Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Misi Pandu


__ADS_3

"Mutia, aku balik dulu. Makasih ya ini" ucap Tania dengan menenteng sebuah paper bag berisi kue buat nenek Gemmy dan mama Rosa.


"Sama-sama kak" balas Mutia.


"Oh ya kak, nanti pas waktu tanda tangan kerjasama. Aku minta waktunya. Oke?" kata Mutia.


"Baiklah. Tapi jangan info mendadak ya?" pinta Tania.


"Beres. Nggak mungkinlah. Aku tau kakak sibuk" tukas Mutia dengan tawanya.


"Oke dech. Aku balik dulu" Tania meninggalkan ruangan Mutia setelah cipika cipiki dangan sang empunya perusahaan Mutia Bakery .


Sampai di lobi Pandu menyambut dan meraih barang bawaan Tania.


"Ada apaan sih Pandu? Pakai jemput aku segala. Emang kau tak sibuk dengan urusan Panapion? Apalagi bos kamu tuh, pergi nggak tanggung-tanggung lamanya" kata Tania dengan segala macam omelannya.


Pandu terdiam dan terus mengikuti langkah Tania.


"Kamu kok diam aja sih? Ada apa?" tanya Tania menghentikan langkah dan menoleh ke belakang menatap Pandu meminta jawaban.


Pandu mengusap tengkuk, repot juga harus menjawab apa kepada sang nyonya muda. Kali ini dia kan hanya menjalankan misi.


"Pandu" panggil Tania lagi.


"He...he...i...iya...nyonya. Nyonya besar menyuruh langsung untuk menjemput anda. Beliau kuatir dengan nyonya muda" Pandu mencari alasan agar bisa dipercaya oleh Tania.


Membuat alasan yang pas dan rasional adalah tugas yang berat jika berhadapan dengan Tania.


Karena sang nyonya muda yang sangat pintar menelaah situasi.


"Nggak biasanya nenek begitu?" tukas Tania.


"Beneran nih? Disuruh nenek?" Tania menatap Pandu dengan pandangan menyelidik.


"Benar nyonya muda. Sueerrrr...Kalau tak percaya, anda bisa nelpon langsung nyonya besar dech" kata Pandu dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah mengarah ke atas.


"Heemmmm" Tania mengiyakan saja, tapi dalam hati masih merasa aneh dengan tingkah Pandu hari ini.


Kali ini ponsel Tania berdering lagi dan ada panggilan Arga.


"Ada apa sih kalian hari ini? Tadi pagi kamu yang nelpon. Sekarang Arga" celoteh Tania yang saat ini duduk di kursi belakang mobil.


"Hai Arga. Tumben loe nelpon?" Tania menyapa.


"Eh aku mau kasih tau kamu sesuatu" terang Arga di ujung telpon.


"Apaan?" Tania menyela.


"Kapan kau longgar aku samperin" imbuhnya.


"Siang ini aku sebenarnya kosong. Cuman kamu keduluan Pandu tuh" ulas Tania.


"Jadi kau sama Pandu sekarang. Aku susul dech" imbuh Arga.


"Ada apaan sih kalian? Bener-bener aneh semua" ucap Tania.

__ADS_1


"Sekalian aku mau konsul nih. Masalah yang pelik" balas Arga bersuara.


"Asal jangan problem tentang jomblowan sejati aja. Aku tak bisa" sela Tania.


"Beneran nih. Kok malah diledekin. Ya sudah, ntar aja kalau ketemu" kata Arga sekaligus menutup panggilan.


"Pandu ini mau ke mana? Panapion bukan? Mansion juga bukan?" tanya Tania yang baru tersadar jika ini bukan jalan yang seharusnya.


"Nanti nyonya muda pasti akan tahu dech" balas Pandu.


"Jangan-jangan kamu mau menculikku Pandu?" kata Tania, jengah juga tak mendapat jawaban memuaskan dari Pandu sebelumnya.


"Mana berani aku nyonya Muda. Bisa diulek lembut nanti kalau tuan Arka pulang" jelas Pandu.


"Pandu...Pandu...menepilah sebentar" kata Tania dengan tiba-tiba.


Pandu mengikuti perintah sang nyonya muda, "Kenapa nyonya?"


"Bentar aja, tolong bukain pintu" pinta Tania.


"Nyonya muda mau ke mana?"


"Tuh, beli rujak buah sama siomai. Kayaknya enak. Kamu mau?" tanya Tania sambil menawari.


