
Arga mengetuk pintu kemudi mobil Arka. Arka yang sedang melamun karena menunggu kedatangan Arga terlihat terlonjak. Diapun membuka pintu mobil yang terkunci.
"Geser loe" suruh Arga. Arka pun menggeser pantat ke kursi sebelah.
"Apa dengan melamun, istri loe akan cepat ditemukan?" omel Arga.
"Diam loe, gue sudah pusing tau" Arka membalas ledekan Arga.
"Kita susuri lokasi ini. Perintahkan Pandu dan yag lain ke titik ini" bilang Arga.
"Aku yang pegang kemudi" bilang Arga. Dia tak akan membiarkan Arka mengendarai mobil di kala pikirannya kacau.
"Lantas darimana kamu bisa melacak keberadaan istriku?" Arka masih belum mengerti bagaimana Arga dengan sangat yakin mengetahui lokasi keberadaan Tania sekarang.
"Cincin nikah kalian" jawab Arga dengan mata tetap konsentrasi ke jalanan.
"Loh?" tukas Arka tak percaya.
"Loe ingat nggak saat Tania diculik oleh rekan kerjanya waktu itu?" sela Arga.
"Heemmmmm" jawab Arka.
"Mulai dari situ aku kepikiran akan keselamatan semua. Bahkan Pandu dan aku juga pakai sesuatu agar mudah terlacak jika terjadi sesuatu pada kita" terang Arga.
"Oke, lekas kamu bilang di mana sekarang posisi istriku. Dia masih masa pemulihan, nggak mungkin dia bisa melawan penculiknya" kata Arka kuatir.
"Makanya ini kita menuju ke sana bos" imbuh Arga menjelaskan.
Arka lebih banyak diam.
.
Sebastian dan Dewa juga berhasil membawa mobil rental yang dipakai untuk menculik Tania.
Dengan akalnya, Dewa juga menemukan sidik jari Tania dan penculik di dalam mobil.
"Sepertinya mereka tak tahu jika kita berada di pihak lawan Wa" kata Sebastian.
"Iye bos. Makanya dengan mudah dia menyerahkan mobil ini" imbuh Dewa.
"Aku kok curiga dengan pemilik rental itu ya" bilang Tian.
"Postur dan bentuk bahu nya persis sama dengan orang yang terekam di cctv rumah sakit" lanjut Tian.
"Kita pantau orang itu saja bos" usul Dewa.
"Aku setuju. Perintahkan anak buah kamu untuk mengikuti orang yang kita curigai itu" suruh Tian.
"Oke bos" tukas Dewa menyetujui.
"Kasihan Tania kalau tak segera ditemukan" dijawab anggukan Dewa.
"Wa, sepertinya ada info dari Arka. Mereka sedang menuju suatu lokasi" kata Sebastian saat membuka ponsel.
"Apa sudah terlacak?" ucap Dewa.
Sebastian mengangguk.
"Kok mudah sekali lokasinya terlacak. Pasti ada yang salah sepertinya tuan?" terka Dewa.
Sebastian pun menautkan alis, feeling Dewa sering banyak benarnya.
"Coba kita pantau saja. Semoga feeling kamu kali ini nggak benar" balas Tian.
__ADS_1
Ponsel Dewa berdering, dan sepertinya dari anak buah yang diperintahkan untuk mengikuti sang pemilik rental mobil.
"Halo tuan Dewa, ijin melaporkan. Orang yang diketahui sebagai pemilik rental, seperti sedang membawa wanita yang mirip dengan foto yang di share oleh anda tadi" laporan anggota itu.
"Share lok" perintah Dewa.
Sebastian menautkan alis, saat melihat hasil share lok yang dikirim oleh anak buahnya di grub chat.
"Aneh, kenapa arahnya berlawanan dengan yang diinfo oleh Arka yang tadi?" ujar Sebastian.
Sementara Dewa masih serius mendengarkan anak buahnya melaporkan.
"Berapa orang yang kamu bawa Bowo?" tanya Dewa.
"Berdelapan tuan, dengan dua mobil" jawab anak buah yang dipanggil Bowo itu.
"Pantau terus pergerakan orang itu. Kalau perlu kamu hadang duluan. Aku sama bos akan menuju ke lokasi yang kamu kirim" jelas Dewa memberi intruksi.
Sudah hampir tiga jam mereka semua menelusuri keberadaan Tania. Semua bergerak dengan segala analisa kemungkinan.
.
Arka dan Arga sedang mengikuti pergerakan sebuah sinyal yang diidentifikasi berasal dari Tania.
"Mereka sepertinya berhenti di suatu tempat" ujar Arka dengan serius memandang layar ponsel.
"Tepian barat kota? Bukannya itu di daerah danau?" tukas Arga.
