
Tania telah diinfo oleh Angel dua hari yang lalu jika hari ini adalah jadwal sidang perdana kasus Arkan.
Dan di dua hari yang lalu, Tania juga sempat menemui Arkan untuk membahas apa yang akan dilakukan hari ini.
"Sori bro, lama gue nggak ke sini" kata Tania saat mengunjungi Arkan.
"Gue tahu, loe sibuk. Apalagi suami loe sudah datang kan?" seru Arkan. Tania mengangguk membenarkan.
"Mau bagaimanapun juga kalian pernah jadi saudara loh" ledek Tania.
"Bener juga apa kata loe, saudara yang tak pernah saling bicara...ha...ha..." terdengar tawa kecut Arkan.
"Sudah...sudah...nggak usah ngebahas suami gue" potong Tania.
"Gimana kabar loe? Siap dengan jadwal sidang yang padat?" seru Tania.
"Siap lah. Mau gimana lagi" kata Arkan seperti kurang semangat.
"Kok lesu sih, harus ada semangatnya dong" sahut Tania.
"Musuh gue banyak. Apalagi mereka dengar gue mutusin pensiun dari dunia gue sebelumnya" kata Arkan.
"Lantas? Loe mau balik ke dunia lama loe?" alis tebal Tania saling bertaut.
"Kamu tahu, barang bukti yang selalu berubah-ubah di penyidik?" sela Arkan dan Tania pun mengangguk.
"Itu ulah gembong narkoba yang biasanya gue selalu ambil barang dari dia" terang Arkan.
"Gimana loe bisa tahu begitu mudah? Arga aja masih nyelidikin" terang Tania.
"Ha...ha...dunia penuh tipu-tipu dan saling menyikut. Makanya loe itu jangan terlalu polos jadi orang, ntar banyak yang manfaatin loh" Arkan mengingatkan.
"Termasuk loe sendiri kan?" ujar Tania membuat Arkan terbahak.
"Lanjutkan cerita loe tentang gembong narkoba itu" pinta Tania.
"Pasti kamu tak akan mengira jika aku sebut namanya. Dia seorang pejabat yang terkenal santun di masyarakat. Dermawan, jiwa sosialnya sangat tinggi. Jika ada korban musibah dia termasuk yang pertama datang ke lokasi. Dan tentunya liputan pewarta sangat dibutuhkannya" terang Arkan.
Tania memikirkan sesuatu, "Jangan kamu sebut, aku tahu siapa orang nya" kata Tania menimpali.
"Pejabat tinggi sekelas menteri?" tebak Tania. Arkan pun mengangguk.
"Wowwwww, relasi loe sungguh luar biasa" puji Tania.
"Kamu ini memuji atau meledek sih?" tukas Arkan.
"Dua-dua nya lah" tawa renyah Tania terdengar.
"Sekarang tantangan buat loe, untuk ngamanin vonis gue jangan sampe bertambah" kata Arkan serius.
Tania pun begitu, menatap tajam Arkan.
"Loe tahu sendiri bukan, begitu gue menyatakan mundur dari dunia hitam. Musuh gue bukan hukum saja, tapi kolega-kolega gue pasti akan ngehancurin gue sampai tak bersisa. Hingga mereka merasa aman tak ada lagi gangguan" terang Arkan.
"Dan untuk Davina, aku minta tolong dengan sangat. Meski dia kini sudah di rumah sakit untuk rehabilitasi. Aku tak jamin dia akan aman di sana. Tolong bantu jagain dia Tania" Arkan memohon dengan tulus kepada Tania.
"Sebenarnya tanpa kamu tahu, aku sudah menaruh puluhan anggota ku di sana" lanjut Arkan.
"Tanpa kamu bilang aku sudah tahu Arkan. Anak buah yang juga selalu mengawasi pergerakan aku bukan?" ulas Tania.
"Bukan mengawasi, yang benar itu menjaga kamu dari orang-orang yang akan menggulingkan aku" lanjut Arkan.
"Aku tahu pengawal Arka selalu siap buat kamu, tapi mereka tak tahu siapa musuh-musuhku. Jadi, sori aku sedikit ngelanggar privacy kamu...he..he..." seulas senyum nampak dipaksakan dari mulut Arkan.
"Seperti yang aku bilang tadi, tugas kamu hanya menjaga agar vonis aku tak bertambah. Selebihnya orang-orang aku akan bergerak" imbuh Arkan.
