Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Masih Sibuk


__ADS_3

"Non" panggil Angel yang tetap saja memanggil Tania dengan panggilan lamanya, meski kini Tania telah menikah dan berbadan dua.


"Yaappp" tatap Tania saat Angel belum beranjak dari duduk sepeninggal tuan Anton barusan.


"Sampai sekarang aku masih belum ngerti kenapa Non menolak klien sekaliber tuan Anton?" tanya Angel.


"Emang kamu terbiasa lelet alias telmi kan...suka nyambungnya lama kalau diajak bicara" ledek Tania.


"Ih..Non. Kenapa suka jujur sih kalau ngomong" balas Angel dan mereka berdua pun terbahak.


"Kamu tadi lihat nggak nama pimpinannya tuan Anton?" tanya Tania.


"Ya enggaklah Non, kan yang bawa berkas tadi Non Tania" sanggal Angel.


"Makanya, mulai dari sekarang telitilah sedikit" tandas Tania.


"Emang siapa pimpinannya?" telisik Angel.


"Arkan" bilang Tania dengan jelas.


"Arkan? Saudara sambung tuan muda?" tukas Angel tak percaya.


"Dan dia secara tidak langsung ingin aku membantu mem4nipulasi laporan pajak lewat utusannya barusan" terang Tania.


"Hah?" Angel melotot tak percaya.


"Untung langsung Non tolak tadi" timpal Angel.


"Tadi katanya nggak bolehin menolak klien, kenapa sekarang kau merasa beruntung?" tanya Tania.


"He...he...ternyata rizki tidak harus berupa uang Non. Terbebas dari klien yang ingin mengajak berbuat tindak pidana pun juga rejeki...he...he..." kata Angel terkekeh.


"Oh ya Non, tadi Maura Hadinoto ke sini dalam rangka apa ya?" sambung Angel.


"Kira-kira kalau dia kerja di sini, menurut kamu gimana?" tanya Tania sekaligus meminta persetujuan.


"Hah, beneran? Mantan bos?" dahi Angel mengernyit.


"Heemmmm, sebenarnya nggak nyaman sih kerja lagi dengan mantan bos. Tapi kalau nggak diterima, mungkin sekarang dia kebingungan nyari kerjaan Non" terang Angel.


"Kamu memang punya hati besar Ngel" canda Tania.


"Bukan hati besar Non, tapi badan besar" tukas Angel.


"Yang bener tuh berbesar hati. Gitu loh Non" lanjutnya.


"Ha....ha....itu tandanya kamu masuk waktu pelajaran bahasa dulu" Tania terbahak. Angel pun ikutan tertawa.


"Seru amat, lagi ngetawain apa?" komen Arka yang barusan datang.


"Loh, kok sudah datang?" tanya Tania.


"Nggak suka, suami datang" ucap Arka agak sewot.


"Nggak usah sensi, kan cuman nanya" tukas Tania ikutan jengkel.


"Nggak ikut-ikut ah, mendingan turun sama Mang Mamat" gumam Angel bermonolog dan hendak berbalik arah.


Langkah Angel terhenti saat ada panggilan bersamaan.


"Angel, mau kemana?" tanya suami istri itu barengan.


Kembali Angel membalikkan muka ke Tania dan Arka, "He...he...mau bikin kopi sama Mang Mamat, maklum di sini hawanya panas gimana gitu" seloroh Angel.


"Kalau panas, harusnya minum es bukan kopi" tukas Tania.


"Tapi aku inginnya kopi Non, tidak yang lain" tolak Angel dengan kata sedikit hiperbola.


"Sekalian buatin pisang coklat ya Ngel, kasih taburan keju agak banyak" pinta Tania.


"Siap" Angel berlalu meninggalkan mereka berdua, dan Arka lebih banyak terdiam.

__ADS_1


Memang rencana untuk menjadikan tempat nongkrong dan kafe sederhana diwujudkan oleh Arka. Dan tentu saja dikelola oleh Mang Mamat.


Tania tidak terlalu dilibatkan, alasan tidak boleh terlalu lelah tentu jadi prioritas Arka saat itu. Bahkan sekembalinya Arka, dia tak nyangka jika masih terus berjalan usaha yang dipasrahkan Mang Mamat dan juga Angel itu.


Meski tidak terlalu ramai, tapi selalu ada saja yang datang.


"Sudah selesai belum kerjaan?" tanya Arka pada istrinya.


"Sudah kok yank. Sedari pagi kerjaan juga cuman ngobrol aja" imbuh Tania.


"Arga gimana?"


"Hemmm, dia kusaranin untuk nyatronin mama nya sih. Biar tahu alasan mama nya melakukan semua itu" jelas Tania.


"Dia mau?" dan Tania pun mengangguk.


"Kamu hebat, bisa menyuruh Arga melakukan semua" puji Arka.


"Istri Arka Danendra harus hebat dong. Apa kata dunia...he...he..." tawa renyah Tania kembali terdengar. Begitupun Arka yang ikutan ketawa.


"Oh ya yank, ingat Maura kan? Dia tadi ke sini dan ngelamar kerja" bilang Tania.


"Maura teman kerjamu dulu, istri Benzema?" sela Arka.


