
"Cih, pake acara perkenalan lagi" kata Tian kala melihat Davina dan Arkan.
"Yaaaaaacchhh biarin aja, kamu dulu juga gitu" ledek Arka.
"Emang abang lihat? Nggak kan" imbuh Sebastian menjawab ledekan Arka.
"Tania sudah cerita semua" sambung Arka
"Kalian kok malah nostalgia sih, lihat tuh acara jumpa pers nya. Barangkali ada yang mencurigakan" sela Dewa.
"Ngapain repot, kan ada kamu yang ngawasin" sanggah Sebastian.
"Dasar bos nggak ada akhlak" gerutu Dewa.
.
Dalam siaran jumpa pers itu, dengan bangga Davina memanggil Arkan yang sedang berdiri di ujung panggung.
Tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Banyak juga yang ngefans dengan Arkan ternyata.
"Sayang, sini!" panggil Davina menjauh sedikit dari mikrofon di depannya.
Arkan mendekat.
"Maaf menyela di antara acara inti" ujar Davina mulai bersuara.
"Saya akan memperkenalkan tunangan saya, Arkan" sebut Davina.
Arkan mengulum senyum sok berwibawa. Bagai pengusaha kaya yang sedang jaga image.
Banyak juga wartawan yang bertanya pada sosok Arkan. Dan Arkan hanya menjawab seperlunya saja. Aura dingin nampak sekali kali ini.
Dengan sok anggun, Davina lah yang banyak menceritakan kehidupan seorang Arkan.
"Tunangan saya ini adalah seorang pengusaha batubara. Dan bahkan banyak usaha lain yang sedang menjadi proyeknya" cerita Davina membanggakan Arkan.
Arka tersenyum smirk ke arah kamera.
Davina bahkan penuh semangat menceritakan kapan rencana mereka berdua naik pelaminan.
Acara yang sejatinya menjadi pers release film yang dibintangi oleh Davina, malah menjadi ajang pribadi Davina.
Seorang wartawan yang duduk di belakang mengangkat tangan.
"Iya tuan? Satu pertanyaan!" tunjuk pembawa acara ke pewarta yang mengangkat tangan tadi.
"Baik, di sini mungkin saya mewakili teman-teman ingin bertanya pada tunangan nona Davina. Tuan Arkan" ucapnya.
Arkan mengangguk tanda ia mengijinkan wartawan itu bertanya.
"Terima kasih tuan. Saya hanya ingin klarifikasi dari anda pada sebuah berita yang menyatakan kalau anda terlibat dalam kasus ilegal loging yang tren di tahun lalu. Apa benar itu tuan?" tanyanya.
Arkan masih menatap dengan tatapan dinginnya, "Kalau ada keterlibatan saya dalam kasus itu, tentunya saya tak akan berdiri di sini di hadapan anda semua. Pastinya saya akan meringkuk di dalam dinginnya penjara" ujar Arkan.
"Baik, terima kasih" kata wartawan yang bertanya tadi.
"Silahkan penanya lain" lanjut sang pembawa acara.
Pewarta barisan depan pun mengangkat tangan.
__ADS_1
"Iya, silahkan. Sama dengan yang lain, satu pertanyaan" ucap pembawa acara.
"Baiklah. Di sini saya juga mengharap klarifikasi anda dengan kasus penculikan pengacara terkenal ini. Tania Fahira" ujarnya membuat seluruh ruangan terkaget.
Karena sebelumnya tak terdengar berita apapun tentang semua itu.
Bahkan Arkan juga nampak kaget, meski perubahan ekspresinya tak semua bisa melihat.
"Saya harap pertanyaan nya tidak keluar dari konteks ya" sela sang pembawa acara.
"Apa tanggapan anda tuan?" cerca sang pewarta.
"Saya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini" ulas Arkan.
"Tapi sebuah sumber terpercaya mengatakan kalau anda lah orang yang menculik nyonya Tania Fahira?" kata wartawan itu semakin memojokkan Arkan.
"Apa maksud anda? Kalau sampai ucapan anda tak terbukti, akan kutuntut anda dengan pasal pencemaran nama baik" sela Davina.
"Maaf Nona Davina, di sini saya mengklarifikasi bukan menjudge tuan Arkan. Camkan itu" tegas pewarta menanggapi kata-kata Davina.
"Bahkan nyonya Tania Fahira sampai sekarang belum ditemukan" lanjut sang pewarta.
Situasi di acara konferensi pers itu pun menjadi tak kondusif lagi.
