Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Trauma Nyeri


__ADS_3

Selepas berbalas chat dengan Arga, Arka masih termenung di ruang kerja.


Ternyata tidak hanya Tania yang ingin menelusuri kematian ayahnya di lapas.


Arkan bahkan masih menyimpan dendam ke keluarga Tania.


Kerjasama yang digagas oleh Smith bisa saja hanya kamuflase Arkan untuk membalas dendam.


Makanya selama ini Smith meminta Tania untuk menjadi penghubungnya.


William yang aku kira ada kaitannya, bisa jadi tidak tahu apa-apa dalam hal ini.


"Arka, apa kau masih di dalam?" panggil nenek Gemmy.


"Iya Nek" jawab Arka.


"Tania sudah ngantuk tuh. Kapan kau anterin pulang?" bilang nenek dari luar.


Arka keluar dari ruang kerja.


"Dimana Tania?" tanya Arka.


"Di ruang tengah. Dia udah beberapa kali menguap tuh" tunjuk nenek ke ruangan sebelah.


Arka pun menuju ke sana.


"Loh, malah sudah pules tuh nek" seloroh Arka yang melihat Tania dengan duduk bersandar dan mata tertutup erat. Dengkuran halus terdengar dari deru nafasnya.


"Kok cepet banget ya?" tanya nenek heran.


"Kalau gitu biar tidur sini aja. Telpon jeng Rosa biar nenek bicara" suruh nenek Gemmy.


"Mama Rosa nanti sendirian nek" imbuh Arka.


"Kan ada anak buah kamu yang selalu berjaga" seloroh nenek.


"Jeng Rosa juga harus biasa sendiri mulai sekarang. Kalian nikah kan tinggal menghitung hari" imbuh nenek.


Arka melakukan panggilan. Dia serahkan kepada nenek Gemmy saat panggilan tersambung.


Nenek Gemmy memintakan ijin Tania agar menginap di rumah nya. Nenek janji akan menjaga Tania dari tangan nakal Arka Danendra.


"Wah nenek nggak seru nih" ucap Arka masam mendengar kata nenek saat menelpon mama Rosa.


"Nunggu sah dulu" bilang nenek.


"Tapi kamu yang angkat, pindahin Tania ke kamar sebelah" lanjut nenek sambil menunjuk kamar tamu.


"Siap nenek" Arka bersiap mengangkat tubuh Tania.


Melihat Tania yang tidur sambil melongo membuat Arka terkekeh, "Untung nggak ileran" celetuk Arka.


Tania yang berada dalam gendongan Arka, "Yah...ayah...." panggil Tania dalam tidur.


"Dia ngigau?" gumam Arka saat masih menggendong Tania.

__ADS_1


Ditaruhnya pelan di atas ranjang besar itu. Diselimutinya tubuh Tania.


"Yah...ayah...jangan tinggalin Nia" igaunya lagi saat Arka akan keluar kamar.


Digenggamnya tangan Tania. "Begitu besar rasa kehilangan kamu. Bahkan kejadian itu sudah puluhan tahun yang lalu. Apa seperti ini tidurmu tiap malam?" monolog Arka.


Rasa trauma kamu mungkin lebih besar dari yang aku alami Tania. Batin Arka.


Arka melangkah keluar saat Tania mulai pulas kembali.


Arka kembali ke ruang kerja, diseruputnya minuman hangat yang barusan diantarkan bibi.


Terlalu banyak yang dipikirkan olehnya menjelang pernikahan.


Dikiranya semua telah habis dilibas olehnya, ternyata masih menyisakan Arkan yang bisa lebih berbahaya daripada yang sudah tertangkap sebelumnya.


"Kalau Smith hanya suruhan Arkan, bisa jadi orang-orang yang di sekitar rumah Tania pun orang suruhan Arkan juga" pikir Arka.


"Apa pura-pura kuterima saja pengajuan kerjasama mereka?" pikiran Arka terus saja berkecamuk.


Arka kembali menelpon Arga.


"Isshhh kau ini, tak senang ya kalau sahabatmu bisa istirahat?" terdengar suara Arga yang serak.


"Ha...ha....ini masih sore Ga" seloroh Arka menimpali.


"Sore apaan? Jam dua belas malam ini bung" tukas Arga jengah.


"Jangan ngajak teman dong kalau kau insomnia. Besok kerjaan rame nih di bengkel" Arga terus saja berpidato. Ini siapa yang bos siapa yang anak buah ya.


"Ya sudah nggak jadi. Daripada kau omelin" jawab Arka.


"Ntar kalau cerita, malah kau seperti kunina boboin dong" Arka terkekeh, sukses menggoda sahabatnya itu.


