Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kecelakaan biasa atau?


__ADS_3

Tania buru-buru melangkah untuk menemui Arka sang suami di ruangannya.


"Maaf Nyonya, tuan Arka tak mau dikunjungi oleh siapapun" kata perawat laki-laki yang barusan keluar dari ruangan itu.


"Saya istrinya lho kak" tukas Tania tak percaya kalau sang suami menolaknya.


"Saya hanya menyampaikan pesan darinya saja nyonya" lanjutnya.


Badan Tania luruh tepat di depan pintu.


"Sayang, kau tega padaku. Aku hanya ingin melihatmu. Melihat kondisimu. Apa kau baik-baik saja?" kata Tania sambil menangis.


Tring...notif ponselnya berbunyi menandakan ada sebuah pesan.


Tania teringat, jika sang suami tak ingin dilihat oleh siapapun dalam keadaan yang tak baik-baik saja.


"Jangan lebay, aku baik-baik saja di dalam" beritahu Arka lewat pesan.


"Hiks kau jahat. Aku ingin mendampingimu dalam suka dan duka" balas Tania.


"Cukup kau mendoakan saja untuk kepulihanku. Agar secepatnya kita memproses Arka Junior di perut kamu yank" balas Arka.


"Bagaimana sayang?" sela nenek yang berada di belakang Tania.


"Kok kamu nggak nemui suami kamu? Gimana kondisinya?" terus nenek Gemmy mengucapkan kata.


"Dia nggak mau ditemuin siapapun nek, bahkan aku juga ditolak olehnya" imbuh Tania menimpali.


"Terus kondisinya?" sela tuan Rendra.


"Bilangnya baik-baik saja Pah" seloroh Tania menjawab.


"Habis kecelakaan kok bilang baik-baik saja. Hanya ada Arka di dunia ini yang bilang begitu" ucap nenek Gemmy.


"Arka kalau kau tak butuh kami mendingan kita pulang aja, daripada capek berdiri terus di sini" teriak nenek Gemmy tepat di depan pintu.


Tring, kembali ponsel Tania berbunyi.


"Suruh nenek dan yang lain termasuk kamu juga. Pulanglah!" suruhnya.


"Loh nek, malah disuruh pulang nih kita. Heran aku" ujar Tania menepuk jidat. Tak habis pikir dengan permintaan sang suami.


"Sudahlah Tania, nenek dan tuan Rendra. Lakukan saja apa yang Arka minta. Daripada capek nungguin di sini" kata Arga bijak.


"Kalau dia butuh bantuan?" sela Tania.


"Kan ada dokter sama perawat jaga" Arga beralasan.


"Sudahlah sayang, kamu pulang aja ke rumah nenek" ajak nenek Gemmy.


"Tapi nek?" Tania masih berat meninggalkan suami yang belum sempat ditemuinya pasca kecelakaan.


"Percayalah pada Arka" saran Arga yang sudah sangat mengenal Arka.


"Baiklah, tapi kamu jangan pulang ya. Temenin suamiku!!!" tukas Tania.


Sepeninggal Tania, Nenek Gemmy dan juga Tuan Rendra, Arga masuk ke ruang Arka.


"Kerjaan siapa?" tanya Arga saat dirinya sudah duduk di samping Arka.


"Haaiiissss, ngapain kamu masuk. Percuma aku bayar mahal perawat tadi" tukas Arka.


"Keadaan begini masih saja mikirin seksi dan tak seksi. Heran aku" seloroh Arga.


Sebenarnya Arga sendiri tak tega melihat kaki Arka yang terlihat berbalut perban itu. Kaki yang pernah dioperasi waktu Arka masih kecil.


"Apa sakit?" tanya Arga.


"Sudah tahu pake nanya lagi" ucap Arka.


"Aku barusan dari lokasi kejadian" beritahu Arka.


"Lantas?"

__ADS_1


"Apa kau yakin itu kecelakaan biasa?" tanya balik Arga.


"Entahlah. Kejadiannya begitu cepat saat truk box itu menghantam bodi mobil. Untung saja aku membanting setir ke kiri, sehingga bagian depan truk tak mengenai tubuhku langsung" jelas Arka.


"Tapi kenapa kakimu yang kena?"


"Kulihat bodi mobil kamu yang rusak parah bagian kanan belakang" jelas Arga.


"Nggak tahu persis aku, kenapa kaki ku yang malah kena" jawab Arka.


"Akan kuselidiki" tegas Arga.


"Besok aku berangkat ke luar negeri. Tolong selesaikan jika ini memang sabotase" ucap Arka mengiyakan pernyataan Arga.


"Baiklah. Besok aku tak bisa mengantarkanmu" ucap Arga.


"Selama aku pergi, bantu Pandu untuk menjaga keluargaku di sini" sambung Arka.


"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya" sela Arga.


"Kau sudah kuanggap keluargaku sendiri Arka" sebut Arga menegaskan.


.


Saat Arka sudah berangkat ke Amerika dengan beberapa pengawal pribadi, Nenek Gemmy dibuat kelimpungan oleh ulah Tania yang pagi-pagi menangis minta bubur ayam.


