Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Cerita Sebenarnya


__ADS_3

Hari-hari yang harusnya difokuskan untuk mempersiapkan pernikahan, Arka dan Tania malah disibukkan dengan pekerjaan.


Seperti pagi itu Tania mendampingi tuan Rendra karena dipangggil penyidik. Sampai saat ini status tuan Rendra masih belum berubah, tetap menjadi saksi.


"Tuan, apa anda yakin kalau dalam video ini adalah anda?" tanya penyidik memastikan lagi.


"Apa anda menemukan sesuatu yang baru tuan?" sela Tania.


"Apa anda mempunya tanda lahir di pundak kanan anda?" lanjut pertanyaan.


"Tidak ada" tegas tuan Rendra.


"Boleh kami lihat?" tandasnya. Tuan Rendra mengangguk lagi.


Dan setelah dipastikan, ternyata memang tak ada tanda lahir di pundak kanan tuan Rendra.


Penyidik mengezoom video itu, "Tolong lihat lebih teliti lagi tuan" suruh penyidik.


Tuan Rendra menggeleng, "Sepertinya itu bukan saya" jelasnya.


"Bisa cerita kronologi kejadian lama itu, seingat anda saja" seloroh penyidik.


Tuan Rendra menceritakan bagaimana dia dijebak dan berakhir di ranjang hotel dengan badan polos tanpa sehelai benang. Hingga kejadian dia diancam dan sampai menikah siri dengan Gaby.


Kenapa dia tak melapor sedari lama, tentu saja karena alasan reputasi perusahaan dan juga kesehatan sang istri yang saat itu sedang sakit.


Meski begitu tuan Rendra tetap mengakui bahwa yang di awal video itu adalah dirinya. Saat diberitahu pertama kali, dia tak mau melihat semua durasi video yang ada. Sehingga tak tahu semua itu hanyalah akal-akalan Gaby.


"Kalau begitu, motif penyebaran video ini sudah jelas" imbuh penyidik.


"Dan kami telah menemukan penyebar pertama kali video ini" beritahu penyidik itu.


"Kami diijinkan tau Tuan?" ucap Tania.


Petugas itu menyebut sebuah nama.


"Hah?" Tania melongo tak percaya.


"Apa anda mengenalnya?" tengok penyidik ke arah Tania.


"Kenal tuan, dia asisten tuan Hadinoto bukan?" timpal Tania.


"Hemmm...itu hasil temuan kami yang terakhir" lanjutnya.


"Kami akan secepatnya menangkap orang itu, akan kami kenai pasal penyebaran video p*rn**rafi" janji penyidik.


"Bahkan orang-orang kami telah meluncur ke kantor tuan Hadinoto" lanjut nya.


"Baik tuan. Kami ijin permisi dulu" ucap Tania.


"Terima kasih tuan Rendra, nona Tania atas kerjasamanya" penyidik itu menyalami Tania dan juga tuan Rendra.


.


"Maafkan papa, telah membuat kau repot Tania" ucap tulus tuan Rendra.


"Sudah menjadi tugas seorang pengacara Pah...he..he..." Tania terkekeh.

__ADS_1


"Oh ya Pah, barusan ada pemberitahuan kalau aparat besok akan mengadakan konferensi. Mereka akan memberikan keterangan, yang secara tidak langsung membersihkan nama baik papa" terang Tania.


"Sampai konferensi pers segala?" tanya tuan Rendra.


"Ya iya, karena kasus ini menjadi sorotan publik. Maklumlah yang terkena kasus kan penggedhe dari Panapion" celetuk Tania dengan tawa yang renyah.


"Ah, kau bisa saja" tuan Rendra ikutan tertawa.


"Beruntung Arka mendapatkan kamu Tania" kata Tuan Rendra.


Ponsel Tania berdering, "Panjang umur dia Pah. Baru saja diomongin sudah nelpon saja dia" tukas Tania menunjukkan panggilan video dari Arka.


Tuan Rendra tertawa.


"Halo" sapa Tania.


"Sudah selesai belum? Langsung Panapion aja" suruh Arka.


"Kok ada papa?" sudut mata Arka memicing.


"Iya, aku nebeng mobil papa. Mobilku mogok lagi kemarin" beritahu Tania.


"Ish kau ini, kenapa nggak bilang sih. Tau gitu kamu kujemput aja" ketus Arka.


