
Arka pun menutup panggilan. Sementara ponsel dia posisikan siaga, jika sewaktu-waktu Pandu menelpon.
Tak sengaja Arka melihat beberapa pesan masuk, salah satunya dari Arga.
"Yank, Arga memang dalam bahaya. Aku harus menyusul Pandu" kata Arka.
Tania menautkan alis, kenapa sekarang sang suami sangat yakin dengan kondisi Arga.
"Bukannya masih prediksi saja sayang? Kenapa nggak nungguin kabar Pandu aja?" tukas Tania.
"Nih!" Arka menyodorkan pesan yang di kirim oleh Arga saat waktu masih agak sorean.
"Ini sinyal bahaya begitu kah?" telisik Tania, belum mengerti bahasa kode dari Arga.
"Heemmmm" Arka mengangguk.
"Kode apaan itu? Aneh" ungkap Tania. Mana ada sinyal bahaya dengan menulis 'Miss Bro'.
"Ya memang itu bahasa kita" jelas Arka dengan tawa khasnya.
"Aku nyusul Pandu ya" pamit Arka.
"Bentar yank, jangan-jangan semua ada kaitannya dengan tuan Anton?" terka Tania.
"Ingat pas kita secara tak sengaja ketemu di depan resto waktu itu" lanjut Tania.
"Waktu memaksa istrinya untuk nemuin kamu?" Arka menimpali.
Tania mengangguk.
"Tapi apa mungkin seorang suami menyandera istrinya?" Arka merasa aneh aja jika itu memang menjadi alasannya.
"Bisa jadi, untuk membuat Arga keluar dan menolong ibunya. Meski Arga sangat membenci nyonya Suti, tapi dia tak mungkin membiarkan mamanya dalam bahaya. Kamu seperti tak tahu Arga yank, tampangnya aja dingin. Tapi sebenarnya hatinya baik" puji Tania.
"Aku tahu itu" imbuh Arka.
Arka berangkat menyusul Pandu.
"Yank, nggak usah pergi kemana-mana. Kalau perlu bilang Angel kalau kamu nggak ngantor hari ini" larang Arka.
"Tapi hari ini Maura hari pertama kerja" beritahu Tania.
"Apa? Kamu akan menyambutnya? Nggak usah ya" kata Arka kekeuh dengan pendapatnya.
"Baiklah tuan muda. Hati-hati. Love you" ucap Tania untuk menyemangati sang suami yang akan berangkat dalam misi penyelematan Arga.
Dalam hati, Tania berharap semua yang dibahas barusan tidak benar-benar terjadi. Karena semua masih perkiraan sebelum ada kabar dari Pandu.
"Pak, ke daerah ini ya" suruh Arka ke sang sopir yang kali ini menyertainya.
"Baik tuan muda" jawabnya dengan mengangguk sopan.
Arka menghubungi Pandu, yang menurut perkiraan Arka pasti sudah sampai lokasi yang dimaksud.
"Pandu, sudah sampai? Gimana lokasinya?" tanya Arka.
"Perkampungan sepi tuan. Dan semua gelap. Kita masih proses penyusuran ini" terang Pandu.
"Selalu waspada" Arka mengingatkan.
"Baik tuan" jawab Pandu.
"Lebih cepat pak!" suruh Arka.
Sang sopir pun menambah kecepatan di jalan yang nampak lengang itu.
.
Pandu berjalan merunduk saat mendengar suara di salah satu rumah kosong di depannya.
Dia meminta semua anak buahnya untuk hati-hati.
"Hanya rumah itu yang nampak ada kehidupan" gumam Pandu. Karena hanya rumah itu yang ada nyala lampu.
__ADS_1
Pandu melihat sekeliling. Nampak beberapa orang tergeletak. Dan ada juga beberapa orang yang nampak siaga menjaga orang-orang yang sudah terkapar.
Pandu meminta yang lain untuk sembunyi, sebelum paham situasi.
"Sepertinya mereka dari kelompok yang berbeda" pikir Pandu.
Sebelumnya Pandu harus bisa memastikan bahwa Arga benar-benar berada di sana.
Karena Pandu tak mengenal orang-orang itu.
Pandu dengan salah satu anak buahnya berjalan memutar untuk mencari keberadaan Arga, sementara yang lain dimintanya tetap sembunyi dan siaga.
Sudah setengah jam berkeliling, Pandu belum juga menemukan Arga.
Pandu melihat ponsel untuk memastikan kembali lokasi yang dikirim sang bos, nyatanya memang benar tempat ini.
Terdengar sayup-sayup suara orang mengancam yang lain.
"Apa Arga di sana?" telisik Pandu.
Kebetulan ada lubang kecil sehingga pandangan Pandu bisa masuk ke dalam ruangan.
Ada sosok laki-laki yang berumur sedang pegang senjata dan sepertinya dia bersiap menembak. Tapi siapa dia? Batin Pandu.
Karena lubang yang tak terlalu besar, pandangan Pandu hanya terbatas ke orang itu.
"Sialan, nggak nampak yang lain" gerutu Pandu.
"Coba kamu lihat dari lubang yang lebih kecil itu!" suruh Pandu karena baru melihat ada lubang di dekat anak buahnya.
Dengan sigap, anak buah yang dibawanya itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Pandu.
