereka bertiga masuk, dan mulai memesan makanan. Angel datang menyusul.
Dan rapat dengan rekanan Mutia Bakery pun telah berjalan lancar. Semua opsi yang diajukan oleh Tania mawakili Mutia Bakery telah disetujui oleh rekanan. Karena semua opsi sangat menguntungkan kedua belah pihak, dan tak ada yang merasa dirugikan. Tania menyusun dengan sangat detail, sehingga kedua belah pihak merasa puas.
"Sama-sama kak. Aku juga makasih atas segala bantuannya" imbuh Mutia.
Tania keluar resto bersama Angel dan rencana akan balik kantor terlebih dahulu sebelum Arka menjemput untuk langsung ke prof. Abraham.
.
Sementara itu di Panapion, Arka menyandarkan kepalanya di sandaran kursi duduknya dan mulai memejamkan mata.
Ada lima tumpukan berkas menggunung di depannya.
Mata nya mulai kabur melihat tulisan kecil-kecil yang berbaris rapi.
Arka menelpon Pandu, untuk memesankan secangkir kopi tanpa gula untuk asupan.
Tak berapa lama, Pandu sendiri yang mengantarkan ke ruangan Arka.
"Kenapa kau sendiri yang ke sini?" tanya Arka.
"Kebetulan aku tadi memang mau ke sini tuan. Dan ketemu karyawan pantry, makanya sekalian aja kubawa" tukas Pandu dan menaruh kopi tepat di depan Arka.
"Pandu, selama aku tak ada. Gimana pergerakan Smith dan Arkan?" tanya Arka. Karena selama dia rehap, Pandu dan Arga tak menyinggung sedikitpun tentang mereka.
"Karyawan yang ditaruh di sini saya amati aman-aman saja tuan. Belum ada yang mencurigakan" beritahu Pandu.
"Bilang ke Arga jangan lengah sedikitpun. Kamu pun juga harus begitu" perintah Arka.
Arka menyeruput kopi yang dibawa Pandu barusan.
__ADS_1
"Huh, akhirnya terang kembali nih mata" gumam Arka. Dan kembali meraih bandelan kertas satu demi satu.
Semua laporan sebenarnya telah dikirimkan Pandu saben hari by email. Jadi Arka hanya mengecek barangkali ada yang terlewat.
Ponsel Arka berdering, Tania yang menelpon.
"Halo sayang" sapa Arka.
"Aku sudah balik kantor, ntar kalau jadi jemput langsung sini aja" beritahu Tania.
"Jadilah. Tungguin. Bentar lagi aku juga sudah selesai" terang Arka.
"Baiklah. Bye sayang" ucap Tania dan mengakhiri panggilannya.
.
Dan disinilah mereka berdua sekarang. Di ruang tunggu tempat praktek dr. Abraham SpOG (K). Menunggu giliran untuk masuk.
"Biasanya dianterin sapa ke sini?" tanya Arka.
"Ya nenek sama mama Rosa lah, masak minta anterin Arga sama Pandu" jawab Tania sewot, membuat Arka gemes ingin mencium.
"Andai nggak di tempat umum gini, sudah habis tuh bibir" bisik Arka di telinga Tania.
Membuat Tania semakin sewot saja. Arka malah tersenyum menanggapi.
"Nyonya Tania Fahira, silahkan masuk" panggil petugas pendaftaran.
Tania berdiri dan berjalan diiringi Arka.
Tiba di dalam, prof. Abraham mendongak.
"Hei Arka. Datang juga kau akhirnya. Nggak kasihan apa sama istri kamu tuh" godanya.
"Dia selalu menangis loh kalau ke sini" imbuhnya terbahak.
"Idih nggak begitu konteksnya. Aku menangis karena akhirnya ada kecebong suami yang mau nyangkut Om. Jadi terharu gitu ceritanya" tukas Tania.
"Ooooooo..." ucap Om Abraham dan Arka bersamaan. Sengaja menggoda bumil yang satu ni.
"Nggak lucu ah" sungut Tania.
Kembali Abraham dan juga Arka tertawa kompak.
"Ayo, naiklah. Jadi periksa nggak nih" ujar Om Abraham mengakhiri sesi bergurau.
Tania pun mengikuti apa kata sang dokter.
Naik ke tempat tidur pemeriksaan untuk ANC (Ante Natal Care).
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