"Lah, kamu tetap jadi penjahat dong kalau begini? Terus kapan selesainya? Kenapa nggak kamu ikutin aja step by step proses hukum kali ini?" saran Tania.
"Iya, akan aku lakuin seperti yang kamu minta. Tapi ada hal yang belum kamu ketahui atau kamu sengaja menutup mata untuk itu" tandas Arkan.
"Apa?" ujar Tania menelisik menuntut sebuah jawaban dari Arkan.
"Dunia di mana kamu kerja, tak sesuci yang kamu kira Tania" kata Arkan tegas.
"Tidak semua begitu Arkan" jawab Tania.
"Yapppp, salah satunya itu loe" ucap Arkan menimpali.
__ADS_1
"Jangan kaget kalau hari ini akan ada berita besar muncul di tivi" ujar Arkan berteka teki.
"Berita apa?" tanya Tania penasaran.
"Ntar lihat aja jam dua belas siang di sebuah stasiun tivi nasional" kata Arkan menjelaskan.
"Oke, aku balik. Siapkan kondisi kamu untuk jadwal sidang dua hari ke depan. Kita akan bertemu langsung di sana" terang Tania.
"Oh ya, suruh Arga menghentikan penyelidikannya. Aku sudah siapkan saksi untuk itu" ulas Arkan.
"Terus penasehat hukum kamu ini untuk apa Arkan? Kalau semua sudah kamu lakukan dan persiapkan sendiri" sambung Tania.
"Aku tetap butuh kamu. Jadi jangan tinggalin gue" mohon Arkan.
"Emang gue istri loe, nggak boleh ninggalin" jawab Tania spontan.
"Ha...ha....gue bisa ditembak di tempat oleh Arka dong" tawa Arkan membahana.
"Nggak lucu" ujar Tania sewot.
Dan benar apa yang dibilang oleh Arkan, sebuah berita menggemparkan siang itu ditayangkan beberapa siaran tivi nasional.
'Tuan A, yang ditangkap seminggu kemarin berhasil melarikan diri. Diduga pelaku masih berada di negara ini' bunyi berita itu.
"Bagaimana Arkan seakan tahu semuanya?" gumam Tania saat dirinya sudah berada dalam mobil.
"Koneksinya pasti juga luar biasa" Tania masih saja bergumam.
"Mau bertobat aja juga merepotkan. Apa dunia mereka memang seperti itu?" Batin Tania bermonolog.
.
Arka telah menunggu di meja makan, meninggalkan Tania yang tengah bersiap di kamar tadi.
"Sudah siap untuk hari ini?" tanya Arka menatap wajah sang istri yang nampak segar dari biasanya.
Jelas saja, semalaman mereka saling mencharge baterai masing-masing.
"Heemmmm...." Tania pun mengangguk.
"Mau kutemenin?" sela Arka.
"Aku kan belum pernah lihat kamu saat berdiri di depan hakim dan jaksa" bilang Arka.
"Nggak usah yank, kalau ada kamu bisa jadi aku malah tambah gugup" kata Tania menolak halus.
"Ha...ha...aku juga ada rapat hari ini. Aku pantau dari berita" ucap Arka menandaskan.
"Nah gitu lebih baik" sambung Tania menimpali.
Menurut info sidang perdana Arkan, akan disiarkan live di sebuah stasiun televisi. Kasus Arkan yang cukup menggemparkan menyita perhatian stasiun televisi itu.
"Makan yang banyak, biar kuat nanti untuk sidang" tukas Arka.
"Dukungan kamu aja sudah menguatkan aku yank" imbuh Tania.
"Termasuk yang semalam ya?" kata Arka sembari tersenyum nakal menggoda Tania.
"Mesum" timpal Tania.
"Ha...ha..." Arka tertawa senang, sukses menggoda sang istri.
Hari ini Arka akan mengantar sang istri ke pengadilan tempat Arkan akan disidangkan.
Tentu saja setelah menghampiri Arditya yang telah tidur lagi setelah dimandikan.
"Moodboster mama sudah bobok lagi ya" cium Tania di pipi embul sang putra. Arditya hanya menggeliat lucu, membuat gemas yang melihat.
Arka pun melakukan hal yang sama.
.
Angel dan Maura telah menunggu kedatangan Tania di depan gedung pengadilan.
"Kita jangan masuk dulu, tunggu kedatangan Arkan" bilang Tania.
Baru saja selesai berucap, mobil yang membawa tahanan memasuki area pengadilan.