"Ada tuan Arga di dalam tuan. Tapi sepertinya tuan Arga terluka dan terikat. Kedua matanya juga lebam" beritahunya.
"Oke, fix. Karena ada tuan Arga di dalam. Kita harus secepatnya menyelamatkannya" perintah Pandu.
"Oh ya, bilang yang lain. Kita masuk lewat sisi yang berseberangan dengan para penjaga di depan tadi" Pandu mengutarakan taktiknya.
"Siap tuan" Dia bergegas memanggil teman-temannya sesuai yang diperintahkan oleh sang bos.
Arka yang masih dalam perjalanan pun telah menerima apa yang disampaikan oleh Pandu.
"Pak, berhenti saja di daerah sini" suruh Arka. Arka akan memantau saja.
"Sepertinya ini jalan masuk utama ke daerah yang dikirimkan Pandu tadi" gumam Arka.
Beberapa iringan mobil melewati mobil Arka yang terparkir.
"Apa itu tadi? Banyak sekali yang lewat"
Kebetulan Arka melihat salah satu wajah orang yang bawa mobil karena lampu dalam mobil yang menyala.
"Apa tadi itu Smith?" tanya Arka masih ragu.
"Kalau memang benar, bisa jadi itu Smith dan para anak buahnya. Aku harus selekasnya menghubungi Pandu" pikir Arka.
Pandu menerima pesan dari Arka agar selekasnya membereskan urusan ini, karena rombongan Smith yang akan datang.
Pandu beserta anak buahnya meringsek masuk dari arah yang berbeda.
"Kita harus bergerak dalam diam" bisik Pandu ke yang lain.
Untung saja orang yang dibawanya adalah orang-orang terlatih dan terbiasa bergerak cepat.
Posisi Arga yang menyandar di dinding, memudahkan Pandu untuk membisik dari baliknya.
Arga yang mendengar suara Pandu, meski sangat lirih terdengar. Bagai mendapat oase di tengah gurun. Bala bantuan datang. Pikir Arga.
Aku harus bergeràk kali ini. Ada nyawa yang akan jadi korban kalau hanya diam di sini.
Kebetulan Anton sedikit terbatuk yang agak menganggu konsentrasinya.
Dengan pergerakan yang cepat, Arga menendang lengan Anton yang memegang senjata sehingga senjata itu terpental jauh.
__ADS_1
"Beraninya kamu!" hardik Anton dan berlari hendak meraih senjata yang jatuh tadi.
Dan.
"Dor......" tedengar suara tembakan.
Pandu dan yang lain meringsek masuk untuk membantu Arga.
Ternyata penjaga yang berada di depan tadi melakukan hal yang sama.
Pandu mengira mereka adalah musuh, bersiap untuk menerima serangan dari mereka.
Arga yang memahami situasi pun, "Stop kalian" kata Arga tegas.
Mereka pun hanya saling mengawasi.
Sementara Anton sudah di bawah kendali Pras.
"Kita satu kubu" terang Arga yang saat itu juga melepas ikatan sang mama.
Mama langsung saja menghambur memeluk Arga. Putra yang sangat dicintai olehnya.
"Adegan sinetronnya ntar aja. Kita harus secepatnya menyerahkan laki-laki licik ini ke pihak berwajib" sela tuan Pras.
Pandu yang tak mengenal laki-laki yang sudah cukup dewasa itu mengernyitkan alisnya.
"Dia papaku" terang Arga yang melihat Pandu seperti mengharap penjelasan darinya.
"Dan mereka semua anak buah papa" imbuh Arga menambahkan.
"Oh ya, kita harus secepatnya pergi dari sini. Smith dan anak buahnya sedang meluncur ke sini" bilang Pandu dan meminta yang lain untuk mundur dari tempat itu dengan cepat karena info dari Arka yang didapatnya.
"Ha....ha...bala bantuanku akhirnya akan datang juga" tawa Anton kembali terdengar. Meski kondisi tangan terikat dan kaki tertembak, dia masih saja mengancam. Arga yang gemas pun menyumpal mulut Anton dengan lakban.
.
Smith dan anak buah nya datang setelah tempat itu bersih.
"Shittttt....kita kalah cepat" umpat Smith.
"Anton....kamu sialaaaannnnn" teriaknya kemudian.
Permintaan Anton untuk mengirimkan bala bantuan, tapi ternyata Smith kalah cepat dengan yang lain.
Smith sendiri tidak tahu dari kelompok mana yang menyerang Anton duluan.
"Sial...sial..." umpatnya lagi.
Kelompok Smith meninggalkan tempat itu, karena sudah tidak apa-apa di sana.
Keluarlah orang-orang Pandu dan juga kelompok Pras dari persembunyian.
Ternyata mereka semua masih di sana sedari tadi.
"Sialan kalian" umpat Anton saat mulutnya dibuka dari lakban yang menutupinya.
"Ha...ha...kamu tak pantas banyak bicara lagi" Pras terbahak menanggapi.
Tak lama kemudian Arka datang dengan membawa bala bantuan dari kepolisian.
Anton dan juga anak buahnya digelandang tak bersisa.
Arga menghampiri Arka dan Pandu, "Makasih Bro" dijawab senyuman Arka.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