"Heemmmm"


"Menurut kamu?" Arka malah balik bertanya ke sang istri.


"Akan kuterima, dia ke sini pasti sudah susah payah menahan ego dan rasa malu untuk melamar kerja" terang Tania.


"Kamu kan yang lebih tahu siapa Maura, bagaimana kemampuannya? Kuserahin aja padamu" tandas Arka. Tania pun mengangguk. Ternyata suaminya tambah bijak aja sekarang. Batin Tania.


"Makan yuuukkk. Laper nich!" ajak Arka.


"Tumben, ini masih jam berapa?" kata Tania sambil melihat jam mewah yang melingkar di lengannya.


"Tadi siang aku nggak makan" terang Arka.


"Mual yank" bilang Arka.


"Sekarang?" Tania menatap muka sang suami.


"Lapar" singkat Arka menjawab sudah menunjukkan kondisi nya saat ini.


Angel yang barusan datang untuk mengantar pisang pesenan Tania, dihadang begitu saja oleh Arka.


Tak menunggu lama, pisang itu habis dan hanya ninggalin sebuah untuk sang istri.


"Yank, habis...he...he..." kata Arka tanpa merasa bersalah.


Tania memasukkan pisang dengan balutan coklat keju yang tinggal sebiji itu ke dalam mulutnya.


"Mayan lah masih kebagian" gumam Tania disambut tawa Arka.


"Mau dibuatin lagi tuan?" sambung Angel.


"Nggak usah, makasih. Abis ini kita mau pulang kok" terang Arka.


"Apa kabar Panapion?" tanya Tania saat mereka sudah dalam mobil.


"Sehat dan baik" jawab Arka penuh canda tapi membuat Tania sewot.


"Kok sewot? Emang begitu keadaannya yank" imbuh Arka.


"Lagi konsen ke proyek bersama Sebastian di kota A itu lho. Proyek rumah sakit dan lainnya" beritahu Arka.


"Heemmmmm" dijawab gumaman oleh Tania.


"Oh ya, jadi ketemu sama calon klien yang tadi pagi?" Arka baru ingat ada yang menelpon istrinya tadi pagi.


"Jadi, tapi aku tolak" jawab Tania.

__ADS_1


"Kok gitu? Korporasi kan? Tapi bentar dech yank, nama perusahaan yang kau bilang tadi pagi itu rasanya nggak asing di telingaku" sanggah Tian.


Tania menoleh ke Arka yang berbicara tapi tetap fokus menyetir.


"Lantas kenapa kau tolak?" tanya Arka.


"Perusahaan itu sudah tak sehat yank, melihat sekilas berkas yang disodorkan padaku aku bisa menilai kalau mereka ada masalah dengan orang-orang paj4k. Dan yang jelas mereka menginginkan aku membereskan itu" terang Tania.


"Heemmmmm...Apa mereka berniat tak taat?" tukas Arka.


"Begitulah" Tania mengangkat kedua bahu.


"Repot juga ya dengan urusan orang begituan. Bisa berujung pidana ntar" imbuh Arka.


"Makanya mereka mencariku yank. Sepertinya sudah ada proses ke sana" ucap Tania membenarkan apa yang dikatakan suaminya.


"Ya kalau begitu benar jika kamu melepasnya" tanggap Arka.


"Apa kau tahu siapa yang punya perusahaan itu?" timpal Tania.


Sambil memegang setir, Arka mengedikkan bahu.


"Siapa?" tukas Arka.


"Arkan" beritahu Tania.


"Hah? Dia lagi?" kata Arka tak percaya.


"Iya dan sudah kutanyakan ke tuan Anton tentang kebenarannya" ucap Tania.


Kembali ponsel Tania berdering, kali ini tuan Anton kembali menelpon.


Arka menoleh saat mobil terhenti di sebuah traffic light, "Siapa?"


"Anton, yang nelpon tadi pagi" terang Tania.


"Angkat aja" suruh Arka.


"Halo, selamat sore tuan Anton" sapa Tania.


"Sore nyonya, melanjutkan pembicaraan tadi siang. Mohon sekiranya dipertimbangkan lagi nyonya. Kami sangat ingin anda bersedia menjalin kerjasama dengan kami. Berapapun yang anda minta" nego tuan Anton.


"Maaf tuan Anton, tapi benar saya belum bisa" tolak halus Tania.


"Perusahaan kami terancam kena kasus perdata dan juga pidana terkait dengan masalah yang kami infokan ke anda tadi siang" lanjut tuan Anton.


"Sekali lagi saya mohon maaf, belum bisa banyak membantu" Tania masih kekeuh dengan pendiriannya.


Tak ada jawaban dari ujung sana.


"Halo...halo...tuan Anton" panggil Tania.


Panggilan terputus begitu saja, tanpa sapaan penutup.


"Kok putus?" celetuk Tania.


Arka membelokkan mobil ke sebuah resto mewah yang ada dekat pusat kota.


"Kerja mulu yang dipikirin, perut kamu juga butuh asupan yank" seloroh Arka.


"He...he...he...." Tania hanya terkekeh tanpa mengucapkan kata apapun.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’.


__ADS_2