"Sepertinya iya" Arka sangat kenal dengan daerah itu. Karena dia sama Tania sesekali masih berkunjung dan duduk di tepian danau.
Sampai di sana, tak ada siapapun.
"Sial, kita sepertinya terkecoh" umpat Arka.
Dan tak lama, Pandu pun datang. Dilihatnya sang bos menendang batu, karena kesal tak didapatinya sang istri di sana.
"Apa kamu sudah menemukan petunjuk lain Pandu?" tanya Arka.
Pandu hanya bisa geleng kepala. Karena perintah Arka untuk menelusuri lewat sinyal dari anting Tania belum didapat olehnya.
"Sepertinya nyonya muda belum menyalakan perangkat. Jadi semakin susah kita mengetahui keberadaannya" terang Pandu.
Arka mengacak rambutnya karena gusar dengan keadaan. Tak tahu seberapa frustasinya dia saat ini.
Arga mendekati sang sahabat sekaligus bos nya itu.
"Anak buah Sebastian sedang mengikuti seseorang yang dididentifikasi sebagai istri kamu, dibawa dengan mobil menuju timur kota" beritahu Arga.
Arka mendongak, "Apa kamu bilang? Kita terlalu jauh dari lokasi yang dikirim Sebastian" tukas Arka kecewa.
Ada benda kelap kelip yang terjatuh di tanah. Dan tak jauh dari keberadaan Pandu.
"Apaan ini?" Pandu pun memungutnya.
"Lho bukannya ini memang cincin nyonya muda?" Pandu sangat hafal karena mirip dengan milik sang bos. Jelas saja sama, kan cincin nikah.
Arka menerima cincin yang diserahkan oleh Pandu.
"Kita telat Arga" ungkap Arka.
Analisa Arga yang pertama adalah benar adanya, tapi mereka terlambat datang ke tempat itu.
"Kita percayakan pergerakan anak buah Sebastian dulu bos. Dan sekarang ayo kita susul mereka ke sana" saran Arga dan juga Pandu.
__ADS_1
"Heemmmmm...baiklah" Arka mengikuti apa yang mereka saranin.
Ponsel Arka berdering, yang ternyata berasal dari Bara.
"Halo Arka, lihatlah pesan yang aku kirim" beritahu Bara.
"Bisa kamu beritahu duluan?" tukas Arka.
"Muka penculik istri kamu berhasil diidentifikasi" lanjut Bara.
Arka pun buru-buru menerima gambar yang dikirimkan oleh Bara.
Saat melihat, alangkah terkejutnya Arka.
"Benar orang ini Bara? Bagaimana bisa orang yang berada di rumah sakit jiwa menculik seseorang?" kata Arka tak percaya.
"Dia tak bergerak sendiri, ada orang yang membantunya" imbuh Bara.
"Siapa?"
"Orang yang mengeksekusi istrimu dari kamar adalah orang yang membantunya. Karena begitu istrimu berhasil dibawa keluar. Gambar orang tadi lah yang membawa istrimu pergi dari rumah sakit" lanjut Bara menjelaskan.
"Oke thanks Bara" jawab Arka menutup panggilan dari Bara.
"Gimana?" sela Arga yang ingin tahu juga info terbaru.
"Smith lah yang membawa Tania pergi dari rumah sakit" terang Arka.
"Lantas yang membawanya dari kamar? Dia bukan Smith loh" Arga menanggapi.
"Memang bukan, tapi dia pasti kenal dengan Smith" imbuh Arka.
Arga melajukan mobil ke arah timur kota seperti info dari anak buah Sebastian.
.
Sementara yang lain sibuk, Tania terlihat bergerak dari tidur panjangnya. Dia mulai menggeliat untuk meluruskan pinggang yang terasa kaku.
Tania buka mata, alangkah kaget dirinya saat menyadari kalau dirinya sedang berada di mobil.
Tania masih mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Apa yang terjadi? Bukannya aku tadi ada di rumah sakit?" gumamnya bermonolog. Kabin mobil yang tertutup, menyebabkan Tania tak bisa melihat bagian depan dan mengidentifasi orang yang membawanya saat ini.
"Apa aku diculik? Bayiku?" Pikiran Tania diliputi kecemasan. Takut terjadi apa-apa dengan bayinya.
"Aku harus menghubungi Arka" gumam Tania. Dia mencari-cari keberadaan ponsel yang seingatnya dia taruh di saku.
"Sial, ketinggalan lagi" gerutu Tania.
Mobil berhenti mendadak. Niat Tania, jika ada orang yang mendekati maka dirinya akan pura-pura pingsan agar bisa memahami situasi sekitar.
Terdengar langkah kaki mendekat ke tempat Tania berada.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
๐
Lama ngetik karena melihat Jojo vs Chiko, lanjut the Baby' s (Indonesia master 2023)