"Kan papa juga mau ke Panapion, lebih baik bareng aja sama papa. Hemat BBM tau" seloroh Tania.


Arka memutuskan panggilan sepihak.


"Idih ngambek, kayak anak TK aja" gerutu Tania.


"Ha...ha...putraku seposesif itu ternyata" kata tuan Rendra terbahak.


.


Sampai di Panapion semua karyawan membungkuk hormat saat berpapasan dengan tuan Rendra dan juga Tania.


Mereka hanya tau kalau Tania adalah kepala divisi hukum yang baru, dan saat ini dekat dengan CEO.


"Tania, papa balik ruangan papa aja. Daripada kena amukan singa jantan yang mau kawin" canda tuan Rendra.


"Kalau ada pawangnya, semua dijamin aman kok tuan" sela Pandu menimpali ucapan tuan Rendra.


Arka masih saja bersungut, tawanya sangat mahal untuk saat ini.


"Pandu, ngebakso aja yuk ke kantin. Daripada aku bingung mau ngomong sama siapa di sini" ajak Tania ke Pandu.


"Beneran Nona? Rejeki nomplok nih" tanggap Pandu sumringah.


"Siapa yang mengijinkan" sela Arka masih dengan muka bersungut.


"Pandu, apa ada aturan mau makan bakso musti minta ijin?" Tania menatap Pandu. Demikian juga Arka. Pandu sekarang merasa jadi umpan, ke kiri kena ke kanan pun kena.


"Maaf Nona, nggak jadi aja. Terima kasih tawarannya" Pandu langsung ngibrit keluar ruangan CEO.


Tania hendak melangkah keluar, jengah juga dicemburui tidak pada tempatnya. Cemburu ke papa kandungnya sendiri. Aneh nggak sih? Aneh sih menurut Tania.


"Berani keluar, kubahiskan tuh bibir" ancam Arka.

__ADS_1


Tania masih mengeja kata-kata Arka barusan. Dan reflek menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan.


Tania berbalik dan melotot ke arah Arka. Tapi kalah cepat dengan gerakan Arka yang menangkup wajah Tania dan mem4gut bibir Tania. Tania tak diberi kesempatan menghindar.


Arka baru melepas saat Tania kehabisan nafas, "Itu baru hukuman ringan" bilang Arka terkekeh.


Tania ganti yang bersungut.


"Gimana hasilnya tadi?" tanya Arka tanpa merasa bersalah.


Tania diam tak menanggapi.


Arka mendongak karena belum mendapat jawaban dari Tania.


"Bibirku bengkak" keluh Tania.


"Ha...ha...itu belum seberapa" Arka terbahak melihat ekspresi Tania.


Tania menceritakan semua, kalau sebenarnya pelaku dari video itu bukanlah papa Rendra sepenuhnya. Papa hanyalah menjadi intro dan penutup.


"Heemmmmm. Begitu ya? Kenapa papa sampai tidak tahu? Dan begitu saja mau dibodohi" celetuk Arka.


"Yaaah...anggap saja itu sebuah keteledoran untuk pembelajaran ke depan" imbuh Tania.


"Status papa hanya dijadikan saksi. Dan kamu tahu nggak, siapa yang pengunggahnya?" Tania sudah lupa dengan bibir bengkaknya.


"Anthoni, asisten tuan Hadinoto" timpal Arka.


"Hah? Bagaimana kau tahu?" sela Tania penasaran.


"Karena informasi Dewa lah, penyidik langsung bertindak" beritahu Arka.


Kali ini Tania merasa ditikung oleh tunangannya sendiri. Jelas-jelas dia yang pegang kasus ini, tapi malah dapat informasi belakangan.


"Bahkan Anthoni akan menyeret juga bos kamu, untuk menemani dia menginap di kantor penyidik" lanjut Arka.


"Sampai sejauh itu, aku bahkan tak tahu" sahut Tania.


"Yang tenang, Hadinoto kena, Gaby pasti akan kena. Setelah Gaby kena, Wiliam pasti akan terseret"


"Dan kita cukup jadi pengamat saja. Tak perlu mengotori tangan kita untuk mengatasi manusia-manusia culas macam mereka" kata Arka dan Tania mendengarkan.


"Jadi itu maksud kamu, sekali mengayuh dayung dua tiga pulau terlampaui?" tanya Tania dan dijawab anggukan Arka.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga dong iklannya


💝

__ADS_1


Salam sehat buat semua 🤗


__ADS_2