Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Positif


__ADS_3

Dan Tania pun melakukan apa yang diminta sang suami untuk berbaring di ranjang.


"Yank, tapi aku kenyang banget. Sumpah" kata Tania kembali duduk. Tentu saja perutnya berasa begah.


"Ya udah nggak jadi kuperiksa sekarang. Besok aja dech" tukas Arka.


"Besok kita pulang aja. Badan berasa capek juga kalau diam melulu di sini" ucap Tania.


"Lah, yang tadi maksa-maksa aku untuk rawat inap siapa? Kamu kan?" tandas Arka.


"Memang sih, tapi kamu kan sekarang sudah nggak apa-apa sayang" ujar Tania menanggapi.


"Apa kita pulang aja sekarang?" goda Arka.


"Ya enggak gitu kali" kata Tania sewot.


"He...he...berhubung sudah malam, ayo kita tidur" ajak Arka sembari ikut gabung Tania dalam satu ranjang.


Tania berbalik menghadap ke arah Arka.


"Pusingnya sudah beneran hilang yank?" Tania menegaskan. Dan Arka mengangguk.


"Aneh juga sakit kamu ya?" ulas Tania.


"Dibilangin aku nggak sakit, kamu aja yang tak percaya" imbuh Arka.


"Kita tidur yuk, besok aja kita persiapin pemeriksaan kamu" sambung Arka.


Tania diam, cuman masih merasa aneh dengan kata suaminya barusan dan kata Bara tadi sore. Arka yang pingsan berulang, malah dirinya yang disuruh periksa. Dasar dokter aneh kalian berdua. Gerutu Tania dalam hati.


Sementara Arka terlebih dahulu tertelap sambil memeluk sang istri.


Tania yang kekenyangan, tak perlu waktu lama untuk nyusulin Arka.


.


Pagi-pagi Tania menelpon mama Rosa. Dia meminta tolong mama untuk nyiapin baju ganti.


"Mah, tolong nanti baju aku sama Arka taruh satu koper kecil aja. Suruh aja pak sopir untuk nganterin ke sini" kata Tania.


"Iya aku siapin. Gimana keadaan Arka?" tanya mama Rosa karena belum menyusul keberaan putri dan menantunya itu di rumah sakit.


"Arka mah sehat-sehat aja Mah, dia di sini cuman pindah tidur" seloroh Tania sembari beranjak dari tidur.


"Oke, aku siapin dulu semua. Nanti aku minta tolong sopir untuk mengantar" tukas mama Rosa.


Tania pun mengakhiri panggilan untuk sang mama.


Tania masuk ke toilet.


Saat Tania keluar, tak didapatinya sang suami di ranjang.


"Yank...sayang" panggil Tania.


Hampir lima belas menit lebih Tania nyari, tapi tanpa rasa bersalah Arka masuk kamar.


"Dari mana aja?" telisik Tania.


"Nih" Arka menyodorkan sesuatu.


"Apaan nih?" tanya Tania.


"Nasi pecel, aku pesen dua bungkus nih" jelas Arka.


"Kamu itu sakit, kok sempat-sempatnya beli makanan sih yank?" tanya Tania heran.


"Aku kepingin banget tadi. Daripada nungguin kamu yang suka lama di toilet, aku keluar aja beli ini" jelas Arka.


"Yuk makan" ajak Arka.


Tania mengiyakan saja permintaan Arka, daripada mubadzir.


"Yank, beneran loh apa yang aku bilang semalam. Selesai sarapan kita ke poli obgyn" terang Arka.


"Nggak mau" tolak Tania.


"Kenapa?" tanya Arka.


"Kan bukan aku yang sakit yank" jelas Tania.


"Iya, tapi aku perlu kamu diperiksa. Agar diagnosa untuk sakitku jelas nantinya" jelas Arka.


"Emang ada kaitannya?" tanya Tania.


"Banget" imbuh Arka.

__ADS_1


Tania pun mau juga akhirnya. Tapi dengan syarat dia harus membersihkan badan terlebih dahulu.


Karena itu momen langka, Arka iyain saja apa kata istrinya, yang penting Tania mau diperiksa.


