Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Sidang Perdana (2)


__ADS_3

Tania berusaha keluar dari kerumunan pewarta, dibantu oleh beberapa pengawal Arka. Meski mereka tak muncul secara jelas, tapi Tania tahu ada beberapa utusan sang suami untuk mengawalnya.


Tania masuk ruang sidang, dan langsung menempati tempat duduk sebagai kuasa hukum terdakwa.


Di seberang juga sudah duduk tim jaksa penuntut yang memegang kasus Arkan.


Salah satu di antara mereka ada seorang teman seangkatan Tania waktu kuliah hukum.


Tania tak mengatakan apapun. Karena saat ini mereka berposisi berseberangan. Tania sebagai pembela dan temannya itu sebagai penuntut.


Pengunjung pun juga ramai berdatangan ke sidang Arkan kali ini. Ada yang membenci ada juga yang simpati terhadap kasus yang sangat menyita perhatian publik itu.


Tanpa disangka Arkan juga menjadi idola baru, nyatanya banyak pewarta yang datang di sidang perdana ini. Aneh juga, penjahat kelas kakap muncul sebagai sosok idola. Hanya di dunia halu pasti adanya.


Seorang panitera sidang memberitahukan bahwa hakim akan memasuki ruang sidang. Semua yang hadir diharap berdiri.


Hadirin disilahkan duduk, setelah semua hakim duduk di tempat yang disediakan.


Hakim pun membuka sidang perdana untuk kasus Arkan ini.


Tania menikmati sekali suasana kali ini. Lama dia tak berhadapan dengan situasi menegangkan seperti ini.


Hakim meminta jaksa untuk menghadirkan terdakwa di tengah ruang sidang.


Dengan petugas dari lapas mengiringi, Arkan masuk ke ruang sidang dengan pandangan lurus ke depan. Tak ada keraguan sedikitpun bagi Arkan berada di sana.


Hakim menanyakan kondisi Arkan dan siap tidak nya mengikuti persidangan kali ini.


Arkan menjawab dengan tegas bahwa dia siap lahir batin untuk mengikuti semua proses sidangnya. Arkan bahkan mengenalkan identitas dirinya secara rinci tanpa diminta oleh hakim.


Arkan juga menyatakan bahwa Tania Fahira adalah kuasa hukumnya saat ini dan untuk selanjutnya.


Tania memberikan surat kuasa dan juga surat ijin praktek pengacara yang telah dikantonginya lama. Sejenak ketua sidang meneliti berkas yang diberikan oleh Tania tadi.


Dan tibalah saatnya jaksa penuntut menyampaikan dakwaan atas kasus yang dituduhkan kepada terdakwa Arkan. Bahkan hakim juga mengingatkan Arkan agar menyimak semua pasal yang dituduhkan kepadanya.


Karena kasus yang dituduhkan termasuk pidana berat, sampai hampir satu jam jaksa membaca tuntutan yang ditujukan kepada Arkan. Arkan sangat menikmati ruang sidang ini. Aneh bukan?


Tuduhan atas kepemilikan obat terlarang dan terbukti mengedarkan adalah kasus yang akan dituduhkan untuk sidang kali ini. Jaksa penuntut mengakhiri pembacaan tuntutan.


Untuk selanjutnya hakim menyilahkan Arkan sebagai terdakwa untuk melakukan pembelaan atau eksepsi. Boleh Arkan sendiri yang menyampaikan atau diwakilkan keduanya. Atau bahkan keduanya boleh menyampaikan eksepsi.


Tampak Tania dan Arkan berembuk di depan.


"Baiklah yang mulia, saya yang akan mewakili terdakwa untuk menyampaikan pembelaan" Tania berdiri untuk menghormati sidang kali ini.


Tania keberatan atas pasal yang dituduhkan penuntut atas kepemilikan obat terlarang, terutama soal jumlah barang bukti. Dengan berdasarkan itu, harusnya terdakwa bisa dikenakan pasal lain yang tentunya akan berbeda hasil akhirnya.


