Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Bertemu Mutia


__ADS_3

Dengan diantar sopir, Tania berangkat ke Mutia Bakery.


Sampai di lobi, ternyata Mutia juga barusan datang.


Diantar Sebastian malah.


"Hei bumil" sapa Sebastian ke arah Tania yang sudah duduk dengan menyilangkan kaki di sana.


"Istri kamu bumil juga" tukas Tania. Terpaut dua bulan usia kehamilan mereka.


"Ayo kak masuk" ajak Mutia mempersilahkan.


Tania mengikuti arah Mutia jalan.


"Apa CEO Blue Sky punya pekerjaan baru?" sela Tania yang melihat Sebastian lebih bucin ke Mutia akhir-akhir ini.


Sebastian menoleh dengan mengernyitkan alis. Pasti nggak bagus endingnya, kalau seorang Tania menanyakan itu.


"Apa maksudnya?" tanggap Tian.


"Apa seorang CEO seperti kamu, nggak ada kerjaan lain selain ngikutin istri?" ledek Tania.


"Ha...ha....santai bos ku. Kan ada Dewa yang bisa diandelin kapan aku mau" balas Sebastian terbahak.


"Untung Dewa nggak komplain kerja dengan sistem romusa...he...he..." sindir Tania.


"Nggak lah. Kan balance dengan bonusnya...wekkkk. Dewa aja diam kenapa kau repot" balas Sebastian ke Tania.


"Sudah...sudah...silahkan duduk kak" lerai Mutia di antara keduanya.


"Terus suami kamu apa kabar tuh?" tanya Sebastian saat Tania menaruh pantatnya di kursi.


Tania mengangkat kedua bahu.


"Kalian masih nggak saling telpon dan nggak saling kasih kabar? Hubungan yang aneh" cela Sebastian.


"Biarin" tukas Tania, karena saat ini dirinya mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu.


Aneh juga sih, suami istri nggak saling kabar kurang lebih hampir tiga bulanan.


Tak ada orang yang tahu, jika sedang sendiri tak jarang Tania juga sering menangis. Rasa rindu pada sang suami.


Tania yakin Arka pun merasakan hal yang sama.


Tania hanya bisa berpikir positif dan mendoakan agar Arka baik-baik saja dan lekas pulih dari cedera dan luka operasi.


"Kak, kok melamun sih?" tanya Mutia yang menghampiri Tania dengan menyodorkan minuman hangat untuknya.


"Makasih ya" balas Tania.


"Sayang, aku pergi dulu. Takut diomelin Dewa" canda Tian.


"Heemmmm" jawab Mutia.


Setelah mengecup kening sang istri, Sebastian juga pamitan ke Tania.


"Bye Tania. Baik-baik sama istriku" kata Sebastian berlalu cepat sebelum dapat timpukan Tania.


Mutia hanya bisa geleng melihat sang suami dengan sang sahabat yang sudah bagai saudara hubungannya.


"Apa kabar kak Arka, kak?" tanya Mutia.

__ADS_1


"Jangan mulai dech" sambung Tania.


"He...he...hanya basa basi ajah" ucap Mutia.


Tania mulai mengeluarkan berkas di tas ransel, tanda pembicaraan serius mau dimulai.


"Kak, kuambilin kue ya?" tawar Mutia.


"Oke, sementara aku bersiap dulu" kata Tania mengiyakan.


"Baiklah, aku turun dulu" pamit Mutia berlalu meninggalkan Tania yang sibuk dengan berkas.


Dena masuk, "Eh kak. Mana kak Mutia?" yang datang untuk mencari sang bos.


"Turun ambil kue" bilang Tania.


"Oke dech kak, aku susulin aja" bilang Dena.


Sepeninggal Dena, ponsel Tania berdering. Panggilan dari Pandu.


"Halo, pagi-pagi nelponin. Ada yang urgen?" tanya Tania.


"Nyonya muda di mana? Aku susulin" kata Pandu menegaskan.


"Jangan dulu, aku masih ada urusan dengan Mutia Bakery" tolak Tania.


"Kalau gitu habis makan siang aku ke sana. Nyonya jangan kemana-mana" tandas Pandu.


"Ada apa?" karena dari kemarin Pandu juga belum menginfokan apa-apa. Tapi ini kok mendadak banget.


"Nanti saja nyonya, aku sampaikan saat bertemu" tukas Pandu.


"Baiklah" sambut Tania karena tak ingin berdebat.


"Yang ini nanti nitip buat nenek sama mama Rosa ya kak" ucap Mutia sambil menaruh sebuah paper bag di samping Tania.