Sahabat yang pintar menempatkan diri di segala situasi. Kadang sopan seperti bos dan anak buah, kadang konyol seperti teman dan kadang seperti orang yang tak kenal satu sama lain. Dan Arga tahu menempatkan diri tanpa diperintah oleh Arka.


"Cerita nggak? Tidur lagi gue" sambung Arga, karena lumayan lama menunggu kata-kata Arka.


"Besok Pandu akan kuperintahkan membuat draft persetujuan kerjasama dengan perusahaan Smith" kata Arka serius.


"Yakin???" tanya Arga.


"Makanya kuingin kau awasi terus pergerakan perusahaan itu bos" imbuh Arka.


Terdengar suara 'plak' di ponsel Arga.


"Arga, kau kenapa? Ada yang menamparmu kah?" celetuk Arka.


"Bukan, lagi mukul nyamuk di kening. Apesnya malah kening gue yang kepukul, nyamuknya malah melarikan diri. Dasar nyamuk sialan" gerutu Arga.


"Ha....ha....." Arka terbahak menanggapi.


"Lanjutin besok aja ya? Ngantuk nih" seloroh Arga...dan tut...tut...tut...panggilan sudah diputus saja sama Arga. Sekarang ganti Arka yang menggerutu.


Hampir jam tiga pagi, tapi mata Arka masih saja belum bisa terpejam. Karena terlalu banyak pikiran, rasa linu di lutut kanannya mulai terasa.

__ADS_1


Rasa trauma akan sakit osteosarkoma masih membekas di memori otaknya. Seperti saat ini, awalnya hanya terasa linu tapi mulai merambat ke rasa nyeri yang luar biasa.


Arka mencoba menggapai obat pereda nyeri dalam laci nakas. Diseretnya kaki yang sangat nyeri itu. Keringat dingin mulai membanjiri keningnya.


Arka terduduk di tepian nakas sambil kaki berselonjor. Dia minum pereda nyeri. Untungnya dia selalu menyiapkan minum saat akan tidur. Karena rasa nyeri kadang datang tak mengenal tempat dan waktu.


Nyeri masih saja dirasakan oleh Arka, sehingga dia mengambil obat injeksi. Untung Arka juga seorang dokter, sehingga paham akan dosis dan cara pemberian obat-obat yang dia punya. Obat yang diresepkan oleh dokter yang merawatnya selama di Amerika. Dia sobek celana yang terpakai, agar memudahkan dia untuk memasukkan obat.


"Kenapa rasa nyeri yang kurasa kian bertambah? Apa perlu aku harus periksa semua lagi?" gumam Arka setelah merasakan nyeri mulai mereda.


Arka tertidur dengan kaki selonjor dan badan bersandar di tepian ranjang.


Tania yang bangun pagi sekali, kaget karena mendapati dirinya tak berada di kamar nya sendiri. Dia coba ingat kejadian semalam.


"Apa ini masih di rumah nenek?" gumam Tania sambil mengamati kamar yang dia tempati.


"Kalau lihat mewahnya kamar sih ini pasti rumah nenek"


Tania keluar kamar untuk mengambil minum.


"Non, kok sudah bangun? Masih jam lima lho" celetuk bibi yang ada di dapur.


"Bibi juga sudah masak. Ada yang bisa dibantu bik?" tanya Tania. Boro-boro di rumah bantuin mama Rosa, yang ada bangun tidur mandi ganti baju terus duduk manis di meja makan.


"Nggak usah. Aku yakin di rumah kamu nggak pernah masak" nenek Gemmy menghampiri keberadaan Tania.


"Jadi malu nek" ucap Tania sambil garuk kepala.


"Rosa sudah cerita semua. Kebaikan komplit sama keburukan kamu" seloroh nenek.


"Banyak baik atau buruknya nek? Biar aku tebak kalau mama yang cerita, pasti yang diceritain hanya buruknya aja dech. Iya kan nek?" imbuh Tania.


Nenek Gemmy terkekeh, "Sudah...sudah...bangunin aja dech Arka. Tuh sebelah sana kamarnya" tunjuk nenek ke arah kamar yang selalu ditempati oleh Arka jika menginap di rumah nenek.


Tania coba ketuk pintu saat sampai depan pintu kamar. Ketiga kali diketuk belum juga ada sahutan.


Tania coba tekan handel pintu. Dan terbuka. "Tak dikunci" gumam Tania.


Alangkah kaget Tania saat melihat Arka tidur posisi duduk dengan celana sobek hampir separo. Ada bekas jarum suntik dan juga obat yang berserakan di atas nakas.


"Apa yang terjadi?" gumam Tania.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


Salam sehat buat semua 🤗


Nulisnya sambil nonton Messi ngegolin ke tiga buat tim Argentina 🤗


__ADS_2