
"Lanjut Pah" seru Arka.
"Heemmmmm" gumam tuan Rendra.
Sejenak ada suara gangguan bunyi ponsel papa Rendra.
"Sori, kuangkat dulu" seru papa Rendra.
Arka hanya mengedikkan bahu.
"Iya, pulangku telat ntar. Nanti kukabarin" ucap papa Rendra menjawab panggilan.
Pasti itu si wanita ular. Batin Arka.
"Aku nggak akan macam-macam. Bukannya kau selalu mengancam akan mengatakan semua ke Arka. Begitu kan yang selalu kau ucapkan padaku?" seloroh tuan Rendra membuat Arka memicing, seperti memikirkan sesuatu.
"Si wanita ular" kata tuan Rendra tersenyum kecut, memberitahu siapa yang menelpon dirinya.
"Begitulah Arka, aku selalu menunda untuk memberitahu semua karena riwayat psikologi kamu yang tak begitu baik. Dan bahkan kau juga harus menjalani terapi panjang untuk mengobati sakit yang kau derita dan menghilangkan trauma berkepanjangan yang kau alami" imbuh tuan Rendra.
"Terus apa yang membuat papa yakin sekarang?" tanya Arka.
"Karena papa yakin, Tania ada untuk selalu mendukung kamu" papa Rendra menimpali.
"Lanjutkan lah Pah" Arka menyandarkan punggung di kursi dan mendengarkan cerita lanjutan tuan Rendra.
.
Semenjak mama mu dinyatakan sakit. Papa malah sering ke club, papa sering menghabiskan waktu untuk minum. Papa tak menyentuh mama mu karena takut melukai badan ringkihnya. Sungguh mama mu adalah wanita berhati malaikat. Meski dia tahu kalau suaminya telah banyak berubah dia tak mengatakan argumen sedikitpun.
Mama masih bekerja untuk Panapion di tengah jadwal rutin kontrol untuk pengobatannya.
Saat papa Rahardjo dan mama menyarankan berobat ke luar negeri, istriku dengan tegas menolak. Dengan alasan dia tak mau meninggalkan Arka dan juga dia yakin jika pengobatan dalam negeri pun tak kalah bagus dengan pengobatan luar negeri.
Hingga suatu malam aku dijebak oleh seorang wanita malam. Dia sangat tahu kalau aku adalah menantu dari keluarga konglomerat. Karena dia adalah mantan sekretaris tuan Rahardjo. Ya dia adalah istriku yang sekarang, Gaby.
Dia memberikan bubuk laknat di minuman. Dan diberikannya padaku. Karena pikiran yang sangat kalut, aku langsung meminumnya tanpa curiga sedikitpun.
Saat aku tersadar, aku sudah tak berbusana sama sekali. Bahkan aku tak ingat apa yang telah aku lakukan.
Kenapa aku tak menyelesaikan urusan itu? Pasti kau akan menanyakan itu Arka.
Karena begitu tersadar, sebuah notif pesan masuk ke ponsel.
Wanita itu mengirimkan ku sebuah foto dan video yang tak pantas. Dan dia berjanji akan menyebarkannya jika aku tak melakukan apa yang dia mau.
Bagai kambing bodoh yang dicucuk hidungnya, aku melakukan apa saja yang diminta olehnya.
Jika aku tak menurut, maka dia akan nekat untuk menemui mama kamu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Menyesalpun tiada guna, pikirku saat itu.
__ADS_1
Aku mulai setia mendampingimu mama mu lagi, karena merasa sangat bersalah padanya.
Meski saat itu kakek dan nenek kamu juga telah mengetahui semua. Kakek dan nenek memaafkan semua khilaf papa hanya karena memandang putri tunggalnya yang berlapang dada memaafkan kesalahan papa.
Ternyata wanita itu tak berhenti sampai di situ.
Dia benar-benar mengirimkan sebuah video yang tak pantas itu ke ponsel mama kamu. Tentu saja dia sangat kaget.
Mama kamu tak berpikir kalau aku tak sejauh itu mengkhianatinya. Dan yang terjadi kemudian adalah seperti yang kau tau waktu itu.
Aku sangat menyesal. Menyesal karena telah menyiakan wanita yang berhati malaikat, yang dengan bodohnya menerima laki-laki seperti diriku.
Aku terlalu picik saat itu. Tak berani mengatakan kepada tuan Rahardjo mertua ku.
Bahkan saat mendiang istriku berpesan untuk menjalankan Panapion untuk menunggu putra tunggalnya siap menggantikan, aku setujuin saja.
"Sekarang kau tau kan Arka, laki-laki macam apa yang sedang di depan mu ini" kata tuan Rendra tergugu.