Untuk selebihnya Arkan menerima tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum.


Sidang perdana ini berjalan lumayan lancar. Setelah berjalan dua jam lebih hakim memutuskan untuk mengadakan sidang selanjutnya yaitu sidang pembuktian. Karena sebelum memutuskan, hakim memerlukan pemeriksaan alat bukti dan juga bukti-bukti yang diajukan.


Tania duduk kembali di samping Arkan.


"Dua hari lagi loe akan duduk seperti ini lagi dengan kasus yang berbeda" terang Tania.


"Kepemilikan senjata apa dan pencucian uang?" tukas Arkan.


"Tuan saatnya balik lapas" kata petugas dari lapas memberitahu Arkan.


Arkan beranjak, dia berusaha kooperatif akan semuanya.


"Heemmmm, ingat dua hari lagi" tandas Tania mengulang kembali agar Arkan ingat.


Arkan digelandang kembali ke mobil tahanan. Seperti saat masuk ruang sidang dia dikerubutin para pewarta yang ingin mendapat berita dari terdakwa.


Tapi mana boleh terdakwa memberikan keterangan pers. Makanya Arkan berlalu begitu saja melewati mereka.


Tania keluar ruang sidang, lewat pintu yang berbeda dengan Arkan. Tania tak ingin kejadian dia masuk tadi kembali terulang.

__ADS_1


Tak sengaja dia bersua dengan salah satu jaksa penuntut di kasusnya tadi.


"Heeiii, kamu Tania kan?" tanyanya.


"Apa kabar? Kamu Kenzo kan?" tanya Tania.


"Iya...ternyata dunia sempit juga. Jauh-jauh sekolah ke Amrik, balik sini ketemunya loe lagi" ucapnya sembari terbahak.


"Heemmmm...betul juga apa kata loe. Kemana aja baru kelihatan?" tanya Tania.


"Aku magang di Amerika. Abis lulus hukum di sini, aku dapat beasiswa di Amerika" terang Kenzo.


"Sukses ya... Gue duluan" kata Tania dan hendak berjalan menjauh dari Kenzo.


"Bentar dong, boleh minta nomer kontak loe" pinta Kenzo.


Tania menyerakan ponselnya agar Kenzo menulisnya di sana.


"Nih, sudah" Kenzo menyerahkan ponsel Tania kembali.


"Oke, ntar aku calling dech" tukas Tania yang sudah keburu karena ditungguin Maura dan Angel di mobil.


"Tania, kamu kenal sama jaksa yang tadi? Hati-hati bisa kena tuduhan penyuapan loe, karena menemui nya" bilang Maura mengingatkan.


"Otak loe ya, masih terpengaruh aja sama hawa-hawa sidang. Kalau gue temuin dia di tempat yang tersembunyi, bisa aja kena tuduhan seperti yang loe bilang. Tapi nih gue ngobrolnya masih di ruang pengadilan" elak Tania.


"Eh, jangan salah ya. Bisa jadi apa yang aku bilang ada benarnya" tukas Maura tak mau kalah.


"Iya...iya...gue akan hati-hati. Jaksa tadi tuh namanya Kenzo, temanku waktu kuliah strata satu jurusan hukum" jelas Tania.


"Wealah teman kuliah to Non, kirain fans baru nya Non Tania" sela Angel sembari tertawa.


"Dulu Kenzo memang salah satu fans berat ku" ujar Tania terbahak.


"Tapi takut duluan untuk ndeketin karena ada Sebastian dan Dewa yang selalu di samping aku" lanjut cerita Tania.


"Itu juga salah satunya" Tania terbahak kembali.


Maura kali ini yang setir.


"Mampir ke tempat makan lah. Laper gue" celetuk Tania dengan santainya dari belakang.


"Daerah sini tak ada resto yang recomen" beritahu Maura.