.


Dan disinilah mereka berdua sekarang. Di poli obgyn rumah sakit Suryo Husada.


Mereka berhadapan dengan dokter Anita.


"Loh, ini bukannya kak Tania istri dokter Arka?" tanya dokter Anita basa basi.


"Hhmmm jelaslah dok" Arka nimbrung.


"Ada yang bisa aku bantu dok?" tanya dokter Anita.


"Iya nih, tolong periksa istriku dok. Dari pasca melahirkan sampai sekarang kok belum datang siklus haidnya?" tanya Arka. Dia sengaja tak bilang, kalau dirinya curiga jika istrinya hamil. Cukup lah dia menjadi olokan Bara kemarin.


"Oke kak, naik aja ke atas bed periksa" pinta dokter Anita dan Tania pun melakukan itu.


"Oke kita mulai" terang sang dokter wanita itu.


Arka dan Tania saling melihat dan harap-harap cemas.


Perut Tania mulai dikasih gel dan diratakan oleh asisten dokter Anita.


Probe bergerak sesuai tangan dokter Anita.


Saat melihat pergerakan di layar monitor, Arka bisa menebak kalau itu sesuai perkiraan dirinya. Ada kehidupan baru di rahim sang istri.


Tania tak kalah terkejut.


"Aku hamil kah?" tanya Tania sembari menutup mulut.


Dirinya yang selama ini menyusui ekslusif Arditya tak mengira jika dirinya diberi rizki dengan jarak dekat seperti ini.


Dokter Anita yang mengangguk seolah sudah menjawab pertanyaan Tania.


"Berapa minggu dok?" tanya Tania yang sebenarnya dalam hati yang terdalam belum siap benar akan kehamilan ini.


'Bismillah aja, semoga selalu sehat' batin Tania bermonolog.


"Kelihatannya sih sudah delapan belas minggu" terang dokter Anita.


"Hah? Empat bulan. Gila kecebong gue ganas banget" imbuh Arka sembari terbahak.


"Ha...ha...oke kalau gitu. Hari ini kita pulang aja, nggak usah rawat inap lagi" tukas Tania.


"Semalam diajakin pulang nggak mau?" tanya Tania.


"Kan ini pulangnya buat kejar tayang sayang" imbuh Arka.


"Issshhhh apaan sih" sewot Tania.


Arka dibuat terbahak oleh kelakuan Tania barusan.


"Makasih dokter Anita yang baik, kita pamit duluan ya. Makasih" ujar Arka.


Mereka berdua telah keluar dari poli obgyn.


Saat sampai kamar tempat Arka dirawat. Tania duduk begitu saja di ranjang.


Tania syok dengan kabar barusan yang diterima dari dokter Anita.


"Delapan belas minggu yank, dia kusia-siain. Nggak minum obat, nggak periksa" jelas Tania.


Arka yang paham akan kondisi Tania sekarang berusaha untuk menenangkan sang istri.


Arka rengkuh tubuh sang istri, "Kita lalui bersama sayang. Sudah nggak usah sedih lagi. Bukannya ibu hamil musti bahagia? Kita syukurin apa yang sudah dititipkan kepada kita" terang Arka.


"Kita harus segera pulang, untuk kasih tahu berita bahagia ini kepada nenek Gemmy dan mama Rosa" terang Arka dan Tania pun mengangguk.


Arka pergi ke tempat para perawat jaga, tentu saja untuk pamitan. Urusan administrasi rumah sakit akan dia pikirkan nantinya. Toh Arka juga sering ke rumah sakit.


"Ayo yank!" ajak Arka.


"Heemmmm...jadi karena aku hamil, kamu pingsan kemarin. Terus minta aneh-aneh juga?" tanya Tania. Arka pun mengangguk.


"Makanya pemeriksaan kamu tadi itu penting untuk menegakkan diagnosa sakitku" ulas Arka sembari tersenyum.


"Terus saja ya nak, limpahkan aja semua ke papapu" ucap Tania sambil mengelus perutnya.