Arka masih terdiam.
"Bahkan bila kau mau membunuhku, aku ikhlas nak. Kalau itu bisa menebus semua kesalahan papa" sambung tuan Rendra di sela isak tangis yang tertahan.
Saat kakek dan nenek sibuk dengan segala penanganan depresimu, wanita itu semakin menjadi.
Dia mengancamku lagi jika tak mengijinkan suaminya ikut kerja di Panapion.
Akhirnya suami Gaby tak masukkan ke Panapion. Berdasar ijazah yang dia punya, aku taruh di bagian administrasi.
Dengan segala prestasinya, dia aku angkat menjadi direktur keuangan. Tentu saja dengan persetujuan tuan Rahardjo selaku pemilik perusahaan.
Setelah itu dia pun mengajak Willam untuk dijadikan asisten. Lagi-lagi bagian HRD menyetujui, karena ada rekomku di sana.
Aku tahu semua sepak terjangku masih dalam pengawasan tuan besar Rahardjo.
Saat menjadi direktur keuangan itu lah suami Gaby mulai berulah.
Banyak kebocoran keuangan perusahaan. Dan ayahnya Tania lah yang tahu pertama kali.
Ayah Tania, Tuan Bagus Priyanto menghadap langsung ke tuan Rahardjo.
Sebagai seorang staf di bagian keuangan, ayah Tania tentu saja banyak mengetahui rahasia di sana.
Hingga tiba-tiba pagi itu tuan Rahardjo mertua papa melakukan sidak di bagian keuangan. Terjadi bersitegang entara tuan besar dengan dirut keuangan itu.
Aku yang menjadi CEO saat itu bahkan dipanggil oleh tuan Rahardjo langsung.
Tuan Rahardjo sangat marah saat itu. Perusahaan yang dibangun mulai dari nol mau dihancurkan oleh sekelumit orang tak bertanggung jawab.
Direktur keuangan yang terjepit mulai menodongkan senjata ke arah tuan Rahardjo dan mulai menarik pelatuk.
Tuan Bagus yang berada di belakangnya, bergerak cepat untuk mengambil senjata suami Gaby.
__ADS_1
Tapi tak disangka, senjata yang berhasil direbut oleh tuan Bagus meletus tepat mengenai jantung sang direktur keuangan. Kejadian itu begitu cepat terjadi.
Dan ditangkaplah tuan Bagus dengan tuduhan pembunuhan. Meski kejadian itu tak disengaja oleh tuan Bagus.
William yang juga berada di sana saat itu, juga menjadi saksi saat persidangan ayah Tania. Bahkan dia saksi satu-satunya yang ikut memberatkan putusan hakim.
Tuan Rendra menjeda cerita, saat nenek Gemmy masuk ke ruang kerja.
Di belakangnya Tania membawakan dua cangkir kopi panas untuk kedua laki-laki itu.
"Kalian nggak makan malam dulu?" tanya nenek.
"Ntar aja nek, nanggung" sela Arka.
"Kasihan papa kamu Arka. Pasti sudah lapar" imbuh nenek.
Tuan Rendra terharu, mama Gemmy tetap saja baik setelah semua perbuatan yang dilakukan kepada keluarga Rahardjo.
"Maafkan aku Mah" ucap tulus tuan Rendra.
"Aku sudah memaafkanmu Rendra, jauh sebelum kamu meminta maaf. Sekarang sudah saatnya kau menjauh dari wanita ular itu. Terbukti kan ancamannya tidak ada yang berjalan sesuai rencana nya" kata nenek Gemmy diplomatis.
"Dan perlu kamu tahu Tania, ayah kamu meninggal saat sebulan sebelum dibebaskan. Kakek Arka saat itu sudah menyewa pengacara terbaik untuk meringankan vonis ayah kamu" beritahu nenek menyambung cerita tuan Rendra.
"Apa pengacaranya adalah tuan Hadinoto?" tanya Tania.
"Bukankah kau bekerja di kantornya sekarang karena ingin tau kebenarannya?" sela Arka.
"Iya juga sih" seloroh Tania menggaruk kepala yang tak gatal.
"Tau gitu aku nemuin papa Rendra aja yach biar dua tahunku tak terbuang sia-sia di sana" ucap Tania memperjelas.
"Kalau kau tak bekerja di sana, bisa jadi kita nggak bakalan ketemu" tukas Arka.
"Tapi Pah, aku menemukan sebuah berkas yang sepertinya terkait dengan kasus ayah" beritahu Tania.
Alis tuan Rendra bertaut.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
💝
Salam sehat buat semua 🤗
__ADS_1