"Aku aja yang beli. Nyonya muda di sini aja" usul Pandu.


"Baiklah. Siomai nya yang pedes satu, rujak buah satu nggak pakai nanas" pesan Tania.


"Oh ya Pandu, nambah es buah yang di seberang itu ya" tunjuk Tania ke arah seberang jalan.


Sepeninggal Pandu, Tania menelpon nenek Gemmy.


"Nek, apa hari ini menyuruh Pandu untuk menjemputku?" tanya Tania.


"Enggak tuh. Tapi tadi pagi papa Rendra bilang kalau mau ada rapat besar-besaran di Panapion. Mungkin Pandu menjemputmu karena itu" bilang nenek.


"Hah? Beneran nek? Kok dadakan sekali?" tanya Tania tak percaya.


"Ini nenek juga tengah bersiap sayang. Mama Rosa juga kuajak daripada jenuh di rumah" terang nenek.


"Rapatnya di mana?" imbuh Tania karena jalan di mana mobil terparkir, bukan jalan menuju Panapion ataupun mansion.


"Ikutin Pandu aja. Ntar juga akan tahu tempatnya" imbuh nenek.


"Baiklah nek" jawab Tania pasrah dan menutup panggilan.


Tania memasang head set untuk mendengarkan musik dari ponsel sambil menunggu Pandu.


Dilihatnya Arka tengah berjalan menuju mobil sambil membawa beberapa bungkusan.


Senyumnya menghiasi sudut bibir saat mulai mendekat. Tania kucek-kucek mata, untuk memastikan apa benar suaminya yang datang.


Sejak ditinggal Arka beberapa bulan yang lalu, Tania sering berhalusinasi melihat Arka. Tapi nyatanya itu hanyalah fatamorgana. Karena saat mendekat dan hendak menyentuh, bayangan Arka menghilang begitu saja.


Jika sudah begitu, Tania hanya bisa menangis menahan rasa kangen.

__ADS_1


Angel sang asisten lah yang sering memergoki Tania rapuh seperti itu.


Tania kembali memastikan, apa benar yang dilihatnya kali ini.


"Nyonya muda ini pesanannya" Pandu menyodorkan tiga kantong kresek sesuai pesenan Tania.


"Nyonya Tania" panggil ulang Pandu dan barulah Tania tersadar dari lamunan. Ternyata beneran hanya halusinasiku semata. Batin Tania.


"Eh iya Pandu. Makasih ya" Tania menerima apa yang dibawa oleh Pandu.


Pandu kembali melajukan mobil mewah milik sang bos, yang selalu dibawa olehnya saat Arka tak ada di tempat selama ini.


Tania kembali melamun.


"Nyonya muda, apa mau dianggurin ajah tuh pesenannya" kata Pandu mulai membuka suara agar sang nyonya tak melamun lagi.


"Sudah nggak mood" tukas Tania.


Loh, repot antri tadi nggak ada gunanya dong. Batin Pandu.


"Kamu mau? Nih minum" tanya Tania, tapi sudah menyodorkan saja es buah ke Pandu.


"Eh, kok malah buat saya?" sela Pandu.


"Nggak papa, daripada mubadzir dan kebuang percuma" balas Tania.


Mau tak mau Pandu akhirnya menerima.


Apa begini rasanya punya istri hamil? Tuan Arka saja bahkan belum bisa merasakan, malah terwakili olehku. Batin Pandu lagi.


"Pandu, kita ini mau kemana sebenarnya?" tanya Tania yang melihat hamparan perbukitan di kanan jalan.


Pandu kembali tak menjawab.


"Kamu tadi bilang disuruh nenek. Sementara nenek bilang kalau mau ada rapat besar-besaran di Panapion. Bukannya kalau rapat musti ke perusahaan? Kita ini malah mau ke mana?" telisik Tania.


"Nyonya besar akan ikut rapat, makanya aku diberi mandat untuk menjemput anda. Ini adalah rapat internal, jadi sengaja diadakan di luar kantor" jelas Pandu.


"Terserah kau saja Pandu. Aku ngantuk" balas Tania.


Kanan jalan yang merupakan daerah perbukitan membuat asri pemandangan. Angin sepoi membuat hawa semakin sejuk, dan mempercepat sang ibu hamil terserang kantuk.


"Aman, akhirnya nyonya muda tidur dengan sendirinya" gumam Pandu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


__ADS_2