Tania tak habis pikir, kenapa dia tak ngeh dengan perubahan tubuhnya.


"Bodoh...bodohnya aku" kata Tania.

__ADS_1


"Jangan bilang begitu ah!!!" larang Arka.


"Mendingan kita segera kabarin orang-orang di rumah" sambung Arka.


"Iya sih. Ayo" Tania melenggang menggandeng lengan sang suami.


Di lorong rumah sakit, mereka ketemu dengan Bara.


"Wah, sepertinya diagnosa untuk sakit kamu sudah bisa ditegakkan bro?" sapa Bara.


"Ha...ha....pasti lah. Kalau nggak gitu mana boleh aku dipulangin oleh dia" kata Arka menunjuk sang istri sembari tertawa.


"Selamat ya atas hasil kejar tayang kalian sudah membuahkan hasil" kata Bara menyalami Arka.


"Ha...ha...siipppp bos. Hei, hari ini aku belum bisa visite. Aku pulang dulu ya" kata Arka.


"Oke, ntar kubilangin dokter lain untuk mewakili kamu" jawab Bara.


Arka dan Tania pulang langsung ke mansion.


Dan seperti biasa Arka menghubungi Pandu untuk menhandel kerjaan hari ini.


Demikian juga Tania menghubungi Angel untuk merescedule jadwal-jadwalnya.


Seingat Tania hari ini belum ada jadwal penting untuk didatangi.


Nenek Gemmy yang berada di ruang tengah, menghampiri cucu dan cucu menantunya itu. Nenek yang datang ke mansion langsung, saat diberitahu Tania jika Arka masuk rawat inap untuk menemani mama Rosa mengasuh Arditya.


"Arka kamu sakit apa? Apa kambuh?" telisik nenek dengan memandangi tubuh Arka dari atas ke bawah.


"Aman kok nek" bilang Arka.


"Aman bagaimana? Wong kamu sampai rawat inap begitu" ujar nenek. Ada rasa kecemasan tersirat di setiap kata yang diucapkan oleh nenek.


"Beneran nek. Nenek nggak usah cemas. Suerrrrr" ucap Arka.


"Doakan saja semoga semua lancar" sambung Arka.


"Nah kan? Kamu mau operasi lagi? Kok minta doa dilancarkan segala" tukas nenek Gemmy.


"Bukan nek" elak Arka.


"Lantas apa?" kejar nenek Gemmy.


"Sampaikan nggak yank?" tanya Arka ke Tania yang membuat nenek semakin gemas dibuatnya.


"Arka" panggil nenek.


"Jangan buat orang penasaran dong. Kamu itu kebiasaan dech" kata nenek bersiap untuk menimpukin Arka. Tapi Arka berhasil menghindar.


"Arditya mau punya adik" ucap Arka.


"Hah?" nenek gantian yang tertegun.


"Iya... Arditya mau punya adik. Sudah delapan belas minggu di perut istriku" kembali Arka menjelaskan.


"Alhamdulillah, akhirnya Arditya tak sendirian lagi" sela mama Rosa yang barusan muncul dari kamarnya Arditya.


"Mama sudah dengar?" tanya Tania.


"Apa? Kehamilan kamu kan?" dan Tania pun mengangguk.


"Selamat ya buat kalian. Semoga lancar dan diberikan anak yang sehat dan tak kurang suatu apapun" doa mama Rosa dan diaminkan semuanya yang ada di situ.


Kembali ponsel Tania berdering, Angel calling.


"Bukannya kamu sudah bilang kalau libur hari ini?" tanya Arka.


"Iya sih. Tapi aku angkat aja barangkali penting" ujar Tania.


Niat hati ingin mengutarakan agar sang istri mengurangi aktivitasnya. Tapi nyatanya itu akan mengalami hambatan dengan deretan jadwal yang sudah disetujui oleh sang istri sebelumnya.


Baiklah, kamu harus sering-sering temanin istri kamu kerja Arka. Janjinya dalam hati.


Apa bisa? Ya dipikirkan lagi nanti...he...he... Perang batin Arka, karena dia sendiri punya kesibukan yang juga sangat luar biasa.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2