__ADS_1
"Tuh, yang ditungguin sudah datang. Bintang tamunya" celetuk Angel, lolos begitu saja dari mulut Angel yang latah.
"Ha...ha...bintang tamu di pengadilan apa hebatnya?" sela Maura.
"Seperti papa gue" lanjut Maura Hadinoto sambil menghentikan tawa.
"Kurasa Arkan lebih hebat dari papa loe, nyatanya artis saja kalah sama pamornya dia" sela Tania.
"Tuh...." arah mata Tania menunjuk ke Arkan yang sedang disambut ratusan pewarta yang ingin mewancarai saat turun dari mobil tahanan.
Maura dan Angel sampai melongo melihatnya.
"Andainya aku yang di sana, betapa bahagianya" kata Angel masih saja melongo, membuat Tania menyenggol bahu Angel.
"Mau loh jadi pesakitan seperti Arkan?" tukas Tania.
"Eh, bukan itu yang aku maksud. Tapi menjadi terkenal dan diwawancarai. Bukan jadi tahanannya" bela Angel.
Arkan berlalu begitu saja, tanpa meladeni semua pertanyaan wartawan.
Meski tangan terikat borgol, pandangan Arkan masih menatap tegak.
"Dia masih tampan aja, pantas saja Davina sampai termehek-mehek sama dia meski sudah jadi pesakitan" lanjut Angel.
"Heeiii...mau aku bilangkan Pandu atau loe mau lapor sendiri?" sela Maura.
"Udah punya suami tampan, masih aja muji yang lebih tampan" ledek Maura.
"Loe juga sama aja" ujar ketus Angel membuat Maura semakin terbahak saja.
Beberapa pewarta yang melihat kehadiran Tania baralih menghampiri Tania Fahira.
"Matih gue, kenapa mereka malah ke sini?" gumam Tania.
"Fans loe" Maura menimpali gumaman Tania.
"Hhmmm...buat repot aja" gerutu Tania meski tak kedengaran oleh mereka.
"Jangan begitu, loe juga butuh mereka buat jaga reputasi baik loe. Jadi, adepin aja mereka. Gue sama Angel masuk dulu ya. Bye..." goda Maura. Dan sedetik kemudian meninggalkan Tania untuk menghadapi pewarta yang berbondong menuju ke arah Tania.
"Sialan kalian" umpat Tania kepada Maura dan Angel. Maura hanya melambaikan tangan dan tetap berlalu menjauh.
Belum juga sidang dimulai, malah mereka duluan yang menyidang ku. Kata Tania dalam hati.
"Selamat pagi Nyonya Tania Fahira" sapa salah satunya.
Bagai bunglon, lain di mulut lain di hati. Tania menunjukkan senyum termanisnya di depan para pewarta itu.
"Pagi semua" sapa Tania ramah. Bahkan sifat bar-barnya sirna sama sekali.
"Nyonya, apa langkah anda untuk persiapan sidang hari ini? Karena telah kita ketahui bersama bagaimana sepak terjang terdakwa yang anda bela saat ini?" tanya salah satu pewarta yang berada paling depan.
"Untuk sementara kita ikuti alurnya. Hari ini akan kita dengarkan bersama pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut terlebih dahulu. Langkah-langkah apa yang akan kita ambil, tentu saja tergantung tuntutan yang ditujukan kepada klien saya" terang Tania, dan menjawab bijak.
"Apa yang membuat anda yakin membela terdakwa, yang berdasar sumber terpercaya jelas-jelas adalah komplotan mafia?" sela yang lain.
"Sebagai pengacara, saya harus profesional dong. Bukankah asas praduga tak bersalah masih dipakai sampai saat ini? Aku pun begitu" lanjut Tania dengan tetap mengurai senyum.
"Maaf, saya harus masuk" ujar Tania memotong pertanyaan beberapa pewarta yang sepertinya masih penasaran dengan kasus ini.
Tania berusaha keluar dari kerumunan pewarta, dibantu oleh beberapa pengawal Arka. Meski mereka tak muncul secara jelas, tapi Tania tahu ada beberapa utusan sang suami untuk mengawalnya.
Di tempat lain, Arka yang melihat penampilan sang istri kali ini malah terbahak.
"Sungguh istri ku seperti musang berbulu domba. Pintar sekali menyembunyikan ke bar-barannya dibalik sifat anggunnya kali ini" Arka masih saja terbahak.
Pandu yang duduk di samping sang bos, hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Arka.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
๐