
Dan disinilah Tania sekarang, tepat di hadapan tersangka Arkan.
"Ini berkas-berkas yang perlu kamu tanda tangani" kata Tania memulai pembicaraan.
"Dan ingat, harus saling percaya" tandas Tania.
Arkan mangangguk dan langsung menandatangani semua.
"Kok nggak kamu baca terlebih dahulu?" tanya Tania dengan menarik beberapa berkas.
"Aku percaya padamu. Bukankan harus ada rasa saling percaya seperti yang kamu minta" terang Arkan.
"Tahu nggak kamu baca sama sekali, akan kutulis nominal yang besar dong bos. Biar anak cucuku ntar nggak usah repot lagi cari kerja" canda Tania.
"Sialan" kata Arkan sembari terbahak.
Tania pun ikutan ketawa.
"Tengil juga kau" olok Arkan.
"Yeeee....baru tahu dia" seloroh Tania menimpali.
Mereka pun terbahak bersama. Tak ada takut-takutnya Tania menghadapi penjahat kelas kakap itu.
"Jadi ketemu Davina?" tanya Arkan begitu tawanya terhenti. Kali ini wajah serius mulai nampak dari seorang Arkan.
"Yaapppp...barusan aku dari sana" terang Tania.
"Bagaimana tanggapannya?" tanya Arkan penasaran.
"Seperti biasa. Acuh dan sadis" jelas Tania sembari tertawa.
"Apa maksud kamu?" sela Arkan makin penasaran.
"Kau ini seperti tak mengenal tunangan kamu aja sih. Davina kan memang terkenal karena sombongnya bos" imbuh Tania.
"Beneran?" Arkan masih tak percaya.
"Sudah nggak usah dibahas. Percuma mbahas sesuatu dengan orang yang buta sosmed" kata Tania.
"Sialan, kamu mengolokku???" umpat Arkan.
"Bodo amat" tanggap Tania.
"Jadi cerita nggak nih?" tanya Tania.
Arkan mengangguk.
"Awalnya Davina menolak kedatanganku, karena dia mengira aku hanya mampir untuk mengoloknya saja. Dia cukup kaget sih dengan bersedianya aku menjadi pengacara untuknya" kata Tania.
"Apa Davina mau menerima bingkisan dariku?" tanya Arkan penasaran.
"Issshhhh berasa jadi kurir diriku" celetukan Tania membuat keseriusan Arkan buyar seketika.
"Dan sori bro, untuk jasa kurir ini akan aku klaim belakangan. Dan ini di luar konteks klausul kerjasama tadi ya?" ulas Tania.
Arkan menepuk jidat, "Baru tahu aku, istri Arka Danendra benar-benar matre" olok Arkan.
"Ha...ha...mumpung ada job tambahan. Musti dimanfaatin dong" Tania terbahak lagi.
Angel yang bersama mereka sampai terbengong melihat Tania yang nampak santai saja menghadapi penjahat sekelas Arkan. Bukan hanya kelas kakap lagi tapi kelas paus. Karena saking banyaknya tuduhan yang ditimpakan kepada seorang Arkan.
__ADS_1
"Oke, karena semua sudah kau tanda tangani. Maka akan kupelajari kasus kamu terlebih dahulu" bilang Tania.
"Untuk sementara kamu belum akan dipindah. Nunggu berkas kamu lengkap dan diserahkan ke kejaksaan" jelas Tania.
"Aku sudah belajar itu lama. Aku juga lulusan hukum" terang Arkan.
"Sialan... Njelek-njelekin alumni hukum aja loe" tukas Tania.
Tania jengkel dengan pengakuan Arkan barusan.
"Semua karena kamu" sahut Arkan.
"Dendam kamu yang salah alamat?" ledek Tania.
"Nasi sudah menjadi bubur, sekarang fokus aja ke pembelaan kamu. Di sini aku hanya bisa berdoa, semoga yang ketuk palu nanti baik hati dan aku divonis bebas" tandas Arkan masih saja bergurau.
"Bebas gundulmu" olok Tania. Arkan terbahak menanggapinya.
Tania tak habis pikir dengan pola pikir Arkan sekarang.
"Aku menyesal Tania. Baru kali ini mataku kebuka. Kenapa aku tak mengenalmu sedari dulu" ungkap Arkan mulai serius.
"Gila kamu. Mana mungkin kamu mau mengenalku, wong dalam otakmu itu hanya dipenuhi rasa ingin menjadikan ku hantu. Iya kan?" ledek Tania.
"Hantu Non?" sela Angel.
"Iya lah, yang dia pikir selama ini kan hanya ingin membunuhku" ungkap Tania.
