
"Entah apa yang membuat kamu sangat yakin padaku? Perlu kau tau Arka, aku sangat membenci pengkhianatan" jawabTania saat Arka menyatakan cinta untuknya.
"Aku tahu itu. Tapi apa salahnya kita mencoba" tukas Arka.
"Nikah bukan untuk coba-coba tau" sungut Tania.
"Maka dari itu, aku saja sudah yakin tapi kau sendiri kan yang masih ragu?"
Tania hanya menggeleng, "Bukan itu maksudku" ucapnya.
"Terus?" telisik Arka.
"Heemmmmm...apa ya?" Tania menggaruk kepala yang tak gatal.
"Jangan mencari alasan, karena cinta tulus itu tak membutuhkan itu" ulang Arka.
"Siap tuan muda" Tania terkekeh.
.
Tania ikut pulang bersama Arka ke rumah nenek Gemmy.
Dia turun tanpa memakai alas kaki. Sedari tadi dia menahan nyeri karena memakai heel saat acara penyambutan tadi.
"Kenapa kakimu?" tanya Arka saat Tania sudah duduk di ruang tengah.
"Nggak kok, hanya nggak nyaman aja pakai sepatu model begituan" imbuh Tania.
Arka jongkok untuk melihat kaki Tania.
"Eh, apa yang kau lakukan?" kata Tania menggeser kaki yang dipegang oleh Arka.
"Bisa diam nggak sih?" celetuk Arka memaksa memegang kaki Tania.
"Terkilir ini" kata Arka sedikit menekan belakang mata kaki Tania.
"Aduh, sakit tau" tukas Tania mendelik ke arah Arka.
"Hhmmmm, ini pasti ada trauma sebelumnya" simpul Arka.
"Sok tau" sengit Tania.
"Percaya aja sama Arka, dia juga ahli bedah Orthopedi loh" terang nenek Gemmy yang barusan mendatangi mereka berdua.
"Iya kah?" tatap Tania ke arah Arka.
Arka hanya mengangkat kedua bahunya.
"Terus apa lagi yang kau sembunyikan dariku? Kau ini curang tau, kau tahu semua tentangku tapi aku tak tahu apa-apa tentang kamu" kata Tania sengit.
"Kan sudah diceritakan sama nenek" imbuh Arka.
"Tapi kalau kamu seorang dokter, nenek belum cerita" sela Tania.
"He...he...nggak ada yang istimewa untuk diceritakan" jawab Arka.
"Tapi aku ingin tahu" kata Tania manyun.
"Baiklah sayangku, apa sih yang nggak buat kamu" tukas Arka tertawa, membuat nenek Gemmy meninggalkan dua orang dewasa muda itu untuk saling mengenal.
"Mulai dari mana?" tanya Arka.
__ADS_1
"Nenek sudah cerita sampai kamu mulai pindah ke Amerika" tatap serius Tania.
"Ooohhhhh...itu" Arka menimpali.
"Nenek sudah cerita tentang anak laki-laki yang hampir gila karena keadaan itu kah?" sambung Arka dengan menghela nafas panjang.
Diambilnya tangan Arka untuk Tania genggam.
"Apa pun itu, semua sudah menjadi masa lalu kamu" sela Tania.
"Jadi aku nggak perlu cerita dong, kan sudah menjadi masa lalu" imbuh Arka terbahak, berhasil ngerjain Tania.
"Serius dong" kata Tania.
"Oke...oke..." Arka menggenggam tangan Tania.
Arka mulai menceritakan bagaimana dia menjalani pengobatan demi pengobatan untuk penyembuhan sakit yang dialami olehnya. Baik terapi fisik dan terapi psikologis.
Rasa trauma yang mendalam, membuatku sedikit demi sedikit mengikis ingatan masa lalu. Yang aku ingat hanyalah saat anak cewek itu menolongku. Bahkan wajah kecilnya saja Arka tak ingat.
Setelah dinyatakan sembuh, Arka sudah bertekad untuk melanjutkan pendidikan menjadi seorang dokter. Alasan utamanya adalah karena dia ingin menyembuhkan orang.
"Kok singkat sekali?" sela Tania.