Semua yang ada di sana akhirnya memastikan, apa berita yang disampaikan oleh pewarta itu benar adanya. Seorang pengacara diculik saat habis melahirkan di sebuah rumah sakit. Dan ternyata benar, berita penculikan Tania sudah menjadi trending topik di sosial media.
Tentu saja selamatnya Tania, sengaja tak dimunculkan.
Arkan turun panggung setengah keburu.
Dia lantas memerintahkan anak buahnya untuk pergi dari acara ini.
"Sayang, mau kemana?" Davina mengejar Arkan yang mendadak pergi.
Davina bersungut karena Arkan meninggalkan acara yang bahkan belum ada separo acara.
Di mobil Arkan menghubungi anak buahnya untuk segera membawa Tania dari stasiun.
.
Di markas Sebastian, di waktu yang sama saat jumpa pers Davina.
Hanya tinggal Arka dan Sebastian. Yang lain ditugaskan Arka untuk memporak porandakan markas Arkan yang berada di sisi sejajar bengkel kepunyaan dirinya.
"Cih, konferensi pers nggak modal. Ngikut premier film" olok Tian.
"Tuh lihat perubahan ekspresi saat nama Tania disebut" komen Arka.
"Ternyata mudah juga memancing Arkan" tambah Arka.
"Dan dia pasti sekarang otewe markas besarnya, sambil menunggu kedatangan Tania jadi-jadian...he...he..." imbuh Tian.
"Umpan kamu benar-benar jitu bang" puji Tian.
"Darimana aku belajar banyak? Semua dari kamu. Bahkan memviralkan berita tentang istriku pun juga dari kamu" Arka memberi pernyataan ke Sebastian.
Tian hanya bisa mengedikkan bahu.
"Siap-siap aja bang, habis ini istrimu akan jadi seleb dadakan" ledek Tian.
__ADS_1
"Kamu itu sangat teliti kalau menyelesaikan problem perusahaan" pujian Arka untuk Sebastian.
"Biasa aja, jangan terlalu memuji. Takut jatuh nih gue...he...he..." tukas Tian.
Mereka tertawa setelah saling ngobrol.
Ponsel Sebastian berdering bersamaan dengan ponsel Arka.
Mereka saling tatap.
"Istri kita kenapa kompak sekali?" gurau Arka, saat Sebastian melakukan hal yang sama. Menunjukkan layar ponsel ke arah Arka.
Mereka lagi-lagi terbahak bersama.
Kali ini mereka tak ingin turun langsung. Biarlah menjadi urusan Arga, Dewa dan Pandu.
.
Di markas Arkan, Arkan kaget melihat beberapa nak buahnya dalam kondisi terikat.
"Siapa yang melakukan?" ucap Arkan dengan kilat mata merah menahan emosi.
"Markas kita diserang oleh musuh tuan, tapi aku tidak tahu mereka dari kelompok mana" terang salah satu anak buah.
Jawaban itu semakin membuat Arkan emosi, karena tak tahu siapa musuhnya sekarang.
Kalau Arka Danendra tak mungkin, karena Tania masih di bawah kendaliku. Pikir Arkan saat ini.
"Lantas siapa mereka?" tanya Arkan dalam gumaman.
"Tidak ada orang yang tahu, pusatku ada di sini. Hanya orang-orangku saja yang tahu" sambung Arkan bermonolog.
Arkan menelpon anak buahnya yang membawa Tania.
"Bawa wanita itu ke markas pinggiran kota" perintah Arkan.
Tak menunggu jawaban Arkan langsung saja memutus panggilan itu.
"Aku harus balas dendam secepatnya, karena ulah ayahnya aku menjadi yatim" kata Arkan dengan tangan mengepal erat.
Semua gerak gerik di markas Arkan, ternyata sudah tersambung di layar monitor depan Arka dan Sebastian.
"Ha...ha...belum tahu dia, siapa kita" celoteh Sebastian.
"Emang enak dikerjain" imbuh Arka.
"Tapi bang, barusan Dewa ngabarin kalau di sana tidak ditemukan barang bukti apapun. Sepertinya ada markas lain milik Arkan" ucap Tian.
"Bukannya tadi dia bilang markas pinggiran kota ya?" sambung Arka menanggapi.
"Aman bang, anak buah kita ada beberapa yang mengikuti pergerakan anak buah Arkan yang membawa gadis itu. Dan kita juga harus mempertimbangkan keselamatan wanita yang pura-pura menjadi Tania" timpal Tian.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π