"Itu dulu Tania. Sekarang sudah nggak kok. Pissss" balas Arkan dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
"Lha kamu keburu diciduk pihak berwajib, makanya urung kamu lanjutkan" timpal Tania.
"Lah, kalau aku mau bisa dilanjut loh. Tinggal perintah aja" tandas Arkan.
Tania mulai membuka berkas yang diminta oleh Angel dari pihak penyidik.
"Aku tak menyangka, segini tebalnya berkas tuduhan untuk kamu" kata Tania.
Tania menguap begitu saja di depan Arkan tanpa sungkan.
"Sori bos, ngantuk gue. Kubawa pulang aja" seru Tania tanpa sungkan.
Arkan hanya bisa geleng kepala menghadapi pengacara somplak yang selalu ingin dirundungnya itu.
"Terserah loe dech" ucap Arkan pada akhirnya.
Tania balik ke mansion saat hari sudah menjelang tengah hari.
"Lama juga pertemuan hari ini" gumam Tania.
"Gimana nggak lama, banyak ngobrolnya" imbuh Angel.
"Ha...ha...aku juga heran kok sama diriku sendiri. Kalau sudah ngobrol kok jadi kebablasan" Tania kembali terbahak.
Angel hanya bisa menepuk jidat akan ulah sang bos, "Au ah gelap" gumam Angel.
"Oh ya Non, jaga kondisi. Persidangan tuan Arkan pasti akan perlu waktu yang lama dan lumayan berbelit-belit" ucap Angel mengingatkan.
Tania membenarkan apa kata Angel barusan.
.
__ADS_1
Malam hari sambil nungguin Arditya yang sudah lelap. Tania mulai membuka-buka berkas yang dibawanya dari kantor penyidik.
Pasal apa saja yang dikenakan kepada Arkan.
Belum juga selembar yang dibaca, my Husband calling.
"Halo sayang" kata Tania membuka obrolan.
"Belum tidur? Bukannya di sana sudah tengah malam yank?" tanya Arka.
"Kalau aku tidur, mana bisa aku nerima telpon darimu yank" jawab Tania. Lagian aneh aja suaminya nanya begitu.
"Kangen aku yank" ucap Arka.
"Kalau kangen pulang dong. Sudah tahu kangen itu berat, masih aja pergi" celetuk Tania.
"Bukan kangen itu berat, yang benar rindu itu berat" ralat Arka.
"Sama aja bosssss... Baru kemarin pergi kamu sudah berubah aja" kata Tania.
"Berubah gimana?" timpal Arka.
"Berubah layaknya Dylan...ha...ha..." Tania terbahak membuat Arditya menggeliat dan Tania langsung menghentikan tawa.
"Kok langsung berhenti aja tawanya?" tanya Arka heran.
"Lupa kalau Arditya sudah tidur" Tania menutup mulutnya.
"Mana Arditya, lihat dong" pinta Arka. Tania memutar arah kamera.
"Uluh...uluh...anak papa nyenyaknya. Pasti udah kenyang ya? Papa masih lapar nak, lama tak dapat jatah dari mama" ucap Arka yang kalau didengar berasa tidak enak di telinga Tania.
"Kamu menyindirku yank?" sela Tania.
"Syukurlah kalau ada yang merasa" imbuh Arka di ujung telpon.
"Ha...ha...kapan-kapan kalau pulang ya Nak. Pasti akan kujatah" kata Tania meneruskan dengan memanggil Arka laiknya dia memanggil Arditya.
"Beneran yank, jadi ingin pulang sekarang" kata Arka menimpali.
"Pulang lah kalau bisa" Tania merasa menang sekarang.
"Sudah ah. Daripada aku meriang mikirin jatah menjatah, mendingan aku tidur aja" ujar Arka hendak mengakhiri panggilan telpon itu.
"Love you Arka Danendra, saranghae" ucap Tania sebelum panggilan terputus.
"Love you too. Oh ya, ngimpiin aku ya jangan yang lain apalagi pasal-pasal di depan kamu tuh" olok Arka.
"Isssssshhhh" sungut Tania. Inginnya membalas olokan Arka, tapi malah sambungan telpon terputus begitu saja.
Tapi benar apa yang dikatakan Arka barusan. Lebih baik sekarang meluruskan pinggang. Besok dimulai lagi. Lagian mata Tania sekarang berasa di lem, rasanya lengket sekali ingin segera diistirahatkan.
Tak butuh waktu lama, terdengar dengkuran halus nafas Tania. Tanda dia sudah menyusul terbang mencari keberadaan Arka, meski hanya lewat mimpi.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π