"Ya karena hanya begitu jalan cerita hidupku. Nggak menarik kan?" imbuh Arka.
"Kenapa kau memutuskan balik?" Tania masih saja penasaran.
"Karena gadis kecil galak dulu...ha...ha..." Arka terbahak.
"Jadi kau anggap aku galak?" tatap tajam Tania.
"Hemmmm...sekarang juga masih galak. Tuh lihat tatapannya" ledek Arka.
"Sekali lagi panggil Arka, tak kan ku antar pulang" ancam Arka.
"He...he...terus musti panggil apa. Sayang? Cinta? Beb? Geli aku" jelas Tania menimpali.
"Heemmmm Honey" pinta Arka.
"Nggak mau ah...susah amat" tolak Tania.
"Tania Fahira" gantian Arka yang melotot. Susah banget meminta Tania untuk saling memanggil sayang.
"Iya...iya...aku panggil sayang aja" jawab Tania.
"He...he...oke sayang" Arka tertawa melihat ekspresi Tania yang nampak terpaksa itu.
.
"Arka Tania keburu dingin, ayo makan!" kata nenek Gemmy dari meja makan yang tak jauh dari mereka berdua.
Arka dan Tania pun makan bersama nenek Gemmy.
"Oh ya Tania, nenek hanya berpesan. Apapun berita tentang Arka, jangan langsung kau telan mentah-mentah" kata nenek.
"Iya Nek" tukas Tania.
"Konfirmasikan ke Arka, kalau ada berita-berita yang tak jelas" pinta nenek, Tania pun mengangguk.
"Aku yakin, dengan diangkatnya Arka menjadi CEO akan banyak orang yang berusaha menjatuhkan dirinya" tandas nenek Gemmy.
__ADS_1
"Dan bisa orang-orang itu mulai menyerang Arka dimulai dari kamu Tania" pandang nenek ke arah Tania.
Belum jadi istrinya saja, sudah diceritakan kisah horor oleh nenek. Batin Tania.
Ponsel Tania berdering, Tania mereject panggilan itu. Merasa tak enak karena sedang makan bersama nenek.
"Angkat aja, nenek tak keberatan" ungkap nenek.
"Mama Rosa nek" beritahu Tania.
"Angkat saja, nenek juga ingin ngobrol sama mama kamu" imbuh nenek.
"Halo Mah, Tania sedang bersama nenek" beritahu Tania.
"Tania, tadi Benzema ke rumah" beritahu mama.
Tania menautkan alis, "Ada apa?" telisik Tania.
"Mama juga nggak tahu. Bilangnya sih penting" lanjut mama Rosa.
Tania nampak terdiam. Masih berani dia ke rumah. Batin Tania sebal.
"Oh ya Mah, kalau laki-laki itu datang lagi usir saja dia" kata Tania.
"Maunya sih begitu. Tapi mama tak tega melihat wajah kusutnya hari ini" sambung mama Rosa.
"Idih mama, nggak jelas banget dech" Tania menimpali.
Interaksi mama dan anak yang sedang membahas Benzema itu tak lepas dari mata Arka.
Setelah mama Rosa ngobrol dengan nenek Gemmy, Tania memutus panggilan dari mama Rosa.
Dilihatnya ratusan pesan masuk ke ponsel milik Tania. Salah satunya dari laki-laki yang dibicarakan tadi. Tania membiarkan tanpa membaca.
Sejenak kemudian, ponsel Tania kembali berdering. Tapi dibiarkan saja oleh Tania.
"Siapa?" sela Arka.
"Tuh, lihat aja" sengau Tania menjawab. Masih ada rasa sebal saat dia melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Oh...dia?" sengaja Arka menggoda Tania yang suasana hati nya mulai kacau dengan panggilan itu.
"Semakin kau sebal, itu menunjukkan kalau kau masih peduli padanya" kata Arka.
"Ah, siapa bilang? Aku hanya tak mau bicara padanya" Tania menyanggah.
"Bisa saja memang ada hal penting yang ingin dibicarakan olehnya. Angkat aja" kata Arka.
"Nggak mau. Nggak usah maksa" ucap Tania sengit.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir.
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
💝
__ADS_1
Maafin othor, dua hari ini sok sibuk banget hingga up nya telat.