"Kau ini kenapa Tania?" tanya nenek yang ikutan duduk di samping Tania.


"Aku nggak mau bubur ini nek, tapi bubur ayam yang jualan depan terminal" ucap Tania.


"Bik, minya tolong salah satu penjaga di depan untuk beli" suruh nenek Gemmy.


"Baik nyonya" bibi berlarian menuju ke depan.


"Nek, apa cucu nenek nggak sayang padaku? Kenapa pas sakit nggak mau kutungguin...hiks..hiks..." Tania menangis.


"Arka nggak mau kau capek sayang" hibur nenek.


"Tapi aku ingin menemaninya nek" tangis Tania malah semakin keras.


"Arka bahkan tak membalas pesanku nek" tangis Tania semakin menjadi.


"Kan Arka lagi di atas pesawat sayang. Jelas saja tak bisa membalas pesan kamu" jelas nenek. Padahal hal seperti itu Tania juga pasti sudah tahu.


"Pagi sebelum berangkat, dia juga tak mengabariku" sanggah Tania.


Nenek sampai kehabisan kata untuk menghibur Tania.


"Nyonya, ini bubur ayamnya" serah bibi ke nenek Gemmy.


"Sayang, ini bubur ayamnya" serah nenek Gemmy saat bubur sudah berada di mangkok.


Bagai mendapat jackpot Tania menerima bubur dan makan dengan lahap. Seperti orang tak makan seminggu...he...he...


'Apa seenak itu?' batin nenek.


"Nenek mau?" Tania menawari.


"Kalau Tania suka, buat kamu aja sayang. Bibi tadi beli beberapa bungkus kok" imbuh nenek.


"Boleh nambah ya nek?" pinta Tania.


"Abisin dulu, ntar ambil lagi"


"Makasih nenek" rasa sedih Tania memikirkan Arka menguap begitu saja saat bubur ayam terhidang di meja.


Nenel curiga, apa Tania ngidam? Pikir nenek.


"Sayang, kapan terakhir datang bulan kamu?" seloroh nenek.


"Heemmmm, sebelum berangkat ke Amrik nek" jelas Tania.


"Belum telat kalau gitu?" telisik nenek.

__ADS_1


"Belum nek" tiba-tiba saja Tania sedih kembali.


"Boleh aku cerita nek?" sambung Tania.


"Hei, kenapa mukamu kau tekuk? Jangan sedih lagi" ujar nenek.


Tania akhirnya cerita kegiatannya selama di Amerika, tapi tetap saja tak menceritakan Arka yang sempat melakukan general check up.


"Sebenarnya kita mau program inseminasi nek, tapi keburu Arka...huaaaaaa" tangis Tania meledak lagi.


"Sudah...sudah...jangan menangis lagi sayang. Berdoa aja semoga ada hikmah di balik kejadian ini" hibur nenek.


Tania memeluk nenek Gemmy.


"Apa mama Rosa sudah kau kasih tahu?" sela nenek. Dan hanya gelengan yang didapat dari Tania.


"Oke, kabari mama mu biar mama Rosa tidak cemas" saran nenek.


Tania segera menghubungi mama Rosa. Karena semenjak datang kemarin, Tania belum sempat menelpon mamah nya.


.


Di pesawat, Arka merasakan nyeri yang luar biasa di kaki kanannya.


"Tolong panggil dokter Beni" suruh Arka ke pengawal yang menjaganya.


"Baik tuan"


Arka meringis menahan rasa nyeri. Keringat dingin menghiasi dahi.


"Dok, bisa ambilkan box obat di belakang anda" pinta Arka dengan terbata.


"Yang ini?" dokter Beni menunjukkan box yang dimaksud.


Arka mengangguk. Arka menyebutkan obat-obatan pereda nyeri yang biasa dia pakai.


"Ini tuan, sudah kuambil semua" dokter Beni menimpali.


"Tolong suntikkan, aku tak bisa bebas bergerak" pinta Arka.


"Maaf sudah merepotkan kamu dokter Beni" imbuh Arka.


"Sudah menjadi tugasku tuan" dengan sigap dokter Beni memasukkan obat-obatan yang diminta oleh Arka. Tak sampai lima belas menit, Arka telah tertidur.


Dokter Beni beranjak setelah memberesi semuanya.


"Semoga semua dilancarkan tuan muda" doanya sembari menutupi tubuh Arka dengan selimut.


.


Di lokasi kejadian, kembali Arga menelusuri semua. Bahkan ada beberapa petugas patroli di sana.


"Melihatnya, ini seperti kecelakaan biasa" ujar salah satunya.


"Sopir truk bilang kalau dia mengantuk saat kejadian" imbuh yang lain.


"Loh bukannya kemarin dia bilang rem blong" sahut yang lain.


Arga hanya mendengarkan saja obrolan mereka.


Arga mencoba menganalisa nya. Atau kudatangi saja sopir truk yang saat ini berada di sel pihak berwajib. Pikir Arga.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1



Cussss, mampir ke sini yaaaacchhh guys.


__ADS_2