"Iya, makasih" balas Tania.


"Oh ya Mutia, ini silahkan cek dulu. Klausul kerjasama yang akan Mutia Bakery ajukan untuk rekanan di kota B" Tania menyodorkan berkas yang ditatanya tadi.


Mutia menerima dan meneliti pasal demi pasal yang telah disusun rapi oleh Tania.


"Kau hebat kak, bahkan saat akan bekerjasama aku nggak berpikiran sedetail ini" imbuh Mutia saat berhenti di pasal terakhir.


"Apa? Main percaya aja gitu?" tukas Tania.


"Begitulah" balas Mutia terkekeh.


"Teman adalah teman. Kalau bicara bisnis lain lagi" Tania menambahkan.


Mutia paham akan hal demikian, tapi kadang perasaan tak berjalan sesuai logika.


"Jadi orang baik itu nggak salah. Tapi baik kalau mau dimanfaatkan jadinya nggak baik Mutia...he...he..." Tania terkekeh.


"Oh ya kak, apa kabar kehamilan?" tanya Mutia.


"Kamu sendiri?" tanya balik Tania.


"Kehamilan ini nggak neko-neko sih kak. Nggak banyak nyusahin. Ngidam juga biasa aja" ulas Mutia.


"Biasa ajah apa? Wong kamu minta mobil sport keluaran terbaru gitu?" ledek Tania.

__ADS_1


"Limited edition lagi, apa nggak engap tuh Sebastian..." lanjut Tania dengan olokannya.


"He...he...harus nunggu sebulan sih kak. Baru dapat" ucap Mutia tersipu.


"Tau sendiri kak ceritaku seperti apa" Mutia menambahi.


"Tau. Aku sudah baca di novel 'Wanita itu ibu anakku'. Bener kan?" Tania kembali tertawa.


"Kakak belum cerita loh, kehamilannya gimana?"


"Ha...ha...garing" kata Tania tersenyum kecut.


"Tapi kalau aku ngeluh ke kamu. Rasaku ini mungkin tak sebanding saat kau hamil Langit ya?" imbuh Tania.


"Masing-masing sudah ada takaran beda-beda kak. Tinggal bagaimana kita menyikapinya" kata Mutia bijak.


"Aku harus banyak belajar dari kamu Mutia. Belajar berjiwa besar, tentang bagaimana kau begitu mudah memaafkan Sebastian waktu itu" kata Tania.


"Ha...ha...hidup apa yang dicari kak? Bukankah hidup tenang dan bahagia adalah endingnya. Aku sudah dapat semua itu. Sebastian yang telah banyak berubah, anak-anak lucu dan sehat. Dan kehamilan ketiga ini adalah bonusnya" cerita Mutia sambil mengelus perut yang membuncit.


"Benar...benar...aku setuju dengan kamu" balas Tania menimpali.


"Setiap orang punya ceritanya sendiri, tergantung bagaimana kita menyikapi" lanjut Tania dengan sok bijaksana.


"Betul"


"Balik lagi, ke berkas nih. Ada yang kau koreksi nggak? Terus kapan rencananya kamu akan bertemu pihak kedua untuk penandatanganan?" tanya Tania.


"Nggak kak, itu malah lebih dari detail yang aku maksud. Makasih ya sudah ditambahin" imbuh Mutia.


"Sama-sama" balas Tania.


"Aku nunggu Pandu di sini nggak papa kan?" tanya Tania.


"Nggak papa kak. Lagian lama juga kita nggak ketemu. Bahkan waktu acara tiga bulananku kakak nggak datang" ulas Mutia.


"Maafin dech, kamu tahu sendiri. Malam kejadian sebelum acara kamu. Bahkan sampe sekarang aku juga belum nemuin tuh yang namanya Arka Danendra" ada nada gemas di suara Tania.


"He...he...yang sabar ya kak" kali ini Mutia menimpalinya dengan candaan.


"Kurang sabar apa lagi coba" tukas Tania malah terbahak. Mereka berdua saling berbalas candaan dan bertukar cerita.


Kali ini Tania banyak belajar dari Mutia yang lebih berpengalaman seputar kehamilan. Banyak ilmu yang terserap di luar teori yang dibaca dari buku yang dikasih nenek Gemmy.


Tak berselang lama, ponsel Tania kembali berdering.


"Pandu" bilang Tania sesaat memandang layar ponsel.


"Angkat aja kak" bilang Mutia.


"Halo Nyonya, aku menunggu di bawah" jelas Pandu saat panggilannya tersambung.


"Wait" balas Tania. Dan langsung menutup panggilan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


πŸ’


__ADS_2