"Ada, siapa bilang nggak ada. Perempatan depan belok kanan, ntar kutunjukin" bilang Tania.


"Oke" kata Maura menimpali.


"Aku tahu yang kamu maksud Non, aku yang akan beritahu Maura dech letaknya" sela Angel karena mendengar ponsel Tania berdering.


"Halo sayang" sapa Tania ke Arka.


"Sudah selesaikah?" tanya Arka.


"Sudah, nih mau balik. Tapi masih nyari tempat makan duluan. Aku lapar" terang Tania.


"Share lok, kususul sama Pandu. Kebetulan aku berada dekat lokasi sidang kamu kali ini" jelas Arka.


"Jangan bilang kalau mau memata-matai diriku" tukas Tania pura-pura sewot.


"Ha...ha...itu salah satunya. Enggak lah yank. Kebetulan ada rapat di daerah situ dengan perusahaan rekanan" jelas Arka.


"Oke, aku share lok" tandas Tania sembari menutup panggilan dari Arka.


"Sebelah mana nih?" tanya Maura setelah membelokkan mobil sesuai arahan Tania.


"Tuh, sudah kelihatan. Depan kanan" jelas Tania.


"Sop buntut dan warung steak?" gumam Maura.

__ADS_1


"Heemmmm" Tania menimpali.


Sementara yang akan menunjukkan lokasi yang dituju, telah tidur pulas di depan. Siapa lagi kalau bukan Angel.


"Tinggalin aja dia, kebiasaan" kata Tania.


"Jangan dong, kasihan dianya" tukas Maura.


"Ntar biar suaminya yang mbangunin" imbuh Tania.


"Loh, emang Pandu mau ke sini? Pasti sama tuan Arka dong" sahut Maura.


"Emang begitu rencananya" jawab Tania enteng.


"Sialan loe, tahu gitu gue telponin laki gue juga" gerutu Maura.


"Ha...ha...gantian dong. Loe jadi obat nyamuk sekali-kali" olok Tania.


"Ogah gue, mendingan gue balik dan nyusulin laki gue ke Panapion buat makan siang bersama" kata Maura.


"Sampai sana, waktu istirahat sudah habis nyonya. Yang ada anda hanya akan menahan lapar dan haus" olok Tania kembali.


Maura lihat jam tangannya, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Tania.


"Sial...sial...." gerutu Maura membuat Tania kembali tertawa.


Tania duduk dan memesan menu yang memang menjadi andalan di warung itu. Sop buntut sekalian tenderloin steak.


"Minumnya?" tanya sang pelayan.


"Jeruk aja" imbuh Tania.


"Aku samain aja kak" kata Maura menyela.


Angel datang tergopoh karena ditinggalin Tania dan Maura.


"Kalian ini tega amat sih" sewot Angel.


"Bukannya lebih kasihan kalau ngebangunin orang yang baru aja tidur. Nggak enak rasanya tidur nanggung tuh" timpal Tania.


Belum juga pesanan datang. Arka, Pandu dan Benzema menghampiri ketiga wanita tadi.


"Loh???" Maura gantian yang bengong.


"Susulin sana ke Panapion" kali ini Maura yang menjadi bulan-bulanan Tania.


"Kenapa?" Benzema menghampiri Maura yang masih bengong. Dan yang lain menghampiri pasangan masing-masing.


"Siapa Kenzo?" tanya Arka tiba-tiba, membuat Tania langsung menatap sang suami. Bukannya nanyain jalan sidang. Malah nanyain Kenzo,salah satu jaksa penuntut yang ada di sidang tadi.


"Ha...ha...kasihan loe, ketangkep basah" gantian Maura mengolok Tania.


Tania hanya bisa menepuk jidat. Kalau nggak dijawab, bisa-bisa perang dunia ketiga.


Kebetulan makanan yang dipesan Tania datang.


"Kuceritain ntar aja, dicurigai pun butuh energi" kata Tania dengan santainya makan steak yang terhidang.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2